![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Rombongan yang terdiri dari lima orang laki-laki dan dua orang perempuan telah melewati delapan desa yang indah.
Selama lima hari perjalanan, mereka berjalan kaki. Sesekali mereka menaiki kendaraan, bila jalannya memungkinkan dilewati kendaraan beroda.
Kali ini langkah kaki mereka menapaki jalan yang membelah dua gunung, yang sedang terlelap—tak membahayakan manusia dan alam sekitar.
Lowo, terlebih Reo, mengawasi rombongan dari belakang dengan jantung yang bertalu-talu. Mereka khawatir sedang masuk dalam jebakan yang dibuat orang-orang Maja.
Semua kecurigaan mereka musnah, kala dihadapkan dengan kesunyian yang mententramkan.
Di hadapan mereka, membentang danau luas yang belum mereka ketahui keberadaannya.
Padahal mereka penduduk pulau ini.
Danau ini begitu jernih, pantulannya bak cermin yang bersih. Kesunyiannya sesekali pecah oleh suara nyanyian burung, menambah damainya hati orang yang berada di pinggir danau.
Danau Rana Mese.
"Dia tahu tempat tersembunyi seperti ini," gumam Mondho berjalan di belakang Udelia dan Maya.
Mereka berhenti di barat danau, mengisi air dalam botol minum dan menyimpan tas. Udelia menampung air di tangannya lalu memberikan pada Maya yang tak sampai ke sumber mata air.
Anak itu masih terlalu pendek untuk menjangkau pancuran mata air di tengah kubang, yang membentuk danau kecil.
"Tuan putri tidak bisa berenang?" tanya Udelia melihat putri kecil menggemaskan itu gemetaran melihat air yang dalam.
Di sebelah Udelia, Maya memakai baju baru yang dibeli di desa.
Dengan uang ucapan terima kasih dari kepala suku yang dititipkan pada Lowo, Udelia tidak perlu memikirkan uang selama beberapa tahun ke depan.
Setidaknya sebagai rakyat jelata.
Malu-malu Maya menjawab pertanyaan Udelia dengan sebuah anggukkan.
Aib ini pasti membuat malu penduduk Bhumi Maja bila mereka mendengarnya.
Sebab kedua orang tuanya sudah menjadi orang besar di usianya sekarang, sedangkan dia malah memiliki banyak kekurangan.
"Ayo belajar. Kita berganti pakaian dulu." Udelia mengacak-ngacak isi tasnya, mencari peralatan renang yang biasa dia bawa ketika bepergian ke air terjun.
Udelia merasa beruntung karena tasnya ikut masuk ke dunia ini. Di dalam tas itu dia selalu membawa peralatan yang dibutuhkan untuk berkelana.
Tanpa Fusena, guru sekaligus sepupunya, dan tanpa Ekata Ekadanta, kakak seperguruannya, Udelia sangat sadar bahwa dia kurang mampu dalam menghadapi perjalanan panjang.
Dan peralatan-peralatan modern ini membantu perjalanan panjangnya.
"Ini dia!" seru Udelia meloloskan baju renang diving berwarna hitam dan menunjukkannya pada Maya.
__ADS_1
"Itu tidak akan muat ..." Maya memilin kain tenun yang dikenakannya.
Tubuhnya bukan hanya lebih tinggi dari anak seusianya, namun juga melebar ke samping.
Hal ini menambah sempurna rasa malu yang diterima keluarga kerajaan.
Maya sadar diri dan memilih menutup diri dari orang lain.
Hanya keluarga Tendu yang tidak pernah memandangnya rendah, sejak pertama bertemu dengannya.
Tapi ternyata mereka hanya bersembunyi dalam kepalsuan.
Mereka menjebaknya dengan keji. Hanya untuk memuaskan hasrat memiliki kekuasaan yang besar.
"Bahannya melar kok. Tidak perlu khawatir!" kata Udelia dengan senyum secerah matahari dan sesejuk udara Danau Rana Mese.
Udelia menggulung pakaian renang sampai ke bawah lalu berjongkok membantu Maya memakaikan baju, yang sudah pasti Maya tidak tahu cara memakainya, sebab tidak ada pakaian khusus renang di tempat itu.
"Eh!" Maya memundurkan tubuhnya saat Udelia berjongkok di depannya. Dia merasa buruk ketika Udelia bersikap rendah di depannya.
'I.. ini bukannya berlebihan?' batin Maya merasa canggung.
"Angkat kakimu!"
Perintah itu spontan membuat Maya mengangkat kakinya. Dia menahan malu ketika Udelia memegang kakinya.
Sedari kecil Maya selalu mengurus tubuhnya sendiri. Dia tidak mau dipegang orang lain, karena merasa risih dan malu.
Apalagi setelah tumbuh, tubuhnya tidak begitu bagus untuk dilihat.
Semua ini menjadi alasan yang sangat lengkap untuk Maya tidak memperlihatkan tubuhnya pada orang lain termasuk para dayang.
Udelia mengarahkan kaki Maya ke lubang celana lalu ia lepas kain yang menutup tubuh Maya dan memakaikannya dengan sempurna.
Wajah Maya sudah merah padam. Di tempat itu ada banyak laki-laki, dia sangat takut mereka dapat melihat tubuhnya.
"Bagus sekali!" Udelia memberikan dua jempol melihat pakaian itu terlihat pas di tubuh Maya.
Maya tidak mengerti alasan Udelia memberikan dua jempol padanya. Tapi dia merasa senang melihat senyuman yang terus terukir di wajah Udelia.
Udelia tidak memperhatikan ekspresi Maya yang tersenyum padanya, padahal Udelia menunggu senyum kecil dari wajah datar cantik itu.
Sebab Udelia sedang mengacak tasnya lagi, mencari baju renang cadangan yang biasa dibawanya.
Baju renang cadangan lebih ketat dan lebih pendek dari yang dikenakan Maya.
Baju itu adalah bajunya yang sudah usang.
__ADS_1
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Noto memandang Udelia dan Maya yang sedang melakukan pemanasan.
Kedua wanita itu seolah sedang berada di dunia mereka sendiri. Pakaian mereka sangat tak patut, ditambah gerakan-gerakan sensual—menjadikan Udelia dan Maya terlihat seperti sedang mengundang para pria.
"Jangan dilihat!" Mano menutup mata Noto dan matanya sendiri.
Nafas mereka berdua tercekat merasakan cacing besar alaska tiba-tiba meronta-ronta.
"Aku ingin berenang. Sudah berhari-hari tak mandi!" Reo memegang tangannya yang lengket.
"Mandilah di sisi lain. Jangan mengganggu mereka. Ada yang bilang jika wanita dan pria renang bersama, si wanita akan hamil," ujar Lowo merebahkan tubuhnya di rumput.
'Udara sedingin ini mana bisa mandi~' ucap Lowo dalam hati. Dia tak memedulikan sekitar, karena raga dan pikirannya terlalu letih akibat waspada sepanjang jalan.
"Ucapan dari mana itu?!" seru Reo menatap tak percaya.
"Haha." Noto, Mondho, dan Mano tertawa mendengar perbincangan Reo dan Lowo.
"Maka pergilah ke mata air saja. Jumlahnya cukup untuk kalian," ucap Lowo mengizinkan mata air—selain mata air di dekatnya, yang digunakan untuk minum dan keperluan masak mereka selama berada di Danau Rana Mese.
Di Danau Rana Mese terdapat beberapa mata air. Ada yang dalam dan ada yang dangkal. Kesamaan dari semuanya ialah terdapat pancuran di tengah-tengah mata air yang mengalir.
Beberapa mata air itu membentuk genangan besar, yang dapat dipergunakan untuk mandi dan mencuci.
"Iya iya!" ucap Reo pergi ke mata air yang lain disusul Noto dan Mano yang juga ingin mandi, mandi air yang sangat dingin.
Sementara itu Udelia menepuk tangannya dan menatap takjub Maya yang sedang mengayunkan kedua tangan dan kedua kakinya di air dengan lihai.
"Maya sangat cerdas, sekali mencoba sudah bisa. Benar belum diajarkan?"
"Iya. Selama ini saya hanya bermain-main ..." cicit Maya merasa bersalah, karena sudah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan padanya.
"Sekarang bisa memulainya." Udelia sekali lagi tersenyum.
"Bagaimana dengan menyelam? Tuan putri bisa?" tantang Udelia.
"Saya akan mencoba."
"Bagus. Kuambil tombaknya dulu, ya. Kita sekalian mencari ikan." Udelia mengedipkan matanya. Kali ini dia akan menepati janjinya pada Maya.
Selama di perjalanan sangat sulit mencari ikan segar. Udelia melarang keras memakan ikan-ikan dengan mata keruh, karena sudah tidak lagi segar.
"Saya saja!" Maya buru-buru menepi agar tidak didahului Udelia. Dia mengambil tombak yang terkumpul bersama tas di pinggir danau.
Saat berbalik, tombak di tangan Maya terjatuh dan matanya terbelalak melihat bayangan besar di air.
"Ibu, awas!" teriak Maya sekencang yang dia bisa dan dia lari sekencang yang dia mampu.
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]