![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
052 - MEMBUKA PAKSA PINTU DIMENSI
Udelia mematung di atas ranjang.
Matanya lurus menatap ke atas.
Tak bergerak.
Dia.. ingat semuanya.
Bukan hanya tentang menjadi Maharani dan menikahi banyak pria.
Tapi juga asal muasal bagaimana dia menjadi primadona semua orang.
Semua itu tak lepas dari berpindahnya seorang Petapa Agung yang suci ke dunia modern yang fana.
Pria itu pergi terlempar ke dunia modern oleh sebab kehilangan kekuatan setelah menghalangi pertarunga Suro dan Boyo.
Jatuh terhempas. Masuk ke dalam rahim kering seorang yang beriman tinggi.
Wanita itu adalah bibi Udelia.
"Ayo, Dek. Makan obat dulu," ucap Udelia pada adik sepupunya.
Fusena.
Nama yang diberikan seorang wanita penuh kasih yang berpulang tak lama setelah melahirkan putranya.
Fusena memang belum mempunyai kesadaran tentang ilmu ghaib.
Namun dia mempunyai kesadaran diri dan kedewasaan yang mengikutinya.
Dia selalu patuh tiap kali diperintahkan ini dan itu.
Nyaman muncul dalam hatinya setelah ribuan tahun sendiri di dalam hutan.
Awalnya Fusena menganggap Udelia sebagai saudara, sebagaimana sanak keluarga lain memperhatikan dirinya.
Seiring matanya terus melihat. Pikirannya terus terbayang.
Hati Fusena jadi berdendang ketika berjumpa Udelia.
Walau raganya baru lima tahun, Fusena amat paham segala emosi dalam dirinya.
"Aku menyukai Mbak," ucap Fusena.
Udelia yang berbeda sedikit umurnya, juga sudah cukup paham tentang kedewasaan diri.
Dia mengacak rambut lembut Fusena.
Tertawa karena kepolosan makhluk kecil itu.
"Aku juga suka sama Sena. Suka bangeeeed. Nanti aku buatkan es serut, oke?"
Ya. Udelia hanya menganggapnya sebagai adik kecil.
Lalu bencana itu datang.
Sore hari. Menjelang senja datang.
Udelia dan seluruh anak- anak biasa diajak kakek mereka untuk mandi renang- renang di sungai.
Membiasakan diri berenang karena mereka hidup di pulau yang dikelilingi banyak air.
Tak mengharap bencana, hanya harus mempersiapkan diri.
Ketika kakek mereka sibuk, akan diwakili sepupu Udelia yang sudah besar.
Sayangnya anak- anak masihlah anak- anak.
Apalagi yang pandai berenang.
Mereka tidak bisa terus mengawasi adik- adik mereka.
Menyuruh adik- adik tetap tenang di pinggir sungai, lantas main- main sendiri dengan anak- anak lain.
Fusena kecil merasa sudah pandai berenang.
Dia mengayuh kaki di dalam air dan mengitari sungai.
Sesosok buaya putih menarik kakinya.
Dia dibawa ke dunia bawah.
Sang raja siluman air merasa terancam dengan aura Fusena, yang perlahan keluar seiring dengan menguatnya mental dan fisiknya.
Fusena lantas tersadar.
Dia adalah orang yang sangat kuat.
Dia mampu menaklukkan dunia.
Sayang sekali tubuhnya telah mati.
Dia hanya dapat pergi ke dunia asalnya untuk memulihkan diri.
Masuk ke dalam raganya yang tergeletak di dalam gua.
Yang dia tak tahu ialah jiwa Udelia turut mengikutinya.
Ketika mereka sering bermain, tak sadar Fusena memberikan bagian sihir dan tapaannya untuk melindungi sang sepupu.
Raja siluman buaya itu tersadar akan kuatnya Fusena.
Tak mau mengambil masalah dengan memakan jiwa tersesat Udelia.
__ADS_1
Mereka membawa Udelia naik ke daratan.
Akan tetapi Udelia kebingungan dengan semuanya.
Dunia sekitarnya gelap.
Tak seperti yang dilihat oleh manusia pada umumnya, jiwa tak dapat melihat dunia. Hanya dapat meraba- raba perasaan dan teriakan orang- orang sekitar.
Udelia juga punya raga yang khusus.
Dia meminum cairan bercampur buah penguasa pintu dimensi.
Buah yang tak sengaja jatuh pada minuman obatnya.
Menjadikan Udelia amat mudah menyerap sihir dan tapaan Fusena.
Kekuatan dalam diri Udelia terus menopang hidup jiwa Udelia untuk tak hancur ketika berada di luar tubuh.
Lantas jiwanya terlempar ke masa lampau.
Masuk ke dalam tubuh Idaline untuk yang pertama kali.
Seseorang dengan kapak terayun menjadi pemandangan pertama ketika dia membuka mata.
Dia lari tunggang langgang dari desa yang sepi.
Sepanjang jalan tak ditemukan orang.
Dia berlari menuju hutan.
Masuk ke dalam goa tempat Fusena bertapa.
Jatuh tak sadarkan diri di pintu goa.
"Anak siapa ini?" gumam Fusena menemukan sosok anak tergeletak di bibir gua.
Meski semua orang mengatakan Fusena adalah perwakilan dewa yang agung, nyatanya Fusena tak suka dengan anak kecil.
Begitu berisik dan membuat kepala pening.
Sering meributkan hal -hal tak penting.
Dia meninggalkan begitu saja anak itu di sana.
Makan lahap rusa buruannya dan beberapa hewan buas yang mencoba menyerang.
Perutnya masih kosong.
Dia berjalan masuk ke dalam goa.
Keluar pada pintu yang lain.
Mengambil ikan besar yang memiliki berbagai warna pada tubuhnya.
Menyantap habis.
Ikan itu kaya akan kekuatan ghaib.
Si anak yang pingsan mulai bangun setelah sekian lama.
Dia tidak bisa mengangkat tubuh karena terlampau lemah.
Hanya bisa terbaring di sana, walau hujan turun dan matahari menyengat.
Kemudian Fusena ke luar.
Dia hendak mencari peralatan untuk persembahan pada dewa.
Kemarin dia terlempar ke dunia lain bukan hanya karena kehabisan energi. Tapi juga karena telah melanggar aturan langit untuk tidak membuka pintu dimensi.
Dia harus memberikan kesenangan dahulu.
Sebelum pergi memulai kekacauan lagi.
Udelia kecil dalam raga Idaline kecil samar melihat sosok yang dikenalinya.
Fusena dan Petapa Agung tidak jauh berbeda.
Tangan Idaline mengapung.
Berusaha menggapai sosok yang terlihat cuek padanya.
Dia merasa kesal karena begitu lemah.
"Sena..." cicit Idaline setelah mengumpulkan banyak energi.
Fusena sudah berjalan ratusan mil jauhnya.
Namun...
telinganya mendengar suara itu.
Secepat kilat kembali ke gua.
Menemukan gadis kecil yang tersenyum padanya.
"Sena..." panggil Idaline.
Seketika Fusena memeluk Idaline.
"Ah. Akhirnya aku menemukanmu, Mbak!"
Fusena kemudian benar- benar membuat upacara yang menyenangkan dewa.
Impiannya untuk tinggal bersama sosok yang dia harapkan akhirnha terwujud!
__ADS_1
Bertahun- tahun mereka tinggal di dalam hutan, hingga Idaline tumbuh besar menjadi gadis yang cantik.
Sesekali dia pergi ke desa. Namanya sangat harum seperti aroma tubuhnya yang tak pernah berbau keringat.
Di ujung jalan sana, seorang yang muram berjalan tanpa kehidupan.
Dia adalah tuan muda Ekadanta yang telah terusir dan terhina dari rumah besarnya.
Bukan karena serakahnya sang kakak kandung.
Namun dia sudah banyak mengubah manusia menjadi debu hanya untuk menghilangkan stres dalam kepalanya.
Dia diubah menjadi orang gila tanpa emosi agar tidak membunuh dengan sembarangan.
Bahunya dan bahu Idaline tak sengaja bertabrakan.
Begitu pula kutukan dalam dirinya yang kembali memberontak ketika terkena kekuatan suci Petapa Agung.
Mata pria itu nyalang pada Idaline.
Tangannya terjulur hendak menyentuh Idaline.
Seketika Fusena datang dan menghalangi dia, Candra Ekadanta.
Mematahkan tangannya tanpa disadari sang empunya.
Fusena membawa Idaline pergi.
Candra baru bereaksi pada malam berikutnya.
Tangan kanannya patah.
"Terima kasih, Sena. Eh guru... untung saja kamu menghalangi orang gila itu."
Idaline yang tumbuh dengan liar di dalam hutan, kadang tak mengindahkan tata krama.
Seperti sekarang ini, memeluk pria dewasa, yang mungkin akan menyerangnya.
Tapi Fusena sangat senang.
Meski hanya hidup berdua, Idaline tumbuh dengan baik.
Selalu tersenyum dengan lebar dan memberikan banyak kasih sayang, pada manusia, hewan, dan alam.
Kemudian malam itu datang.
Ketika Fusena pamit untuk memberikan berkat di sebuah negara.
Idaline dengan jiwa Udelia di dalamnya, selalu melepas topeng gembira ketika Fusena pergi.
Dia meringkuk penuh kesedihan di sudut gua.
Menangis karena sendiri di dunia ini.
Teman, sahabat, saudara, semuanya palsu.
Idaline hanya ingin pulang.
Dia merindukan rumahnya.
Ingin kembali menjadi Udelia, meski tak akan lagi secantik Idaline.
Kedua orang tuanya pun entah bagaimana kabarnya.
Apakah dirinya bisa kembali?!
Di sini memang menyenangkan.
Hewan dan alam menjadi pelayannya.
Banyak juga manusia yang datang menghormat padanya.
Tapi seseorang yang memiliki keluarga lengkap dan bahagia, mana bisa dibandingkan dengan semua ini!?
Idaline hanya bisa menghargai usaha Fusena dengan terus berwajah manis di depan saudaranya.
Dia juga paham tidak bisa kembali ke dunia semudah itu.
Makanya dia tak pernah mengeluh di depan Fusena.
Fusena mengepalkan tangannya ketika mendengar rintihan Idaline.
Sengaja dia pamit demikian karena mendengar seekor kelinci yang ketakutan mendengar suara tangis dari gua Fusena.
Semua hewan mengenal Idaline sebagai dewi sumeh.
Maka aneh bila terdengar suara tangis.
Dan ternyata tangisan itu adalah rintihan kerinduan punuk pada bulan.
Fusena memang menghendaki untuk bersama wanita yang telah berhasil merebut hatinya.
Namun dia juga memahami makna keluarga setelah mendapat kehangatan dari sosok berjuluk ayah dan ibu di dunia modern.
Maka dia pergi ke atas gunung.
Mencoba sekali lagi untuk melanggar langit.
Membuka paksa pintu dimensi.
Seperti saat dia mengeluarkan Suro dan Boyo ke dunia modern.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]