TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 023


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


023 - MENUNJUKKAN SEBUAH TAYANGAN CCTV


Udelia menduduki kursi taman yang sepi. Langit gelap menjadi penyebabnya.


Para pasien yang berjemur berbondong- bondong memasuki bangunan rumah sakit, sementara dia pergi ke luar mencari angin.


Sepasang mata tajam mengintai Udelia. Jejak di tanah menunjukkan predator mematikan.


Seorang suster melintas. Dia terpekik melihat pemandangan di depannya.


"Ibu, awaaaas!!"


Udelia berjingkat kaget saat seorang wanita dengan pakaian serba putih menerjang tubuhnya.


Dia masih terpaku kala wanita itu bangkit dan memanggil rekan- rekannya.


Suasana taman yang sepi seketika ramai.


Memang tidak ada kegaduhan, karena wanita itu memanggil rekan- rekannya dengan suara yang tidak terlalu bising.


Kumpulan yang didominasi oleh pria itu melalang buana ke seluruh taman. Mencari- cari entah apa. Sebagian mereka membawa pisau dan senjata tajam.


"Tidak ada, Sri."


"Sumpah, aku melihatnya!"


"Kami dari bagian CCTV juga melihatnya. Kita awasi sekitar sekali lagi. Jangan sampai dia masuk ke dalam bangunan."


"Benar. Mari berpencar."


Udelia mendengar bisik- bisik itu saat dipapah masuk ke dalam instalasi gawat darurat. Diperiksa secara menyeluruh lalu diberikan vitamin.


Apa tadi?


Udelia terlalu tercengang saat semuanya terjadi. Tidak marah, hanya penasaran.


Apa sebenarnya yang terjadi di taman belakang? Sehingga dia harus masuk ke dalam instalasi gawat darurat yang lenggang.


Udelia menelan pertanyaannya ketika dia melihat semua orang sibuk di halaman belakang.


Udelia masih diam ketika semua orang sibuk bolak balik di depan instalasi gawat darurat.


"Haduh benar. Ada jejak buaya besar di taman belakang."


"Bagaimana bisa? Itu taman buatan! Air danau dari air kran dan air hujan. Bagaimana buaya bisa terhanyut ke dalam danau taman?!"


"Mungkin karena pembangunan kantor baru."


"Tapi itu di ujung jalan lain. Jauh banget."


"Mungkin aja sih kalau lewatnya gorong- gorong. Ada pembenahan instalasi air di depan rumah sakit."


"Tapi lubangnya kecil, jejak buaya ini besar banget!"


"Ada apa ya?" tanya Udelia menginterupsi percakapan mereka.


Dia sebagai korban, penasaran tentang keributan di taman belakang.


Dua suster yang menemani Udelia saling melirik. Mereka seketika diam. Tidak bersuara.

__ADS_1


Tatapan penasaran Udelia tidak bisa mereka tolak.


Pasien mereka menatap dengan teguh. Seolah segala hal mesti didapatkannya dan diketahuinya. Tipe yang tidak akan gampang menyerah sebelum mencapai tujuannya.


Bisa menjadi masalah bila mereka biarkan pasien mereka membuat kegaduhan.


Salah satu dari mereka pun mulai membuka suaranya. Menjelaskan singkat yang menjadi awal segala keramaian di taman belakang.


"Mbak, karena mbak tadi di sana. Jangan bilang- bilang ya. Anggap saja supaya mbak hati- hati. Tadi Sri, temen kami, suster yang nolongin mbak, ngeliat buaya ngendap- endap di belakang Mbak," jelas seorang suster.


"Mana gede bangeet. Kayanya sih dampak hutan deket sungai di sana dibangun perkantoran," timpal suster yang lain.


"Terima kasih informasinya," tutur Udelia.


"Iya, mbak. Mohon jangan bilang- bilang ya. Kami pastikan semua aman terkendali. Danau buatan kami tidak menggunakan air sungai, makanya bingung juga kenapa ada makhluk itu."


Udelia mengangguk paham. Rumah sakit besar yang dijejakinya memiliki reputasi bagus sejak berpuluh- puluh tahun lalu.


Masalah keamanan tidak mungkin goyah. Danau buatan yang dilihatnya pun sudah ada sejak belasan tahun lalu.


Ikan saja tidak ada di dalamnya, kecuali ikan yang dirawat oleh pihak rumah sakit.


Setiap pekan air diganti.


Tidak mungkin ada buaya.


Udelia lantas berjingkat ketika sebuah pemikiran melintasi benaknya.


Buaya mengendap- endap.


Buaya raksasa, kata suara yang berdengung di sekitar.


Buaya raksasa muncul di danau buatan rumah sakit.


"Apakah ini buayanya?" tanya Udelia menunjukkan foto dirinya dan buaya raksasa yang terkanl.


Ada garis unik di punggung buaya. Dua suster yang menemani Udelia saling memandang.


CCTV rumah sakit mereka bekerja, sangat jernih. Dapat diperbesar tanpa memunculkan retak pada gambar.


"Iya, nyonya. Tapi bagaimana bisa..?"


"Dia buaya raksasa yang terkenal di pantai," jawab Udelia cepat. Dia tidak mau dicurigai.


Dua suster yang memang sangat update, teringat dengan berita itu.


Mereka bersegera menjelajah aplikasi pencarian dan menemukan kemiripan buaya di layarnya dan buaya yang sedang diincar rekan- rekannya.


Mereka membandingkan foto- foto yang tersebar di internet dan gambar tangkapan buaya yang disebar oleh pihak CCTV pada seluruh pegawai, yang terlibat dalam pencarian.


Dua suster itu bagai sedang bertelepati. Meereka saling memandang dan mengangguk bersamaan.


"Apa dia mencari saudaranya di sini?" gumam salah satu suster.


"Mungkin saja." Lagi, suster yang lain menimpali.


Setelah menunggu lama, tak kunjung buaya itu ditemukan.


Udelia sudah diperbolehkan pergi usai dua suster yang menjaganya kembali memastikan tubuhnya baik- baik saja.


Dia tidak dimintai keterangan apa pun, karena dari CCTV sangat jelas Suster Sri sebisa mungkin menutupi pandangan Udelia dari kegaduhan di taman belakang.

__ADS_1


Seharusnya Udelia merasa takut. Dia didatangi buaya sebesar itu. Tapi hatinya baik- baik saja.


Dia bahkan membeli camilan. Memilah- milih dari satu stand ke stand lain.


Senandung merdu keluar dari mulutnya, sampai salah satu keluarga pasien terheran melihatnya.


"Apa keluargamu telah berhasil sembuh? Senang sekali kelihatannya."


"Eh? E.. iya, bu."


Udelia merutuki mulutnya yang bersenandung dan tersenyum lebar.


Di sini lebih banyak orang bersedih dan tegang hati karena kondisi pasien- pasien yang mereka jaga.


Tidak seharusnya dia tersenyum lebar.


Melempar senyum kecil dan berpamitan, Udelia buru- buru pergi dari stand makanan.


Dengan tangan kanan dan kiri penuh dengan jajanan, Udelia menaiki lift menuju lantai ketujuh.


Dia bersender di tembok dan menunggu dengan sabar. Tiap lantai, banyak orang keluar dari dalam lift yang dinaikinya.


Hanya ada dirinya seorang saat angka telah menyentuh nomor empat.


Selepas tiga lantai terlewat, suara pintu lift terbuka. Udelia menegakkan tubuhnya. Bersiap keluar dari dalam lift.


Dia memekik tanpa suara, ketika pemandangan moncong besar menyambut jalannya.


Makhluk itu berdiri, menggunakan dua kaki belakangnya, masuk ke dalam lift yang terbuka.


Udelia memejamkan matanya. Adrenalinnya terpacu. Hatinya berdentam dengan keras.


Bagaimanapun, itu adalah buaya besar.


Tunggu punya tunggu, tidak ada lagi pergerakan yang ditangkap rungunya.


Lamat- lamat netra Udelia terbuka.


Tidak ada apa pun.


Udelia meraup udara sekitar. Mungkin dia terlalu kepikiran tentang yang terjadi di taman belakang rumah sakit.


Jika betul ada buaya besar, para penangkap buaya yang diundang rumah sakit, pasti sudah mencapai lantai ini.


Udelia kembali merasa baik- baik saja. Dia melangkahkan kaki dan masuk ke ruang rawat inap Djahan.


Menata camilan di meja.


Saat melihat ke ranjang, Udelia mendapati Djahan tidur dengan tablet di pangkuannya.


Udelia mengambil tablet dari tangan Djahan dan merapikan selimutnya yang kacau.


Layar tablet terbuka tanpa sengaja sebab lelehan es, yang hendak Udelia pindahkan dari nakas Djahan.


Entah lupa atau bagaimana, segala sampah sudah dibuang oleh pihak Djahan. Tapi es miliknya yang tergeletak di nakas malah dibiarkan saja.


Layar tablet Djahan yang menyala, menunjukkan sebuah tayangan CCTV.


Udelia tercengang.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2