![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Aku panggilkan tabib."
Hayan hendak menurunkan Udelia ke atas kasur. Gadis itu malah mengeratkan pelukannya, tak mau lepas dari dekapannya yang hangat.
Hayan masih mencoba bersabar. Dia meyakini, suara itu tidaklah salah didengarnya.
Perempuan ini, Hayan akan bertanya hubungannya dengan cintanya.
Harapan besar membuatnya menjadi tak masuk akal.
Mendekatinya, bersimpuh di depannya, menggendongnya, bahkan bersabar atas ketidaksopanannya.
Hanya karena sebuah asa perjumpaan dengan separuh jiwa, dia letakkan segala kebanggaannya sebagai seorang pria tertinggi.
Seseorang yang bisa mendapatkan segalanya, selain kebersamaan dengan kekasih.
Untuk mendapatkan hal itu, Hayan rela mengorbankan segalanya.
Bila pun mesti turun dari tempatnya yang agung.
Bila pun mesti bersusah untuk sekadar makan.
Bila pun mesti tinggal di tempat yang tidak seluas keratonnya.
Hayan sudi menukar semua itu, demi bersama perempuan paling penting dalam hidupnya.
Nyatanya itu hanya angan.
Jarak mereka berbatas dimensi.
Dunia mereka berbeda.
Hanya keajaiban yang mampu mengikis jarak, menyatukan dirinya dengan istrinya, maharaninya, cintanya, ibu dari buah hatinya.
Lembut Hayan membuka pegangan perempuan dalam dekapannya. Satu persatu jari terlepas dari bahunya.
Sejurus kemudian Hayan tersentak. Sengatan panas menghujam lehernya. Bagian pemisah tubuh dan kepala itu memerah, lehernya digigit Udelia.
Tangan Hayan yang masih sibuk membuka jemari Udelia, melepas paksa pegangan Udelia. Dia membanting perempuan itu ke atas kasur. Tak peduli bila ada tulang patah akibat ulahnya.
Perempuan ini sudah melewati batas.
"Jangan keterlaluan!!" berang Hayan.
Suaranya kedap di dalam kamar, tidak terdengar keluar.
Namun burung-burung yang lelap di pohon, serempak beterbarangan. Takut masa hidupnya berakhir, sebab amarah Hayan meletup-letup.
"Ugh!" Udelia melindungi perutnya dari sakit yang mendera. Nyatanya sakit itu menusuk dari dalam. Dia meringis kesakitan.
Di antara dua rasa, sungguh tak menyenangkan.
Hayan tersentak. Dengan bantuan cahaya bulan yang jatuh dari genting kosong -yang sengaja tak dipasang- Hayan melihat darah merembes, membasahi pakaian perempuan di atas ranjang.
Udelia merintih di antara dua keadaan. Sakit dan gerah. Tak nyaman bergerak, juga tak nyaman terdiam.
Ah. Dia bisa gila bila ini terus berlanjut.
__ADS_1
Terbesit sebuah simpul dalam hati Hayan, luka yang basah di perut itu nampak seperti tusukan pedang yang dihunus Djahan.
"Apa ... kamu ... Maharaniku?" Hati kecil Hayan berbisik. Kepercayaannya melejit. Menatap sendu perempuan yang sakit.
Hayan menutup kedua matanya. Menggeleng keras. Melenyapkan khayal yang muncul.
Widya, sahabat Maharaninya, orang paling dekat dengan Maharaninya, sudah mengatakan dengan yakin, Maharaninya telah pulang ke tempat seharusnya ia cemerlang.
Hayan tak serta merta mempercayainya. Namun dalam pengintaiannya, Widya sama sekali tidak menunjukkan gerakan ane, yang mengarah pada suatu pertemuan dengan Maharaninya.
Kemudian Hayan hanya dapat mempercayai keyakinan Widya.
Maharaninya sudah pulang. Maharaninya sudah mendapat perawatan luka akibat kelalaiannya.
Hayan menghela napas panjang. Rasa simpati pada perempuan ini semakin besar. Tak mungkin ia tinggalkan dalam keadaan terluka.
Hayan kembali mengurungkan niatnya untuk pergi. Dari dalam batu penyimpanan yang berbentuk cincin, dia mengeluarkan obat dan kain.
Pelan-pelan Hayan merobek pakaian perempuan yang terbaring di ranjang. Membersihkan kotoran dan darah, lalu mengganti perban yang telah basah.
Jika dalam keadaan waras, perempuan ini mungkin besar kepala. Seorang yang besar sepertinya, sedang mengusap darah dari tubuh rendahannya.
Apalagi bila perempuan ini mengetahui, hanya Maharaninya seorang yang pernah ia balutkan obat dan perban.
Ketika itu, seorang penyusup membawa Keris Mpu Gandring. Sebuah keris yang berisi kutukan, bagi keturunan Wangsa Rajasa.
Kutukan kematian sebab pengkhianatan kakek moyang Wangsa Rajasa, Arok.
Baru tiga raja yang mati tertusuk Keris Mpu Gandring. Masih ada empat nyawa raja keturunan Wangsa Rajasa, yang belum direnggut.
Maharaninya tercinta, tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, menghalangi tusukan keris yang ditunjukkan untuk Hayan.
Udelia telah menyelamatkan nyawa Hayan, pun menyelamatkan Bhumi Maja dari kekacauan.
Cinta Hayan padanya bertambah besar. Semakin besar. Luas tanah kekuasannya tak mampu menunjukkan besarnya cinta Sang Maharaja pada Maharaninya.
Andaikata Maharaninya hanya sekadar duduk diam di kamar, cintanya tidak akan pudar.
Tetap kekuasaan dan kekayaannya tiada mampu menandingi harapnya bersama Maharaninya.
"Kenapa kamu terasa sangat familiar?"
Memikirkan wajah teduh yang selalu menghias pagi dan sorenya di masa kecil. Indra penglihatan Hayan seperti menggambarkan wajah itu, pada wajah perempuan yang berangsur-angsur tenang.
Sekali lagi Hayan menggeleng keras. Dia tidak boleh menjadi gila. Harapannya belum terwujud.
"Candra ... panas ..."
"Kamu memanggil nama pengantin yang baru saja menikah," cibir Hayan.
Perempuan ini berada di bangunan yang terisolasi.
Mengenakan pakaian yang tak pantas.
Memanggil nama seorang pria yang baru saja menikah.
Sedikit banyak Hayan menduga, perempuan ini adalah penghuni kebun belakang Candra.
__ADS_1
Hayan menyudahi perhatiannya. Tubuh yang hampir te lanjang itu, ditutupi selimut yang panjang.
Tentang hubungan perempuan ini dan Maharaninya, Hayan akan bertanya di masa yang lain.
Tiba-tiba Udelia menarik kalung Hayan dan ******* bibirnya.
Hayan tergemap tidak sempat melawan. Mata Hayan mengerjap bingung, layaknya seorang dewasa yang baru sekali berciuman.
Ciuman manis ini, Hayan tak kuasa menolaknya.
Pandangan Hayan melunak melihat mata sayu Udelia, yang beringas melahap bibirnya.
Udelia menyesap dan menggigit bibir Hayan, mencari kepuasan yang tak kunjung datang.
Perempuan itu melepas pangutannya. Menarik napas yang makin memburu.
Tangan Hayan terjulur. Menangkup wajah perempuan yang tak dikenalnya. Memandang lembut. Siap menyambut mangsa yang menyerahkan diri pada pemangsa.
"Kamu yang meminta."
Hayan menempelkan bibirnya. Menuntun sang wanita untuk bergerak lembut.
Udelia yang membalas ciuman dengan menuntut, perlahan mengikuti gerakan lembut Hayan.
Tangan Hayan tak diam. Jari jemari panjang itu bergerilya, melepas sisa-sisa kain yang masih terpakai.
Udelia dibaringkannya. Ia mengusap sayang balutan perban yang dipasangnya.
Hayan menindih, sembari menjaga jarak agar tak terkena luka perempuannya.
Mulai ia melukis di tubuh putih itu, pulau-pulau kecil berwarna merah.
Udelia menggelinjang. Da danya membusung, minta diperhatikan.
Langsung Hayan mengerti. Ia hisap pucuknya yang keras. Menggigit gemas seperti seorang bayi.
Udelia meringis sakit. Namun tangannya justru menekan kepala Hayan. Tubuhnya suka diperlakukan demikian.
Hayan menelusupkan jari jemarinya ke liang yang basah, membuat angan perempuan di bawahnya naik ke langit.
Saat hampir sampai di puncak, Hayan melepas tangannya.
Mata Udelia menghujam. Tak senang dengan perlakuan pria—yang ia anggap suaminya.
Hayan menyeringai. Ia pasti sudah gila menganggap perempuan di hadapannya adalah Maharaninya.
Jelas keduanya sangat berbeda.
Maharaninya manusia suci. Perempuan di depannya, hanyalah seorang penghuni kebun belakang.
Dia tidak waras menyamakan keduanya.
Memang. Dia tidak waras dalam bara naf su yang membakar.
Hayan memposisikan dirinya. Dia mulai mencicipi si wanita penghuni kebun belakang.
Hangatnya Udelia, membuat Hayan tak hanya puas mencicipinya. Berulang kali pria itu melahapnya rakus.
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]