![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Hayan merasa sedikit segar, ketika terbangun di pagi hari. Walau kepalanya masih berat dan pandangannya berputar-putar, dia sudah mampu duduk bersandar tanpa bantuan orang lain.
Dari pintu masuk yang ditutupi kain melambai-lambai, nampak Djahan sedang membersihkan noda darah di tangannya, dengan air yang keluar dari telapak tangan.
Air yang mengucur membersihkan tangannya, seketika menghilang kala tertiup angin.
Dalam hati, Hayan mengacungi jempol atas kinerja Djahan yang selalu memuaskan.
Menyerahkan segala urusan kerajaan pada Djahan, Hayan tidak lagi pusing memikirkan proses berjalannya pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Dia hanya perlu duduk dan menerima hasil yang sempurna.
Djahan menghentikan para abdi ndalem, yang bertugas melayani Maharaja. Setiap dari mereka memegang nampan besar, yang terdiri dari berbagai macam kebutuhan Maharaja.
Djahan memeriksa satu persatu nampan, yang berisi makanan dan obat, juga pakaian. Dia menolak kertas dan pena, mengusir orang-orang yang membawanya.
Meskipun Maharaja sendiri yang berkehendak untuk bekerja, Djahan tetap akan mengusir semua orang yang mencoba membuat Maharaja bekerja.
Ayah putrinya sedang kritis, Djahan berharap pria itu fokus pada proses penyembuhan.
Usai memastikan keamanan semua kebutuhan Maharaja, Djahan memimpin para abdi ndalem masuk ke dalam sebuah tenda yang terlihat kumuh.
Tampak depan tenda itu sangat buruk, di antara tenda-tenda yang ada di sekitarnya.
Namun begitu masuk ke dalamnya, isi tenda itu menyilaukan mata. Segala perlengkapan di dalamnya, lebih lengkap dari tenda-tenda lain.
Bahkan lebih lengkap dari tenda senjata, yang dibangun oleh para ksatria tingkat atas dan lebih lengkap dari tenda dapur, yang dibangun para abdi ndalem.
"Anda harus istirahat. Terburu-buru akan membuat gawat. Lopi juga tidak akan suka melihat Anda terbaring sakit. Saya sudah mengirim pesan ke keraton, untuk melakukan pencarian besar-besaran."
Hayan menghela napas, dia tidak bisa menyangkal perkataan Mahapatihnya. Dia melahap makanan yang tersedia, kemudian mulai bertapa untuk menstabilkan dirinya.
Sepekan pun berlalu. Sesuai jadwal yang telah ditentukan, rombongan Bhumi Maja mulai meninggalkan Watek Ende.
Mereka melalui perjalanan darat layaknya para pengembara, agar Hayan fokus pada pemulihannya.
Perjalanan dari Ende ke Trowu, ibu kota Bhumi Maja, dalam perjalanan normal membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan.
Hayan memaksimalkan waktu yang ada untuk memulihkan diri, sehingga dia bisa kembali mengendarai hewan kontraknya.
Dengan menaiki hewan kontrak tingkat tinggi seperti Kuda Sembrani, perjalanan dari Ende ke Trowu hanya membutuhkan waktu paling lama satu pekan.
Hayan memusatkan seluruh pikirannya untuk bertapa, agar energinya dapat secepat mungkin terisi penuh lagi.
Perihal perjalanan rombongan, Djahan yang mengurusnya.
Banyak orang mengeluh dalam hati, karena Sang Mahapatih sangat ketat pada mereka.
Mereka hanya diberi upa bausuku, sebutir nasi yang berisi energi, agar kuat berjalan tanpa beristirahat.
Siang malam kaki mereka terus melangkah, tiada waktu untuk sekedar duduk meluruskan kaki.
__ADS_1
Berbeda bila dipimpin Maharaja. Tuan besar mereka yang satu itu, senang menikmati pemandangan dan berkeliling daerah-daerah baru.
Alhasil istirahat mereka sangat normal, jika dipimpin Maharaja.
Lalu kalimat indah itu mengalun. Perintah yang mereka dambakan terdengar, beriringan dengan nyanyian burung menyambut sinar hangat mentari.
"Kita berkemah di sini," titah Djahan dari atas gajah.
Bergegas para pelayan membangun tenda, menyediakan segala kebutuhan bagi ksatria-ksatria yang masih terlihat bugar, kemudian menyambut mimpi yang telah lama didambakan.
Ketika sore menjelang di perkemahan rombongan Bhumi Maja, seekor dara mendarat ke bahu Hayan yang sedang bertapa.
Kali ini keraton yang mengirimkan pesan.
Ibu suri menggoreskan tinta dalam secarik kertas, memberitakan bahwa mereka telah berhasil menyelamatkan putri kesayangan semua orang, Maya Lopika Wijaya.
Cucuku pulang dengan utuh. Kembalilah dengan segar atau dia akan sedih.
Hayan bergegas memanggil Berani. Djahan yang berada di sisinya turut memanggil hewan kontraknya, berupa gajah yang bernama Mada.
Djahan tidak menghalangi Maharaja sebab energi pria itu telah pulih seratus persen.
Mereka meninggalkan rombongan di wilayah Sapi, sebuah kawasan tak berpenghuni—yang mulai detik itu menjadi kawasan Bhumi Maja.
"Yang Mulia Maharaja dan tuan Mahapatih ada kesibukan lain. Sekarang saya yang memimpin rombongan ini," ucap Ekawira pada para ksatria yang sedang menyantap makanan.
Dia termasuk sebagian kecil pasukan yang berhasil selamat dari siksaan Mahapatih.
Sebagai balasannya, Cendana menyerahkan dua belas ksatria pribadinya, untuk mengiringi putrinya dan anak-anak yang dikirim untuk belajar di ibu kota.
Dua hari dua malam tanpa henti, Hayan dan Djahan terus memacu hewan tunggangannya.
Mereka sampai bersamaan di gapura keraton saat purnama bersinar terang.
"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia." Indra bersimpuh di depan Hayan, menyambut kedatangan Sang Maharaja.
"Di mana Lopi?" tanya Hayan tanpa basa-basi.
"Beliau sedang beristirahat di Kedaton Kambang."
Hayan menaiki Berani menuju tempat tinggal putrinya. Djahan menahan langkahnya, membiarkan ayah dan anak berjumpa terlebih dahulu.
Dia menatap Indra. Segera dia meminta penjelasan dari Rakryan Tumenggung, yang juga adalah muridnya,
"Bagaimana dengan pelakunya?" tanya Djahan.
"Sudah kami tangkap satu orang. Di sekitar belum ditemukan tanda yang lain, jadi kami meluaskan pencarian ke ibu kota."
Djahan mengangguk mengerti. Tidak mungkin ada orang gila, yang mendekat ke Keraton Bhumi Maja seorang diri.
Bahkan jika mereka adalah kawan, mereka akan membawa para pelayan dan pengawal sebagai bentuk penghormatan.
__ADS_1
"Ceritakan dengan lengkap."
"Mari, guru."
Indra mempersilakan Djahan untuk duduk terlebih dahulu. Keletihan tampak jelas di wajah gurunya. Dia menuangkan teh penambah stamina, lalu mulai bercerita.
"Kami menerima dara yang tidak diketahui asalnya. Setelah dibuka, ternyata dari dalam hutan keraton. Isinya meminta perjanjian damai Kelimutu, yang ditukar dengan tuan putri."
"Lancang!" geram Djahan.
"Bergegas kami memeriksanya dan benar ada tuan putri di sana. Tuan Candra Ekadanta menangkap satu orang. Sempat kabur tanpa jejak di dalam penjara, kemudian ditemukan tuan Gotho Pandya di wilayah sungai Cironabaya."
"Tanpa jejak?" heran Djahan.
Dia selalu memastikan seluruh keamanan di keraton adalah tingkat terbaik.
Dia pun memastikan tingkat keamanan di penjara, tidak akan mampu ditembus bahkan oleh Ketua Sihir Hitam, yang digadang-gadang hampir menyamai Petapa Agung.
"Ya, guru. Sekarang sedang diinterogasi tuan Candra Ekadanta," jelas Indra.
"Kalau begitu akan cepat," ucap Djahan. Dia mempercayai kualitas penyidikan penyihir terkuat itu. Yang dia herankan ialah kemampuan musuh dapat meninggalkan penjara.
"Tanpa jejak..?" gumam Djahan masih tak percaya.
Sementara itu, di sisi lain keraton. Tuan putri Bhumi Maja sedang tertidur lelap.
Mata terpejam itu berkedip terbuka, sebab belaian lembut di kepalanya. "Ayaha.."
"Sst. Tidur yang nyenyak sayang," kata Hayan masih mengelus kepala Maya. Dia mengernyit merasakan bagian kasar di kulit kepala Maya.
Dia menyibak rambut putrinya, tampak sebuah garis memanjang di bagian belakang kepala putrinya.
Hayan mengepalkan tangannya. Dia bangkit menuju Indra yang telah menunggu di depan pintu. "Di mana pelakunya?!" tanyanya menggeram.
"Ayahanda ..?" lirih Maya berkata sembari mengusap mata.
Aura kemarahan Hayan menyebar ke seluruh kedaton dan tanpa sengaja membangunkan Maya. Gadis itu celingukan mencari keberadaan ayahandanya.
Djahan yang melihat Maya terbangun, bergegas masuk ke kamar sang tuan putri.
Dia membaringkan Maya lalu mengusap kepalanya hingga Maya kembali terpejam. "Lopi sayang, tidurlah. Malam telah gelap, waktunya memulai mimpi," ucapnya.
"Hehe ayah, Lopi tidak perlu bermimpi lagi," lirih Maya sebelum jatuh terlelap.
Djahan mengecup dahi Maya lalu menyusul Hayan dan Indra.
Mereka menuju tempat pelaku ditahan.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1