![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Orang-orang sedih kalau mereka tidak datang, tapi Anda tersenyum lebar," ucap kakak perempuan Candra yang berdiri di samping pendamping bintang utama acara hari ini.
Orang-orang tinggi Bhumi Maja menjawab tidak bisa hadir pada undangan Mitoni keluarga Ekadanta karena berbagai hal.
Tapi Candra justru tersenyum lebar.
Utamanya ketika pembawa pesan berkata Maharaja dan Mahapatih memberitakan ketidakmampuan mereka, untuk menghadiri acara mitoni yang pertama kali diadakan Keluarga Ekadanta pada masa ini. Saat itu Candra tersenyum sangat lebar.
Saudari-saudari Candra melakukan acara mitoni di rumah suami mereka.
Salah satu saudari Candra itu terheran-heran melihat adiknya tampak sangat bahagia, kala para petinggi negari tidak datang ke acara mereka.
Meski secara garis besar bisnis Ekadanta tidak langsung bersinggungan dengan pemerintahan. Menjaga hubungan baik dengan keraton sama sekali tidak mengurangi keuntungan mereka.
Ditambah pada pernikahan Candra, pria tertinggi Bhumi Maja datang secara langsung. Otomatis banyak orang langsung meng-iya-kan undangan Ekadanta, dengan harapan bertemu sang Maharaja.
Bila Maharaja tidak hadir, mungkin orang-orang yang berharap itu akan kecewa.
"Semakin sedikit orang, mata jahat semakin sedikit. Maharaja sedang mempersiapkan perluasan wilayah lagi, sebagai rakyat kita harus mendukungnya," kata Candra mencari-cari alasan.
Tidak mungkin dia terang-terangan mengucap syukur atas ketidakhadiran mereka.
Perempuan itu tersenyum. "Bijak sekali."
"Sampun 'pan-tes' menopo 'de-reng'?" ucap seorang wanita yang berdiri di samping Udelia.
"Dereng!" teriak para wanita yang hadir di acara siraman. Candra tidak memperbolehkan para pria datang ke tempat siraman.
"Uh akhirnya yang terakhir. Aku melihatnya saja sangat lelah. Bagaimana bisa orang-orang menyuruh wanita hamil berganti pakaian sampai tujuh kali?!" gerutu Candra setelah istrinya masuk untuk berganti pakaian yang ke tujuh.
Geram rasanya dia melihat sang istri yang sedang hamil besar, harus bolak-balik berganti pakaian sampai tujuh kali dan dipajang di depan khalayak, hanya untuk mendengar kata 'dereng' enam kali sampai kemudian tercetus kata 'pantes' di pakaian ketujuh.
Sungguh dia takut istrinya kenapa-kenapa, meski ada banyak pelayan di sisi istrinya.
"Apa kamu tidak mendengarkan ibu saat menerangkan, nak?" Tuti, istri sah Aji, berdiri dengan membara di samping putranya. Dia paling tidak suka ada orang yang menggampangkan upacara dan adat istiadat.
"Aku tidak ingin mengadakannya jika istriku menolak."
"Dia menantu yang ideal, mematuhi semua adat. Malah anakku yang sering mengabaikan adat," cemooh Tuti.
Candra memutar bola matanya jengah. Istrinya memang tidak pernah absen dalam adat keluarga ataupun adat masyarakat.
Meski hamil, sama sekali tidak ada bolong bagi wanita pendamping kepala keluarga itu untuk hadir ke upacara-upacara yang diadakan.
Justru Candra yang acap kali mengabaikan adat.
Sengaja dia memilih guru untuk istrinya yang dapat dikendalikan. Eh ibunya malah terus menerus memberikan wejangan tentang adat istiadat di tempat mereka.
Maka istrinya pun mengikuti seluruh adat di tempat suaminya dan juga mengingatkan suaminya bila mulai nampak tanda-tanda suaminya tak mau mengikuti adat.
Salah Candra dahulu saat menikah dia memberikan alasan bahwa di kampung halaman sang istri, riasan pengantinnya harus ditutupi wajahnya, juga pengantin wanita harus menunggu di kamar setelah sah.
Candra pikir ibunya tidak akan membiarkan istrinya menyentuh peralatan upacara, karena mereka berdua lebih memilih adat sang istri.
__ADS_1
Namun hasilnya sang ibu meminta istrinya untuk mengadakan upacara-upacara di rumah. Ibunya memberikan nasihat untuk mencintai adat suaminya juga.
Karena sang ibu merasa istrinya sangat mencintai adat tempatnya lahir, ibunya juga yakin sang menantu akan mencintai adat tempatnya kini tinggal.
Dan benarlah praduga Tuti. Udelia menjalankan seluruh adat, bahkan lebih baik dari sebagian putri-putrinya, apalagi putra bungsunga, Candra Ekadanta.
"Pantes!" teriak Tuti bersamaan hadirin yang lain.
Candra menghela napas lega, dia menuntun Udelia menuju sebuah tumpeng besar yang terpajang di atas panggung. "Lelah?" bisiknya.
"Tidak kok," jawab Udelia. Lalu dia memotong tumpeng bersama Candra.
Setelah itu kenduri-kenduri dikeluarkan dan dihidangkan pada semua perwakilan yang datang. Pada acara siraman, yang melihat acara secara langsung ialah kaum wanita. Sedangkan kaum pria, menunggu di sisi yang lain.
"Kalian istirahat saja. Kami yang mengurus para tamu," ucap Tuti setelah keduanya memotong tumpeng yang khusus untuk upacara.
"Maaf merepotkan, bu."
"Menantu ibu sangat rendah hati sekali. Istirahat yang nyaman nak." Tuti mencium kening Udelia. Lalu dia menatap putranya dengan tatapan tajam. "Jaga istrimu dengan baik."
Candra mengangguk lalu menggendong Udelia yang terkejut. Udelia sontak mengalungkan tangannya ke leher Candra.
"Anak ini!" teriak Tuti dengan geram.
Dia mendekati putranya dengan wajah memerah.
"Turunkan istrimu!!" Ibu dari dua orang putra itu memukul punggung putra bungsunya dan memintanya menurunkan menantunya yang sedang hamil besar.
Candra menjauh dari ibunya. Dia memberikan senyuman yang bodoh lantas pamit pergi, tanpa menunggu jawaban dari sang ibunda.
"Suamiku, lihatlah kelakuan anakmu itu."
Aji tersenyum. "Biarkan saja, sayang. Candra sangat kuat kok."
Tuti mencebik. Sekuat apa pun. Andai bukan dalam kondisi darurat, tak bolehlah melakukan hal mengerikan begitu!
Dia ingin sekali memarahi anaknya yang bandel. Akan tetapi para tamu undangan yang terhormat sudah berdatangan. Dan acara menjamu tamu dengan rujak pun akan dimulai.
Dia mengurungkan niatnya menghukum sang putra.
Untuk sementara.
***
"Candra! Jantungku mau copot tahu!"
"Cintaku pasti sakit kakinya."
"Setidaknya bilang dulu dong." Udelia melepas tangannya saat diturunkan ke atas amben dan bokongnya sudah mendarat dengan sempurna.
Saat ini mereka ada di ruang tamu rumah mereka, sebab Candra tahu istrinya sangat lapar.
Candra mengambil buah potong di atas meja, lalu menyuapi Udelia satu persatu dengan lembut.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang." Udelia menahan suapan terakhir.
Candra mengangguk. Tak memaksa Udelia. Dia memakan suapan terakhir. Lalu memijat kaki istrinya yang nampak membengkak.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Tuti dari depan pintu rumah yang ditempati Candra dan Udelia.
Dalam kediaman Ekadanta, terdapat beberapa rumah tinggal. Yang paling besar dan megah serta aman dan nyaman adalah tempat tinggal kepala keluarga. Rumah yang kini didiami sepasang suami istri yang sedang bahagia menunggu kelahiran putra pertama.
"Nak, perwakilan dari Yang Mulia Maharaja ingin menemuimu dan memberi do'anya langsung pada nak Udelia," ucap Tuti di luar rumah utama.
"Silakan." Candra membantu Udelia duduk dengan rapi.
"Saya memberi salam kepada kepala keluarga Ekadanta," ucap seseorang yang datang tanpa diiringi pelayan ataupun dayang. Menunjukkan statusnya sangat dipercaya oleh Maharaja, yang memberi amanah.
"Indra?" gumam Candra.
"Selamat tuan Ekadanta atas kehamilan pertama istri Anda. Yang Mulia Maharaja memberikan do'a, semoga segala sesuatu dimudahkan hingga kelahiran dan kehidupannya senantiasa makmur," ucap Indra lalu pria berparas tampan itu menyebutkan daftar hadiah yang diberikan Hayan.
"Sampaikan terima kasih dari lubuk hati terdalam saya kepada Yang Mulia Maharaja," ucap Candra. Sementara Udelia memberikan senyuman sebagai hormat pada pembicara di depannya.
"Iya." Indra mengangkat tangannya setelah hadiah ditaruh dengan rapi. "Nona, apakah Anda sudah ingat saya?"
"Maaf?" sahut Udelia langsung. Dia tidak menyangka akan dilibatkan dalam pembicaraan antar pria. Hanya beberapa orang saja yang mau berbicara dengan rakyat jelata sepertinya.
"Rakryan tumenggung, jika tidak ada hal lain. Kami pergi, istri saya harus istirahat." Candra berdiri di depan istrinya, menghalangi Indra untuk menatap lama-lama wajah istrinya.
"Idaline, aku sudah menantimu selama ini dan akan terus menantimu." Indra tersenyum simpul. "Mari berjumpa di lain waktu," ucapnya dengan tatapan yang nanar.
Punggung Indra terlihat sedih dalam pandangan Udelia. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia menatap sang suami yang sedang mengepalkan tangannya.
"Apa aku pernah bertemu pria itu?" lirih Udelia bertanya. Takut sang suami marah padanya. Meski itu hanyalah suatu hal yang mustahil. Tak pernah Candra melakukan hal demikian, kecuali saat Udelia memaksa pergi bersama Klenting Kuning.
Randha, ibu angkat Klenting Kuning, dan anak-anak kandungnya kini mengelola salah satu toko keluarga Ekadanta yang tidak berhubungan langsung dengan keluarga inti.
Randha adalah penyelamat Klenting Kuning, keponakan salah satu selir Aji. Kemudian adiknya, Ningrum, diangkat sebagai selir muda Aji.
Atas dua posisinya itu, Randha diberikan toko yang lumayan besar bagi rakyat jelata.
Candra menangkup wajah Udelia. Tak mau dia melihat istrinya tersesat. Sakit bila melihat Udelia memaksakan pikirannya untuk terus mengingat.
"Istriku, kita istirahat. Tidak usah memikirkan hal yang melelahkan." Candra menghapus air mata istrinya.
"Jangan dipikirkan, ya?" pinta Candra dengan memohon.
Udelia memejamkan matanya. Menelaah baik-baik yang diucapkan sang suami. Memang benar perkataan pria tampan yang baru dilihatnya itu sangat melelahkan pikirannya.
Seharusnya dia memikirkan bayinya, bukan memikirkan ucapan pria yang baru dilihatnya.
Dia membenarkan ucapan suaminya.
Udelia membuka mata dan berkata, "Baiklah."
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]