![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"APA ANDA AKAN BIARKAN ANAK YANG MULIA GUGUR?"
"Diamlah!" sentak pengawal.
Pengawal mendorong dayang dengan tombaknya. Tidak memperbolehkan siapa pun mendekat ke pintu masuk Bale' Ndamel, ruang kerja Maharaja.
"Jangan mengganggu Yang Mulia," ucap pengawal memperingati.
Hayan merenung. Memikirkan hidup ke depan. Putrinya pasti senang bertemu dengan ibundanya, tapi tak tahu apakah senang memiliki adik.
Selalu menjadi yang spesial, akan kah membuat sebait benci pada orang yang juga sama spesialnya?
Hayan tersadar dari lamunnya saat mendengar keributan di pintu masuk. Hayan bangkit. Begitu berani orang yang berteriak-teriak di ruang kerjanya.
"Ada apa ini?" tanya Hayan keluar dari Bale' Ndamel.
"Mohon maaf Yang Mulia. Dayang dari Kedaton Ambar datang membuat keributan," ucap pengawal seraya bersimpuh. Berjongkok tanpa melepas tombak penjaga di tangannya. Sementara dayang Kedaton Ambar bersujud pada tuannya.
"Katakan."
Dayang bangun dari sujudnya. Dia menangkup tangan ke atas, mengutarakan maksud kedatangannya.
"Hamba datang meminta pertolongan Yang Mulia... Nyonya Selir Anindya keracunan.. Beliau mengeluarkan darah.."
Hayan meraba dadanya. Tidak ada rasa sakit mendengar kabar selir kesayangannya keracunan. Dingin hatinya sudah membeku. Hanya Maharaninya sang mentari.
Hayan tidak terlalu suka tentang kabar kehamilan wanita lain, bahkan terkesan benci. Dia benci pada dirinya sendiri yang tak mampu menahan diri.
Bilapun Maharaninya memiliki anak dari benih yang lain. Dalam sadar, tidak mungkin wanita itu memilih pria selain cintanya, Mahapatih Bhumi Maja.
Djahan menemui lebih banyak wanita daripada dirinya. Djahan tetap setia.
Hayan membenci keadaan ini. Dia kalah telak dari rivalnya.
Lopi pun tampak benci dengan sebuah ketidaksetiaan. Lopi terus saja menyanjung kesetiaan Mahapatih.
"Pergi panggil tabib. Siapkan tandu, aku akan mengunjungi Selir Anindya."
Tangan pengawal gemetar. Maharaja yang tidak mau diganggu, ternyata begitu peduli dengan Selir Anindya, sampai-sampai hendak mengunjunginya.
Gelap. Itulah masa depannya, karena telah menghalangi berita tentang sakit Nyonya Selir kesayangan Maharaja.
Pengawal menghela napas lega saat Hayan naik ke tandu dan pergi. Tidak meninggalkan hukuman. Satu pun untuknya. Ringan ataupun berat.
Maharaja pergi begitu saja. Tanpa beban. Dia pun bernapas lega, seolah menjadi orang paling beruntung sedunia.
Hayan memandangi taman dan bangunan yang tak pernah berubah. Semuanya sesuai dengan konsep rancangan Maharaninya.
__ADS_1
Hayan melangkah masuk ke Kedaton Ambar. Bangunan megah yang semula diperuntukkan bagi Bhre Pajang dan keluarganya.
Maharaninya sendiri yang berbincang dengan adiknya, menanyakan kesukaan dan kebiasaannya. Segala aspek amat mendetail ditanyakan.
Lalu Maharaninya membuat ruangan khusus menjahit dan ruangan khusus untuk nyinden dalam satu ruang yang terpisahkan oleh pembatas kayu.
Netarja Bhre Pajang, sangat menyukai hasilnya. Luar biasa indah dan melebihi bayangannya. Berkali-kali Netarja menginap, bibirnya tak pernah berhenti memuji Maharani.
Hayan dan sang adik sangat dekat. Sampai kemudian selir kesayangan Hayan datang, meminta rumah tinggal itu dengan segala rayuan.
Hayan kalah. Dia terlalu lemah. Dia menyerahkan Kedaton Ambar pada selir kesayangannya.
Netarja tidak bisa apa pun. Protes pun percuma. Dia hanya bisa menghindari kakaknya yang terlalu bodoh. Memberikan hak miliknya pada orang lain.
Kakaknya sudah tidak menyayanginya.
Hubungan Hayan dan Netarja pun kian renggang. Netarja tak lagi pernah pulang.
Hayan menyentak napas panjang.
Bukan salah Cempaka yang merayunya dan bukan salah Netarja yang marah padanya. Semua adalah salahnya yang tidak dapat berpegang teguh pada pendiriannya.
"Baginda.. sakit sekali.." adu Cempaka memegang perutnya. Perutnya meliuk-liuk seperti ada yang meremas di dalam sana.
"Tenanglah. Tabib akan segera datang."
Hayan mengelus kepala Cempaka. Dia menjauhkan tangannya, keringat Cempaka menempel di telapak tangannya. Dia mengambil kain dari tangan dayang lalu menyeka keringat di kening sang selir.
"Atur napasmu," tutur Hayan masih menyeka keringat Cempaka dengan gerakan lembut.
"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja."
Sri Sudewi muncul bersama seorang tabib dari negerinya dan para dayang-dayang loyal yang tak pernah meninggalkannya.
"Ratu?" Hayan terheran-heran. Sangat jarang dia melihat wanita-wanitanya bersama. Ratu Bhumi Maja memiliki banyak agenda pertemuan dengan istri para petinggi.
"Hamba membawa tabib pribadi hamba untuk memeriksa Selir Anindya, jika Yang Mulia berkenan." Sri Sudewi mengulas senyum.
Cempaka menggamit lengan Hayan. Kemudian menubrukkan tubuhnya ke dada bidang Hayan. Dia menunjukkan gestur ketakutan.
"Tidak, baginda! Dia telah meracuni adinda!! Adinda tidak ingin melihatnya! Pergi!"
Cempaka mengusir Sri Sudewi. Muncul keberanian dalam dirinya untuk mengadukan semua yang telah terjadi. Ada buah hati yang harus dia lindungi.
Cempaka akan sekuat tenaga menjaga bayi dalam rahimnya.
"Padahal saya melihat Anda lemah dan bergegas membawa tabib Tapa untuk memeriksa," tutur Sri Sudewi.
__ADS_1
Tabib Tapa adalah tabib terbaik di bekas wilayah kekuasan keluarganya, Kerajaan Sunda yang kini menjadi Sunda Nagara, wilayah di bawah kekuasaan Bhumi Maja.
"Tidak, baginda.." Cempaka menggeleng dengan keras. Dia tidak mau bersama tabib yang dibawa Ratu.
"Periksalah," putus Hayan. Melepas pegangan Cempaka. Hayan telah hafal sepak terjang tabib Tapa.
"Baginda ..?" Cempaka menatap tangannya yang kosong.
"Periksa dengan benar, nyawamu jadi jaminan," tutur Hayan mengintimidasi.
Cempaka memberikan tangannya dengan setengah hati. Tapa memeriksa denyut nadi Cempaka. Wajahnya mengernyit kala memeriksa kesehatan sang selir.
"Tidak ada masalah, Yang Mulia. Beliau hanya kelelahan. Darah keluar karena janin masih muda. Silakan istirahat dengan ketat," jelas Tapa bersimpuh di depan Hayan.
Hayan mengangguk singkat. Maharaninya juga pernah berdarah saat hamil muda. Waktu sudah masuk bulan kehamilan, Maharaninya mengira itu adalah haid karena belum menyadari dirinya sudah hamil putri cantik, Maya Lopika Wijaya.
Hayan jadi teringat dengan putranya. Pangeran Bhumi Maja. Keturunan Maharaja dan Maharani, tak Hayan pedulikan meski raga istrinya berbeda.
Rama Ekadanta Wijaya, putranya. Sengaja Hayan akan tetap memberikan nama Ekadanta, karena bagaimanapun segala adat dan upacara sebelum dan sesudah kelahiran Rama, semua dilakoni keluarga Ekadanta.
Tanpa upacara pengusir bala, tidak akan bisa putranya tumbuh sehat dan cerdas seperti yang sudah dilakukan oleh keluarga Ekadanta.
Dan biar publik menerka-nerka, kenapa dia mengambil putra sulung kepala keluarga Ekadanta sebagai Pangeran yang memiliki hak sebagai pewaris Bhumi maja yang kuat.
"Bagaimana bisa?! Darahku keluar hingga menyentuh lantai!" sentak Cempaka tak terima. Perutnya melilit dan mengeluarkan banyak darah. Hanya orang bodoh yang percaya dia sedang baik-baik saja.
Tabib Tapa berasal dari tempat yang sama dengan ratu, Cempaka melihat jelas rekayasa di antara mereka.
"Anda bisa memeriksakan diri pada tuan Ra Konco. Beliau akan menjawab yang sama, Nyonya Selir." Tabib Tapa mengarahkan sedikit kepalanya ke belakang, ke arah Cempaka. Mata tabib Tapa terlihat percaya diri.
"Beri obat pada Selir Anindya sampai sehat kembali."
"Baik, Yang Mulia."
"Baginda, adinda ingin tuan Ra Konco saja!" sela Cempaka.
"Tapa akan menangani kesehatanmu," kata Hayan menetapkan tabib dari Sunda Galuh sebagai tabib pribadi selirnya yang sedang hamil.
Jika Sunda Galuh hendak mengadakan makar, Hayan dapat dengan mudah menghapus peta kekuasaan mereka dan menyerahkan tahta wilayah Natha pada bawahannya.
Hayan keluar dari kedaton. Membiarkan para bawahannya menyelesaikan masalah di wilayah selir. Perang antar wanita sangat memusingkan. Hayan enggan terlibat.
Yang pasti, jika sudah sampai bunuh membunuh, dia akan turun tangan menentramkan semuanya. Dia masih punya banyak tugas yang lebih penting.
Jika dia terlambat datang menyelamatkan salah satu wanitanya, berarti wanita itu terlalu lemah.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]