TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
010


__ADS_3

AUTHOR NGADAIN GA kecil-kecilan nih


Cek FB: leelunaaalfa4 [ lee | lunaa | alfa4 ]


•••


"Ibu, awas!" teriak Maya sekencang yang dia bisa dan dia lari sekencang yang dia mampu.


Maya berusaha mencapai pinggir danau secepat mungkin. Dia mengerahkan seluruh tenaganya, untuk menyelamatkan seorang perempuan yang sering kali dia mimpikan.


Di belakang perempuan yang telah lama dia dambakan itu, ada sesuatu yang amat mengerikan!


Batu-batu kerikil yang melukai telapak kakinya, tak dia hiraukan. Yang terpenting adalah dia cepat mencapai danau dan menyelamatkan orang yang sudah melahirkannya!


Sungguh dia menyesal sudah berpura-pura tak tahu akan identitas asli dari sang ibunda.


Maya sengaja diam agar sang ibunda bercerita terlebih dahulu.


Dia pun sedikit marah sebab ibundanya terlihat tidak terlalu antusias setelah mengetahui keberadaannya.


Maya seharusnya memahami, mereka sedang berada di tangan para penculik. Ibunya diam bukan berarti tak sayang, bukan berarti tak rindu, bukan pula berarti tak menginginkannya.


Ibunya justru melindunginya dengan amat baik. Pura-pura tak kenal, supaya tak kehilangan kepercayaaan dari para penculik, yang sewaktu-waktu bisa menghilangkan nyawa mereka berdua di waktu mereka lengah.


Maya memahami hal itu, tapi sifat kekanakannya tiba-tiba muncul, dan dalam hati dia marah-marah tak jelas.


Maya menyesalkan sikapnya yang dingin pada ibunya. Dia menolak semua makanan yang dibuatkan ibunya. Dia kekeh ingin makan ikan bakar, meski sudah biasa memakan itu di tempat tinggalnya yang megah dan lengkap atas semua hal.


Maya menyesal sudah berpikiran jahat pada ibunya sendiri. Sementara ibunya terus bersikap baik padanya.


"Jadi putriku sudah tahu ..." Udelia menarik kedua sudut bibirnya, menampakkan ekspresi lega dari kebimbangan yang belakangan mengisi ruang hatinya.


Sebenarnya dia bingung hendak dari mana untuk membuktikan dirinya adalah ibu dari Maya.


Membuktikan bahwa dirinya ialah seorang perempuan yang mengandung Maya.


Membuktikan bahwa dirinya ialah seorang perempuan yang bersikeras melahirkan Maya, dengan harap-harap cemas.


Sebab sewaktu mengandung Maya, dia mendapatkan petir dari seorang bidadara.


Kala itu, Udelia hampir merenggang nyawa. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan darah keluar dengan deras dari se lang kangan nya.


Hati Udelia cemas akan keselamatan buah hatinya. Semua orang bersikeras untuk menyelamatkan Maharani. Karena amanat Maharaja, juga karena usia kandungan yang baru memasuki usia tujuh bulan.


Hanya Djahan Mada, suami pertamanya, yang memahami keinginan hati Udelia untuk menyelamatkan anak dalam kandungannya.


Nahas, dia pergi dari raga Maharani tanpa dapat memastikan nasib bayinya yang lahir ke dunia.


Dia hanya mendengar tangisnya. Kemudian Petapa Agung, sepupu sekaligus gurunya, memaksanya pindah dimensi tanpa persiapan yang utuh.

__ADS_1


Udelia pun dipaksa kembali ke raganya, supaya jiwanya tak hancur.


Dia pindah dengan potongan ingatan yang tak sampai di kepalanya.


Setiap waktu yang sepi, dia selalu merindukan sesosok bayi yang menangis dengan kencang, kendatipun ingatannya tak lengkap.


Senyum Udelia semakin dalam. Bayi merah mungil yang menangis itu, kini sudah besar dan memiliki ilmu yang luas.


Maya merupakan orang berkedudukan tinggi. Tingkat kepercayaannya pasti kritis. Lebih-lebih Udelia berdiri di barisan para penculik.


Anak sekecil Maya, mungkin saja tidak percaya dengan intrik orang-orang dewasa.


Di benak anak kecil, pihak pasti selalu benar, tidak ada sedikit pun kesalahan.


Namun ternyata, putrinya itu sangat cerdas. Dia bukan anak kecil pada umumnya.


Udelia sangat yakin, Maya bukan hanya sekadar menebak identias dirinya.


Sikap manja Maya selama dalam perjalanan, sudah menunjukkan tingkat kepercayaan anak itu padanya sangat tinggi.


Tapi di sisi lain, putrinya tidak gegabah untuk bertindak, sebab mereka masih dalam cengkeraman kelompok penculik.


Sangat jelas, makhluk kecil itu sangat hati-hati dalam bertindak.


Senyuman yang terukir di wajah Udelia mempercepat langkah Maya.


Lebih baik Maya mendapatkan sikap dingin Udelia, daripada harus menerima senyuman lembut yang mengerikan begitu!


Maya berteriak marah dalam hati pada dirinya sendiri. Dia merasa kakinya sangat lambat. Napasnya tiba-tiba memberat. Dan aura tak nyaman di sekitar makin menguat.


Jarak antara Maya dan ibunya, seolah jauhnya tidak dapat ditempuh oleh kaki manusia.


Padahal jarak antara tas milik ibunya dan danau tempat mereka bermain air, hanya sekitar dua puluh tiga hasta.


Maya berlomba dengan makhluk mengerikan di belakang Udelia, yang juga mencoba mendekati perempuan yang masih mengambang dengan tenang di dalam air.


Sebuah ekor raksasa tiba-tiba melilit tubuh Udelia. Perempuan itu mengangkat tangannya yang masih terbebas ke arah Maya, yang hampir melompat ke dalam danau.


Kemudian Maya terlempar beberapa meter ke belakang, akibat dorongan tak kasatmata yang sangat kuat.


Setelah itu, tampak penghalang besar berdiri di depan Maya.


Maya terpaku di tempatnya. Tembok penghalang itu sangat kokoh, berdiri menghalangi Maya dan Udelia.


Perempuan yang masih tampak senyumnya itu, diseret masuk ke dalam danau.


Maya tidak dapat bergerak. Dia terlalu terkejut dengan semua yang tiba-tiba terjadi di depan matanya.


Sementara Udelia memejamkan matanya dengan damai. Dia membiarkan ular itu membawanya ke dasar danau.

__ADS_1


Dengan raganya sendiri, Udelia masih belum terbiasa menyelam ke kedalaman air yang sangat dalam.


Saat sudah menguasai ritme air di dalam danau dan ritme napas yang dapat diambilnya, Udelia membuka kedua irisnya yang melebar.


Keadaan di dalam danau, dapat dia lihat seluruh detailnya—sama seperti saat dia melihat di atas daratan.


'Memang murid Petapa Agung. Masih memikirkan orang lain di saat terdesak.' Mata makhluk itu mengikuti gerakan Udelia yang bergerak bebas di dasar danau.


Tiada yang dapat mendengar suara hewan-hewan kontrak, kecuali tuan yang mengontrak mereka dan Petapa Agung. Murid-murid dari Petapa Agung pun diturunkan ilmu-ilmu demikian.


Maka dari itu, si makhluk dalam danau bisa berbicara bebas dengan Udelia, tanpa didengar orang lain.


'Sejak kapan kamu terbebas?!' seru makhluk itu. Dia tak sadar Udelia telah lepas dari lilitan ekornya.


'Ini bukan tempatmu.' Udelia tak mengindahkan ucapan sang makhluk yang muncul di dalam kepalanya. Dia justru terheran-heran sembari menatap gelang di ujung ekor si makhluk.


Gelang dengan ukiran rumit yang khas, asalnya bukan dari pulau yang sedang dipijaknya.


Udelia sangat paham, karena ukiran itu berasal dari tempat kelahirannya, Pulau Jawa.


'Aku hanya bosan di Jawa,' ucap si makhluk ikut menatap gelang yang terpasang di ekornya.


Sebuah gelang yang akan dia berikan pada manusia yang beruntung, majikannya.


'Izinkan aku mengikutimu! Denganmu, bosanku pasti hilang,' tambah si makhluk.


Sebuah moncong besar muncul di bawah kaki Udelia yang sedang melayang di dalam danau.


Wanita itu menatap mata makhluk yang serius dengan ucapannya.


Mereka beradu tatapan selama beberapa waktu.


Udelia menyelami mata si makhluk, mencari-cari alasan sesungguhnya niat dari si makhluk yang ingin pergi bersamanya.


Makhluk itu terlihat benar-benar bosan dengan kehidupannya yang lama tanpa kejelasan.


'Apa yang kudapat?' tanya Udelia.


'Seluruh kekuatanku.'


Mata besar itu memancarkan kejujuran. Kemudian Udelia menjejakkan kaki di atas moncong itu.


Maya tersadar dari keterkejutannya, melihat perisai pelindung yang perlahan menghilang.


"I.. ibu.."


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2