TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 036


__ADS_3

036 - TUANNYA


"Siapa pria itu?"


Wara bersama istrinya menyidang sang putri.


Setelah kepulangan mereka dari klinik, tak lama orang dari rumah sakit mencari keberadaan pasien yang hilang.


Mengembalikan kepunyaan pasien yang mengundang tanya.


Udelia tidak punya pilihan lain selain mengungkapkan semuanya.


Dia tidak mau terjadi masalah ke depannya.


"Sama seperti Djahan."


"Sama seperti Mas Han? Calon suami Mbak?" kelakar Lamont yang mendapat toyoran dari kakaknya, John.


"Emang Mbak kita wanita apaan?" kata John sengit.


"Bukan calon suami, tapi suami Mbak," jawab Udelia dengan ringan.


Kenyataannya seperti itu kan?


Tidak ada angin tidak ada hujan, ada dua pria aneh yang mempunyai latar belakang aneh mengakui suaminya, usai Fusena mengungkapkan dirinya sebagai pelaku poliandri.


Yang satu kadang berbentuk hewan dan manusia.


Yang satu muncul di tengah jalan dengan pakaian kuno yang sangat khas.


"Lawaknya ga bagus, Mbak." John mulai menangkap sinyal serius dari wajah kakaknya.


"Bener, Nak? Kamu selingkuh dari Mahapatih?" cecar ibu Udelia.


"Mahapatih?" Lamont bertanya- tanya.


"Djahan Mada, pria yang melamar kakakmu, adalah sosok yang sama dengan Djahan Mada yang kita kenal," kata ibu Udelia menjelaskan singkat tentang calon mantunya.


Udelia menimpali dengan cerita Fusena, bukti- bukti yang ditunjukkan Djahan, serta hadirnya dua makhluk yang mengaku sebagai suaminya.


Lamont dan John terdiam. Sebagai sosok yang dibesarkan di dunia modern, mereka tidak percaya dengan kisah kakaknya.


Hanya ada satu tujuan dari effort yang dilakukan oleh orang- orang itu; menipu untuk menghasilkan uang.


"Kalau begitu Mbak itu pedofil ya? Si Hayan itu kan masih seumuranku! SMA aja belum lulus. Mbak yang mau kepala tiga malah nikahin anak SMA!" kelakar Lamont sambil bergidik nyeri.


"SONTOLOYO!!" Udelia melempar bantal yang dipeluknya.


Adiknya tidak ada akhlak!


Dia saja tidak tahu kenapa bisa mempunyai suami yang sangat muda begitu, bagaimana bisa dikatakan sebagai pedofil??


"Bu, demi kebaikan bersama. Bagaimana kalau kita terima saja usulan Mas Han yang mau mengurus semua biaya pernikahan? Kita harus mewaspadai cerita Mbak Udel."


"Maksudmu mereka menipu??" tuding ayah Udelia pada anak keduanya, John.


"Punya bukti apa kamu?" lanjut sang ayah yang sudah menghambakan diri pada Mahapatih Bhumi Maja yang legendaris.


"Ayah, kumohon dengarkan Jon. Jon hanya tidak mau kita tertipu mentah- mentah. Kita yang paling berpendidikan di desa ini. Malu kalau kita tertipu. Aku akan bersimpuh di depan umum kalau memang benar dia orang sebesar itu!" kata John lembut tapi tegas.


Dia tidak mau keluarganya masuk ke dalam perangkap!


"Sebagai jalan tengah. Ibu cuma mau mengusulkan bagaimana kalau kita tetap menyumbangkan uang untuk makanan? Setidaknya itu berguna andaikata Jon benar," kata ibu Udelia menengahi.


Hari itu berakhir dengan keputusan sang ibu.

__ADS_1


Udelia menjadi uring- uringan kala semua yang terjadi hari itu bagai mimpi.


Tiada lagi buaya raksasa yang mendatangi rumahnya, apalagi buaya raksasa yang berubah menjadi manusia.


Hayan si pria depresi juga tidak bertindak berani, selayaknya di awal. Bahasanya pun lancar seperti yang lain.


Tidak lagi terdengar bahasa kuno di rumah ini.


"Apa benar semua itu hanya tipuan?" bisik Udelia pada angin yang lewat.


Suara pintu terketuk tiga kali lantas terbuka, menampilkan Hayan dengan celemek biru bertabur aksen love, milik Udelia.


Pria itu mau saja dijadikan pesuruh oleh adik- adik Udelia.


Manut pada segala perintah.


Masakannya lumayan. Udelia jadi tak dapat berkata- kata untuk menyuruh adik- adiknya berhenti menyuruh Hayan.


Dia ingin merasakan masakan Hayan tiap hari.


Apa pekerjaan sebenarnya pria itu adalah seorang koki?


Koki di rumah makan milik Djahan yang hendak mengujinya?


"Bisa jadi begitu!" seru Udelia tanpa sadar.


Hayan melirik sekilas Udelia yang tiba- tiba bersemangat.


Dia mendengar ketika beberapa hari lalu keluarga ini melakukan sidang.


Muncul ketidakpercayaan terhadap cerita Udelia sebagai pelaku poliandri oleh adiknya sendiri, John.


Hayan mencari aman untuk tidak terlalu menonjolkan rasanya pada Udelia. Memberikan kesan kelinci putih yang tidak berbahaya.


Lebih- lebih usai acara persidangan itu, ayah Udelia yang tampak percaya sekali dengan Mahapatih, mendadak terus menatap Hayan yang pura- pura masih terlelap.


"Hey, Hayan! Kamu ini bolos dari sekolah? Tidak sekolah lalu bekerja di resto Djahan? Ke sini untuk sebuah misi? Katakanlah!"


Hayan serupa anak sekolah yang seusia dengan adiknya. Udelia tidak perlu bersikap formal.


"Aku tidak bisa ilmu modern. Tapi silakan tanyakan apa pun. Ilmu kepemerintahan adalah keahlianku .... kak."


Hayan sedikit geli saat memanggil istrinya sebagai kakak.


Inginnya memanggil sayang.


"Pemerintahan? Jangan bilang kamu menteri, seperti Djahan?"


"Aku Maharaja, bukan menteri!"


Kesal sekali hati Hayan! Tiap pembicaraannya dengan Udelia, selalu saja membahas Djahan.


Batang hidungnya saja tak nampak.


Hayan tak yakin Djahan setia di era ini.


Dulu memang dia yang punya banyak istri selain Udelia dan Djahan adalah sosok suami yang setia menunggu istrinya kembali dari dunia lain.


Tapi bukankah roda dunia itu berputar?


Bisa jadi Djahan yang tidak setia di sini!


Pria itu, tidak punya kesabaran untuk mengikat Udelia.


Bisa menunggu waktu, tapi tak pandai berjauhan.

__ADS_1


Di sana saja Djahan terus mendatangi Udelia kala waktunya pingitan.


Di era sini, masa Djahan sama sekali tidak pernah mengirimkan pesan pada Udelia?


Hayan terus mengawasi Udelia dua puluh empat jam, tiada tanda- tanda Udelia dan Djahan berkomunikasi.


Dia sudah paham tentang alat elektronik, karena Lamont dan John terus mendesaknya belajar, oleh sebab dia hampir meledakkan rice cooker di atas kompor.


"Maharaja? Nirankara Hayan Wijaya??"


****!


Udelia baru sadar ada kata Hayan dalam nama Maharaja yang terkenal oleh golden age nya!


"Iya ... sayang ..."


Hayan menjentikkan jarinya.


Memanggil kuda sembrani yang indah.


Terkikik dengan elegan.


Menghentakkan kaki seolah bahagia.


"Senang bertemu Anda, Maharani.."


Udelia tidak mencari sumber suara yang menggema di kepalanya. Dia mematung menatap kuda sembrani.


Kuda yang sangat indah.


Sayapnya bagai sayap malaikat.


"Ini ... kuda sembrani?" tanya Udelia mengingat salah satu hewan mitos itu.


"Benar, Yang Mulia..."


Meraih dada kuda, menekan- nekannya. Memastikan kuda indah di depannya bukan khayalan.


"Kamu bisa menaikinya dan berkeliling kota. Namanya Berani, jika kamu lupa."


"Berani.." panggil Udelia.


"Ya. Yang Mulia."


Udelia tidak perlu mempertanyakan suara siapa itu.


Di depan gerbang. Dalam mobil yang ditutupi kaca film yang hitam pekat, Djahan tertegun merasakan kekuatan yang amat familiar.


"Tunggu!"


Keluar dan meneriaki tangan kanannya yang hendak masuk ke dalam rumah Udelia.


Dia mendengar ada sepupu jauh Udelia tinggal menginap di sana.


Andai perempuan, dia tidak akan segusar ini.


Firasatnya tak salah.


Bukan sepupu jauh yang calon istrinya temui, tapi sosok yang sangat menjengkelkan di matanya.


Tuannya.


Dia tidak pikun untuk mengingat aura sekitar, walau belum atau mungkin tak akan lagi mampu menyerapnya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2