![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Enam bulan berlalu, tidak ada lagi yang meremehkan Udelia. Bawahan-bawahan Candra pun memberikan penghormatan dengan benar.
Bersamaan dengan itu, perut Udelia juga semakin membesar.
Setiap saat Candra siaga menemani Udelia yang sering dilanda kekhawatiran. Akhirnya Candra menyerahkan seluruh tugasnya sebagai kepala keluarga dan kepala toko kepada asistennya.
Keberadaan suaminya sangat membantu Udelia. Apalagi perasaannya sering tiba-tiba berubah.
Semula semua baik-baik saja.
Candra juga berpikir istrinya tak lagi ingat malam kelam bersama sosok asing yang tak dikenalnya.
Sampai suatu pagi dia mendapati istrinya melamun di pojok kamar.
Candra memanggilnya berulang kali, tak disahuti Udelia. Sang istri menyentak tangannya ketika Candra mencoba menyentuh bahunya. Wanita kesayangannya itu enggan disentuh Candra.
Udelia yang sadar baru saja melakukan kekerasan pada suaminya, langsung menatap sesal sang suami. "Maaf ..."
"Ada apa?" tanya lembut Candra. Dia sama sekali tak marah pada istrinya. Dia justru khawatir ada yang menganggu pikiran istrinya.
"Tidak." Udelia membalas dengan tatapan yang kosong.
Tidak dapat disembunyikan dari Candra bahwa perempuan itu tidak baik-baik saja.
Selama ini tidak terjadi hal yang aneh. Tak ada lagi yang mengucilkan Udelia. Dia sendiri yang memastikan semua itu.
Candra yakin istrinya hanya mengalami mimpi buruk atau ingatannya berangsur-angsur pulih.
Candra ingin istrinya beristirahat saja untuk memulihkan diri yang seharian terus menerus kedapatan sedang melamun.
Namun istrinya itu tetap profesional sebagai pendamping seorang kepala keluarga.
Perempuan dengan polesan natural itu bersikeras datang menghadiri acara pernikahan anak salah satu pejabat setia di bawah Candra.
Tapi langkah perempuan itu terhenti di gapura masuk rumah sang pejabat. Dia melihat punggung kokoh yang akhir-akhir ini sering kali masuk ke dalam mimpinya.
Di dalam mimpinya tidak ada hal aneh seperti pemaksaan dan kekerasan. Di dalam mimpi itu justru hanya ada kehangatan.
Di dalam mimpi, dia sedang berbagi kehangatan dengan pria bersumping emas itu.
Kemudian dia menyadari, itu adalah ingatannya. Ingatan saat malam pengantin yang berubah menjadi malam petaka.
Hal itu membuat Udelia merasa sangat bersalah pada sang suami. Mentalnya terbebani.
Lebih baik dia mimpi dikejar setan, daripada mimpi menengguk manisnya kehangatan bersama pria lain, meski wajahnya tak terlihat.
Candra yang merasakan getaran dalam tangannya langsung menatap sang istri. Wajah perempuan yang berdiri di sebelahnya pucat pasi.
__ADS_1
"Sayang ...?" panggil Candra.
"Pulang. Kumohon. Pulang sekarang."
Candra mengikuti arah pandang istrinya. Dia mendapati Maharaja di sana. Bergegas dia membawa pulang sang istri.
Tidak biasanya pria besar itu mau repot-repot datang ke pernikahan para pejabat di daerah.
Atau mungkin pria itu sudah tahu keberadaan Udelia?
Tidak!
Candra sudah memastikan sendiri, tidak ada satu pun yang tahu keberadaan Udelia. Dia bersyukur sang istri terlebih dahulu meminta pulang, tapi dia juga khawatir dengan keadaan istrinya.
Perempuan itu terus saja melamun.
"Candra, bagaimana ini? Bagaimana?" rancau Udelia.
"Kenapa sayang?" tanya Candra mengusap air mata istrinya yang terus merembes keluar.
Ah, dia merasa bersalah. Dia berjanji tidak akan membuat istrinya menangis, tapi sudah banyak air mata yang ditumpahkan Udelia kala bersanding dengannya.
"Bagaimana kalau.. anak ini.."
"Hm?"
"Bagaimana kalau anak ini adalah anak pria itu?" Pertanyaan menyakitkan akhirnya lolos dari mulut Udelia melihat sabarnya sang suami mendengarkan rengekannya.
Sapuan tangan Candra terhenti. Dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan ini.
Wajah Udelia kembali suram. Ternyata sang suami begitu mempercayainya, sampai tidak memikirkan ke arah sana—melihat bagaimana terkejutnya sang suami.
Udelia memikirkan hal ini. Sebab saat dia pingsan dan dinyatakan hamil oleh tabib, usia kandungannya seperti dibuat di malam pengantin.
Semua orang menyanjung Candra karena kegagahannya yang langsung mendapatkan penerus dalam masa pernikahan yang baru seumur jagung.
Sementara Udelia ikut mengagumi suaminya, lantas saat ingatan malam itu kembali bangkit di benaknya, dia merasa takut seorang diri.
Dia terus saja memikirkan kemungkinan yang muncul dalam kesimpulannya. Beruntung suaminya sangat sabar dan telaten mengurusnya.
Udelia tak tahu siapa orang itu. Tapi dia yakin laki-laki yang merenggut kesuciannya di malam pengantin bukanlah Candra.
Candra tidak memakai riasan di telinga. Ketentuannya seperti itu, jadi Udelia yakin dia merusak riasan telinga pria lain.
"Aku pergi saja, mas," ucap Udelia tak enak hati. Dia tidak mau manusia sebaik Candra mendapatkan wanita sekotor dirinya, apalagi harus bertanggung jawab atas benih pria lain.
"Nggak, sayang. Nggak. Aku yakin ini adalah anak kita. Kamu ingat kan waktu itu sudah minum jamu peluruh?"
__ADS_1
"Tapi ..." Udelia masih meragukan dirinya sendiri.
Malam itu lebih dulu si pria asing yang menanam benih dalam rahimnya, sangat tidak mungkin kan yang datang belakangan yang berhasil masuk ke rahimnya!?
Udelia sangat ragu dengan darah daging yang sedang dikandungnya.
"Ssst." Candra menempelkan jari telunjuknya ke mulut sang istri. "Ini adalah anak kita. Titik."
Udelia berhambur ke pelukan Candra. Kelembutan dan ketegasan suaminya membuatnya jatuh hati. Dia sudah terlalu dalam terikat dalam pelukan Candra.
Rasanya nyaman. Udelia tidak mau melepaskan diri dari kehangatan suaminya.
Walaupun seperti itu, Udelia masih saja meragukan bayi dalam kandungannya. Berkali-kali Udelia akan kembali meragu. Entah setelah mendengar sanjungan Candra yang langsung topcer hanya dalam waktu dekat ataupun setelah dia mimpi malam yang bas*h itu.
Kesabaran Candra tak pernah terkikis untuk meyakinkan sang istri, bahwa bayi di dalam kandungannya adalah anak mereka, darah daging mereka, buah cinta mereka.
Kendatipun hati si calon ibu terus saja dilanda kekhawatiran, bayi di dalam kandungan sangat sehat dan kuat karena perhatian penuh sang ayah.
Candra tidak pernah berhenti meyakinkan istrinya untuk mempertahankan bayi itu. Dia amat yakin dengan bayi dalam kandungan istrinya.
Seperti sekarang, istrinya kembali mempertanyakan janin yang dikandungnya dan dia masih dengan sabar meyakinkan sang istri.
Mereka sedang sibuk mempersiapkan acara tujuh bulanan. Udelia banyak bertemu tamu yang memberikan banyak komentar.
Kelelahan membuatnya banyak berpikir. Kecemasannya membuat dia lagi-lagi meragukan anak yang sedang dikandungnya.
"Candra, bagaimana jika ..."
"Hust. Jangan berucap yang tidak penting." Candra menutup mulut Udelia dengan telunjuk tangannya.
Saat ini mereka sedang duduk dan menikmati camilan yang diinginkan bayi mereka.
Semula semuanya baik-baik saja.
Udelia sangat lahap dan sangat senang dengan hidangan yang Candra buat khusus dengan tangannya sendiri. Kemudian tiba-tiba saja wajah Udelia berubah muram dan lagi-lagi mengeluh tentang anaknya.
"Tidur yang nyenyak istriku tercinta, juga anak ayah," ucap Candra sembari membungkuk dan mencium perut Udelia.
Lantas pria itu menyandarkan kepala Udelia ke bahunya dan mengipasinya dengan kipas tangan.
Hembusan angin dari kipas tangan Candra di hari yang panas, membuat sejuk udara di sekitar Udelia. Matanya terpejam dengan nyaman dan melupakan segala penat dalam pikirannya.
Candra menatap wajah pulas Udelia dan memikirkan ucapan khawatir yang sering dilontarkan sang istri.
Dia juga sering kali kepikiran, namun tak menampakkannya.
"Kalau dia anak Maharaja, apa yang harus aku lakukan?" gumam Candra sedikit gusar.
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]