![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
001 - MENCOBA MENERIMANYA
"Kamu telah membuatnya menderita. Aku mencabut segala berkat yang telah aku berikan. Tidak ada lagi Maja yang damai!"
"TIDAAAAAAAAAAK."
Seorang wanita, rambutnya panjang menjuntai, terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal.
Mimpi yang sama, berulang kali hadir dalam tidurnya.
Tiga kalimat yang terasa sangat mematikan.
Udelia, nama wanita itu. Tampilannya sangat berantakan.
Bulir keringat muncul karena mimpi buruknya, membuat dia terlihat seperti baru saja menyelesaikan ritual mandi.
"Mbak, ada apa?"
Udelia melirik ke sumber suara. Terdapat seorang pria berdiri tegak di dekat daun pintunya.
Fusena, sepupunya dari pihak ibu.
Udelia tersenyum simpul pada sepupunya.
Sepupu yang baru berjumpa lagi setelah lebih dari sepuluh tahun tak berjumpa.
"Tidak apa- apa, Sena."
"Baiklah.." kata Fusena dengan ragu.
Udelia kira Fusena pergi untuk kembali tidur. Namun nyatanya pria itu kembali ke kamarnya, dengan segelas air hangat di tangannya. Fusena memberikan gelas itu padanya.
"Kalau mbak ga mau cerita, setidaknya tenangkan hati mbak."
"Kamu memang pandai membaca isi hati.." Udelia tertawa kecil.
"Aku juga bisa membaca pikiran."
"Haha.."
Udelia terkekeh geli.
Fusena bercanda dengan wajah yang serius dan datar.
Tiga hari belakangan sepupunya menginap di rumahnya, setelah tiga hari yang lalu pria itu membuka kafe baru di dekat kantornya.
Udelia dan Fusena sering berangkat bersama, menuju tempat kerja yang satu arah jalannya.
Selepas meminum segelas air hangat yang disodorkan Fusena, Udelia merasa kantuk menyerangnya. Dia pun tertidur lelap.
Mimpi buruknya tak lagi mendatanginya.
Hari yang mencekam, berubah bersinar dan menghangat.
Suasana pinggiran kota terlihat sangat indah, sama indahnya seperti mimpi Udelia di padang bunga yang bermekaran.
"Mbak, udah siap?" tanya Fusena. Pria itu muncul dengan pakaian yang rapi.
"Aku berangkat sendiri saja, Sena. Ini terlalu pagi untuk membuka kafe. Bukannya kamu buka jam sembilan? Ini masih jam enam! Karyawanmu, pasti belum datang."
"Jangan menolak kebaikan, mbak.."
"Sudah, Udel. Terima aja ajakan Sena. Sudah cukup satu bulan ini kamu menghilang!" sela Watika, ibu dari Udelia.
Watika geram dengan putrinya yang masih saja berpikir untuk berkeliaran seorang diri, setelah satu bulan menghilang tanpa kabar.
Putrinya ini tidak belajar dari pengalaman!
"Nda, ih! Kasihan Sena."
"Bunda lebih takut kamu berjumpa dengan sepupu si Eva!"
Satu bulan yang lalu, Udelia pergi bersama Dina, sepupu Eva. Eva adalah tetangga dekat mereka dan juga teman sepermainan Udelia.
Awalnya mereka berencana untuk pergi berlibur bertiga; Udelia, Eva, dan Dina. Namun Eva tiba- tiba saja memiliki kesibukan di kantornya.
Jadilah Udelia dan Dina, berduaan pergi berlibur ke Sekar Langit, air terjun yang menjadi tujuan destinasi wisata mereka.
Setelah itu, satu bulan lamanya Udelia tak kembali.
__ADS_1
Watika dan keluarga Udelia yang lain melapor berita kehilangan Udelia pada polisi.
Pihak kepolisian telah mengambil tindakan, namun kemudian berkata mereka tak bisa menangkap Dina.
Anehnya, sehari- hari Dina selalu datang ke rumah dan mengabarkan keadaan Udelia yang baik- baik saja.
Keluarga Udelia tentu tak percaya padanya.
Satu bulan berlalu dan Udelia pulang diantar Fusena, sepupu Udelia yang telah hilang diseret seekor buaya putih yang besar.
Atas penjelasan Fusena dan permintaan Eva, keluarga Udelia tak lagi memperkarakan masalah hilangnya Udelia.
Watika menatap keponakannya, anak dari kakaknya.
Hari itu teringat jelas dalam benaknya, Udelia dan Fusena datang dengan pakaian yang tak biasa.
Fusena, keponakannya yang hilang diseret buaya putih, kembali muncul di hadapannya dengan usia yang telah matang.
Terakhir kali Watika melihat Fusena, Fusena masih kecil selayaknya anak- anak pada umumnya.
Akan tetapi, Watika dapat memastikan pria yang datang bersama putrinya adalah keponakannya, karena rupanya begitu mirip dengan kakaknya. Bagai pinang dibelah dua.
"Ini mungkin tidak masuk dalam akal manusia modern, tapi saya dan Udelia baru saja kembali dari dunia yang jauh. Maafkan saya, bi. Baru membawa pulang Udelia setelah satu bulan berlalu," jelas Fusena kala itu.
"Ka.. kamu sendiri, bagaimana kondisi mu, nak? Ayahmu pasti senang melihatmu!" tanya Watika.
Kehadiran Fusena lebih mengejutkan daripada kedatangan putrinya.
Dia bersyukur putrinya selamat, namun kemunculan keponakannya tentu menyita perhatiannya lebih besar lagi.
Dia bagai melihat mayat kembali hidup.
"Saya baik, bi. Setelah ini, saya ingin tidak ada lagi yang membahas tentang hilangnya Udelia. Biarkan cerita ini tenggelam."
Watika menarik napasnya, menenangkan hatinya yang bergejolak tiap kali mengingat hilangnya sang putri.
Dia harus terus ingat tentang perkataan keponakannya, agar tidak ada lagi yang membahas hilangnya Udelia.
Watika memahami hal ini. Udelia tidak ingat dengan yang terjadi selama satu bulan belakangan. Psikiater yang dia undang pun mengatakan lebih baik bagi korban untuk tidak teringat tentang permasalahan yang terjadi.
Watika harus pintar- pintar menyampaikan pendapatnya agar Udelia tak lagi bermain bersama sang pelaku, yaitu Dina dan Eva yang bisa saja menjadi perantara bagi Dina.
Udelia mengangguk singkat. Berita itu memang dia ketahui. Dia tak lagi membantah dan berangkat ke kantor bersama sang sepupu.
***
Sebuah patung emas tersembunyi di dalam ruangan besar yang telah dihias dinding dan langit- langitnya, dengan bermacam -macam bunga yang harum semerbak baunya.
Hanya bercahayakan lilin- lilin yang menempel di dinding, membuat suasana terkesan mistis.
Patung emas itu menggambarkan sosok perwira. Begitu besar dan rupawan. Di sekitarnya terdapat bunga dan berbagai macam jenis makanan yang mulai membusuk.
Sebuah retakan muncul pada sisi wajah. Dari garis kecil nan tipis, berubah membesar hingga retaknya mengitari seluruh bagian tubuh patung itu.
Seketika patung itu hancur berkeping-keping, bersamaan dengan sebuah dentuman besar yang meretakkan tanah di sekitarnya.
Orang- orang berhamburan keluar dari dalam bangunan. Getaran tanah terlalu besar untuk tetap tinggal di dalam bangunan.
Mereka berlarian menuju lapangan yang luas, lagi jauh dari bangunan.
"Gempa!" teriak seseorang dari dalam kerumunan yang berlarian.
"Tidak! Kamu lihat? Retakannya berasal dari Bale' Witaraga!" sahut yang lain.
"Ah.. Benar."
Mereka berdua sejenak terhenti. Tersadar ada patung emas besar yang harus mereka selamatkan.
Mereka mengajak dua rekan mereka untuk masuk ke ruang rahasia itu, serta membawa satu orang pemahat yang tahu sisi bagian keamanan patung yang dipahat ke tanah agar tidak jatuh bila dikerumuni banyak orang.
Ruangan yang ditutup dua pintu besar, mereka buka bersama- sama meski kondisi mereka terguncang- guncang.
Pintu terbuka. Debu- debu halus bertebaran. Saat suasana perlahan normal, kelima orang itu disambut dengan pemandangan yang mencengangkan.
Seorang pria besar nan gagah berdiri dengan posisi tangan memegang keris di pinggang, persis seperti gambaran patung dari orang besar yang terkenal, moyang mereka.
Dua kakinya terbalur emas, retak dan berjatuhan. Pecahan emas mengitarinya.
Mata yang selalu lurus menghunus, berkedip dan bergerak memindai sekitar.
Pemahat gemetar karenanya. Dia hanya menggunakan emas dan bahan- bahan serupa yang dibutuhkan untuk membentuk patung tokoh terkenal.
__ADS_1
Djahan Mada. Sang Mahapatih yang melegenda.
Tidak ada mayat, tidak ada orang di dalam patung itu.
Kemudian sekarang muncul sosok manusia dari dalam patung yang dipahatnya.
"Yang Mulia Mahapatih!" seru salah satu dari empat pengurus tempat itu.
Pemahat memandangi mereka. Wajah keempatnya terlihat lega dan berseri- seri. Seolah benar Sang Mahapatih yang melegenda hadir di hadapan mereka.
Benarkah pria itu Mahapatih?!
Muncul di dunia yang modern ini!?
Apa hal ini akan mengguncang dunia yang terlanjur kotor, karena Mahapatih datang untuk membersihkannya?
"Yang Mulia Mahapatih..." gumam si pemahat.
Dia sangat percaya dengan kebenaran wujud di depannya. Dia memahat emas, bukannya manusia.
Sosok besar itu, datang ke dunia mereka.
***
Sepasang mata bercahaya mengintai dari dalam kegelapan. Dia mengamati sekitar. Tempat yang tidak terlalu asing baginya. Banyak pasir dan air.
Namun ada hal yang berbeda. Tubuhnya terasa sangat nyaman berada di atas hamparan pasir nan luas.
Udara dingin sekitar, tidak membuatnya menggigil.
Sunyi dan sepi menjadi temannya.
Ada yang aneh dengan tangannya. Keras. Tidak terluka oleh batu yang tajam, kala dia berusaha naik ke daratan.
Dia tersentak kaget, ketika mencoba memastikan tidak ada luka yang muncul di tangannya.
Sebuah tangan dengan jari jemari runcing bergerak sesuai dengan arahnya menggerakkan tangan.
Buru- buru dia berbalik, hendak berkaca pada air yang jernih.
Hentakan air terdengar nyaring. Berasal dari benda besar nan panjang di ujung tubuhnya.
Berkaca pada air, semakin dia terkejut dengan perwujudan di dalam air.
Dia mundur ke belakang. Terkesiap dengan pantulan raganya.
Bukan dua kakinya yang berjalan mundur. Terasa dua pasang tangan bergerak sesuai komando otaknya.
Dia bukan orang bodoh, yang membutuhkan waktu untuk memahami kejadian aneh yang menimpanya.
Rupa di dalam air adalah rupa miliknya.
Rupa yang baru ini, dia mencoba menerimanya.
Mencoba membiasakan diri. Dia menggerak- gerakkan seluruh anggota tubuh barunya. Memastikan tidak ada yang kurang.
Saat berlari- lari kecil di sekitaran hutan yang rimbun di pinggir laut, sesosok pria dewasa dengan tombak di tangannya muncul.
Yang mencuri perhatiannya bukan pria bertombak, melainkan ikan bercahaya di bawah air, yang dia tahu itu sangat beracun.
Rasa pedulinya yang tinggi, membuat tubuh besar nan beratnya berlari kencang menuju tempat pria bertombak berdiri.
Menggigit ikan yang sangat beracun. Tidak ada efek yang terjadi pada tubuhnya.
Pria bertombak itu memekik kaget. Menusukkan tombak sekuat tenaga, pada sosok yang berlari kencang padanya.
Naas, tombak itu patah jadi dua.
Pria itu memasrahkan hidupnya.
Gigi- gigi putih nan tajam dan berbaris rapi, mengunyah habis ikan beracun di mulutnya. Dia memandangi si pria berlalu dan berlalu pergi, masuk ke dalam air.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]
JADWAL:
SENIN - JUM'AT
__ADS_1