TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
002 - AKHIRNYA DATANG


__ADS_3

Udelia duduk dengan kaku di ruang tamu rumah Mbah Gedhe, kakek Eva dan Dina. Seorang kakek yang tak kunjung dinyatakan meninggal, meski telah menghilang belasan tahun lalu.


Hari ini Udelia hanya berdua saja dengan Dina, karena Eva mendapatkan panggilan kerja di luar kota.


Udelia teringat lagi pesan Eva yang baru sampai di ponselnya, sesaat setelah dia berada di rumah yang dijanjikan.


[De' Liiiiiii aku ada panggilan kerja urgent!! Maaf banget aku ngga bisa ikut. Maaf ya. Maaaaaf. Sebagai gantinya akan kutraktir! Pergilah bersama mba Dina, dia tau tempat-tempat bagus. Sekali lagi maaf de' Li! :')]


"De' Li bisa ke sini sebentar?" teriak Dina dari dalam gudang.


"Mba Dina lagi beres-beres?" tanya Udelia berdiri di depan gudang yang terbuka lebar. Dia yakin tidak salah tanggal waktu keberangkatan mereka, ke tempat liburan.


Tapi kakak sepupu temannya ini, justru membuka gudang dan melepas kain penutup barang-barang yang tersusun rapi.


"Aku ingin membawa guci ini, bisa bantu bawakan? Harus hati-hati karena sudah ratusan tahun."


Orang tua Dina berada di Magelang, Udelia mengetahuinya saat menstalking sosial media Dina. Guna mengembalikan ingatan yang dikatakan Dina, karena tidak nampak kebohongan dari mata dan gerak-gerik Dina.


Walau pada akhirnya dia tetap tidak ingat semua yang disinggung Dina, Udelia melihat sosial media Dina sampai ke akarnya.


Jadi saat ini, benar-benar hanya ada mereka berdua di rumah Mbah Gedhe dan tidak ada orang lain yang akan membantu mereka.


Udelia menatap guci berwarna cokelat dan putih setinggi perutnya, lengkap dengan tutup berwarna senada.


Tangan Udelia berkeringat ketika akan menyentuh benda berharga itu.


Benda itu bukan hanya sebuah barang yang ditinggalkan dan dijaga secara turun temurun.


Guci cokelat dengan corak bunga wijayakusuma berwarna putih, merupakan pemberian salah satu raja besar yang terkenal.


Sama seperti guci yang pernah diteliti Udelia dan timnya, untuk keperluan perusahaan.


Dengan pengalamannya, dalam sekali lihat Udelia dapat memastikan keasliannya.


"Ga bisa mba. Tanganku gemeter takut banget jatuh," tolak Udelia menarik tangannya, agar tidak menggores benda bersejarah itu.


"Kayanya memang berat berdua doang. Kalau guci di sana bagaimana? Aku akan membawa benda yang lain." Dina menunjuk guci kecil berwarna merah tanah, lalu dia mengangkat gerabah lainnya.


"Baik, mba."


Setelah meletakkan beberapa gerabah di bagian belakang mobil, Dina dan Udelia berangkat menuju air terjun Sekar Langit tanpa berhenti di tengah jalan.


Mereka baru menghentikan perjalanan di salah satu rumah milik Dina, yang terletak di dekat Sekar Langit.


Dina adalah pekerja sukses di sebuah perusahaan besar.


Selain membuat usahanya sendiri, uang-uang yang Dina dapatkan tidak dihabiskan untuk sekadar foya-foya atau belanja tak bermakna.


Dina akan membeli barang terbaik, untuk sebuah barang yang dibutuhkannya, agar tidak perlu beli berulang kali karena kualitas yang buruk.


Selebihnya Dina membeli rumah di tempat-tempat yang memiliki mitos terkenal.


Dina bercerita pada Udelia, bahwa bisa jadi salah satu dari tempat-tempat itu akan menjadi pintu ke dunia lain, bagi orang yang baru belajar ilmu ghaib.


Udelia tidak membantah atau membenarkan cerita aneh Dina. Dia diam mendengarkan cerita Dina sampai habis dan mereka tiba-tiba telah sampai di rumah Dina.


Usai membawa gerabah masuk ke dalam rumah, Udelia berdiri memperhatikan arus sungai yang mengalir ke air terjun Sekar Langit di bawahnya.

__ADS_1


Sedangkan Dina pergi dipanggil tetangganya.


Tetangga itu bukannya sengaja mengabaikan Udelia, yang berdiri tepat di pintu masuk rumah Dina. Hanya saja dia terlalu fokus pada kesembuhan anaknya yang sakit.


Dina dipercaya warga kampung memiliki kekuatan penyembuh, bagi mereka yang sakit karena hal-hal ghaib.


Dina selalu terlihat sendiri, saat datang dan pergi juga ketika tinggal di kampung mereka. Maka si tetangga langsung saja menyeret Dina ke rumahnya.


Udelia yang tidak dianggap, hanya bisa menyamankan diri sendiri dengan jalan-jalan di sekitar.


Rumah Dina terletak di ujung kampung, dikelilingi hutan yang rimbun, dan hanya ada tujuh rumah tetangga dengan jarak yang lumayan jauh.


Udelia tidak menemui orang lain. Dia terus berjalan sampai bertemu sungai, yang deras arusnya.


"Membawa tas besar begini ingin langsung ke air terjun?" tanya seseorang tidak ditanggapi Udelia.


Gadis itu sedang terpejam, menikmati angin malam yang berhembus dingin. Sapuan angin menerpa wajahnya dan menyelimuti tubuhnya.


Sangat dingin, namun menenangkan.


Udelia membuka mata, merasakan tepukan di bahunya. Kemudian dia berbalik mencari orang yang menepuk bahunya.


"Mba Dina?" panggil Udelia mengira Dina telah menyelesaikan urusannya.


Udelia mengernyit mencoba melihat siluet berambut panjang di hadapannya.


Orang ini sangat dekat, tapi sosoknya sedikit samar-samar.


Udelia berpikir minus dan silindernya kembali kambuh. Padahal sebelumnya dokter mengatakan seluruh anggota tubuhnya sangat normal, termasuk matanya yang tidak lagi minus ataupun sejenisnya.


"Bukan. Tapi dengarlah aku dahulu."


Udheng bercorak bunga kenanga terpasang sempurna di kepalanya, seolah memang dibuat khusus untuknya.


Sejurus kemudian, tubuh Udelia terasa berat seperti ketindihan di waktu tidur. Udelia berdiri seperti patung.


Mata Udelia diam tidak dapat bergerak, sedangkan mulut Udelia hanya dapat terbuka. Tidak dapat mengeluarkan suara.


"TOLONG!"


Usaha Udelia berteriak sekeras mungkin, tidak mengeluarkan satu suara pun.


Udelia terus menggerakkan mulutnya berharap akan keluar satu suara, yang mungkin akan didengar orang yang lewat.


"Kalau kamu berjanji tidak pergi, aku lepaskan."


Tiba-tiba pria itu diselimuti aura yang tebal.


Udelia ingat!


Itu adalah aura yang selalu dilihatnya di gudang rumah Mbah Gedhe, saat dia datang berkunjung untuk memberikan semangat pada Eva yang kehilangan kakeknya.


Udelia mencoba menggabungkan dua kejadian yang terjadi dan menyimpulkan, bahwa aura itu berasal dari pria di depannya.


Secara ringkas, pria itu bukanlah seorang manusia.


Udelia tidak percaya dengan hal ghaib, tapi entah mengapa dia merasa sangat yakin dengan kesimpulannya.

__ADS_1


"Tentu saja kamu menyadari kekuatan ini. Maka perkenalkan, aku Boyo penguasa Hulung Galuh, Kerajaan Maja."


"Maja sudah musnah ratusan tahun lalu!" balas Udelia dalam hati.


"Tentu saja itu di sini. Kalau di tempat lain tidak." Boyo menatap lobus temporal Udelia yang sedikit mengkilap. Sedikit banyak ingatan perempuan di depannya, telah dimanipulasi.


"Yah pokoknya aku adipati di sana. Karena pasukanku hampir menyeimbangi pasukan inti istana, Yang Mulia mengirim si Sura, adik seperguruanku."


"Boyo dan Sura!?" seru Udelia tercengang. Orang ini nampaknya sedang mendogeng.


"Pertarungan kami begitu sengit, pasukanku dan pasukannya hancur, kami bertarung hingga Petapa Agung datang mengeluarkan kami kemari. Tabrakan kekuatan kami membuat tapaan orang-orang terganggu."


"Sangat fantasi sekali!" cemooh Udelia. Lalu Udelia mulai merasakan tangannya dapat digerakkan.


Dia melirik tangannya yang menyentuh tanah. "Eh? Sejak kapan aku duduk?" Udelia melihat pria di depannya juga duduk dengan santai.


Ternyata mereka sedang melakukan sesi bercerita dengan api unggun di tengah-tengah mereka.


"Setelah sampai di sini kami masih harus bertarung lagi, untuk memperebutkan penguasaan pintu dimensi. Kami berdua terpilih, namun hanya satu yang dapat memegang kunci. Siapa sangka yang memakan buah itu malah kamu?"


Udelia melotot saat Boyo mendekat padanya dan menjulurkan tangan ke dadanya. "Kurang ajar!!" teriaknya dalam hati.


"Sebelum dapat memegang kunci lawang, penguasa lawang harus memakan buah gandaria ungu berbiji emas. Kamu memakannya saat demam sewaktu bayi. Buah itu jatuh di atas jamu yang sedang diolah untukmu." Boyo memegang liontin kalung Udelia.


"Itu tumbuh di sini." Boyo mengangkat liontin kalung Udelia, hingga sejajar di antara wajah mereka berdua.


"Lepaskan tanganmu!"


"Ehm. Lebih tepatnya dalam sebuah kotak persegi. Tapi di dalam liontin ini hanya ada setengah. Lihatlah."


Liontin kalung itu berbentuk bola kristal yang di tengahnya seperti mengandung asap namun saat terkena cahaya bulan, muncul pecahan kotak di dalamnya persis seperti yang dibicarakan Boyo.


"Nah, sekarang kamu pergilah cari setengahnya. Sebagai pemilik, kamu akan merasakan bagian lainnya. Kalau memegang kedua liontin di telapak kanan dan kirimu, kamu akan kembali. Setelah itu akan menjadi urusanku."


"Kamu segitunya ingin kembali?" tanya Udelia mulai bersuara.


Boyo telah membebaskan Udelia, karena Boyo melihat Udelia sedikit tertarik.


Boyo menarik sudut bibirnya dan menjawab dengan rasa percaya diri yang tinggi. "Tentu saja!"


Tentu saja Boyo akan kembali untuk meraih cintanya, untuk bersama wanita kesayangannya.


Gitarja Wijaya.


Perempuan agung yang membuatnya bertarung dan berlatih, tanpa henti. Agar pantas bersanding di samping putri kesayangan raja itu.


Boyo mendapat cerita dari Dina, bahwa Udelia pernah berpindah ke dunia Boyo. Sayang sekali, Boyo tidak dapat mengorek keadaan Gitarja, karena ingatan Udelia disegel.


Mata Udelia tertutup tak kuat silau tubuh Boyo, yang mendadak bercahaya terang. Cahaya itu menusuk setiap mata yang melihatnya.


Saat Udelia membuka mata, pandangannya dipenuhi dinding bebatuan. Kemudian, dia menyadari dirinya berada di langit-langit gua.


Udelia menggerakkan matanya ke bawah. Di sana ada sebuah api unggun, yang dikelilingi orang-orang.


"Akhirnya datang!"


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2