TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 054


__ADS_3

054 - MENJADIKANNYA BARANG BERHARGA


Segerombol orang berbondong naik ke atas gunung.


Tandu besar dipanggul.


Para dayang berjejer rapi.


Tegap para ksatria berjalan di depan.


Hari yang cerah mendadak gelap, petir menyambar dan udara berubah dingin.


Tunggang langgang sang pemimpin pasukan memberikan jalan alternatif, karena sebuah pohon besar menutupi jalan utama.


Sungguh semua ini di luar perhitungannya!


Bagaimana langit yang cerah mendadak gelap!?


"Yang Mulia, maafkan kami yang kurang teliti membaca awan. Jalan di depan tertutup. Kami telah menemukan gua di atas lembah."


Tangan jenderal besar itu gemetar hebat.


Kesalahannya sangat besar.


Bagaimana bisa raja yang keji dapat memaafkannya?


Lebih baik dia hadapi seribu musuh seorang diri, daripada berhadapan masalah seperti ini.


Namun...


keajaiban terjadi.


Pria di dalam tandu mengibaskan tangannya.


Yang berarti menyuruh mereka bersegera berteduh.


Semua orang melakukan perannya.


Berlarian menuju gua yang dikatakan jenderal.


Jenderal itu menghempaskan napas yang panjang.


Dia bersyukur.


Ini semua pasti karena Ratu mereka Yang Sangat Mulia, telah sekali lagi menenangkan Raja kejam mereka.


Ratu Citra Resmi yang lembut mampu menundukkan raja berdarah dingin itu.


Yang sebenarnya adalah Citra Resmi sedang merenggut di ujung tandu.


Raja yang biasanya memperlakukan dia amat lembut, sekarang justru terus duduk tegak. Tidak terpengaruh rayunya.


"Kanda... adinda takut petir."


Sang Raja hanya meliriknya sekilas. Membuat nyali Citra Resmi luluh lantak.


Dia mengatupkan mulutnya.


Sampai mereka mencapai bibir gua, Sang Raja tetap terdiam.


Idaline yang sedang meringkuk di kedalaman gua, perlahan bangun karena hidungnya membaui aroma yang nikmat.


Apakah sepupunya sudah pulang?


Pria itu berkata hendak memberikan berkat pada gunung besar di Barat negara.


Perjalanan seharusnya memakan waktu.


Bagi manusia normal, butuh sampai satu tahun.


Bagi Fusena, butuh sampai satu hari.


Jadi, apakah hari sudah berganti?


Dua tahun sudah Idaline tak melihat dunia luar.


Hanya melalui langit gua yang berlubang, dia mendapatkan cahaya matahari.


Menarik jarik panjangnya.


Dia mengenakan asal pada tubuhnya.


Kain bermotif parang dan pedang itu menyapu lantai gua.


Tubuh tinggi semampainya dan rambut yang tergerang indah, mengejutkan semua dayang yang sedang menata bagian dapur.


Mereka belum pernah melihat wanita seputih itu.


Ratu mereka bahkan kalah putih darinya.


Atau apakah perempuan ini bukan manusia!?


Beberapa di antara mereka melempari beras yang telah dibacakan mantra.


Idaline menatap lurus tak berkedip.


Dia mengingat perintah Fusena untuk pergi bila ada orang lain memasuki gua.


Auman harimau hadiahnya dari Fusena, menandakan sudah benar keputusannya untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Idaline terus berjalan ke luar.


Tak mengindahkan banyaknya orang penting, penguasa gua yang belasan tahun dia tempati.


Sang raja dan para pria menatap Idaline tanpa kedip.


Kulit putihnya sungguh menggoda.


Serta pakaian asal di tubuhnya, menonjolkan bagian yang membuat jakun susah untuk berhenti menelan udara.


Mereka membuka matanya lebar- lebar ketika wanita itu mengangkat kakinya untuk naik ke punggung harimau.


Paha mulusnya seketika terekspos.


Saat lipatan kainnya jatuh, tidak ada yang bisa mereka lihat.


Seberkas cahaya menutupi bagian vitalnya.


Mereka paham maknanya.


Membuat mereka makin ingin memiliki wanita itu.


Siapakah yang akan menolak wanita secantik itu, dengan ramalan kelak akan melahirkan raja- raja besar seantero pulau!?


"Tangkap wanita itu," titah sang raja.


Idaline menggerutu pelan.


Harimau putih yang gemuk ini, kalau tidak disogok tidak akan menuruti perintah.


Sengaja Fusena pilihkan harimau gemuk, agar Idaline betah duduk di atas punggung harimau ataupun rebah di tubuhnya.


Harimau ini sangat rakus.


Tidak akan jalan bila tidak diberikan makanan.


Tapi Idaline tak membawa daging.


Dia jarang makan. Hanya ketika Fusena pergi ke luar. Maka mereka akan makan bersama menikmati hidangan yang dibawa Fusena.


Mata letik itu memandang jenderal yang mendekat padanya.


Dia turun dari pundak harimau.


Mengikuti sang jenderal dan duduk di atas kudanya.


Idaline turun dengan gagah.


Sekali lagi memperlihatkan asetnya yang tertutupi cahaya surgawi.


Sang raja makin yakin dengan keputusannya.


Idaline datang bukan untuk kepatuhan pada seorang pemimpin.


Dia menengadahkan tangannya.


"Uang sewa," pinta Idaline.


Semua orang saling memandang bingung.


Bukankah sang jenderal seharusnya sudah menyampaikan keinginan raja mereka?


Seharusnya wanita ini menunduk. Dan biarkan mereka melihat surga dunia lebih dekat.


"Cukup kaki rusa," jelas Idaline.


Rintik hujan perlahan membasahi bumi.


Seorang pelayan pria bergegas memayungi raja mereka, yang terus diam di tempatnya.


Suhu yang seharusnya dingin, mendadak jadi panas melihat pemandangan indah di depannya.


Idaline menahan pay udara nya yang tumpah ruah.


Kain yang basah mencetak jelas lekuk tubuhnya.


Ada yang berdiri tapi bukan keadilan.


Raja pun tak kuasa.


Namun dia bukan orang serampangan. Tak bisa asql berhubungan badan.


Dia melirik ajudannya.


Menyuruh sang bawahan menyerahkan kaki rusa.


Idaline melepas satu tangannya. Membuat orang- orang menunggu surgawi yang lain.


Namun yang muncul hanyalah seberkas cahaya.


Idaline berlari- lari kecil. Tak memperhatikan gundukan di belakangnya bergoyang- goyang.


Seolah menantang ular untuk tinggal di dalamnya.


Idaline menyerahkan kaki rusa pada si harimau gendut.


Lalu mereka melesat. Pergi ke gua yang lain.


Idaline sebenarnya tak suka pada kondisi seperti tawanan dan terus mencari peluh bersama.

__ADS_1


Seluruh tubuhnya selalu sakit karena Fusena tak pernah berhenti sebelum kenyang.


Dia ingin lari.


Namun pada siapa?


Tak ada tempat tujuan.


Kenalan hanya sebatas tahu nama dan rupanya.


Idaline tak mau merepotkan.


Satu hari kemudian Fusena pulang ke gua yang lama.


Dia mengernyit heran melihat begitu bamyak manusia.


"Ya ampun. Sungguh tak menyangka melihat Petapa Agung di sini. Mari masuk.." sambut seorang pria yang dikenal Fusena.


Sang Raja menyambutnya ramah.


Mata Fusena berkeliling. Dia tak menemui Idaline di gua ini.


Namun dia terus merasakan jejak keberadaannya.


Lantas Fusena melirik pada tumpukan pakaian raja.


Di sana...


ada pakaian dalam Idaline.


Jejaknya begitu kuat.


Pakaian itu.. belum dibersihkan.


Fusena hanya bisa menggerutu di dalam hati.


Harusnya dia peringatan gadis bertubuh dewasa itu untuk terus memperhatikan barang pribadinya.


Jangan hanya membawa raga ke luar berpindah ke goa lain.


Tunggu!


Kenapa seorang raja menyembunyikan pakaian dalam kotor dalam kotak pakaiannya!?


Fusena mendalami binar mata Sang Raja.


Kali ini senyumnya tak palsu.


Ada secercah kebahagiaan dalam palung perasaannya.


"Anda terlihat senang sekali," ucap Fusena.


"Tentu saja. Bertemu Anda adalah keberuntungan yang amat besar," kata si raja.


"Tapi sepertinya ada hal lain yang menggembirakan?" pancing Fusena.


Raja itu tidak menolak perkataan Fusena.


Malah terkekeh akrab pada Petapa Agung.


"Saya tak bisa menyembunyikan apa pun dari Anda," puji Raja setengah menyindir.


"Anda berlebihan," balas Fusena.


Otot di keningnya perlahan tegang.


Dia amat marah dengan kelancangan pria ini.


Namun dia harus tetap tenang.


Petapa Agung adalah pribadi tanpa emosi negatif.


Ya. Dia seperti itu. Sampai terakhir bertapa dan para penghuni langit mengutuknya untuk tak bisa mengendalikan emosi dan perasaan.


"Kalau bisa, saya mau minta tolong carikan ia. Pemilik... em.. benda yang saya simpan," kata Raja sedikit kaku.


Teringat tadi saat mencari- cari informasi tentang wanita itu, Raja malah menemukan jenis pakaian aneh yang berserakan.


Dengan mesum dia membaui aroma itu.


Dan yakin jika pemiliknya adalah wanita cantik, yang dicarinya.


Menyimpan benda itu di kotak pakaiannya.


Menjadikannya barang berharga.


Padahal hanya pakaian dalam yang berisi cairan kenikmatan, karena semalam Fusena masih saja sempat datang pada Idaline, meski tak melakukan senggama.


"Tidak. Saya sibuk," tolak Fusena.


Dia pun bergegas pergi mencari Idaline.


Salahnya tidak membiarkan Idaline belajar cara mengenakan pakaian dengan benar.


Sekarang anak kecil yang sudah berubah jadi gadis itu, meninggalkan pakaian dalamnya sembarangan.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ​ ꧉​꧉​꧉​

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2