![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
035 - SUAMINYA YANG LAIN
"Ka- kamu di sini?"
Terbata bicara Udelia.
Sosok asing yang baru ditemuinya, telah berada di depan rumahnya.
Orang asing yang baru ditemuinya dalam keadaan tidak baik, hampir mati.
Walau bukan karenanya, ada rasa takut dalam relung kalbunya melihat sosok itu.
Kalau nanti dia dimintai tanggung jawab, bagaimana??
("Tolong saya, Nona..")
Udelia memundurkan langkahnya. Alangkah terkejutnya dia.
Bahasa yang dikeluarkan, amat mirip dengan bahasa yang didengarnya saat kali pertama berjumpa Djahan.
"Siapa, Mbak?" tanya Lamont menelisik pria berbaju biru di depannya.
Orang asing.
Bukan teman kakaknya.
Sebagai adik yang baik, Lamont sudah hafal teman- teman kakaknya sejak zaman sekolah, pun di masa kerja.
Wajah di depannya sangat asing.
"Dia seseorang yang hampir tertabrak."
"Kecelakaan??"
"Iya."
"Kalau begitu suruh duduk dulu, Mbak. Kasihan masih pake baju pasien."
("Aku merasa sakit...")
Suara Hayan terpotong oleh lolongan yang bersumber dari dalam kamar.
Itu yang terdengar dalam teliga Lamont. Berbeda oleh dua pasang telinga di sisinya.
Sang kakak dan tamu tak diundang mendengar dalam bahasa yang mereka pahami.
"ARRRRGHHH. SAKIIIIIIIIIT.."
"Mon, urusi adek ini. Dia abis kecelakaan. Mbak mau ke dalam dulu."
"Eh. Tunggu, Mbak! Di dalam ada buaya...!"
Lamont tidak bisa menghalangi kakaknya.
Tamu kakaknya, tampak baru seusia dengannya, memakai pakaian khusus pasien dengan gurat wajah yang pucat pasi bercampur merah, terasa panas tubuhnya.
Tiada mungkin dia tinggalkan remaja itu sendirian.
Berharap kakaknya baik- baik saja, Lamont menyuruh sang tamu untuk duduk.
Dia memberikan teh hangat.
Obat paling legendaris.
"Sebentar saya tinggal," pamit Lamont tanpa menunggu jawaban.
Sesampainya di kamar, kakak perempuannya sedang membalut perban pada kepala buaya.
Kulit sekeras itu diperban??
"Mbak sedang apa?" kata Lamont dengan tercengang.
"Kamu tidak lihat? Karena ulahmu, pria ini bersimbah darah."
"Hah?"
__ADS_1
Lamont tak habis pikir.
Dari mana asalnya darah?
Dari tadi tidak dia lihat darah bersimbah seperti yang dikatakan kakaknya.
Dia mendekat. Mendapatkan tatapan tajam dari sepasang mata yang tajam dan saling berdekatan.
Udelia menyeka kening yang terdapat lelehan darah dari bagian belakang kepalanya.
Pukulan adiknya sangat kuat.
"Kamu suamiku?" tanya Udelia lemah.
Candra mengangguk tanpa kata. Tersenyum dengan lembut.
Perkataan Fusena ternyata benar adanya.
Dia melakukan praktik poliandri di dunia sana.
Setelah datangnya Djahan, hadir pria jadi- jadian ini, lalu muncul pria lain yang sedang ditangani adiknya.
Entah akan ada berapa pria lagi?
Memangnya di sana, dia menjadi apa?
Walau ada poliandri, bukankah suami- suaminya terlalu kuat dalam kedudukan?
Biasanya praktik poliandri dilakukan pada pria- pria lemah ataupun rakyat jelata.
Memiliki banyak suami berperingkat tinggi, apakah bisa demikian?
Atau dia dan Sang Mahapatih menikah, lantas memiliki suami- suami di belakang Sang Mahapatih?
Ataukah setelah Sang Mahapatih hilang ditelan bumi, seperti yang dikatakan para pakar sejarah.
Djahan Mada hilang di Air Terjun Sekar Langit.
"Seperti kataku tadi, aku suamimu."
"Kita bahkan mempunyai dua orang putra."
"Kamu tidak akan bilang tidak mengenalku kan?"
"Bahkan bersama calon suamimu itu, kamu hanya menghabiskan waktu lima hari lamanya."
Lamont menutup telinganya kala lolongan demi lolongan menusuk gendang telinganya.
Darah mengucur jatuh. Tergelepar raganya saking sakitnya.
Udelia menoleh ke arah adiknya ketika kaki jenjang sang adik menjatuhkan sebuah buku dari atas lemarinya.
Memeriksa kepalanya yang bersimbah darah, Udelia sangat panik mengetahui sudut bukunya tidak melukai sang adik.
Melainkan darah keluar dari telinga Lamont, tanpa sebab yang jelas.
Lebih baik dia melihat luka terbuka, dibanding luka dalam yang mengerikan diagnosisnya!
"TOLOOONG!"
Keributan pun terjadi.
Tiga orang kesakitan dalam rumahnya, tak sanggup sendirian Udelia merawat mereka.
Berbondong- bondong warga datang, kala mendengar teriakan minta tolong Udelia.
Telah dibaringkan pada brankar klinik setempat, dua orang yang terlihat selaras usianya.
Tamu Udelia di bagian ruang tamu sekalian digotong warga, karena pucat sekali wajahnya. Belum lagi pakaian biru yang sebagian mereka yakini, jikalau pria itu telah kabur dari rumah sakit.
Demi kenyamanan bersama, Udelia dimintakan identita tamunya.
Sayangnya Udelia tidak tahu menahu.
"Bapak bisa tanyakan padanya saat dia terbangun," tutur Udelia yang disanggupi kepala wilayah rumahnya.
__ADS_1
Belum sampai matahari tenggelam, keluarga Udelia telah berkumpul di klinik desa.
Djahan pun sempat datang, namun langsung diusir oleh ibu Udelia.
Tidak ingin pingitan di antara keduanya menjadi rusak.
Udelia yang ingin menanyakan banyak hal, harus menahan semuanya.
"Siapa pemuda itu, Nak?" tanya ayah Udelia pada putranya, Lamont.
Lamont tidak segera menjawab. Dia juga bingung harus menjawab apa?
Tidak mengenal pria itu. Cara bicaranya sangat aneh.
Tapi jika menjawab pria itu adalah kenalan sang kakak, nanti kakaknya akan dimarahi oleh kedua orang tuanya.
Sedang masa pingit, namun menerima tamu pria ... sangat tabu.
"Sebenarnya dia itu pria tidak dikenal, Yah," jawab Udelia.
Dia tidak akan berbohong.
"Pria tidak dikenal?"
"Ya, Yah. Saat di jalan pulang tadi, kulihat dia ingin berbuat nekat. Udel menolongnya di jalan."
Mata Wara memperhatikan wajah pemuda yang terlelap di brankar seberang yang tidak ditutupi kainnya.
Wajahnya pucat, terdapat perban di kepalanya, serta tubuh ringkihnya mengundang empatinya.
"Tidak ada identitas?" tanya Wara lagi.
"Sepertinya dia agak- agak, Yah. Lamon tadi dengar diagnosis dokter tentangnya adalah depresi. Biarkan saja dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa," timpal Lamont sekalian mengusulkan ide dalam kepalanya.
"Begitu ya?"
Baru akan menyuruh anaknya yang lain, John, untuk mencari tahu rumah sakit jiwa terbaik, Wara terbungkam oleh suara televisi.
KEBAKARAN DI RUMAH SAKIT JIWA XXXC MERENGGUT DUA NYAWA PERAWAT YANG TERKUNCI OLEH PASIEN MEREKA.
John yang sedang menscrol media pencarian pun menghentikan jarinya.
Bergegas dia mencari berita terkini.
Kerusakan rumah sakit jiwa yang disebutkan dalam berita membuat rumah sakit lain menjadi penuh karena memang rumah sakit jiwa xxxc adalah rumah sakit jiwa terbesar, yang sayangnya sekarang telah terlahap api.
Tiga pria itu saling memandang.
Mereka tidak bisa membiarkan pemuda depresi berkeliaran di jalan.
Nanti akan membuat orang lain terluka atau membuat dirinya sendiri terluka lagi dan akan merepotkan seluruh warga.
Udelia hanya diam saja melihat keluarganya membawa tinggal pria depresi itu ke rumahnya.
Memberikan kamar Lamont, sedangkan empunya sekarang sekamar dengan sang kakak.
Udelia duduk di sisi ranjang dengan kepala yang penuh.
Sosok pria jadi- jadian hilang dan tak kembali sampai pagi harinya.
Sedangkan pria depresi masih dalam perjalanan pulang.
Dia dan Lamont pulang lebih awal untuk memindahkan barang- barang pribadi Lamont ke kamar John.
Udelia bergeming.
Haruskah dia katakan pada keluarganya, jika yang akan dibawa oleh keluarganya adalah suaminya yang lain, selain Mahapatih yang dibanggakan oleh kedua orang tuanya?
Bagaimana jika nanti dia justru diomeli karena tidak setia pada Mahapatih?
Yang lebih parah, dia akan dikatakan ****** karena memiliki lebih dari satu pria.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]