![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
014 - AKU MERINDUKAN KAMU
"Woaaahhh cantik sekali."
Kharisma, seorang wanita muda yang berkarisma berteriak kencang. Memandangi lautan padang rumput di depannya.
Udelia dan keluarganya akhirnya pergi ke luar kota. Berlibur bersama. Merayakan kesembuhan Udelia, pembukaan toko, dan penyambutan Djahan sebagai anggota baru keluarga Wara, ayah Udelia.
Untuk yang terakhir, Udelia sangat tak habis pikir. Dia tidak tahu kenapa harus menyambut pria itu menjadi bagian keluarganya, sebagai apa? Saudara angkat?
"Hey, Lia!! Ayo guling- guling!"
Udelia tersentak kaget. Kharisma, temannya menarik tubuhnya. Mereka berguling- guling di atas tanah.
Kharisma adalah teman kuliah Udelia. Tinggal di kota yang jauh dan kini telah terbiasa menjadi pemandu wisata di kotanya.
Udelia berdecak dalam hati. Dia belum bersiap. Masih mengenakan pakaian jalannya. Beruntung, pakaian itu berwarna gelap. Tanah yang menempel tidak terlihat.
"Duh, Lia. Kangen banget tau sama kamu. Teman- temanku sok iye banget kalo disuruh guling- guling."
"Ya kamu kalo narik- narik begini, ngeselin lah." Udelia mendengus kesal.
"Ya. Ya, Maaf dong."
Udelia menatap wajah yang menekuk itu. Dia akhirnya terkekeh melihat wajah kotor temannya.
Udelia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kharisma. Malas dirinya berkumpul bersama keluarga. Wajah Djahan yang bebal, membuatnya mual.
"Mbak, ga makan?!" teriak John, adik pertama Udelia.
"Sudah bareng Khari ayam!" balas Udelia meneriaki John.
"Weh asem!!" umpat Kharisma.
"Sudah ayo!"
Udelia menarik tangan Kharisma yang sedang menatap tanpa berkedip kumpulan pria tampan, yang sedang membakar ikan dan hasil laut.
"Kenapa wajahmu?" tanya Kharisma. Wajahnya mencondong ke depan wajah Udelia.
"Jangan tanya dulu!" Udelia berkata tegas, tak menghentikan langkahnya.
"Oh karena pria itu?" goda Kharisma. Alisnya naik turun.
"Haha. Lucu kamu. Pria yang mana? Ada banyak di sana."
"Udah deh. Jangan sok tidak mengerti. Yang itu loh. Yang kalo pake baju ngepas banget sama badannya. Wuih ototnyaaa, keknya mantep."
"Sabl*ng!!"
Udelia menggetok kepala Kharisma yang sudah mulai melalang buana. Temannya itu memang kadang mesum kadang tidak.
Tapi yang anehnya, sampai sekarang masih perawan. Jika kelakuannya belum berubah.
Udelia beristirahat usai membersihkan diri. Bermain bersama Kharisma, jangan ditanya bagaimana ribetnya.
Letih, tapi juga menyenangkan.
"Lihat deh."
"Wkwkwk ada-ada aja."
"Mau makan satu malah dikerubungi. Jadi bingung deh si buaya."
"Sumpah ya, orang Wkwkland."
Udelia mengernyit kala teman satu kamarnya terus mencerocos sambil menunjukkan berita dengan headline 'HEBOH! BUAYA RAKSASA MENCARI KEMBARAN MANUSIANYA'
Perempuan itu tidak memberinya kesempatan untuk terpejam. Terus saja mengulang- ulang membaca isi berita sambil cekikikan.
__ADS_1
Baru terpikir begitu dalam benak Udelia, Kharisma mengangkat tubuhnya. Berjalan keluar dari dalam kamar.
"Loh mau kemana?" tanya Udelia was- was.
Kharisma adalah orang yang nekat.
"Lihat. Si buaya masih di sini kan?"
KAN!!!
Udelia berteriak dalam hati.
"Tunggu dulu. Katanya hanya orang sini yang bisa deketin dia. Orang luar bisa- bisa disantap. Gitu komentar–"
Ucapan Udelia terhenti. Kharisma mengayunkan tangannya di udara dan beranjak pergi dari kamar.
"Parah banget itu bocah,"gumam Udelia.
Ingin istirahat, teringat keselamatan temannya.
Terpaksa Udelia bangkit dari tempat tidurnya. Dia berlari- lari dengan pakaian yang berantakan, membuat dua gumpalan daging berdegup berantakan.
"WOI!!! BERHENTI! Buayanya cuma patuh sama warga sekitar!
"Aku warga sini."
"Kamu warga pelosok."
Kharisma memincingkan matanya. Meski terdengar mengesalkan, benar yang dikatakan temannya.
Walaupun masih di kota kelahirannya, tempat wisata baru yang dijejakinya dan desanya, terhitung tidak dekat.
Bisa saja aroma- aromanya berbeda dan buaya raksasa itu menyerangnya.
"Kita bisa bersama warga," kata Kharisma pada akhirnya.
"Uh! Baiklah. Kita pergi."
"Mas, liurmuuuu!!" teriak Lamont membahana.
Djahan dan Fusena bergegas mengusap mulutnya. John yang juga merasa dipanggil oleh adiknya, hanya menoleh sambil memandang aneh.
"Woah, udah ga sabar mau icip- icip?" goda Lamont.
John menyipitkan matanya. Menatap orang- orang sekitar dengan rasa curiga yang tinggi.
Bergantian matanya melirik Lamont, Fusena, dan tamunya.
Lantas dia menatap arah yang terus dilirik Lamont.
Ada kakak perempuannya di sana. Rambutnya yang dikuncir kuda menari ke kanan dan kiri.
Kini, John mengerti. Dia berdeham dengan sangat keras.
"Langitnya mendung. Kita makan di dalam saja!"
Ibu dan bapak Udelia sontak melihat ke arah angin yang berhembus. Ada awan hitam. Mereka mengangguk menyetujui putra pertama mereka, anak nomor dua.
Fusena dan Djahan beranjak masuk, membawa nampan yang berisi daging- daging bakaran.
Udelia memandang arah angin yang datang. Gumpalan awan hitam terlihat jelas. Dia berlari lebih cepat, hendak menyusul Kharisma yang sangat semangat.
"WEEYYY!!! KHARI AYAM!!!"
"Cepet PUSER PUYER!!!"
"HEH BOCAH INI!! LIAT LANGIT WOY!"
"GA SEMPET WOYYY. TAKUT KESEREMPET UWONG!!"
Udelia tidak bisa lagi memaksa temannya dari kejauhan. Dia mendadak jadi pusat perhatian turis sekitar.
__ADS_1
Kaki mungilnya belari lebih cepat. Sayangnya Kharisma yang raganya tidak jauh berbeda, berlari lebih cepat.
Akhirnya mereka sampai disambut dengan baliho yang bertuliskan, 'APA DIA KEMBARANMU?'
Wajah seorang pria terlihat semringah sambil menunjuk buaya raksasa yang anteng di sebelahnya.
"Itu pawangnya! Itu pawangnya!" seru Kharisma berulang kali.
Udelia memperhatikan baliho dan wajah pria yang ditunjuk Kharisma. Sama.
"Mas, saya mau lihat buaya!"
"Buayanya udah pergi, mbak. Ini kan musim hujan. Biasa dah tuh."
"Biasa apa?? Bukannya ini masih sore. Harusnya masih ada kan?"
"Iya, mbak. Tapi karena hujan, dia jadi kembali duluan. Hujan, badai, dan petir meningkatkan keinginan buaya untuk kawin."
"Oooh. Sayang sekali." Wajah semangat Kharisma berubah lesu.
"Sudah. Ayo pulang!!" ajak Udelia.
Udelia sedari tadi diam karena mempunyai sebuah firasat tak enak. Hatinya terus berdegup kencang.
Mungkin, karena akan hujan badai dan mereka sedang berada di laut, yang memungkinkan untuk pasang.
"Mbak cantik, kalo mau, pagi- pagi buta buaya itu udah nangkring. Nanti saya ke tempat mbak buat jemput, gimana?" Pawang buaya itu melancarkan serangan modusnya pada Kharisma.
"Iya, mas."
Kharisma yang sudah antusias untuk melihat buaya raksasa kembaran manusia, tidak memedulikan prinsipnya untuk tidak membagi nomor ke sembarang pria.
Udelia menggelengkan kepalanya melihat wajah pawang buaya yang penuh modus.
Saat keduanya sedang serius bertukar nomor ponsel, sebuah angin menyerbu pantai.
Pontang -panting orang berlarian ke area- area yang dirasa aman.
Sedangkan Udelia, merasa kakinya terpaku. Dia tidak dapat berlari bersama yang lainnya.
Kenapa?
Kenapa bencana selalu datang mampir ke hidupnya?
Apa catatan hidupnya dipenuhi kata bencana?
Udelia merasakan kakinya digenggam sebuah tangan. Tangan itu terus naik melewati lekuk tubuhnya.
Dalam kegelapan pasir yang beterbangan, Udelia melihat sosok pria yang memandanginya dalam -dalam.
Pria itu memeluknya. Terasa air menetes di bahunya.
Jantung Udelia berdegup kencang, semakin berdegup kala indranya menangkap suara nan lembut berbisik di telinganya.
Menggaungkan tiga kata yang menggetarkan jiwa.
"Aku merindukan kamu."
Lalu Udelia jatuh ke atas pasir. Tubuhnya terasa tertimpa beban yang berat. Kulit kasar memenuhi seluruh tubuhnya. Udelia hanya dapat tercekat.
Sinar mentari terkadang muncul di tengah gelapnya badai. Menyinari sosok yang menindihnya.
Dan dia masih mendengar bisikan itu.
"Aku merindukan kamu."
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]
__ADS_1