TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
017


__ADS_3

"Salam nyonya, saya Ngatminah akan melayani Anda."


Seorang perempuan dewasa muncul di tenda Udelia, ketika dia membuka mata.


Udelia memperhatikan balutan perban baru di tubuhnya. Dia menyimpulkan, perempuan ini yang mengganti perbannya.


Pelayan barunya, Ngatminah, dengan sigap membantu Udelia, membersihkan tubuh dan berganti pakaian.


"Sayang sekali aku akan pergi hari ini," kata Udelia merasa tak enak.


Ngatimah terlihat seperti membutuhkan uang. Baru beberapa menit mereka bersama, pasti sedikit yang dihasilkan.


"Tuan bilang sesuka hati nyonya. Saya sangat berterima kasih, sebab sudah membayarkan seluruh pengobatan anak saya. Meski tak mungkin, silakan datang jika Anda butuh bantuan."


"Tidak ada yang tidak mungkin. Setiap bantuan kecil sangat berharga. Ngatminah, terima kasih."


Ngatminah berurai air mata, terharu mendengar pesan Udelia. Baru kali ini, dia berjumpa dengan bangsawan yang menghargai pekerjaannya.


Biasanya, para bangsawan tidak peduli dengan hidup atau mati dan perjuangan para pelayan, mereka semua hanya ingin sebuah hasil.


"Anda berdua benar-benar pasangan yang baik hati. Semoga terus bersama selamanya." Ngatimah mendo'akan sepasang bangsawan itu.


"Ngatminah, kami bukan pasangan." Udelia berkata ketika bersiap keluar dari tenda. Dia dan Ngatimah berjalan keluar, mencari pemilik tenda ini.


"Ah." Ngatminah menutup mulutnya tak percaya. "Padahal ..." Ingatan Ngatimah melayang ketika hari masih gelap.


Semalam, Ngatminah berdiri memegang obor, menemani orang yang memanggilnya, Balaputra.


Pria itu dengan telaten mengganti perban Udelia dan mengganti pakaian baru yang serupa.


Kemudian Balaputra duduk terdiam, memperhatikan Udelia yang terlelap sembari memainkan rambut hitam legam milik Udelia.


"Saya takut tidak dapat menahan diri," ucap Balaputra mencium rambut Udelia.


Kasih sayang yang ditunjukkan Balaputra, seolah sedang menyayangi istrinya sendiri.


Ngatimah yakin dia tidak salah melihat pancaran kasih dari mata Balaputra.


Balaputra tidak terlihat seperti seorang yang me sum.


Ngatimah masih meyakini pendapatnya bahwa kedua orang ini adalah pasangan.


"Ya?" sahut Udelia membuyarkan lamunan Ngatminah.


"Padahal Anda berdua cocok sekali." Ngatimah melengkapi kalimatnya yang menggantung.


Udelia tersenyum karena penuturan Ngatimah.


Pria itu memang tampan, Udelia yang menyukai para pria tampan pun, sedikit menyukai Balaputra karena penampilannya.


Tapi suka bukan berarti cinta. Udelia tidak lantas berpikir untuk menjadi pasangan Balaputra.


"Tidak seperti itu," kata Udelia.


Ngatminah menghentikan langkahnya saat Udelia berjalan menuju Balaputra.


Diam-diam hati Ngatimah menjadi lega, karena sang tuan baru begitu fokus pada wanitanya. Tidak sedikit pun mewaspadai Ngatimah.


Jika tuannya mengawasi gerak-geriknya dan Ngatimah keceplosan berbicara perihal semalam, lehernya pasti putus karena telah menuduh seorang yang besar seperti Balaputra.

__ADS_1


"Tuan Balaputra, terima kasih atas semuanya. Sekarang saya harus pergi," ujar Udelia.


"Fisik Anda masih lemah dan kekuatan Anda juga. Bagaimana kalau ikut dengan saya ke keraton? Di sana ada tabib yang saya kenal, mungkin bisa membawa tabib agung untuk mengobati Anda."


Udelia menilai Balaputra sebagai orang yang gegabah. Belum mengenali lawan bicaranya, namun sudah memberikan banyak hal berharga.


Mereka baru dua kali bertemu. Orang kuno sangat waspada. Udelia menganggap Balaputra sebagai seorang yang bodoh.


Dia berharap orang bodoh yang baik ini, akan berumur panjang di era banyaknya kekuatan dan siasat yang jadi landasan hidup.


"Anda tahu sendiri saya dikejar orang istana," kata Udelia tidak menutupi fakta dirinya. Bisa saja dia berbohong dan mengatakan sedang dikejar bandit.


"Selama Anda setuju." Balaputra berkata dengan yakin, seolah semua berada di bawah kendalinya.


Udelia jadi sangat meyakini bahwa Balaputra tak lebih dari pria muda yang manja.


"Tidak perlu. Saya sudah menerima banyak kebaikan, terima kasih atas semuanya."


Udelia tidak lagi membuang waktu. Dia pergi meninggalkan Balaputra dan para pelayannya.


"Padahal tuan ingin mengajaknya makan bersama." Pelayan di belakang Balaputra menatap sedih Udelia yang berjalan dengan cepat.


Tuannya sangat pemalu. Seharusnya dia berbicara mewakili tuannya.


"Kita ke istana!" perintah Balaputra.


Dari istana, Rakryan Tumenggung mendapatkan laporan Gotho.


Rakryan Tumenggung yang dijabat oleh Rawindra Sanjaya atau biasa dipanggil Indra, bergegas terjun ke tempat kejadian bersama seluruh pasukannya.


Tempat itu berada di Wanua Rona, yang termasuk dalam wilayah Watek Canggu, barat laut Trowu—ibu kota Bhumi Maja.


Lantas dia bersegera membantu Gotho melakukan pencarian tahanan yang kabur.


"Tenda itu belum kita periksa." Indra menunjuk tenda megah mencurigakan yang berdiri di tengah hutan.


"Saya sudah memeriksanya," ucap Gotho. "Dia Balaputra, putra Wiyasa Palembang. Berniat mengantarkan surat ayahnya," jelasnya.


Indra berpikir sejenak. Tidak pantas mengganggu bangsawan yang memiliki tugas, terlebih sudah diperiksa sekali oleh petugas.


Akhirnya Indra membiarkan tenda itu berlalu begitu saja, dia memutuskan untuk memeriksa daerah yang lain.


"Maka kita cari di pemukiman. Hutan telah kita kelilingi belasan kali, tetap tidak ketemu."


"Baik, tuan!" seru pasukan menghentakkan tali kuda dan mengayunkan kaki secepat angin, melintasi perbatasan


Di waktu yang bersamaan, Udelia bersandar di pohon, menopang tubuhnya. Dia tak lagi memiliki energi, tak lagi kuat menggerakkan kakinya.


Caping dan kain yang menutupi kepala Udelia terjatuh. Dia duduk di tanah, mencoba mengumpulkan tenaganya.


Indra yang sedang mengawasi sekitar, melihat wajah Udelia. Dia langsung mengenali wajah si penculik, yang sudah sangat berani mengusik tuan putri kesayangannya.


Indra menggerakkan tangannya pada ksatria yang jaraknya lebih dekat dengan si pelaku, agar diam-diam melancarkan serangan.


Udelia terbelalak. Dia terlambat menyadari ada sebuah kepalan tangan, menghantam kepalanya hingga memuncratkan . Kesadaran Udelia seketika menghilang.


"Masukkan ke kandang!" titah Indra.


Seorang penjahat besar, tidak layak mendapat tempat yang bagus.

__ADS_1


Indra memerintahkan bawahannya, untuk menempatkan Udelia di dalam kotak persegi. Sebuah kotak yang hanya muat satu tubuh, tanpa bisa bergerak.


Dalam perjalanan menuju penjara, Udelia terbangun. Pipinya berdenyut sakit, akibat kayu yang terlalu menempel ke tulang pipinya.


Tubuhnya pun tak bisa digerakkan, karena sempitnya tempat. Sedangkan tangan, kaki, dan mulutnya terikat kuat.


Udelia hanya mampu memandangi terik matahari, melalui sela-sela kayu yang berjajar tepat di depan matanya.


Udelia mendekatkan wajahnya ke kayu, kala melihat siluet yang dikenalnya. Mulutnya berkomat kamit tak mampu mengeluarkan suara.


"Widya!" Udelia berteriak dalam hati, berharap Widya sang sahabat mendengar jeritan hatinya.


Widya tersentak melihat cupu ados, sebuah kotak kecil yang biasa digunakan untuk menangkap hewan buruan.


Dia tidak terkejut dengan pengalihan fungsi benda itu—menjadi tempat penangkapan para penjahat kelas kakap.


Yang tidak dia sangka adalah dia kembali melihat wajah yang terukir jelas di ingatannya.


Udelia, sahabatnya, lewat dengan kondisi menyedihkan.


"Nyonya?" panggil kusir pada Widya.


Nyonyanya itu menaikkan satu kaki ke tangga kereta dan satu tangan memegang pintu kereta, sedang kepalanya menatap ke arah lain, dalam waktu lama.


Setiap tiga atau empat bulan sekali, Widya mengunjungi Maya. Saat Maya menghilang, dia ikut melakukan pencarian.


Dia menjejakkan kaki di keraton, bersamaan dengan sampainya pesan yang Udelia kirim. Gelombang besar prajurit berbondong-bondong keluar keraton, membuat Widya penasaran.


Salah satu dayang menjawab rasa penasarannya, lantas Widya mengirimkan Zamrud—hewan kontraknya untuk terbang ke hutan keraton.


Setelah memastikan Maya baik-baik saja, dia memutuskan untuk pulang. Kemudian dia melihat pemandangan yang mengguncangnya.


Pantas saja keponakannya begitu ceria, padahal sebulan lebih telah diculik oleh orang asing.


"Ternyata aku ada urusan lain," jawab Widya pada sang kusir.


Widya menemui Baja—adiknya dari ibu yang berbeda. Baja adalah kepala penjaga rumah tahanan.


"Mengganti para penjaga dengan orang-orang yang kupercaya?" tanya Baja keheranan dengan rencana kakaknya.


Kakaknya ingin dia membantu untuk membebaskan seorang tahanan.


"Aku mohon. Sangat amat. Adinda berkata boleh meminta bantuan." Widya menangkup kedua tangannya, memohon pada sang adik.


Adiknya pernah berkata untuk datang meminta bantuan padanya, bila Widya membutuhkan.


Sekarang Widya sedang menggunakan kesempatan tersebut.


"Tidak bisa sekarang."


Baja tidak bisa menolak permintaan pertama, dari kakak yang selalu ia kagumi. Dia memutuskan untuk ikut terseret dalam rencana Widya.


"Jangan membahayakan bhumi," pinta Baja. Tidak menolak permintaan Widya, juga tidak berharap kekacauan terjadi di negerinya.


"Tenang saja."


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2