![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia merasa jenuh di kamar. Suaminya sudah pergi ke ruang kerja untuk mengurus hal-hal yang tertunda seharian.
Pria itu mewanti-wanti Udelia untuk tidak keluar dari rumah mereka. Tapi Udelia yakin, berada di halamannya sendiri, tak apa.
Suara gemericik gelang berbunyi dari kedua kakinya. Udelia tertawa pelan sambil menggerakkan beberapa langkah absurd.
Udelia mengangkat tinggi-tinggi kaki belakangnya hingga sejajar dengan pinggangnya.
Klenting Kuning yang sedang dilayani Klenting Ijo, Klenting Abang, dan Klenting Biru menganga dibuatnya.
Itu adalah gerakan balet!
Walau tidak secantik gerakan profesional, Klenting Kuning yakin tidak akan ada wanita gila di zaman ini yang mengangkat tinggi-tinggi roknya.
Sungguh tidak anggun! Tidak mencerminkan sikap yang baik.
Senyum lega terbesit di bibir Klenting Kuning. Dia mengangkat tangannya menyuruh ketiga saudara angkatnya untuk berhenti melayaninya.
"Kakak-kakak silakan kembali. Saya ingin jalan-jalan sendiri."
"Nanti kamu butuh-butuh sesuatu kesulitan loh," ucap Klenting Abang.
"Ngga apa."
Dengan terpaksa ketiga perempuan bersaudara itu pergi meninggalkan adik angkat mereka.
Klenting Kuning tersenyum kecil. Nama aslinya adalah Salsa, dia merupakan mahasiswi bidang pertanian yang tiba-tiba terbangun di dunia yang asing ini.
Baginya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui ini adalah dunia yang nyata. Sebab saat itu dia terluka parah dan mendapati perutnya terasa melilit akibat kelaparan.
Beruntung Randa, ibu dari tiga orang perempuan menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Wanita tua itu seolah menyayangi dirinya sama seperti anak-anaknya.
Tapi setelah sembuh, Klenting Kuning diperlakukan bak seorang budak. Ini dan itu semua dilakukan Klenting Kuning, sementara anak-anak perempuan Randa setiap hari hanya berdandan, selalu mencoba peruntungan tiap kali ada anak pejabat ibu kota yang datang.
Klenting Kuning tak masalah. Dia juga merasa harus membalas jasa Randa. Apalagi dia tidak memiliki kerabat.
Namun hari itu saat usianya dalam kelabilan, kesabarannya yang besar telah habis.
Klenting Kuning baru menyelesaikan pakaian yang menggunung. Itu adalah kain-kain khusus. Dia harus ekstra hati-hati mencucinya.
__ADS_1
Tak masalah. Dia menambah uang jajan dengan bekerja di laundry. Merapikan rumah pun tak masalah. Dia selalu membantu ibunya membersihkan di rumah.
Semua itu tak masalah. Tiga Klenting bersaudara tidak membuat ulah. Dia masih makan di meja makan bersama dengan yang lainnya.
Sayang saat ingin mengepel lantai, ember pengangsu air terputus dari talinya. Mau tak mau Klenting Kuning mencari yang baru di ujung jalan yang jauh.
Di bawah terik matahari, Klenting Kuning membawa gerabah yang besar.
Sesampainya di rumah, dia duduk dan meraup napas sebanyak-banyaknya.
Saat itu Klenting Abang keluar dari dalam rumah. Dia berhenti sebentar ketika melihat Klenting Kuning.
"Tolong bersihkan sekali lagi ya dek," ucap Klenting Abang sembari membawa pakaian bersih. Perempuan itu hendak mandi di sungai.
Klenting Kuning menyentak napas dengan hebat. Dia mencoba melapangkan hatinya ketika melihat lantai yang kotor di mana-mana.
Dia bingung kenapa ada lantai rumah yang seharusnya belum ada di zaman ini. Akibatnya, orang-orang yang selalu mengenakan sandal itu, membawa kotoran ke dalam rumah.
Klenting Kuning berulang kali membuang napas dengan kasar. Dia mencoba berdamai dengan hati, sebab sudah biasa berulang kali dia bersihkan rumah yang luasnya lumayan.
"Kak, kalau ngga ada kerjaan coba dong ini lantainya dibersihin. Aku mau ambil jahitan di Mak Iyah," ucap Klenting Kuning pada Klenting Ijo yang baru keluar kamar.
Seharian wanita itu ada di kamar. Entah kenapa. Yang pasti sekarang Klenting Kuning harus membuatnya membantu membereskan rumah.
Dari luar masuk Klenting Abang, Klenting Biru, dan Randha datang. Kedua anak gadis Randha itu bersatu padu dengan saudarinya menghardik Klenting Kuning.
Klenting Kuning membanting gerabah hingga terpecah belah. Tidak masalah dia disuruh-suruh selama tutur katanya lembut dalam memberikan perintah.
Adalah masalah besar bila menyuruhnya dengan sumpah serapah. Dia tidak suka mendengar kata-kata yang kasar.
Klenting Kuning menatap garang saudari-saudari angkatny ayang pucat pasi. Mereka bertiga dibesarkan dengan kemewahan, pasti tak pernah melihat kekerasan yang dilakukan Klenting Kuning.
"Jadi kalau aku punya penghasilan, kalian akan melayaniku, benar?"
Sorot mata Klenting Kuning yang tajam membuat keempat perempuan di sana bergidik. Mereka tidak kuasa menjawab Klenting Kuning.
"Baik. Aku akan membuat ladang mendiang ayah angkat kembali normal! Bahkan keuntungannya akan menjadi tiga kali lipat!"
"Jangan ngayal kamu," cetus Klenting Biru.
__ADS_1
"Nggak, kak. Aku janji kalau tidak bisa seperti itu, aku akan melayani kalian selama satu tahun penuh tanpa bantahan! Tapi kalau aku berhasil, kalian lah yang harus melayaniku!"
"Siapa takut?!" sergah Klenting Ijo. Mendapat pembantu setahun yang mau melakukan apa pun, sungguh beruntung baginya.
Selama ini dia tidak menganggap Klenting Kuning sebagai pembantu. Dia hanya merasa malas untuk melakukan pekerjaan dapur, lebih baik dia berhias untuk menggaet pria-pria elit yang kadang kala datang untuk membuat perabotan rumah tangga di toko keluarganya atau membeli hasil ladang secara langsung.
Tapi dalam satu tahun terakhir, pendapatan ladang ayah mereka yang lumayan luas, semakin menurun. Mau tak mau mereka juga harus mencari cara agar tidak kelaparan.
Sedikit ilmu mereka, namun tidak sampai membuat ladang menjadi minus.
Bila Klenting Kuning mau menjadi pembantu, kebutuhan pribadi mereka pun tak akan segan mereka tugaskan pada Klenting Kuning.
Seperti menyiapkan pakaian atau menggosok punggung.
"Baik. Kalau begitu ibu menjadi saksi untuk kita!"
Randa menghela napas panjang. Dia tidak mau ada pertikaian. Dia ingin semuanya berjalan seperti biasa. Namun nampaknya taruhan ini tidak bisa dielak.
"Baiklah," ucap Randa.
Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Sementara Klenting Kuning membersihkan pecahan gerabah yang tadi dibantingnya.
Saat bulan muncul di ufuk timur, Klenting Abang berteriak-teriak mengundang seluruh penghuni rumah mendatanginya.
"Ini kenapa masih kotor, Klenting Kuning!?"
"Ck. Itu kan perbuatan kakak. Bersihkanlah sendiri. Kita urus masing-maisng. Termasuk cuci piring dan baju. Aku harus fokus membuat rencana untuk keberhasilan kebun ayah."
Rasanya dongkol sekali hati Klenting Abang. Tapi tak urung dia kabur, dia tetap membersihkan bekas sepatunya.
Dengan ilmu teknologi pertanian modern yang dapat dipraktikkan dalam keadaan tradisional, Klenting Kuning benar-benar menggandakan keuntungan ladang suami Randa bahkan sampai lima kali lipat.
Keberhasilannya ini membuat pejabat setempat terheran-heran dan tentu saja membuat ketiga saudari itu melayani Klenting Kuning sesuai perjanjian.
Untung saja mereka bertiga, jadi tidak terlalu lelah melayani Klenting Kuning. Bisa bergantian, bahkan masih sempat mereka berias, ketika akan mengunjungi pejabat yang sulit mereka temui.
Dan di sana lah identitas Klenting Kuning diketahui.
Dia adalah keponakan dari Selir Ekadanta, keluarga sihir yang sangat dihormati. Satu-satunya keluarga para penyihir di Bhumi Maja.
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]