TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 003


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


003 - BISAKAH BERIKAN AKU KESEMPATAN?


"Udelia! Telponmu geter!" teriak salah satu teman satu kantor Udelia dari ruang kerja.


Saat ini Udelia sedang berada di ruang makan bersama dengan teman- temannya yang lain.


Ponsel di atas meja bergetar.


Sang rekan yang berada di ruang kerja meneriaki Udelia, takut ada berita penting dari telepon yang masuk ke ponsel temannya.


"Biarkan saja. Kamu kemarilah, kita makan siang bersama!" balas Udelia meneriaki dari ruang makan.


Waktu makan tidak boleh tertinggal. Waktu makan hanya sebentar. Udelia tidak akan menggubris segala hal yang mengganggu.


Udelia lanjut makan dengan tenang.


"Lia, gimana kunjungan kemarin?" tanya Doni rekan kerja Udelia, yang sedang makan di depannya.


Wanita itu mengendikkan bahunya.


Jika mengingat hari kemarin, agaknya dia sebal pada sang sepupu. Karena sang sepupu, kunjungannya berakhir dengan cepat.


Seharusnya dia tetap melanjutkan keliling hingga jam terakhir. Ada banyak tempat ingin dijadikannya sebagai referensi dalam aplikasi yang kelak akan dibuatnya.


"Di sana ada perkumpulan gitu, jadi hanya berkeliling.." ucap Udelia dengan wajah yang cemberut.


"Perkumpulan apa tu? Jangan-jangan perkumpulan sesat?" celetuk perempuan di sebelah Doni.


"Mana ada," sahut rekan kerja Udelia yang lain.


"Kalau sesat sih biasanya minta nomor ponsel."


"Uhuk.. uhuk.."


Udelia terbatuk mendengar ucapan rekannya.


Dia teringat pemandu wanita kelompoknya meminta nomor ponselnya.


Apa iya kumpulan hari itu adalah kumpulan sesat?


Lalu, pemandu yang terkenal itu ikut perkumpulan sesat?


Atau dia salah mengenali pemandu yang terkenal? Bisa saja wanita itu hanya mirip dengan pemandu yang terkenal!


Udelia mendadak merasa dibodohi.


"Loh Lia? Jangan bilang ...?" Perempuan di sisi Doni menatap Udelia dengan mata menyelidik.


Dugaannya, jangan- jangan tepat sasaran?


Bila benar, sungguh di luar dugaan. Udelia adalah orang yang hati- hati.


"Iya aku memberikan nomorku," jawab Udelia dengan lesu.


Lesu akan kebodohan dirinya.


"Kami tau kamu ahli IT, tapi kalo sesat gitu ... nanti kamu disantet gimana tuh?"


"Ya ampun. Mbakku baru aja disantet lohh.. Perutnya besar. Tangannya kecil, tinggal tulang belulang!"


"Santet bukan si kalau janin di kandungan tiba-tiba hilang?"


"Kalau itu namanya pencuri janin apa itu namanya..."


Udelia tidak lagi menyahuti pembicaraan yang semakin melebar. Dia menikmati makanannya sambil mendengar cerita rekan-rekannya.


Ternyata ada banyak orang memiliki pengalaman ghaib.


Kebanyakan adalah hal- hal yang buruk.


Sedikit sekali orang yang ditolong oleh hal ghaib.


Apa hal di luar nalar adalah segala sesuatu yang merusak? Merupakan segala sesuatu yang buruk?


Udelia jadi serius memikirkan hal ini.


Jika kelak berjumpa hal di luar nalar, haruskah dia percaya?


Jika dia percaya terjadinya hal -hal ghaib yang di luar nalar, haruskah dia lari?


Bukankah hal di luar nalar adalah segala sesuatu yang menjerumuskan pada hal- hal berbahaya?


Udelia memantapkan hatinya untuk hidup berlandaskan logika.


Dia berkecimpung di dunia kerja yang penuh logika, tidak seharusnya dia percaya hal- hal di luar logika.


"Benar pulang sendiri?" tanya Doni pada Udelia yang sedang berdiri di depan kantor, wajahnya selalu tampak manis di mata Doni, meski terkena kusam oleh hari yang panjang.


Udelia mungil tampak lucu di mata Doni saat wanita itu sedang berdiri sembari memeluk tas besarnya.

__ADS_1


Doni semakin jatuh cinta pada Udelia.


Tak pernah berkurang rasa cintanya pada si gadis mungil, walau tidak berjumpa setiap hari.


Divisi mereka jauh berbeda.


"Ada sepupuku kok," jawab Udelia dengan senyum manisnya.


Jantung Doni bagai meloncat dari tempatnya. Senyuman manis Udelia membesarkan cinta dalam jiwanya.


Hanya saja, dia belum berani mengungkapkan. Dia hanya karyawan biasa yang gajinya bahkan tak sebesar Udelia.


Udelia si manis, si mungil, dan si cerdas. Di usianya yang muda, pencapaiannya lebih tinggi daripada Doni.


"Aku bisa nganter. Sekalian aja bareng," tawar Doni.


"Ga apa kok. Itu si Wiwin butuh tumpangan kayanya."


Udelia melemparkan perhatian Doni pada rekan satu ruangannya, yang menyukai pria itu.


Wiwin selalu tak suka pada Udelia karena selalu mencuri perhatian Doni.


Udelia hanya bisa mengabaikan sikap keduanya yang terlalu berlebihan. Doni yang memberikan perhatian lebih dan Wiwin yang menunjukkan kebencian yang berlebihan.


Bukan tak tahu Doni jatuh hati padanya, tapi Udelia tidak memiliki perasaan yang sama.


"Apa sih?" balas Wiwin dengan sinis.


"Mbak Win, Amel gimana kabarnya?" tanya Doni.


Doni mendekat seraya menggendong tas di balik punggungya. Bila Udelia telah melibatkan orang lain, Doni paham jika Udelia tidak ingin diganggu.


Tentu saja Doni tidak akan membuat pujaan hatinya merasa tak nyaman.


"Sudah keluar dari rumah sakit," balas Wiwin. Suaranya melunak.


"Aku duluan ya Doni, mbak Win!" seru Udelia yang mulai merasakan menjadi obat nyamuk.


"Hati-hati," ucap keduanya bersamaan.


Udelia terpaksa pergi menuju kafe milik Fusena, yang jaraknya lumayan untuk ditempuh dengan berjalan kaki.


Dia mengabaikan permintaan Fusena yang ingin menjemputnya di kantor. Berada di dekat Wiwin dan Doni bukanlah pilihan yang bagus.


Udelia duduk di sebuah kafe yang sudah ditutup seluruh jendela dan pintunya.


Para karyawan sibuk menata mesin dan peralatan yang telah bersih kembali pada tempatnya.


Tak lupa mereka pamit pada sepupu bosnya, sang pelanggan yang selalu mengakhiri hari di kafe tempat mereka bekerja.


"Mari kak Lia..."


"Iya. Hati-hati."


"Lemon tea hangat," serobot Fusena agar para karyawannya tak berlama- lama menyapa sang sepupu.


Fusena meletakkan gelas tinggi di depan Udelia. Wanita itu tersenyum kecil. Tahu saja sang sepupu tentang keinginannya.


Padahal kemarin dia memesan es cokelat yang melimpah.


Hari ini dia ingin lemon tea yang menghangatkan. Fusena menyediakannya tanpa repot bertanya padanya.


"Hari ini kacau sekali. Ada yang live debat, malah saling siram kopi panas," adu Fusena.


Selalu begitu.


Setiap hari Fusena akan menjemput Udelia dari kantornya, untuk menunggunya menutup kafe, sebelum mereka pulang bersama.


Sambil menunggu kafe tutup dengan sempurna, Fusena akan menceritakan segala kesibukannya di kafe.


Tiap kali bercerita, Fusena akan bercerita dengan menggebu- gebu.


"Lalu kamu biarkan?" tanya Udelia sembari menyeruput tehnya.


Teh yang spesial.


"Ngga dong. Staf mereka yang bersihkan semua kekacauan yang mereka buat. Sementara mereka ... dua- duanya melepuh wajahnya."


Fusena berdecak kesal, memikirkan betapa kacaunya kafe hari ini, karena dua pendebat dari kota yang jauh saling serang menyerang.


Datang ke kafe yang viral di kalangan anak muda, malah membuat kekacauan.


Untung saja hari ini hari Senin, pengunjung tak sebanyak hari lainnya.


"Lain kali siapkan es kopi saja," usul Udelia.


"Iya mbak. Nanti kalo ada debat lagi ... bener kata mbak, kami lebih baik siapkan air biasa atau es saja. Itu lebih aman."


Udelia hanya mengangguk kecil. Usulannya belum tentu baik, karena keinginan pelanggan adalah nomor pertama.


Jika menghalangi pelanggan untuk membeli menu yang panas saat hendak berdebat, itu bisa saja mengurangi nilai kafe di mata para pelanggan, karena telah membatasi kebebasan pelanggan dalam memilih menu.

__ADS_1


"Ada juga anak kecil numpahin kopi today. Mana harganya paling mahal. Dan orang tuanya malah minta ganti, padahal staff kami nggak di dekat anak kecil itu! Salah sendiri kok ya minta ganti!?"


Fusena berkata dengan berapi- api. Tak habis pikir dengan pelanggannya yang minta ganti rugi, karena kelalaiannya sendiri. Menyuruh anak kecil memegangi gelas kopi yang besar.


Fusena berdiri dari tempatnya. Dia menatap Udelia yang terus menatapnya. Setia mendengarkan keluh kesahnya, yang mungkin saja terdengar membosankan.


"Itu hari ini. Terima kasih sudah mendengarkan, mbak."


"Sedikit sekali," komentar Udelia.


Biasanya Fusena akan bercerita paling sebentar tiga puluh menit. Kali ini, sepupunya itu hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk bercerita.


Apa ada yang salah dengan Fusena?


Hening. Fusena tidak membalas ucapan Udelia.


Selama beberapa saat, matanya terus saja memperhatikan Udelia.


Udelia tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri. Bertambah merinding saat mendengar Fusena mengeluarkan kalimat yang ambigu.


"Rasanya aku tidak bisa menahan diri, mbak."


Mata Udelia bergerak memperhatikan Fusena yang berdiri dan memutar kunci kafe.


Punggung kokoh itu mendadak terasa horor baginya.


"Fusena.." lirih Udelia. Berharap Fusena hanya bercanda padanya.


Pikiran-pikiran buruk melintas dalam benaknya.


Kalimat ambigu yang diucapkan Fusena menganggu pikirannya.


Suasana kafe sangat sepi dan sepupunya mengunci pintu dari dalam.


Fusena mendekat dengan wajah yang menggambarkan akan frustrasi dan keputusasaan.


Ada kalut dan kemelut pada tatapannya.


Teringat dalam benak Udelia, perkataan rekan- rekannya yang menunjukkan seseorang sedang dirasuki makhluk halus.


Apa Fusena sedang dirasuki makhluk seperti itu?


Udelia merinding.


"Aku mencintai mbakyu," lirih Fusena.


Udelia menepuk bahu Fusena. Mencoba menyadarkan Fusena, yang mungkin saja terkena gangguan ghaib.


Dia menyingkirkan rasa takutnya untuk mengembalikan kesadaran sepupunya.


"Haha. Tentu saja mbakyu juga mencintai Fusena."


Udelia berusaha mengakrabkan diri dengan Fusena yang sikapnya terlihat aneh.


Udelia menyembunyikan gugupnya dengan tawa kecil.


"Aku mencintai Udelia.."


JANGAN LUPAKAN AKU WALAU AKU LUPAKAN KAU..!


Ponsel Udelia tiba- tiba berdering. Nama ayahnya tertera sedang memanggil. Langsung saja dia mengangkat panggilan tersebut dan menjauhkan diri dari Fusena yang bersikap aneh.


"Ya? Ayah?"


"Ambil otokowok di Mang Mitang sepuluh porsi."


Tut tut tut..


Udelia menggeram dalam hati. Ayahnya terkadang begitu semena- mena. Menelepon hanya untuk menyampaikan satu baris kalimat.


Nanti jika masakannya terlalu pedas ataupun tidak pedas, ayahnya akan mengomentari tukang jualan sambil terus melahap masakan yang ada di tangannya.


Mulutnya mengunyah sekaligus mengomel.


Ayahnya begitu bawel seperti emak- emak komplek.


"Fusena, duluan saja. Aku mau ke tukang nasi goreng," kata Udelia setelah menguasai diri.


Dia melupakan tentang sikap aneh Fusena, karena sikap ayahnya jauh lebih menjengkelkan hatinya.


"Aku antar."


"Tidak perlu."


"Mbak, bisakah berikan aku kesempatan?"


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]

__ADS_1


__ADS_2