![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
019 - PRIA ITU MEMAMERKAN WAJAH LUGUNYA
"Maksudku dunia kita sangat jauh. Karena aku ada sejak ratusan tahun lalu. Aku Djahan Mada, Mahapatih Bhumi Maja. Mahapatih yang kamu pelajari di bangku sekolahmu dan di dunia kerjamu."
Udelia tertegun mendengar ucapan Djahan. Benaknya bertarung antara logika di kepala dan jiwa di hati.
Benarkah ucapan Djahan?
Apa pria itu membual untuk mendapat perhatiannya?
"Akan kuanggap perkataanmu sebuah kebenaran. Lalu, kenapa kamu mengejarku seolah aku adalah duniamu? Kamu bahkan mengabaikan sakitmu!"
Djahan meringis. Adalah hal mustahil Udelia tak tahu seberapa sakitnya, karena wanita itu benar- benar menangani dirinya selayaknya anggota keluarganya yang sakit.
Mendaftarkan administrasinya, menungguinya, dan menerima kabar dari dokter tentang kondisinya.
"Kamu juga pernah tinggal di sana, sayang."
"Aku?"
"Ya. Bahkan sepupumu, Petapa Agung, maksudku Tuan Fusena."
"Dia petapa agung!? Bocah sepertinya?"
"Satu- satunya."
"Gila."
Djahan terkekeh geli. Rupanya yang menganggap orang agung itu gila bukan dirinya. Meski, beda maksud dari kata gila yang terlontar.
"Aku tidak menyangka bocah sepertinya menjadi petapa agung."
"Dia yang membuat gempa kemarin."
Kalimat itu Djahan tahan di bibirnya. Jika saja mereka sudah dekat seperti dulu dan Udelia mempunyai pengetahuan tentang ilmunya, Djahan akan mengadukan perbuatan buruk sepupu istrinya itu.
"Aku jadi apa di sana?" tanya Udelia penasaran.
Dia yang pemalu, paling- paling jadi seorang pelayan. Atau mungkin seorang tabib karena keahliannya dalam melakukan pertolongan pertama?
"Istriku."
"Bagaimana bisa?"
"Sangat bisa."
Djahan berkata dengan mengulas senyum yang sangat manis.
Udelia mengalihkan wajahnya tak mau terbius dengan senyuman itu.
"Kamu membuatku melupakan prinsipku untuk tidak jatuh cinta pada kaum di luarku. Apalagi kaum dari wilayah ini. Wilayah Sunda."
Udelia tentu tahu sejarah Mahapatih yang sangat rasis. Tidak menghendaki ratu dari kaum lain.
Tapi, itu dapat dimengerti.
Gadis- gadis negeri sendiri tentu ada yang lebih baik, kenapa harus gadis dari luar daerah jika itu hanya untuk memenuhi janji berupa candaan secara lisan?
"Kamu menikahiku?"
"Kita hampir mempunyai satu anak."
"Kenapa?"
"Salahku tidak bisa menjagamu. Sekarang, aku berjanji akan terus menjagamu. Tidak akan kubiarkan kamu kembali merasa susah."
Udelia tidak melanjutkan percakapan itu karena dokter melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
__ADS_1
Dia tidak diperbolehkan ada di dalam.
"Kenapa mengusirnya!?" kesal Djahan pada para dokter yang telah menjadi bawahannya.
Dokter paling terkenal di pulau itu. Juga memunyai sertifikat yang diakui dunia.
"Kami tahu Anda sangat lama mencari dan berusaha membujuk nyonya. Tapi sekarang masih belum waktunya, Tuan. Cukup luka luar yang beliau tahu. Jiwa dan mental Anda harus diperbaiki. Anda tidak mau dicap gila oleh beliau kan?"
Dokter berstandar internasional itu turut mempelajari ilmu- ilmu non medis. Seperti sekarang hendak memperbaiki jiwa tuannya yang sakit.
Djahan tidak lagi membantah. Kata gila berarti menyamakannya dengan kelakukan si petapa agung yang gila, petapa gila.
"Apa masalahnya?" pasrah Djahan pada akhirnya.
"Hidup Anda tidak akan bertahan lama jika terus dibiarkan. Dapat hamba katakan, raga Anda tidak cocok dengan dunia ini. Dalam penelitian hamba selama tiga bulan ini, hamba menemukan bahwa raga Anda sudah mencapai usia ratusan tahun."
"Maksudmu aku tidak akan bertahan lama hidup di dunia ini?"
"Masih kami periksa, Tuan. Kandungan darah Anda sangat berbeda dari kebanyakan orang. Seperti pernah mati lalu hidup kembali."
Dokter menunjukkan tabel nilai darahnya dan nilai darah orang pada umumnya.
Djahan tak mengerti.
"Sakit organ tubuh Anda adalah bukti belum sempurnanya penyatuan tubuh dan jiwa Anda."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Hamba sudah memanggil guru. Mungkin tidak terlalu pandai seperti masa Tuan, tapi semoga membantu.."
"Lakukan yang terbaik. Aku ingin menyudahi rasa sakit ini, agar bisa melakukan aktivitas yang banyak."
"Kalau begitu, Anda tidak boleh mangkir lagi dari pengobatan."
Dokter memperingati Djahan yang sudah seenaknya dalam memilih jadwal terapi. Selalu bepergian ke kota yang jauh, setiap harinya. Tidak memikirkan kondisi tubuhnya yang letih.
"Ya."
Udelia kembali mendapatkan panggilan kerja sepulang dari wisata liburannya.
Perempuan itu masih menimang haruskah kembali ke kantornya dahulu?
Kantor itu telah selesai diperbaiki sejak pemerintah menghilangkan status siaga pada kota setempat.
Udelia mengangkat jempolnya. Mengetikkan beberapa kata usai menyapa kesopanan bosnya yang menghubungi secara langsung.
Untuk Pak Bos:
Saya baru saja terkena musibah ****** beliung di kota A, Pak Bos. Apakah boleh menunggu pemulihan dahulu?
Dari Pak Bos:
Saya lihat beritanya. Lekas sembuh, Nona Udelia. Kapan pun kamu mau bergabung kembali, bilang saja pada saya. Saya menunggu ide- ide kamu.
Untuk Pak Bos:
Terima kasih, pak bos.
Masih banyak pekerjaan di kantor. Tak lama lagi akan ada launching aplikasi terbaru, serta tugasnya menggarap aplikasi Djahan sama sekali belum dimulai.
Udelia harus meminta izin pada Djahan.
Berharap Djahan dapat perlahan membaik dan dia dapat pergi dengan natural.
Udelia menunggu dengan hati yang cemas.
Jujur, tiap kali berdekatan dengan Djahan ada rasa yang terpendam dalam hatinya. Memberontak ingin terus berdekatan.
Tapi kelakuan Djahan yang seperti laki- laki murahan membuatnya ilfil dan enggan menatapnya. Jengah akan kelakuannya.
__ADS_1
Melihatnya tak berdaya, meluruhkan jengkel di hati. Udelia melihatnya sebagai pria yang haus akan perhatian.
Namun, kenapa hanya padanya?
Benarkah semua cerita pria itu?
Dia dan dirinya telah menikah?
Karena dasar cinta yang kuat?
Lantas pria itu mengikutinya ke dunia ini?
Apa dia reinkarnasi istri tersembunyi Mahapatih Yang Legendaris?
Kenapa harus dia? Dia tidak punya kualifikasi yang bagus.
Udelia menyerah dengan tebak- tebakannya. Matanya mengintip di sela gorden yang tersibak di dalam kaca ruangan.
Wajah Djahan sangat serius, ekspresi yang tidak pernah didapati olehnya. Sebab pria itu selalu berlaku murahan.
Dalam manik mata hitamnya, Djahan terlihat sangat berwibawa. Walau tak mendengar suaranya, Udelia dapat membayangkan nada beratnya.
Tidak ada cerah dalam matanya. Begitu dingin seolah tidak mempunyai perasaan.
Orang- orang di sekitarnya nampak sangat menghormatinya.
Udelia mundur dari muka pintu. Dia kembali duduk di kursi tunggu.
Wajahnya memerah.
Dia melihat pria yang sangat memukau.
Dia terpukau dengan sikap Djahan yang terlihat tegas.
Jantungnya berdebar.
Pria asing yang murahan itu dapat berlaku tegas?
Udelia jadi penasaran rasanya berlindung di balik tubuh yang kokoh itu.
Bukan tubuh yang senangnya bersikap lemah.
"Nyonya, terima kasih sudah menunggu. Maafkan kami. Pemeriksaan ternyata lebih lama dari dugaan. Andai tahu seperti ini, kami akan mengirimkan camilan untuk Anda."
Hampir saja Udelia terlonjak dengan memalukan karena suara dokter yang mengagetkan jantungnya.
Udelia mengulas senyum pada sang dokter. "Tidak apa, dokter. Bagaimana kondisi Djahan?"
"Fisik beliau masih lemah. Harus istirahat secara total. Nyonya mau kan terus menemani Tuan Djahan? Beliau akan terus merengek mengikuti Anda jika Anda pergi."
"Anda kaki tangan Djahan?" tanya Udelia spontan. Dokter itu terlihat sangat merendah.
"Benar, Nyonya. Jika Anda membutuhkan sesuatu atau ada keluarga Anda yang membutuhkan perawatan, saya siap datang ke rumah Anda."
"Itu akan merepotkan. Rumah saya jauh."
"Tidak masalah, Nyonya. Kalau begitu, mari.."
Udelia mengangguk singkat. Kemudian karena tak ada orang lagi di lorong, dia memutuskan kembali masuk ke dalam ruangan.
"Udel, tolongin kepalaku. Sakit sekali rasanyaaa."
Wibawa yang terlihat kuat tadi menghilang. Pria itu memamerkan wajah lugunya.
Udelia tidak dapat berkata- kata.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]