![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Wanuanya ramai sekali," komentar Udelia.
Orang berlalu lalang tiada habis-habisnya. Pakaian mereka baru dan mengkilap. Para pedagang tak ketinggalan menjajakan barang dagangan mereka.
"Hari ini tahun baru, jadi ada banyak acara. Kebetulan Wanua Mejeng adalah pusat Kademangan Padang," terang Udin.
"Gunung Padang dipenuhi berbagai mistis jadi sepi tidak ada yang tinggal kecuali kami," tambah Udin.
"Kalian penjaga gunung?" tebak Udelia.
"Iya nyonya. Keluarga kami secara turun-temurun menjaga gunung Padang."
"Keluarga?" Udelia menaikkan alisnya. Yang dia tahu hanya ada Udis sebagai keluarga Udin. Dia kira dua kakak beradik itu tingga menepi karena tak sanggup membiayai diri di kota.
"Orang tua kami wafat ketika kami masih bayi. Kakek kami setahun yang lalu meninggalkan kami."
"Turut berduka cita."
"Terima kasih, nyonya," ucap Udin.
Udelia mengulas senyum. Dia merasa kedua orang itu sangat hebat. Hidup tanpa kasih sayang orang tua, namun satu sama lain dekat karena ajaran sang kakek.
Udelia penasaran dengan orang tua dan keluarganya. Meskipun sebatang kara, seharusnya ada cerita tentang keluarganya.
Udelia baru memikirkannya. Udelia mencoba mengingat yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dia tidak terlalu ingat akan semuanya. Ingatannya patah-patah.
Udelia tidak dapat memastikan apakah ada keluarganya yang datang ke pernikahan, atau ke rumah Ekadanta saat dia melahirkan.
Candra mengatakan dia datang dari keluarga baik-baik. Keluarga baik-baik tidak mungkin melupakan anggota keluarganya.
Tetapi Udelia tidak dapat memastikan. Tidak ada gambaran dalam benaknya. Bertanya pada suami pun percuma. Katanya dia dari negeri yang jauh, sulit dijangkau.
Terlintas dalam benak Udelia wajah tampan yang mirip suaminya. Kini dia sudah paham pada siapa harus bertanya hal-hal yang membuatnya penasaran.
"Saya sudah memesankan penginapan terbaik. Silakan diperiksa adakah yang kurang."
Udelia mengangguk ia melihat-lihat suasana sekitar. Bangunannya lebih bersih dari rumah-rumah yang mereka lewati.
Sekitar rumah ditumbuh beberapa pohon yang menjulang. Menambah kesan keamanan akan pandangan dari arah luar.
Udelia akan betah tinggal di sana, bahkan jika bertahun-tahun ke depan. Asalkan aman dan nyaman, tidak terlalu dia pedulikan seberapa luasnya.
"Penginapan ini sudah termasuk dengan bibi yang akan membantu nyonya. Jika ingin berkeliling, kakak saya, Udis bisa membimbing Anda."
"Kalian bisa kembali. Bibi datang pagi dan sore saja," pinta Udelia.
"Baik nyonya."
Udelia duduk di teras memandang orang-orang yang sibuk di luar sana. Udelia agak kesulitan berinteraksi. Banyak warga menggunakan bahasa asing.
__ADS_1
Bahasanya terdengar mirip dengan bahasa Maja, namun ternyata memiliki makna berbeda. Seperti saat Udelia hendak membeli ceplik, lampu penerangan sebagai sinar di malam hari, yang diberikan malah segenggam cabe ijo.
Udelia mengarahkan pandangannya pada dua orang dewasa yang baru datang. Udis datang menggendong Rama, di sebelahnya Candra membawa belanjaan.
"Keluarga yang bahagia," celetuk Udelia.
Saat sampai di Wanua Mejeng, Candra berpisah di tengah jalan untuk membeli banyak barang. Udis menunjukkan jalan untuk suaminya.
Candra tidak banyak komentar, dia tidak mungkin meninggalkan Rama pada istrinya. Meminta Udin menemani, tidak mungkin. Dia tidak mempercayai kekuatan Udis sebagai wanita.
Candra menolak bantuan Udis untuk membawa barang. Rama yang lelah tampak mengantuk, akhirnya dia biarkan Udis untuk menggendongnya.
Candra tidak dapat memasukkan barang-barang ke cincin penyimpanan. Orang-orang di Wanua Mejeng berada di garis kehidupan menengah ke bawah. Akan terjadi kehebohan bila dia menunjukkan kepunyaannya.
"Sudah siang," tegur Candra pada sang istri. Dia mengibaskan wajahnya yang terkena panas matahari.
"Ya," sahut Udelia. Dia melengos pergi membawa Raka masuk ke dalam kamar.
"Tuan, den Rama ditaruh ke mana?"
"Bawa ke kamar kosong."
"Baik tuan."
Udis tidak sulit mencari kamar kosong. Hanya ada dua kamar di rumah itu. Udis meletakkan Rama dengan hati-hati. Lalu berpamitan pada Udelia. Pintu kamar dibiarkan terbuka, Udis bisa leluasa berpamitan tanpa perlu menggedor pintu.
"Iya," sahut Udelia.
Saat hendak pamit pulang pada sang tuan, Udis memincingkan matanya melihat potongan sayur yang berantakan di tangan Candra. Pria itu berinisiatif untuk memasak.
"Anu ... tuan, jika tidak keberatan saya bisa memasak."
"Tidak perlu," tolak Candra.
"Den Rama akan susah memakan sayur yang bentuknya seperti itu." Udis meringis menunjuk sayuran yang besar-besar.
"Kamu lebih tahu tentang anakku?"
"Bukan begitu, tuan. Anak kecil butuh asupan yang baik. Memotongnya asal akan membuat sayur tidak matang sebagian."
Candra diam tidak menanggapi.
"Anda dikejar waktu kan, tuan? Buat bubur terpisah akan lama. Saya bisa membantu Anda."
Candra menimang ucapan Udis. Betul butuh waktu untuk membuatkan bubur khusus Rama. Dia harus cepat membuatnya karena keluarga kecilnya sudah sehari tidak makan dengan makanan lengkap dan sehat.
Candra tidak memiliki bahan makanan di dalam ruangan. Sayur dan daging dapat cepat busuk.
"Buatkan untuk Rama. Yang lain biar saja," kata Candra.
__ADS_1
Udis mengangguk. Dengan sigap dia membuatkan bubur untuk Rama.
"Bangunlah, sayang. Makan dulu," tutur Candra memegang lengan Udelia yang berbaring miring.
Udelia menoleh pada suaminya. Dia duduk membenahi letak pakaiannya. Candra mengulurkan tangan dan membantunya.
"Candra, aku ingin pulang," ucap Udelia mencicit.
"Iya," sahut Candra masih membenarkan letak pakaian istrinya usai menyusui buah hati mereka.
"Aku ingin pulang ke rumahku. Di mana rumahku?" Air jatuh di sudut mata Udelia.
Gerakan Candra seketika berhenti. Tatapan dan senyuman lembut terukir di wajah itu. Udelia menunduk karena merasa tidak enak hati sudah berkata demikian. Takut suaminya tersinggung.
"Kakak sudah menjadi istriku."
Candra memegang puncak kepala Udelia. Detik berikutnya Udelia jatuh tertidur.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4
... Untuk season 1 ada di profil author.
Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
... Untuk season 2 sampai pada bab judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT
Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini
Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
Author: Al-Fa4
Terima kasih sangat untuk kalian yang masih setia sampai di sini. Author cinta kalian. Lope lope terbang.
UDELIA oo IDALINE oo DJAHAN oo HAYAN oo CANDRA oo INDRA oo FUSENA oo WIDYA oo GITARJA oo NETARJA oo MAYA oo RAMA oo RAKA oo
__ADS_1