TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 016


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


016 - SANG MAHAPATIH BHUMI MAJA YANG LEGENDARIS


Tanpa basa basi, Udelia mencengkeram rambut Djahan. Mendongakkan kepala pria itu dan mengusap darah yang keluar.


Mereka semua menahan napas.


Aura Djahan sangat menakutkan. Amarahnya pada Kharisma menciutkan nyali mereka semua.


Auranya bagai mencekik leher- leher mereka.


Dan Udel hendak mematik amarahnya untuk kali kedua?!


Djahan terkaget atas tindakan Udelia. Sama sekali tidak menunjukkan rasa sopan pada suami, pun pada manusia. Sedetik kemudian wajahnya kembali tenang.


Matanya teduh, tersirat legowo dari lubuh hatinya. Maniknya memperhatikan manik hitam legam yang terus melotot padanya.


Dia membiarkan Udelia mengusap kasar darah mimisannya. Termasuk menjambak kasar rambutnya.


Dia jadi teringat, kala kali pertama menanggalkan status jejakanya.


Udelia mencengkram kuat rambutnya.


Bukannya marah, pria yang jakunnya naik turun itu justru terbayang masa indah, yang terasa belum lama berlalu.


Yang baru mereka ulangi satu bulan yang lalu.


"Kenapa kamu diam saja? Tidak marah seperti tadi," bisik Udelia menahan marah.


Bukannya si pria yang marah, justru dia yang menyakiti merasa sangat marah.


"Aku rela kamu sakiti."


Udelia menatap tak percaya. Pria itu bisa- bisanya menggombal di tengah kesakitan!


Wajah Djahan memerah. Udelia yakin, Djahan sedang merasa sakit.


Wara duduk di hadapan Fusena, menyidang keponakannya. Hendak menyelesaikan semua kebingungan dalam hatinya.


Semua hal yang terjadi akhir- akhir ini dalam hidupnya, membuatnya amat bingung.


Terlalu banyak bencana menimpa putrinya.


Hilang di tengah hutan, gempa menimpa kantor kerjanya, badai yang baru saja terjadi di tempat wisata, serta sikap putrinya yang kadang sulit ia kenali.


Putrinya tak pernah sekasar itu. Apalagi terhadap orang yang punya kuasa dan harta. Selalu hati- hati putrinya berperilaku.


Putrinya tidak pernah ingin terlibat dalam perseteruan.


"Katakan pada paman, apa yang sebenarnya terjadi? Pria itu siapa?"


Wara merasa rendah kala pria yang lebih muda darinya, yang dahulu pernah melamar putrinya, menatapnya secara intens.


Ada rasa segan yang besar untuk memandang balik pria itu.


Perasaan ini hanya dia rasakan terhadap orang- orang besar.


Sebagai rakyat jelata, tentu ada rasa takut dan segan ketika berhadapan dengan orang besar.


Tapi pada pemuda itu, rasa takut dan segannya benar- benar berlebihan.


Fusena memandangi pamannya, paman yang umurnya jauh lebih muda darinya.

__ADS_1


Dia, Fusena, Petapa Agung yang pernah kehilangan kekuatannya ratusan tahun silam.


Saat dia menghentikan pertarungan kakak beradik seperguruan yang amat kuat, Boyo dan Suro, dia terhempas jatuh begitu menyelesaikan tugasnya.


Pertarungan sengit kakak beradik itu, mengundang badai dan petir. Menghalangi tapaan para petapa dan menghalangi sihir para penyihir.


Memaksa dirinya Sang Petapa Agung yang berkuasa atas tapaan dan sihir, untuk membuka dimensi dan mengeluarkan keduanya agar tidak lagi membuat keributan di dunia.


Menghukum keduanya hidup di dunia yang sulit untuk menyesap tapa dan sihir.


Dalam keadaan lemah, dia ikut terjatuh ke dunia itu.


Melupakan jati dirinya dan menjadi sesosok bayi kecil tanpa kekuatan.


Di umur sepuluh tahun, dia mendapatkan kembali kekuatannya. Raga kecilnya tidak dapat mengendalikan kekuatan besar dalam tubuhnya, menakuti seluruh alam yang tak kasat mata.


Para makhluk ghaib yang takut dengannya, mengusirnya pergi dari dunia.


Dia kembali ke dunianya, mendapatkan lagi seluruh ingatannya.


Dan sepupunya yang selalu memenuhi benaknya, ikut terseret masuk.


Tak ada masalah berarti, kecuali dia yang telah mengacau, dengan dalih tak mampu mengontrol diri.


"Dia, Djahan Mada, benar- benar Djahan Mada. Mungkin paman tidak percaya. Tapi dia memang Djahan Mada."


"Maksudmu?"


"Paman, sebelum aku lahir menjadi keponakanmu, aku adalah seorang Petapa di dunia yang lain. Di sana ada dia, Djahan Mada yang kalian puja dan kalian sembah. Datang ke sini, untuk mengejar Mbakyu."


Wara mencoba mencerna ucapan keponakannya. Bukan dia tak paham, dia hanya masih tidak percaya.


Djahan Mada, sosok yang mereka sembah sebagai nenek moyang paling berkuasa, muncul di hadapannya dan hendak melamar putrinya?


"Sesuai perkiraan paman. Dia Djahan Mada Sang Mahapatih Bhumi Maja. Kecerdasannya dan kekuatannya, tiada berbeda dari prasasti yang kalian temukan. Dia hanya terkena sakit akibat terlalu lama berada di ruang dimensi dan waktu."


"Maksudmu, dia benar- benar Mahapatih? Mahapatih legendaris yang meluaskan Bhumi Maja sampai ke Timur, Barat, Utara, dan Selatan?"


"Iya, paman."


"Apa dia datang ke dunia ini untuk memperbaiki pola pemerintahan kita yang sudah dikuasai manusia- manusia asing?" tanya Wara teringat akan banyaknya aparat yang semena- mena.


Dia sangat antusias, kala telah memahami dan mempercayai keberadaan orang yang mereka puja.


Senyumnya bahkan semringah.


Bibirnya gemetar. Membayangkan harapannya menjadi nyata.


Dia hanya rakyat jelata yang ingin hidup damai di negerinya.


"Bisa jadi tidak. Karena dia sudah terlampau sibuk di dunianya. Bukankah terlalu kejam menyuruhnya kembali sibuk dengan polemik dan intrik politik? Dia hanya ingin menikah."


"Dengan Udelia?"


"Siapa lagi? Paman bukannya tahu dia tidak punya istri? Itu karena istrinya tidak ada bersama dengan masanya."


"Maksudmu, dia dan kita berasal dari dunia yang sama, tapi dengan rentang waktu berbeda?"


Wara kembali bingung.


Bukankah tadi keponakannya mengatakan dunia yang berbeda? Kenapa jadi menyinggung prasasti yang ada?


"Bisa jadi, paman. Karena itu adalah rahasia alam. Dia ataupun Djahan Mada di dunia ini, sama saja."

__ADS_1


Wara mengusap wajahnya dengan kasar. "Pantas aku merasa segan," lirihnya.


"Lalu kamu sendiri, siapa?" tanya Wara memandangi keponakannya.


Belasan tahun menghilang, kembali muncul bersama putrinya yang hilang di tengah dataran yang penuh dengan mitos.


Memang Fusena pernah bercerita padanya, tapi tidak semendetail itu.


Dia dan sang istri juga anak- anaknya hanya diperintahkan untuk tidak lagi membahas hilangnya Udelia.


Mereka memahami ada trauma yang mungkin muncul, dan mereka tidak banyak bertanya.


"Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan tahu beberapa hal."


"Termasuk keluar masuk dunia itu?"


"Ya. Tapi tidak semudah itu, paman."


"Oh my, oh my."


Wara tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Dia dan teman- temannya, bahkan orang- orang tua di kalangannya, tentu akan sangat senang berjumpa dengan Mahapatih yang legendaris.


Tapi, menjadi menantunya?


Haruskah dia yang membungkuk dan memberi salam, bukan si menantu?


Djahan Mada, Sang Mahapatih Bhumi Maja Yang Legendaris, kecerdasannya dalam politik membuat setiap orang yang membaca kisahnya menjadi kagum.


Bagaimana bisa dia menyuruh orang seperti itu untuk membungkuk padanya?


"Paman akan menerimanya sebagai menantu?" tanya Fusena menelisik.


"Siapa yang akan menolak menantu sepertinya?"


"Tapi, Mbak Udel tidak menyukainya." Fusena mengulum senyumnya.


"Ah, benar. Kenapa Udelia tidak menyukainya?"


Wara menjadi lesu. Dia tidak bisa memaksa Udelia menikah dengan Mahapatih favoritnya, bila putrinya tidak berkehendak menikahinya.


Padahal pria itu sangat sempurna untuk dijadikan suami.


Jadi, kenapa putrinya tidak mau dan terkesan benci pada Mahapatih?


"Paman, sebenarnya mereka sudah menikah. Saling mencintai satu sama lain. Tapi Mbakyu Udel di sini tidak ingat apa pun."


Wara mengangguk membenarkan. Setelah kembali, putrinya memang tidak ingat apa pun.


"Tindakan Djahan yang terlalu gegabah membuatnya risih. Apalagi bayang- bayang dalam benak mengganggu konsentrasinya. Mbakyu dalam keadaan gelisah. Lantas muncul rasa terganggu bila dekat- dekat dengannya."


"Paman hanya dapat membiarkan Udelia. Dia sudah banyak menderita," putus Wara.


Dia bukan orang tua kolot yang akan memaksa putrinya untuk menikah dengan pria pilihannya.


Putrinya punya hati dan pandangan sendiri.


Dia hanya berharap yang terbaik untuk putrinya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]

__ADS_1


__ADS_2