![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Udelia, ini aku, Djahan."
Nafas Djahan tercekat. Jantungnya berdetak kencang. Kepalanya mendadak kosong, mendengar sang pujaan hati tidak mengenali dirinya.
Bagaimana bisa?
Djahan tak habis pikir.
Kekasih hatinya tidak mengenali dirinya.
Sepasang mata kecokelatan berembun menghadapi kondisi yang tak pernah disangkanya.
Dia sudah terlampau yakin jikalau pujaan hatinya telah kembali ke negeri asalnya.
Mata sendu itu terpaku, meminta penjelasan pada mata yang menatapnya dengan dingin.
Udelia menatap pria asing di depannya dengan dingin dan garang.
Di saat Djahan dan Udelia beradu tatapan, sebuah bayangan anak kecil berlari mendekati mereka dan berteriak dengan girang, memutuskan tatapan mereka yang terkunci.
"Nda ... a nan..da dah buat.."
"Tuan muda..!" pekik Pelayan—yang menemani Rama, dari depan pintu.
Dia tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam aula.
Ada utusan Keraton di sana.
Sama saja bunuh diri bila dia memaksakan diri untuk masuk ke sana.
Kendatipun terdengar kabar orang keraton masa ini adalah orang orang yang memiliki hati yang baik, dia tidak ingin ambil risiko.
"Ibunda!" Rama menarik kaki Udelia menyadarkan sang ibunda dari amarah yang meletup-letup.
Nyonya Ekadanta itu melempar senyuman pada sang buah hati. Menetralkan dadanya yang bergemuruh. "Maaf sayang, ibunda melamun," ucapnya penuh dengan sesal.
"Ini.." Rama menunjukkan hasil gambarnya.
Udelia menunduk melihat kertas yang ditunjukkan padanya. Rama menggambar mereka berempat dengan suasana khayangan yang baru didengar pria kecil itu, setelah ayahandanya bercerita tentang negeri para bidadara yang saling menyayangi.
Candra menanamkan pemahaman rasa kasih dan sayang antara kakak dan adik di dunia para bidadari dan bidadara.
"Bagus sekali, sayangku," puji Udelia mengacak rambut hitam Rama.
"Perkenalkan, ini putra pertama saya, Rama Ekadanta," ucap Candra pada Djahan yang memandang dengan bingung.
Dia dengan sigap berdiri di sisi Udelia, melengkapi jumlah suatu keluarga, agar tidak ada lagi pria yang mengisi sisi kosong di samping istrinya.
"Pamanda?" gumam Rama tersenyum lebar.
Dia berpikir pria yang menjadi tamu kedua orang tuanya adalah Bayuaji Ekadanta, pamannya yang tersayang. Sebab selama ini laki laki dewasa selain para pelayan, Rama hanya tahu Bayu.
Namun begitu matanya melihat wajah Djahan, dia langsung bersembunyi di belakang kaki Udelia.
Wajah Djahan yang tanpa ekspresi sangat tidak bersahabat untuk anak kecil.
Mungkin tampan dilihat para wanita dewasa. Sayangnya bagi anak-anak, tampak aura menakutkan dari wajah Djahan.
Anak anak lebih suka wajah dengan senyuman.
"Bukan pamanda.." lirih Rama ketakutan di belakang Udelia.
"Mohon maafkan putra hamba, tuan," ucap Udelia cepat.
Dia tidak mau mengusik orang besar.
Dia tahu seberapa tinggi yang namanya Mahapatih.
__ADS_1
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi bila mengusik orang nomor dua di Bhumi Maja.
Membayangkannya saja sudah mengerikan.
"Sayang, beri salam dengan benar.." tutur Udelia lembut.
"Bukan pamanda." Rama menggeleng dengan keras.
Dia takut dengan laki laki dewasa, kecuali para pelayan yang rendah dan pamanda kesayangannya yang tak pernah menampakkan kekuatan yang menakutkan.
Sementara pria besar di depannya, mengeluarkan sebuah asap hitam yang membumbung di sekitarnya.
Pria itu sedang diliputi emosi yang buruk.
"Tuan Mahapatih, saya memohon ampunan Anda. Semoga Anda dapat memaafkan putra saya yang belum bisa memberi hormat dengan benar."
Udelia bersimpuh dan menangkup tangannya di atas kepala, persis seperti yang dilakukan para pelayan ketika menghadapnya, terutama ketika meminta maaf.
Bibir Djahan bergetar dengan hebat. Tidak pernah perempuan ini merendahkan diri di hadapan orang lain.
Setinggi apa pun kedudukan seseorang, Udelia bisa dengan ceria membalas orang besar itu tanpa mengusiknya dan tanpa merendahkan diri.
Sekarang, wanita pujaannya menunduk dengan rendah.
"Udelia," ucap Djahan disertai tetesan air yang berlinang di ujung matanya.
Dahulu, dia masih bersabar melihat istrinya duduk di singgasana bertemankan pria lain.
Dia masih menahan diri oleh karena tempat berdiri istrinya memang pas pada tempatnya dan itu berlaku hanya sementara.
Akan tetapi kini, Udelia sangat merendahkan diri di hadapannya. Dan Udelia sedang menggunakan raganya sendiri. Tidak ada kata sementara bila tidak menggunakan raga orang lain.
Djahan kecewa. Dia kecewa melihat Udelia menyerahkan dirinya sendiri pada pria lain.
Dia masih bersabar kala Udelia menempati raga Idaline kemudian bersanding dengan Maharaja. Karena saat itu, bukanlah Udelia yang sebenarnya. Terpaksa ia iya kan karena Udelia berjanji semuanya hanya sementara sampai Udelia dapat lepas dari raga Idaline.
Dan dalam takdir ini, tidak ada Djahan di dalamnya!
Djahan tidak terima! Dia tidak terima Udelia tercintanya bersanding dengan pria lain!!
"Kamu tidak sadar sedang dipengaruhi olehnya?!" marah Djahan seraya melepas kekuatannya.
Aura hitam yang dilihat Rama berubah menjadi suatu kekuatan yang menekan seisi ruangan.
"Mahapatih!" Candra segera mengeluarkan sihirnya untuk melindungi Udelia yang sedang memeluk Rama.
"Sayang, kamu keluar dulu!" ucap Candra tergesa pada istrinya.
Tanpa membantah, Udelia menggendong Rama, membawanya pergi dari pandangan Candra.
Suasana di aula keluarga begitu tidak enak. Kekuatan dahsyat milik Mahapatih seolah mengikutinya. Suara dentuman bersahutan dari belakang tubuhnya.
Erat tangannya mendekap Rama. Langkahnya tergesa menuju ke kamarnya lalu dia menenangkan putranya yang terisak ketakutan.
Kengerian di aula keluarga pasti membekas dalam ingatan putranya.
Udelia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi.
"Atut.. hik. .. ngeli.. huaaa!" Rama benar benar ketakutan.
Seumur hidup dia belum pernah berada dalam keadaan yang terdesak.
"Cup .... cup, sayang. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa." Udelia menepuk-nepuk punggung Rama. Menenangkan buah hatinya yang tersedu sedu.
"Ekadanta, berani sekali kamu menyembunyikan istriku di rumahmu?!"
"Mahapatih, saya tidak mengerti. Istri Anda telah menjadi Maharani dan beliau masih berdiri dengan tegak di posisinya," balas Candra serupa dengan sindiran.
__ADS_1
"Jangan berdalih!!!" Djahan melempar Candra keluar dari ruangan.
Para prajurit berusaha menghentikan Djahan, namun mereka ikut terlempar jauh. Tak kuasa menahan kekuatan Sang Mahapatih.
Candra dan Djahan saling berbalas kekuatan, hingga taman indah kesayangan Udelia tidak terbentuk lagi.
.
.
"Candra..?" panggil Udelia kala melihat siulet orang masuk ke dalam kamarnya.
Dia tahu itu, suaminya pasti menang.
Senyum merekah di bibirnya.
"Udelia, ayo kembali."
Tangan penuh darah milik Djahan tersodor tepat di depan wajah Udelia. Wanita itu beringsut mundur ketika hidungnya membaui aroma yang amis.
Cahaya gelap temaram menimbulkan atmosfer yang menegangkan.
Dan suara detuman kencang terdengar memekakan telinga.
Suasana semakin mencekam.
"A..apa yang kamu lakukan pada Candra?" tanya Udelia mencicit. Dia mengeratkan pelukan pada Raka yang terbangun akibat suara detuman dahsyat di halaman rumah.
"Tidak ada lagi Candra," ucap Djahan sembari menatap bayi yang berada gendongan Udelia yang terus menangis.
PLAK.
"Be ... berani-beraninya Anda melakukan itu!" Udelia menggenggam tangannya yang melayang di udara. Ia pejamkan mata lalu menundukkan wajahnya.
Takut. Takut sekali. Ketakutan besar muncul dalam relung hati Udelia.
Dia telah membuat kesalahan yang besar.
"Udelia, kamu benar-benar melupakanku?"
Tangan Djahan terjulur, ingin menangkup wajah yang menunduk itu. Ingin mengusapnya dan ingin mengatakan semua baik baik saja.
Terpancar rasa takut dari mata Udelia, membuat hati Djahan semakin terasa sakit.
Djahan menutup matanya, ia menarik tangannya yang menjulur.
"Udelia, pikirkanlah dengan baik." Djahan mengusap kepala Udelia lalu hilang dalam kegelapan.
"Sayang, tidak apa-apa. Semua baik baik saja." Udelia memeluk Rama yang duduk di sebelahnya dan ikut menundukkan kepalanya.
Lelaki kecil itu mengangguk. Dia menyembunyikan tangannya yang gemetar dengan hebat.
"Oh iya, Candra... Sayang diamlah di sini."
Saat Udelia hendak membuka pintu, terdengar suara pengawalnya menahan Udelia untuk tidak keluar dari dalam rumah.
"Nyonya, mohon tunggu di dalam kamar saja. Tuan sedang kami obati. Untuk berjaga-jaga, mohon tetaplah di kamar hingga tuan sadarkan diri."
"Bagaimana dengan suamiku?"
"Kami bisa menanganinya."
"Baiklah. Malam ini kuserahkan pada kalian," ucap pasrah Udelia. Bagaimanapun, ada dua anak yang harus dia lindungi.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1