![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Hiks.. suka Nda.. Suka Nda doang. Ga suka ayanda.. Nda..Huaaa. ga suka ayahanda... Huweee. Suka ibunda.. ga suka ayah.. suka bunda doang.."
"Ada apa nak?" tanya Djahan dari ruang tamu. Dia terlalu kaget mendengar jeritan Rama sekaligus merasa malu karena tidak disukai anak kecil.
Mungkin, wajahnya terlalu garang bagi anak kecil. Anak-anak bawahannya pun menangis jika melihat Djahan. Apalagi Djahan sudah membuat Rama mendapatkan trauma jika berjumpa dengan orang asing.
Djahan kira semalam dia sudah membuat Rama nyaman karena mau digendong olehnya. Ternyata, dia tetap tidak disukai Rama.
"Huaaa bunda. Ibunda...."
Djahan memberanikan diri untuk masuk ke kamar Udelia. Niatnya dia membatasi diri jika Udelia belum mau menerimanya.
Niat itu dia urungkan terlebih dahulu karena suara tangis Rama semakin kencang.
Posisi Udelia yang tergeletak di sisi ranjang tidak terlalu menakutkan bagi Djahan. Suara tangis Rama membuatnya khawatir. Takut Udelia terkena sesuatu.
Rama bercerita banyak saat di Wanua Mejeng. Rama sudah tidak takut pada Djahan karena lebih takut melihat ibundanya banyak darah.
Tangisan Rama membuat Djahan takut Udelia berdarah lagi seperti cerita si kecil yang tidak suka padanya.
"Ibunda sedang tidur," tutur Djahan.
Djahan mengusap rambut Rama. Menenangkannya.
"Ayah pindahkan dulu ya? Rama bisa geser?" pinta Djahan lembut dengan senyum yang lembut, berusaha meraih hati Rama yang masih lembut.
"Bisa." Rama mengangguk, hendak turun namun tubuhnya telah terbang dipindahkan sang ayah ke atas kursi.
"Sebentar ya. Jangan bergerak."
Rama sekali lagi mengangguk patuh. Dia diam berdiri memperhatikan ibundanya sedang digendong oleh ayahnya.
Djahan membenarkan posisi Udelia. Meletakkannya di atas kasur agar tidak salah urat. Djahan telah memeriksanya. Tidak ada hal gawat. Dan dia berharap benar demikian.
"Nda.." panggil Rama masih dengan sesenggukan.
"Sini, sayang."
Rama menggeleng. Dia tidak mau turun dari kasur. Kakinya terlalu kecil untuk melangkah. Rama merentangkan tangannya minta digendong.
Djahan menuruti si kecil, dia membawa Rama ke sisi Udelia.
"Ibunda tidul?" tanya Rama melihat sang ibunda tidak kesakitan seperti dahulu, melainkan wajahnya damai seperti saat tidur di malam hari.
"Iya."
Mendengar jawaban Djahan, Rama berusaha turun dari ranjang. Sontak Djahan membantunya agar tidak terjatuh.
"Jangan ganggu," bisik Rama menarik tangan Djahan.
"Baiklah." Djahan mengacak rambut Rama dan menggendongnya keluar.
__ADS_1
"Ya ampun, apa yang sebenarnya kamu lakukan setelah melahirkan, nok?" lempar Siji begitu muncul di depan ranjang Udelia. Dia telah dihubungi Djahan untuk membawa Ra Konco.
"Sangat banyak yang terjadi, Tuan Siji," ucap Ra Konco sembari memegang denyut Udelia. Dia sendiri menyaksikan bertubi-tubi cobaan yang diterima Udelia.
"Tapi sungguh, bisa menahannya selama itu.." Ra Konco berdecak kagum.
"Kenapa dia tidak sehat dinaungan Anda, Mahapatih?" cecar Hayan yang datang bersama Ra Konco.
Djahan menghela napas panjang. Ingin hari-hari liburnya damai bersama Udelia. Dia justru kedatangan dua pria paling menyebalkan. Hayan dan Candra.
"Anda jangan menutup sebelah mata, Maharaja," sinis Djahan.
"Tuan Ekadanta, ada yang ingin dibicarakan?" tanya Djahan dengan nada tak suka.
"Kami baik-baik saja sebelum Anda sekalian datang," balas Candra balik menatap sinis Djahan dan Hayan. Bila terus-terusan takut pada keduanya, dia tidak akan mendapatkan kembali istrinya.
"Kamu membuatnya hidup dalam kepalsuan," lontar Djahan duduk memangku Rama.
Rama tertawa senang melihat ketiga ayahnya berkumpul bersama. Ibunya ternyata memenuhi keinginannya, meski tidak menemani karena tidur.
"Daripada menghadapi hal-hal buruk," ucap Candra masih tak mau kalah.
"Itu adalah ujian untuk meningkatkan nilai diri."
"Saya hanya ingin melihat senyumnya."
"Seribu senyum palsu tidak bisa mengganti satu senyuman tulus."
"Yang Mulia hanya demam dan flu akibat kelelahan. Anak-anak kecil tidak boleh mendekat hingga beliau sembuh," jelas Ra Konco.
"Hanya itu?" tanya Hayan memastikan. Dia tidak mau kecolongan lagi dan membuat Udelia menjadi sakit.
"Jika demam beliau turun dalam lima hari, semua akan baik-baik saja."
Hayan mangut-mangut mendengar penuturan Ra Konco. Dia meminta Ra Konco kembali pulang. Dia ingin menemani Udelia sampai kembali sehat.
"Maharaja, Anda memiliki banyak pekerjaan," tegur Djahan mengingatkan dan tak mau diganggu.
"Harusnya Mahapatih turut membantu," balas Hayan tersenyum sinis. Mengambil jatah libur untuk bersama dengan istrinya.
Sungguh hal yang gila, namun Hayan tidak bisa tidak mengabulkan keinginan cuti Djahan.
Tiga belas tahun Djahan tak pernah cuti, bahkan mengurus putrinya yang sudah memiliki guru dan pengasuh.
"Saya sedang libur," kata Djahan.
"Percepat liburan Anda, ada gerakan di Tlogo Rejo. Dan Ekadanta, tetaplah di rumah sampai datang keputusan!" Hayan masih tidak terima Candra telah melakukan sebuah kejahatan menipu Maharaninya.
Hayan mengambil tangan Rama. Dia ingin bersama anak itu untuk mengobati rindunya pad Udelia.
"Pergi sama ayahanda?" ajak Hayan.
__ADS_1
"Sama ibunda."
"Ibunda akan menyusul."
"Ga mau!" Rama teringat Hayan membawanya pergi dan berjanji ibundanya akan menyusul, namun sampai selesai ibundanya tak kunjung menyusul.
Djahan menurunkan Rama.
"Ayah??" Rama terbingung-bingung kenapa dia diturunkan dari pangkuan ayahnya.
"Ibunda sedang tidur," jelas Djahan singkat.
Rama mengerutkan keningnya lalu mengangguk mengerti. Bocah cerdas itu tahu ibundanya tidak apa-apa. Ibundanya hanya sedang tidur. Kalau sudah bangun akan menyusul Rama.
"Okeee!" seru Rama setelah sejenak berpikir.
"Oke?" beo Hayan menaikkan alisnya.
"Oke adalah iya, Yang Mulia," jelas Candra.
"Ayo, sayang."
Tanpa pamit, Hayan menggendong Rama menaiki kereta kuda. Dua pria beda usia itu beranjak pergi meninggalkan kediaman Mada.
"Karena istri saya sedang sakit, Raka akan saya bawa pulang," kata Candra memberi tahu. Dia tidak perlu izin, karena dia adalah ayahnya Raka.
Candra sedih karena berkunjung ke kediaman Mada untuk bermain bermain bersama Rama dan Raka. Namun Rama memiliki ayah yang sesungguhnya. Dia tidak dapat egois menahan Rama untuk bersama dengannya.
"Bawa saja istrimu ke sini," cetus Djahan.
Candra menggeleng. "Itu akan menyakiti Udelia."
"Tubuh Raka lemah. Terus dibawa ke sana kemari. Menginap saja di sini bersama .is.tri.mu." Tekan Djahan di akhir kalimat pada kalimat istrimu.
Meski kesal, ucapan Djahan ada benarnya. Bayinya masih kecil, tidak mungkin Candra menyiksanya untuk membawanya pergi walau hanya di rumah peket.
"Baiklah. Saya permisi, Tuan Mahapatih."
"Padahal kalau tuan membiarkannya, Anda bisa berduaan dengan Udel," komentar Loro.
Djahan menyunggingkan senyumnya.
"Tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu."
"Saya akan ke bukit Napa mencari tanaman langka," izin Siji.
"Pergi. Lakukan yang diperlukan."
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]