TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
005 - SEMUA PRIA MEMANG SAMA BUSUKNYA


__ADS_3

Dengan buah gandaria di tubuhnya, Udelia dapat menyerap aura dengan mudah, lebih mudah dari tubuh Idaline yang berat.


Idaline adalah tubuh yang Udelia rasuki sepanjang dirinya koma.


Selama menjadi Idaline, Udelia telah mendapat berbagai pencapaian yang tinggi dan berada di posisi tertinggi.


Yang paling mencolok adalah dia belajar pada Petapa Agung.


Dia mempelajari semuanya dengan mudah dan mempraktekkannya dengan lancar.


Jadi ketika sekarang dia berada di tubuhnya sendiri, Udelia bisa dengan mudah dan lancar menerapkan ilmu-ilmu yang diajarkan Petapa Agung.


Ilmu petapaan, sihir, sampai seni berperang.


Sekarang dia kacaukan barisan pertahanan musuh dengan memperpanjang jadwal para prajurit. Dia juga melakukan hal-hal kecil yang mampu membangun kecurigaan dan kecemburuan antara satu dengan yang lain.


Udelia memindahkan barang penting seseorang ke tenda lain dan dengan selembar kertas di kamar Yuyud, Udelia mempermainkan gaji dan bonus para pengawal, para prajurit, dan para ksatria.


Walaupun mereka tidak terlibat kebejatan, mereka yang banyak itu membiarkan satu orang melakukan kesalahan juga termasuk kejahatan yang besar.


Melihat makanan yang menggunung di kamar, para pengawal tidak akan membuka kamar hingga keesokan hari.


Setelah memporak-porandakan markas dalam keheningan malam, Udelia membebaskan satu persatu tahanan dan membawa mereka keluar dari markas Yuyud.


Udelia menyelinap pergi dari atap. Harus dia akui pertahanan pasukan Maja ini tidak tertembus, andai seseorang tidak mampu loncat dengan tinggi.


"Aku ingin bertemu tuan." Ekawira, tangan kanan Yuyud, berdiri dengan kertas di tangannya.


Dia melihat ada sesuatu yang aneh!


Bagaimana bisa penetapan jam jaga sangat timpang?!


Satu kelompok berjaga sangat lama, sedangkan satunya lagi hanya beberapa saat.


Ini bisa merusak stamina sebagian besar orang dan membuat besar kepala sebagian yang lain, karena merasa diistimewakan.


Hal seperti ini dapat memecah kesatuan kerja sama tim.


"Mohon maaf, tuan muda. Beliau sekarang sedang berlibur." Pengawal itu menilai Ekawira adalah pribadi yang gampang.


Jadi lebih baik menghadapi Ekawira dari pada harus mengganggu Yuyud, yang sering kali marah-marah karena hal kecil.


"Dia membuat tulisan ini sambil mabuk!" geram Ekawira meremas kertas di tangannya.


Pengawal itu menatap wajah serius Ekawira. Dia sedikit takut dengan aura yang dikeluarkan Ekawira, lalu dia memutuskan masuk ke dalam rumah tinggal Yuyud.


Pengawal bersimpuh di depan bilik, yang terdapat tepat di depan kamar. Dia memanggil tuannya dengan hati-hati.


Tak kunjung mendapat jawaban dari balik bilik, pengawal itu memberanikan diri melongokkan kepalanya ke pintu kamar.


Dia terkejut mendapati mayat sang tuan tergeletak di lantai.


"ADA PENYUSUUUUP!!"


Rekan-rekan pengawal langsung memasuki kamar, begitu mendengar teriakan si pengawal.


Ekawira memijat dahinya. Dia telah membereskan jadwal prajurit yang berantakan dan kini bersiap menyambut kedatangan pemimpinnya yang disembunyikan Yuyud.


Di saat bersamaan, dia memerintahkan orang-orang di bawahnya untuk mencari jejak pembunuh dan jejak tahanan yang kabur tanpa menimbulkan keributan.


Sementara itu di tempat Raja Ende berada, kakak dari Raja Ende menyambut kedatangan adiknya di rumahnya dengan muka masam.


"Cendana, kamu mendengarkan anak muda itu?" tanya Gaharu, kakak Cendana yang melenggang keluar dari dunia politik dan lebih memilih menjadi pemburu hewan. Dia sedang menajamkan ujung anak panah di atas batu.


"Dia sudah menyelamatkan kita semua tanpa satu pun yang tertinggal. Dan ucapannya tidak salah, mungkin saja dengan bergabung akan menguntungkan kita. Satu pasukan saja tak kuat kita tahan, bagaimana kita bisa menyinggung Bhumi Maja?"

__ADS_1


Cendana adalah pemimpin di Ende. Dia dan para prajuritnya dikejutkan dengan kedatangan pasukan Kelimutu, yang membawa putri-putri desanya kembali dengan selamat.


Kemudian Udelia, yang menjadi pemimpin pasukan itu, mengusulkan penyatuan daerah atau permintaan perjanjian damai.


Meminta perjanjian damai pada negeri besar yang terus menerus melakukan perluasan wilayah adalah hal mustahil.


Apalagi target negeri itu adalah menyatukan semua kepulauan di sini. Ambisi mereka dan kekuatan mereka sangat besar, Cendana menyadari dia hanyalah seorang raja di tempat kecil yang dapat dimusnahkan begitu saja.


Jadi Cendana memilih usulan pertama, yaitu menyatukan daerahnya dengan Bhumi Maja.


Keputusan ini pun bukannya tidak menguntungkan sama sekali. Ende akan tetap milik Ende, mereka hanya harus melaporkan dan memberikan pajak, lalu akan dilindungi Maja sebagai bagian Maja.


"Kepala suku tau yang terbaik." Gaharu memasukkan anak panah yang sudah diasahnya. "Tapi, di mana keponakan tercintaku?"


"Sedang dicari oleh gadis itu," kata Cendana merujuk pada Udelia, gadis yang membawa cahaya bagi negeri mereka.


Udelia menghela napas panjang, sebab tak kunjung menemukan Cendera.


Dia sedikit khawatir setelah mendengar cerita dari sepupu Cendera, bahwa Cendera sedang menghadapi pimpinan Yuyud.


Orang bejad itu pasti memiliki dukungan dari orang bejad lainnya.


Semakin menjauhi Ende kaki Udelia semakin memberat dan degup jantungnya terasa berada di atas roller coster.


Dia tidak merasa ini merupakan rasa takut. Akan tetapi rasanya dia seperti akan dikejutkan dengan sesuatu yang besar!


"Ada apa?" batin Udelia takut pada dirinya sendiri.


Dan semak belukar yang dibuka dengan kedua tangannya, menjadi salah satu penyesalan terbesar di hidup Udelia.


Di sana terlihat laki-laki yang sangat dikenalnya dan gadis yang baru berbincang-bincang semalam dengannya, berada di bawah kain yang sama.


Sebuah kain tipis yang tidak mampu menyembunyikan tubuh telanjang mereka.


Suara ranting patah membuat kedua insan itu terbangun. Udelia menutup mulutnya, lalu berlari sekencang mungkin. Pergi jauh dari tempat indah bagai surga, namun sesak bagai neraka.


Bulir air terbang dari kedua sudut mata Udelia.


Ayunan kaki Udelia semakin lama semakin lambat. Dia memegang batang pohon yang besar dan bersandar di sana, meluapkan sesak di dalam dadanya.


Di sisi lain pohon itu, seorang pria sedang berdiri menikmati langit pagi yang masih redup, didampingi pelayan yang memegangi obor.


Suara tangisan di balik pohon besar, membuatnya penasaran. Berbanding terbalik dengan pelayannya yang gemetar ketakutan, karena percaya keberadaan hantu.


Pria itu mengambil obor dan mengusir pelayannya pergi. Pelayannya langsung kabur dan mendo'akan tuannya.


Pria itu menggelengkan kepalanya lalu fokus pada sesosok perempuan yang sedang berjongkok di balik pohon.


"Orang yang lewat akan mengira kuntilanak sedang menangis."


Udelia menghentikan tangisnya, ia mendongak menatap pria yang mengejeknya. "(Kalian orang-orang mesum!)" kesalnya melihat dada telanjang laki-laki itu.


Semua laki-laki yang ditemuinya selalu bertelanjang dada, sebab zaman ini memang begitu cara berpakaiannya.


Namun baru kali ini dia merasa mereka mesum!


Bagaimana bisa seorang pria bergumul dengan perempuan di tempat terbuka!?


Dan bukankah dia baru meninggalkan dunia ini selama tiga bulan lamanya?


Kenapa pria itu berpaling!!!?


Semua pria memang sama busuknya!


Hanya ada keme su man di dalam otak mereka!

__ADS_1


"Sepertinya saya belum belajar dengan keras," ucap si pria kurang mengerti bahasa yang diucapkan Udelia, sembari menutupi dadanya karena terus dipandang Udelia.


Udelia menatapnya lurus tanpa niat bercakap-cakap.


"Saya lihat Anda dari sana, apa Anda dari Ende?"


Udelia tetap menatapnya tak berkedip.


"Kalau Anda tak keberatan, saya ingin mencari orang."


Udelia masih bergeming.


"Raja Ende adalah–" Pria itu mengeluarkan skin, senjata yang menyerupai ekor ayam, saat Udelia meloncat ke arahnya.


Akan tetapi Udelia tidak menyerangnya, melainkan menjadikan bahunya sebagai tumpuan untuk terbang ke atas.


Udelia mencengkeram wajah orang yang melayang di depannya, kemudian melempar orang itu ke batang pohon hingga tak sadarkan diri.


Udelia menapakkan kakinya ke tanah dan memegang trisula yang menancap di lengannya. "Ugh," keluhnya kesakitan.


"Serampang!" kata pria itu menyebutkan nama lain senjata yang menancap di lengan Udelia.


"Jangan dikeluarkan!" Pria itu menahan tangan Udelia yang berusaha mencabut senjata, yang berasal dari daerahnya.


"Harus ada beberapa hal yang dilakukan jika ingin mencabutnya," tambahnya berusaha meyakinkan Udelia.


Pria itu mengangkat tangannya yang menyentuh tangan Udelia, karena mendapatkan tatapan tajam dari si wanita.


"Lebih baik menangkap orang yang tak sadarkan diri itu," ucap Udelia.


"Yang mempunyai tombak trisula tak banyak. Apalagi serampang, trisula kecil seperti itu. Dia akan kutangkap nanti."


Dia memandangi senjata yang menancap di bahu kanan Udelia.


"Mari obati lukamu dulu."


"Tidak perlu." Saat Udelia akan mencabutnya, pria itu menahan tangannya dan menggeleng.


"Saya putra Wiyasa Palembang, nama saya Balaputra." Balaputra menunjukkan skin miliknya, sebagai bukti dia adalah keluarga inti penguasa Palembang. "Saya berjanji hanya akan mengobati Anda."


"Saya bisa mengobatinya sendiri," kekeh Udelia.


"Anda mungkin tidak tahu. Begitu dicabut, lubang di tubuh Anda akan tumbuh tembesu raksasa yang menghancurkan tubuh," terang Balaputra.


Udelia bergeming. Menelaah ucapan Balaputra.


"Mari," ajak Balaputra.


Baru kali ini dia melihat perempuan seberani ini. Biasanya perempuan hanya bisa berteriak ketakutan.


Udelia memperhatikan skin dan Balaputra bergantian. Dia murid Petapa Agung. Tentu dia memahami banyak hal.


Mata Udelia menjurus menelisik mata Balaputra, mencari alasan pria ini mau repot-repot mengurusnya.


Dan hanya terlihat ketulusan di sana.


Padahal dirinya berpakaian kusam, tanda seseorang dari kasta terendah.


"Mungkin merasa bertanggung jawab," batin Udelia mencari alasan yang paling tepat.


Sekali lagi Udelia menatap mata Balaputra. Lantas menganggukkan kepalanya, sebagai tanda setuju mengikuti intruksi calon Wiyasa Palembang selanjutnya itu.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2