TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
UJIAN CINTA 1


__ADS_3

"Saya tidak tahu kalau Tuan Mahapatih senang menculik istri orang. Padahal raja kedua Anda musnahkan karena senang bermain dengan istri-istri pejabat," cibir Candra.


"Jangan berbicara ngawur, Tuan Ekadanta," balas Djahan.


Candra memutar bola matanya jengah. Apa pun alasannya, Sang Mahapatih sudah membawa istrinya pergi.


"Beri tahu Nyonya, kepala keluarga Ekadanta berkunjung."


Seorang dayang bergegas pergi memberikan kabar pada Udelia.


"Nyonya, kepala keluarga Ekadanta datang."


Udelia mengangguk dengan semangat. Dia sudah merindukan putra sulungnya, anak kedua yang telah dia lahirkan ke dunia.


"Ibunda.." Rama berhambur mendekati Udelia sambil membawa cokelat di tangannya.


"Kat," terang Rama menyodorkan satu batang cokelat pada Udelia.


"Terima kasih, sayangku." Udelia menerima cokelat di tangan mungil putranya lalu mencium pipi Rama dan menggendongnya untuk duduk bersama Djahan dan yang lainnya.


Suara air dituang ke gelas-gelas kosong memecahkan keheningan. Aroma menenangkan menguar di ruangan itu.


Para dayang dan pelayan yang membawa makanan, mundur teratur keluar dari ruangan. Meninggalkan majikannya dan para tamu.


Udelia mempersilakan dengan tangannya lalu mengangkat gelas, mendahului minum daripada yang lain. Bisa habis waktu bila mereka terus saja berdiam-diaman.


"Kak, Udelia, kamu masihlah istriku dan aku suamimu. Mari pulang dan patuhlah." Candra berkata dengan suara tegas.


"Candra, aku ingin bercerai," lontar Udelia.


"Kenapa? Apa aku berbuat salah pada kakak?"


Udelia menaikkan alisnya. Terheran dengan pertanyaan Candra.


"Kamu bertanya??" ucap Udelia dengan nada tak percaya.


"Aku akan berpisah dengan Triya Wistara."


Udelia mendengus. Pria itu masih saja belum berpisah. Akan dan akan, janji dan janji, yang terus diberikan Candra.


"Aku minta maaf telah membuat kakak lupa, kembalilah lalu kita mulai lembaran baru."


"Tehnya mengandung gula. Jahe saja," sela Djahan mengganti gelas di tangan Udelia. Dia tahu, Udelia telah makan banyak manisan malam tadi.


"Terima kasih."


"Tidak perlu sungkan." Djahan mengelus pipi Udelia dan mencium pipi tembam itu.


Candra mendelik tajam. Mahapatih terlalu berani. "Istriku.."


"Dalam arsip pernikahan, pasanganku adalah Udelia, Tuan Ekadanta."


"Istriku juga Udelia," balas Candra tak mau kalah.


"Kalian memperebutkan saat tahu aku pernah jadi Idaline. Ketika tidak tahu, kalian acungkan senjata," cibir Udelia sembari meletakkan gelas. Ia mengusap wajah Rama yang belepotan oleh cokelat.


Mendadak Candra dan Djahan terbungkam. Candra sungguh tak tahu rupa asli Udelia. Sementara Djahan tidak mengenali Udelia yang telah babak belur, dia pun samar-samar lupa lupa ingat karena hanya melihat dari lukisan.

__ADS_1


Lukisan yang telah tertutupi kain putih agar tidak terlalu berharap.


"Candra, aku takut bersamamu. Tapi jika Djahan tidak menyukai keberadaanku atau merasa terganggu, aku akan keluar."


"Kamu tidak menggangguku." Djahan menggendong Rama yang terus menguap masuk ke dalam kamar.


"Yah?" panggil Rama.


Djahan mengulas senyum. Putra Udelia sudah mau memanggilnya ayah seperti putri Idaline. Tak peduli benih siapa yang dikandung Udelia, anak Udelia adalah anaknya juga.


Semua yang terjadi pada diri Udelia, Udelia tidak dapat menolaknya.


"Sayang bobo ya bareng adinda?"


Rama mengangguk patuh. "Bobo.."


"Candra, terima kasih telah menjagaku selama ini. Entah bagaimana kalau aku tertinggal di gua sampai pagi hari. Tapi mohon jangan memaksaku."


"Jangan berterima kasih pada hal yang seharusnya dilakukan. Aku tak bisa melihat belahan hatiku sekarat."


Udelia tersenyum kecil lalu duduk di sebelah Candra. Memegang tangan Candra yang terletak di atas paha.


"Aku tidak berbohong saat bilang mencintaimu, tapi sekarang hanya ada rasa terima kasih."


"Apa karena Mahapatih?" tanya Candra sendu. Cintanya kalah oleh cinta Udelia pada Mahapatih.


Udelia tersenyum kecut. Candra selalu saja menyalahkan Mahapatih. Terlupakah ia telah menorehkan trauma dalam diri Udelia?


Udelia tidak dapat melupakan bayang-bayang Candra ketika menamparnya hingga memuntahkan darah.


Lebih-lebih lagi Candra telah menikah berdalihkan ingin memberikan ibu susu pada Putranya, padahal Udelia masih sanggup menyusui.


Kesalahan-kesalahan sendiri seolah tertutupi. Sedangkan Candra terus saja menodongnya dengan perkataan-perkatan menyakitkan.


"Aku tak pantas untuk siapa pun," lirih Udelia.


"Aku mencintaimu bukan karena rupa ataupun sikapmu yang begitu anggun dan bijaksana. Tapi ... ketika melihat dirimu jatuh ke dalam kosong, yang ada hanya perasaan ingin melindungi dan tak ingin melepaskanmu."


"Kalau begitu izinkan aku kembali," pinta Udelia.


"Bagaimana dengan anak-anak?"


Candra tak bisa membayangkan mengurus anak-anak tanpa Udelia. Ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan seorang ayah tapi bisa dilakukan seorang ibu. Seperti halnya memberikan asi.


"Mereka memiliki ayah-ayah yang hebat."


"Kenapa?" Candra masih tidak bisa menangkap maksud Udelia pergi dari dunia ini. Anak-anak terlalu kecil untuk ditinggal sendiri.


"Tempatku di sana, bukan di sini," kata Udelia beralasan.


"Kakak bisa menyesuaikan tempat atau ingin kubuat peradaban yang sama?" tawar Candra.


"Tidak, Candra. Tempatku bukan di sini."


"Kalau begitu habiskanlah waktu kakak denganku!"


"Jika takdir menghendaki," ucap Udelia datar.

__ADS_1


"Haaaaah." Candra menghela napas panjang.


"Aku tidak akan bisa menang dari kakak," tutur Candra.


Udelia menggeleng melihat Candra terkulai lemas.


Sedetik kemudian Candra kembali menegakkan tubuhnya. Memegang anak rambut di kening Udelia lalu mengecupnya lama.


"Aku akan kembali menunggu."


Udelia tersentak. Gelombang energi besar masuk ke dalam tubuhnya. Candra memasukkan energi melalui cilak tanda hubungan suami istri di keningnya.


"Kamu mengisinya lagi." Udelia memegangi keningnya. Energi meluap dalam tubuhnya.


"Tentu saja, kamu adalah istriku."


Udelia tidak dapat membantah. Ritual pernikahan telah mereka jalani dengan baik dan benar dan mereka menjadi pasangan suami istri yang diakui.


"Hiduplah dengan baik," pesan Udelia.


"Hidupku selalu baik dan akan jauh lebih baik bila bersama dengan yang kucintai."


Setelah itu tidak ada yang berkata-kata. Candra terlalu merasa bersalah dan akan menjadi keterlaluan jika dia terus memaksa.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


SEHAT SELALU SEMUANYA


CIUM JAUH DARI WANITA PEMILIK HATI YANG BIMBANG


UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...


F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4


... Untuk season 1 ada di profil author.


Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan] SUDAH END


Author: Al-Fa4


... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT


Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan] SUDAH END


Author: Al-Fa4


... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini


Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


Author: Al-Fa4

__ADS_1


__ADS_2