TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
DUA KALI DIA KECOLONGAN 2


__ADS_3

Tiga hari berbaring di kasur, setiap inci tubuh Udelia berbunyi ketika melakukan pemanasan di pagi hari.


"Susu cokelat untuk istriku tercinta."


Candra meletakkan gelas dengan tangan kanannya, di tangan kirinya ia menggendong Raka.


Udelia yang semula merenggut melihat Candra, mendadak tersenyum semringah mendapati Raka di gendongan Candra.


"Uhhh Raka sayang."


Udelia menciumi pipi Raka. Bayi yang semakin besar itu menggelinjang geli. Raka tertawa senang. Dia rindu ibundanya.


"Rama di mana?" tanya Udelia sambil menimang Raka.


"Rama di keraton."


"Duh. Tidak sabaran sekali," kesal Udelia. Pastilah Hayan membawa Rama ke mana-mana. Entah bagaimana hidup Rama ke depannya. Dia sudah pasti menjadi target.


Meski masa kecil Hayan dihabiskan dengan kepemimpinan ibundanya, sang Ratu Pertama Bhumi Maja, Hayan adalah orang yang memiliki prinsip bahwa laki-laki adalah pemimpin, perempuan tidak boleh memimpin, kecuali membantu si pemimpin.


Ada banyak perhitungan bagi Hayan untuk tidak menerima pemimpin perempuan baik di Kabuyutan, tempat terkecil Bhumi Maja, maupun pemimpin tertinggi Bhumi Maja.


Menjadi alasan terbesar Hayan menyerahkan Maya pada keponakannya sendiri agar menjadi suami yang baik sebagaimana dia tahu pertumbuhan bocah itu dan agar suami Maya yang menjadi Maharaja bukanlah dari keluarga lain.


"Itu hal baik. Orang-orang akan mengenal Rama sebagai Pangeran," kata Candra menanggapi.


"Malah akan jadi rumit." Wajah Udelia berubah lesu. Sudah terlampau jauh bila Hayan mengenalkan Rama sebagai Pangeran.


Bila pun Rama harus menjadi Maharaja, akan sangat aman bila Rama disembunyikan. Seperti keberadaan Pangeran Niskala dari Kerajaan Sunda yang selamat seorang diri, di mana seluruh keluarga besarnya dibunuh Djahan, suami pertamanya.


"Ingin jemput?" tawar Candra. Dia tidak mau melihat mendung di wajah Udelia. Dia ingin Udelia terus tersenyu,


"Tidak perlu. Rama bersamaku," timpal Djahan memasuki kamar Udelia. Ingin berbasa basi mengucap salam, tak kuasa dia dapati pria lain di kamar itu.


Djahan menurunkan Rama dan mencium pipi Udelia, Rama yang melihat kelakuannya ikut mencium pipi Udelia.


Udelia mendelik tajam. Untung saja pria itu tidak mencium bibir. Mencium bibir adalah hal tabu meski dilakukan oleh anak-anak.


"Kangen ndaaa," sungut Rama mencium Udelia bertubi-tubi lalu memeluk leher ibundanya. Bergelayut dengan manja.


"Haha, sayang. Ibunda juga kangen." Udelia balik mencium pipi Rama.


Rama yang tidak balas dipeluk langsung menoleh. Rupanya sang adik sedang digendong ibundanya. Dia menciumi Raka seperti dia menciumi ibundanya.


"Duduk yang benar ya? Nanti jatuh," tegur Udelia karena Rama terus bergeser-geser saat mencium adiknya.


Rama duduk dengan patuh.


"Mahapatih, Anda tidak punya sopan santun sama sekali," berang Candra yang baru sadar dari keterkejutannya.


Dua kali dia kecolongan.


"Kenapa Anda yang sewot?"


"Tentu saja. Saya suami Udelia."


"Saya juga masih sah suami Udelia."

__ADS_1


"Lalu kenapa hari itu tidak Anda hentikan? Padahal saya bersumpah dengan lantang."


"Kalian berdua keluarlah! Jangan bertengkar di sini!"


Keduanya menciut oleh amarah Udelia. Mereka bergegas pergi dengan saling memandang sengit antara satu sama lain.


"Eeengh.."


"Raka mau makan?"


"Hehehe.."


Udelia dengan gemas menciumi pipi Raka yang tertawa riang. "Sayang, senang lihat ibunda?"


"Ndaaa." Rama menunjuk pipinya.


Udelia menundukkan tubuhnya, mencium gemas sang kakak agar tidak cemburu. "Rama seneng?"


"Seneng."


Udelia kembali bangkit dan menimang-nimang Raka, membuat Rama memandang sedih. Dia juga mau ditimang-timang oleh ibundanya. Sudah lama dia tidak ditimang-timang sebelum tidur.


"Di keraton enak?" tanya Udelia mencoba mengalihkan perhatian Rama. Terlalu jelas sendu di wajah itu.


"Enak.. Luas.. Banyak mam!" Diperhatikan oleh ibundanya, Rama kembali mengulas senyuman.


"Nanti kita kunjungi bareng.."


"Yeeeyy."


Dibantu dayang, Udelia memandikan Rama dan Raka bergantian. Dia juga menyuapi keduanya sendirian. Menolak kehadiran suami-suaminya untuk melepas rindu bersama anak-anaknya tanpa gangguan orang lain.


Setelah menceritakan hal-hal yang sarat akan ilmu, Udelia menyelimuti Rama sampai sebatas dada.


"Selamat malam sayang," ucap Udelia mencium kening Rama.


"Selamat malam ndaa." Rama tidur dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.


Masuk ke kamar, pelan-pelan Udelia menaruh Raka di ranjang bayi. Kemudian dia duduk tegak meletakkan tangannya di atas paha, di kursi tamu di dalam kamar.


"Ada apa, Djahan?" tanya Udelia pada Djahan yang telah menunggunya,


"Esok siang aku akan berangkat ke Tlogo Rejo."


Udelia tertegun. Tercetus dalam benaknya nama Tlogo Rejo dan kisah di dalamnya. Udelia tidak mau kisah itu menjadi nyata. Bagaimanapun caranya, Udelia tidak akan membiarkan prasasti itu menjadi nyata.


"Bisakah jangan pergi?" pinta Udelia.


Djahan bangkit berdiri di depan sang istri, mengusap pipinya. Dia memahami kegelisahan istrinya karena harus ditinggal sebelum menghabiskan liburan bersama.


Tapi pemberontakan di Tlogo Rejo benar-benar tidak diabaikan. Djahan akan menyelesaikan tugas itu dan berlibur santai bersama Udelia. Masa liburnya belum usai.


"Aku akan kembali dengan cepat."


"Aku masih rindu."


Udelia melingkarkan tangannya ke tubuh Djahan.

__ADS_1


Djahan menahan tangan Udelia yang hendak membuka katibandhanya, emas yang melingkar di pinggangnya.


"Aku datang bukan untuk ini," lirih Djahan. Dia bukanlah pria pecinta ************. Bahkan pada istrinya yang belum siap.


"Tapi aku ingin." Udelia menatap dengan mata permohonan.


Udelia memiringkan kepalanya, menempelkan bibirnya. Sementara fokus Djahan terburai oleh ciumannya, tangannya menarik katibandha Djahan dan melepas kain yang melindungi aset berharga Djahan.


"Haah.. haah.."


Udelia dan Djahan menarik napas bersama.


Djahan terbelalak kala Udelia menenggelamkan kepalanya di sela kakinya.


"Ngggh. Jangan.. koohh. torhh.."


Djahan membungkuk berusaha melepaskan Udelia. Namun entah karena Udelia yang terlalu kuat, entah karena dia terlalu lemah, atau justru karena dia sangat menikmatinya sehingga tidak mengeluarkan tenaga, Udelia tidak bergerak sedikit pun dari sela kakinya.


"Ngghhhh..."


Djahan mencondongkan tubuh ke belakang dan menopang kedua tangannya di atas kursi.


"Haaa.. Haaa.."


Wajah Djahan memerah, dia menarik rambut Udelia hingga mulut hangat itu terlepas dari tubuhnya. Djahan merasakan gelombang yang memaksa keluar.


"Aku tidak tahan!" seru Djahan sebelum dia merasa lega dan lemas.


Baru akan bernapas lega, Djahan terbeliak menatap wajah Udelia yang penuh dengan air kenikmatannya.


"Maaf," Buru-buru Djahan mengambil kain dan melap wajah Udelia yang penuh dengan airnya.


"Sudah berapa lama?" Dengan kelopak mata yang basah Udelia menatap Djahan.


"Tidak pernah setelah terakhir kita melakukannya."


"Suamiku sungguh setia," puji Udelia.


Djahan hanya bisa mengulas senyum. Napasnya masih memburu. Dia baru saja mengeluarkan sesuatu yang selama ini terasa mengganjal dalam tubuhnya.


"Apa aku berat?" tanya Udelia yang duduk di pangkuan dengan menghadap Djahan.


"Istriku sangat ringan."


Djahan kalah. Tidak mungkin dia melewati kenikmatan surga di depannya.


Udelia bergerak sensual. Melepaskan satu persatu kain di tubuhnya.


Dengan gemas Djahan menjelajahi satu persatu tubuhnya lalu Djahan membimbingnya ke kasur, menyatukan diri mereka.


Berulang kali mereka sampai ke puncak. Tak bosan, tak lelah, hingga pagi menyapa.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2