TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
035


__ADS_3

"Saya mengganggu waktu Anda lagi," ucap Bayu pada Candra yang duduk rapi di kursi kepala keluarga.


Candra tersenyum formal. Dua kali dalam sehari Bayu datang mengganggunya, dia sangat kesal.


Kali ini Candra bertindak sebagai kepala keluarga dan Bayu datang sebagai perwakilan keraton, dengan beberapa orang berbaris di belakangnya.


Mereka adalah tabib yang membawa obat dan para abdi ndalem yang membawa surat titah.


"Tidak. Saya mengerti. Silakan." Candra menunjuk kursi di dekatnya, mempersilakan Bayu untuk duduk menunggu.


Tak lama muncul seorang pelayan wanita, menuntun seorang wanita yang berpakaian indah.


Mereka bersimpuh dan menunduk dalam-dalam, tidak berani mengangkat kepala mereka.


Mata mereka akan hilang bila berani memandang yang tidak boleh dipandang.


"Benar ini orangnya?" tanya Bayu memindai wanita tersebut dari atas ke bawah.


"Anda bisa memeriksanya."


Candra sedikit tegang dengan yang terjadi. Bayu adalah orang yang teliti. Peluang untuk menipunya lumayan sulit.


Apalagi pelayannya mengadukan seluruh yang diucapkan istri dan kakaknya.


Walau tidak mengakui secara gamblang, Candra yakin Bayu sudah mengetahui identitas istrinya.


Candra akan mengorbankan segalanya, andai semua terjadi di luar kendalinya.


Hatinya tak lagi kuasa menahan rindu. Tak ingin lagi berpisah dari istrinya.


Dahulu, dia merasa puas hanya menemani, tanpa sebuah ikatan kuat.


Setelah mendapat hujan cinta dan menyesap manisnya sang istri, Candra akan terus memastikan istrinya hanya menatapnya seorang.


"Kepala keluarga mengerti dengan cepat."


Bayu dan Candra bersitatap. Dalam diam, mereka saling mengerti. Tanpa rencana, mereka berada satu tujuan.


Candra mengangkat tangannya memberi titah, agar sang wanita mengangkat kepalanya.


Angin panas sedikit menerpa. Candra membatalkan sihirnya. Sihir perubahan wajah.


Tidak ada yang mengetahui, kecuali mereka yang menggunakan sihir.


"Minumlah,"  ucap Bayu menunjuk mangkuk, yang berisi racikan obat penggugur kandungan.


Wanita itu menghabiskan obat yang pahit itu, dalam satu kali tenggakan.


Abdi ndalem membuka matanya lebar-lebar, tidak berkedip barang sebentar. Hingga mata mereka kering. Mereka memastikan, tidak ada satu tetes obat tersisa dalam mangkuk.


"Kak, menurutku tidak usah dibawa. Hanya akan menimbulkan kerusuhan di dalam keraton. Keluarga yang lain pasti tidak akan terima," usul Candra.


"Iya. Yang tahu juga berpendapat demikian."


Bayu menatap pelayan yang sedang mengusap mulutnya. Tabib melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, memastikan tidak ada penyakit menular.


"Sebutkan tempat tinggalmu." Bayu meraih kertas titah dan kuas di atas nampan yang dibawa abdi ndalem.


Kertas titah kali ini berwarna emas. Sebuah titah tertinggi yang tidak boleh dipertanyakan, juga sebuah token untuk dapat antrian terdepan bila ingin berjumpa Maharaja.


"Kademangan Pahang, Watek Sadeng."


Bayu menuliskan sesuai ucapan sang pelayan lalu menggulung kertas titah dan memberikannya pada si 'wanita Maharaja'.


"Berikan pada demang Pahang."


"Te-terima kasih, tuan."


Lantas mereka beranjak pergi. Menutup perkara hubungan hina semalam.


"Di mana adik ipar?"


"Sedang beristirahat."

__ADS_1


"Sampaikan salam saya pada nyonya. Saya pamit undur diri, kepala keluarga."


"Hati-hati dalam langkahmu."


Candra mengantar Bayu hingga ke depan gapura.


Dia memastikan semua orang sudah pergi, kemudian mencari sang istri tercinta.


Matanya menangkap keberadaan Udelia sedang tiduran santai di atas tanah.


Satu tangan perempuan itu menopang pipi, sedang satunya lagi memegang buah mungil berwarna merah, kersem.


Dia memakan kersem yang terkumpul di atas daun mangga.


"Kakak!" panggil Candra.


Udelia menatap sebentar Candra lalu kembali melihat rombongan semut, yang sedang mencuri kersemnya.


Candra duduk di depan Udelia, mengambil kersem tersebut lalu mengusir semua semut.


"Kau kan bisa ambil di sana," tunjuk Udelia pada pohon di seberang mereka. Wajahnya memanas saat Candra memakan buah kersem, langsung dari tangannya.


"Lebih enak yang dipegang kakak." Candra menjilati tangan Udelia, memunculkan sensasi menggelitik di seluruh tubuh Udelia.


Udelia memerah melihat wajah Candra yang mendamba. Namun tangan Candra mencuri perhatiannya. Dia tangkap tangan Candra, memperhatikan dari dekat.


"Candra, kenapa kamu terus memakai sarung tangan?"


"Oh kakak juga lupa? Padahal sarung tangan ini kakak yang kasih."


"Maaf. Aku lupa."


Candra tersenyum kecil. Dia memberikan tangan lainnya, agar tidak cemburu.


"Aku terkena kutukan. Tanganku bisa merubah yang dipegangnya menjadi pasir. Kakak takut?"


"Ta-tapi semalam tanganmu sangat hangat."


"Iya. Kakak tidak terpengaruh. Ini adalah takdir Yang Kuasa."


Kemudian dia mencium lama kening istrinya. Mengungkap kelegaan dalam hati, atas lolosnya sang istri dari jangkauan Maharaja.


Dia menarik diri dan tersenyum hangat pada istrinya.


"Ba-bagus sekali kalau kamu ada di duniaku. Banyak sampah yang bisa diubah jadi pasir."


Udelia berkata dengan canggung. Kasih sayang suaminya terlalu besar, membuatnya sulit mengekspresikan diri.


Senyum Candra pudar. Mata dan telinganya menajam, memastikan tidak salah dengar. "Dunia kakak?" tanyanya.


"Iya. Aku teringat beberapa hal. Aku bukan dari sini kan? Jadi, kenapa aku bisa di sini, Candra?"


Udelia menelisik ke dalam mata Candra.


"Aku juga tidak mengerti. Kakak hilang lebih dari sepuluh tahun lalu. Kemudian muncul di tempat yang salah dan terluka. Beruntung malam itu kembali kutemui kakak."


Candra memegang perut Udelia, mengusapnya lembut. Pandangannya nanar, mengingat dosa yang diperbuatnya.


"Salah satu yang melukai kakak adalah aku."


Air suci tidak akan mampu membersihkan dirinya. Dia tidak akan memaafkan dirinya.


Tapi dia berharap, Udelia mau terus bersamanya.


"Mohon ampuni aku."


Udelia terdiam. Dia tidak mengingat apa pun.


Candra mengambil kepala Udelia, lalu diletakkan ke atas paha. Dia mengusap lembut kepala Udelia yang masih terdiam.


Diamnya sang istri lebih menyakitkan daripada kata penolakan.


Penolakan dapat diruntuhkan dengan kegigihan. Sedangkan diam membuatnya bingung apa yang sebenarnya dirasakan sang istri.

__ADS_1


"Udelia, aku mencintaimu."


"Semua orang bisa mengatakan cinta jika di mulut saja."


"Iya. Maaf atas semuanya." Candra mengecupi wajah istrinya.


Jika istrinya sudah berkata dnegan sinis, istrinya tidak lagi marah.


"Perempuan itu?"


"Dia sudah melakukan dosa besar."


Candra bisa saja membebaskan Ijen, hanya dengan menunjukkan wajah istrinya.


Dia pulang dari penjara untuk membawa istrinya menghadap Maharaja, agar temannya dibebaskan.


Tapi mendengar cerita para pelayan membuatnya membatalkan rencananya.


Orang jahat pantas mendapat balasannya, meski dia adalah orang terdekatnya.


"Apa kakak ingin meminum obat pencegah kehamilan?"


"Berikan"


Udelia menenggak pil hitam yang disodorkan Candra. Awalnya pil itu tidak memiliki rasa, barulah ketika sampai di tenggorokan, rasa pahit membuat Udelia bergidik.


Dia tidak terbiasa makan yang pahit dan asam. Dia melepeh-lepeh air liurnya berharap pahit dalam mulutnya hilang seketika.


Candra menghentikan aksi Udelia dengan membungkam mulutnya, menautkan bibir merah mudanya pada bibir sang istri.


Pria itu tidak jijik dengan liur Udelia yang menganak di mulut. Dia menyesap lidah Udelia, mengambil sisa-sisa pahit dari mulutnya.


Udelia sempat terkejut. Namun kemudian dia mengalungkan tangannya, balas menyesap lidah manis sang suami.


Tidak tahu sejak kapan Udelia berbaring di atas tanah. Suaminya mengungkung dengan napas memburu. Gelora gai rah dalam matanya begitu membara. Sama seperti milik Udelia.


Akan tetapi semilir angin menyadarkan Udelia. Mereka masih berada di luar ruangan.


"Mas, kita di luar ..."


Candra menggigit tengkuk istrinya. Dia merasa senang dengan panggilan sang istri.


"Coba katakan lagi."


"Kita di luar."


"Bukan itu .."


"Mas?"


Setelah mengatakan itu, Candra menyerang Udelia dengan agresif.


Udelia menyerah untuk mengingatkan suaminya. Dia menikmati setiap hentakan suaminya.


"Mas, kenapa di luar sih? Kan malu," bisik Udelia setelah menyelesaikan pertarungan mereka.


Sebelum menjawab, Candra menggigit gemas telingat Udelia. Panggilan mas terlalu manis, membuatnya selalu ingin memberikan sentuhan manis pada istrinya.


"Apa sayangku lupa suamimu ini bisa sihir?"


Udelia menunjukkan deret giginya. Dia tidak terpikir sampai ke sana.


"Tapi, tanpa sihir juga tidak akan ada yang berani melihat. Aku menggunakannya karena kamu pasti takut."


Candra memakaikan jarik pada raga polos Udelia. Lalu dia melepas sihirnya dan nampaklah orang berlalu lalang, sibuk mempersiapkan makan siang.


Serempak mereka semua berhenti dan bersimpuh memberi salam, dengan sedikit keheranan sebab majikan mereka berada di taman belakang.


Taman itu hanya berisi pohon-pohon besar, bukan taman bunga seperti di halaman depan.


 Candra tidak membawa Udelia masuk ke rumah mereka, dia membawa Udelia ke dalam kolam, melanjutkan aksi yang panas di dalam kolam yang dingin.


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2