TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
008 - SATU KESEMPATAN


__ADS_3

Lowo merasa ada yang tidak beres dengan ekspresi seseorang yang dikatakan sebagai penyelamat mereka.


Pimpinan perlawanan Kelimutu pada Bhumi Maja itu memberanikan diri untuk mendekat ke tempat dua perempuan beda usia yang sedang saling memandang.


Lowo tidak mengerti yang terjadi di antara keduanya. Yang dia pahami, dia harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


"Dia ditinggalkan keluarga Tendu saat kami menjarah kereta mereka, kami hanya mengambil kesempatan," ucap Lowo tanpa ditanya.


Perempuan ini tampak peduli pada tahanan mereka. Bisa saja tujuan kedatangannya ke tempat mereka, sebenarnya adalah untuk menyelamatkan anak ini.


Jika benar demikian, mereka tidak memiliki kesempatan menang.


Satu orang berjenis kelamin perempuan saja, memiliki kekuatan yang sangat besar. Mereka berlima tidak akan mampu menang melawannya, meski kekuatan mereka disatukan.


Apalagi bila seluruh rangga—yang merupakan ksatria terbaik Bhumi Maja, mendatangi mereka. Dapat dipastikan mereka akan hancur lebur.


Bahkan mungkin gunung akan diratakan, jika mereka dituduh sebagai penculik putri kesayangan Maharaja Bhumi Maja.


Lowo harus menjelaskan bahwa mereka tidak terlibat persekongkolan yang mulai terlihat maksudnya.


Orang ini, orang yang berada di belakang layar, ingin memusnahkan putri kesayangan Maharaja dan ingin memusnahkan Kelimutu dalam satu lemparan anak panah.


Kesaksian masyarakat Kelimutu, utamanya kelompok yang dipimpin Lowo, tentu tidak akan digubris dan tidak akan dipercaya, bila tidak memiliki suatu pegangan.


Mereka hanyalah sekelompok orang yang menculik sang putri.


Asalkan ada orang ini sebagai saksi, setidaknya Lowo telah menjamin keselamatan suku mereka agar tidak terlibat.


Jika mesti dihukum, mereka akan sekadar dianggap sebagai penculik, bukan sebagai komplotan makar yang mengancam nyawa sang putri.


Mereka pun tidak akan dinilai bahwa mereka melawan Bhumi Maja dengan cara yang kotor.


Cara kotor itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang bukan ksatria. Sedangkan mereka adalah ksatria penjaga Kelimutu, yang menjunjung tinggi-tinggi nilai-nilai ksatria.


Seorang ksatria harus saling berhadapan untuk memastikan pemenangnya, bukannya bermain kotor sampai menculik seorang anak yang tak memiliki kekuatan.


Udelia tidak menghiraukan Lowo. Dia memusatkan segala perhatiannya pada anak kecil yang sedang menatapnya bingung.


Udelia terus menatap gadis kecil di depannya. Bulu mata gadis itu terus bergoyang-goyang dengan lucu. Mungkin bingung dengan kehadiran seorang wanita yang terus menatapnya tanpa berkedip.


Mata jernih itu berulang kali menelisik wajah Udelia.


Udelia yakin putri kecil ini sedang takut padanya, sebab dia bersama dengan komplotan penculik.


Mata kecil itu terus menganalisa Udelia dari atas ke bawah.


"Tenanglah.." kata Udelia dengan suara bergetar.


Udelia menahan diri agar tidak menangis.


Setelah perasaannya sedikit tenang, tangannya yang gemetar, terangkat menyentuh dan mengusap lembut pipi tahanan.


"Siapa namamu, nak?" tanya Udelia lembut.


"Maya Lopika Wijaya," jawab anak itu.

__ADS_1


Tidak perlu dilakukan tes DNA untuk mengetahui identitas putri kecil ini.


Wajahnya sangat menggambarkan wajah seorang pria yang baru saja mengecewakannya.


Dan mata hitam pekat ini merupakan mata miliknya, saat berada di raga aslinya maupun saat berada di raga lain ketika dahulu dia berpindah ke zaman ini.


Udelia terbelalak kala anak yang memperkenal diri sebagai Maya Lopika Wijaya itu memeluknya.


Gadis kecil itu memeluknya dengan sangat erat.


Kelopak mata Udelia terkulai melihat punggung kecil dalam pelukannya bergerak naik dan turun, juga berguncang hebat.


Anak ini pasti sangat ketakutan.


Berada di antara hidup dan mati, di tempat yang asing, dan sendirian menghadapi sekelompok penculik, bukanlah hal yang mungkin dilakukan seorang anak kecil.


"Tenang saja, Maya. Tidak akan ada yang menyakitimu." Udelia mengusap lembut kepala Maya. Dia mencuri satu kecupan singkat di ubun-ubun Maya.


Sebuah kecupan yang mengalirkan ketenangan di tanah yang asing.


"Makanlah buah ini, tuan putri. Anda belum makan sejak empat hari yang lalu." Mano menyodorkan bermacam-macam buah di atas daun jati.


Buah-buahan ini terlihat aneh dengan warna-warna yang mencolok.


Mata Udelia memindai dan memastikan sendiri seluruh buah ini adalah buah yang aman dikonsumsi.


"Sini." Udelia menengadahkan tangannya, meminta daun jati yang menjadi piring buah. Mano memberikannya dengan cepat.


"Makan dulu, ya?" Suara Udelia mengalun dengan lembut pada gadis itu.


Ekspresi Mano tercengang. Putri yang selama ini menunjukkan keanggunan, mengeluarkan cairan kehijauan dari lubang hidung ke pakaian bersih perempuan lain, tanpa rasa malu.


Udelia mengangkat wajah anak itu dan mengusap hidungnya sampai bersih, dengan lengan baju panjang yang dikenakannya.


Mano semakin tercengang. Tidak ada ekspresi jijik pada wajah dewinya. Berbeda dengan para gadis di desanya, yang akan marah bila pakaiannya di kotori anak-anak.


"Tuan putri maunya apa?" tanya Udelia.


"Saya ingin ikan bakar," pinta Maya.


"Wah, kemarin saya berikan, tuan putri tidak mau." Mano mengerucutkan bibirnya.


"Baik. Kita akan memancing di jalan," balas Udelia masih mengabaikan Mano.


"Sekarang makan buah dulu ya biar kuat?" tambah Udelia agar Maya mengisi perutnya.


Maya mengangguk dengan patuh, setelah mendengarkan permintaannya dipenuhi.


Dia menantikan ikan bakar yang lezat!


Udelia mengerjapkan matanya menyembunyikan air yang memaksa keluar.


Siapa yang tega mendengar anak sekecil ini belum makan apa pun sedari empat hari yang lalu?


Mungkin dirinya telah kuat karena banyaknya pelatihan. Tapi tetap saja hati seorang ibu tidak akan kuat bila mendengar buah hatinya kelaparan selama berhari-hari.

__ADS_1


Lebih-lebih berada di dalam cengkeram musuh, yang sewaktu-waktu dapat menghilangkan nyawa dan memusnahkan raga.


Mata tajam Udelia memperhatikan sekitar. Dia bisa saja lari dari tempat ini bersama Maya.


Namun melihat baiknya perlakuan Lowo dan kawan-kawannya, juga penderitaan yang diterima mereka berasal dari para pengawal negeri yang pernah dipimpinnya, Udelia akan memberikan mereka kesempatan.


"Aku akan memandu kalian," kata Udelia.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak sudah menyelamatkan saudara-saudari kami," ujar Lowo.


Keempat bawahan Lowo tertawa dalam hati. Wajah atasan mereka terlihat enggan dengan semburat merah di pipi adalah hal lucu di mata mereka.


Berterima kasih pada orang asing tidak sesuai dengan prinsip teguh yang dipegang oleh pimpinan mereka.


Pimpinan mereka pasti menurunkan harga dirinya sampai ke dasar, untuk mengucapkan terima kasih pada orang asing yang bukan dari daerah mereka.


"Katakan saja jika ada yang Anda inginkan," imbuh Lowo.


"Biarkan gadis ini berjalan dengan kakinya." Udelia langsung menjawab tawaran Lowo.


Udelia akan memberikan orang-orang ini satu kesempatan. Jika mereka menyia-nyiakan kesempatan ini, Udelia tidak akan tinggal diam.


Sebelumnya Udelia telah menyelidiki tentang Lowo, Mano, Mondho, Reo, dan Noto.


Mereka berlima memiliki orang tua dan adik-adik yang masih lengkap. Dan kisah yang mereka ceritakan, penduduk juga bercerita hal sama.


Mereka tidak berbohong bahwa para prajurit Maja lah yang pertama kali berulah, mereka melakukan perlawanan hanya untuk mempertahankan diri.


Mereka telah mengatakan pada orang-orang yang menjejakan kaki di tanah mereka, bahwa Kelimutu harus dijaga oleh orang-orang keturunan murni.


Namun kelompok prajurit Maja yang datang, berkata semua harus diurus oleh para bangsawan yang diakui Maharaja.


Berkata tanah ini mutlak milik Bhumi Maja.


"Sesuai keinginan Anda," sahut Lowo menyetujui.


"Ketua, dia akan lari!" tegur Reo.


Lowo menatap tajam Reo, membuat pria berambut kuncir kuda itu menciut. Reo menelan bulat-bulat protes yang hendak dimuntahkannya.


"Ayo dimakan dulu buahnya." Udelia melepaskan pelukan Maya membuat gadis itu merasa kehilangan pelukan yang hangat.


Udelia mencicipi buah yang terlihat manis, lalu menyuapkan potongan lain ke mulut Maya.


"Aaa," ucap Udelia spontan membuka mulutnya sendiri.


Gadis yang hampir setinggi dagunya itu makan dengan lahap. Maya mengunyah setiap buah yang disuapkan Udelia.


"Pintar sekali," puji Udelia mengelus kepala Maya.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


LIKE KOMEN VOTE KOMEN APA AJA

__ADS_1


__ADS_2