TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
027


__ADS_3

"Tuan Ekadanta, kenapa pengantin wanita Anda ditutupi untaian melati di wajahnya? Apa karena rakyat jelata? Atau wajahnya burik?" tanya Pandya Bonar, putra ketiga Janu Pandya.


Keluarga Pandya adalah keluarga yang telah dua kali memegang posisi Rakryan Patih.


Rakryan Patih bertugas untuk mengurus kepala Nagara.


Dalam peta kekuasaan, Bhumi terdiri atas beberapa Nagara, Nagara terdiri atas beberapa Watek, Watek terdiri atas beberapa Kuwu atau Kademangan, Kuwu terdiri atas beberapa Wanua, dan Wanua terdiri atas beberapa Kabuyutan.


Nagara dipimpin oleh Rajya atau Natha atau Wadhana atau Adipati.


Meski Nagara berada di bawah Bhumi, pemimpinnya tidak dapat langsung membuat laporan pada Maharaja. Rakryan Patih yang mengurus mereka.


Kekuasaan yang dimiliki keluarga Pandya, menjadikan Bonar percaya diri untuk mencela penyihir terkuat di Bhumi Maja.


"Wajah istriku terlalu indah, sampai-sampai bisa membuat perang," balas Candra.


Orang-orang dalam lingkar meja yang sama, tertawa sebab ucapan Candra.


Pria yang selalu serius merapal mantra itu, bisa juga bercanda.


"Tuan Ekadanta sangat pandai berbicara. Apa Anda menculik gadis kerajaan lain?" Lagi, Bonar mengusik hati Candra.


Candra memutar bola matanya. "Tuan muda Pandya, jaga ucapanmu. Saya permisi."


Candra memilih meninggalkan Bonar, daripada salah bicara dan menyebabkan petaka.


Dia tak mau tabir takdir terbuka.


Bonar tersenyum penuh kemenangan.


Dahulu di akademik, Candra adalah anak termuda. Dia masuk akademik di usia enam tahun. Sedangkan Bonar tidak naik kelas dua tahun lamanya.


Secara alami Bonar membenci Candra, yang ia rasa telah merendahkannya.


Padahal, bertemu saja hanya di dalam kelas.


Candra mengulas senyum ketika bersitatap dengan tamu-tamunya. Segala adat istiadat yang melelahkan itu berjalan lancar.


Persiapan pernikahan yang megah ini diurus oleh Tuti Ekadanta, ibu Candra, juga selir-selir ayahnya dan para saudarinya.


Mereka sangat bersemangat.


Ketiga putra mereka, semuanya keras kepala dan selalu menghindar, jika berbicara topik pernikahan.


Saat salah satu dari ketiganya, melakukan persiapan pernikahan secara diam-diam.


Mata elang mereka menangkap gerak-gerik Candra dan mengambil semua tugas calon mempelai pria, juga tugas calon mempelai wanita.


Candra bersikeras ingin melakukan pernikahan sederhana.


Tapi perempuan-perempuan di rumahnya tak kalah keras, mereka mengundang seluruh kerabat dan tetangga, juga keluarga tetangga, tanpa sepengetahuan Candra.


Candra menghela napasnya. Setidaknya, para wanita itu mau memenuhi keinginannya untuk menutupi wajah Udelia.


Mereka juga memperbolehkan menantu mereka, beristirahat setelah upacara. Mereka secara sukarela menerima tamu, yang seharusnya diterima mempelai wanita.


"Ini aneh. Rasanya sangat aneh. Anda menikah dengan tiba-tiba," lontar Djahan pada Candra yang baru saja menghempaskan pantatnya ke kursi persegi.

__ADS_1


Candra menatap kesal. Dia baru tiba di meja ini dan langsung disodorkan cemooh, lantaran sudah membujang sampai usia tua.


"Kenapa semua orang hari ini mengolok-ngolok saya terus?" kesal Candra.


Para pria di meja utama itu tertawa kencang mendengar jawaban Candra, kecuali Sang Mahapatih yang menatap penuh selidik.


"Yang Mulia Maharaja memasuki aula!" seru pengawal memberi tahu semua orang, untuk bersiap menyambut Sang Maharaja.


Suasana yang riuh dengan godaan-godaan pada Candra dan canda tawa kelompok-kelompok lain, seketika hening.


Mereka bersimpuh dan menangkup kedua tangan di atas kepala, menyambut orang paling kuasa.


"Kami memberi salam pada Yang Mulia Maharaja." Serempak para tamu menghamba. Mata mereka terpejam, tak berani melihat indahnya Maharaja.


"Bangunlah."


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Pagi ini ada beberapa hal, jadi baru bisa datang sekarang," jelas Hayan tentang keterlambatannya.


Sebagian orang keheranan, orang nomor satu itu bersikap sangat rendah hati pada bawahannya. Mereka adalah orang-orang yang jarang masuk ke keraton, sebab sulitnya akses.


Sedang sebagian lain, sudah terbiasa melihat Maharaja dekat pada segolongan orang.


Tidak semua menteri dalam keraton dekat dengan Maharaja. Mereka yang dekat dengan Maharaja mempunyai satu kesamaan, sama-sama dekat dengan Sang Tuan Putri.


Dalam diam, orang-orang tampak memasang telinga, menyimak obrolan Hayan dan Candra. Kecuali Djahan yang terus mengintai gerak gerik Candra.


Mengundurkan diri..


Djahan berharap Candra tidak melakukan hal mengecewakan.


"A-anda terlalu murah hati," balas Candra.


Candra mengaitkan tangannya gelisah. Berselisih dengan Mahapatih, tidaklah semengerikan berselisih dengan Maharaja.


Mahapatih memiliki nurani yang besar. Mahapatih hanya akan menghukum orang yang bersalah.


Berbeda dengan Maharaja, yang selalu melibatkan keluarga si pelaku.


Keberadaan 'Maharani' sempat menahan tabiat bengis Maharaja. Namun setelah kepergian Maharani, Maharaja kembali pada sifatnya.


Setiap orang bersinggungan dengannya, keluarga mereka tidak akan selamat.


Hal ini tidaklah diketahui khalayak ramai, tapi cukup menahan rencana-rencana busuk para pejabat tingkat tinggi.


"Tidak perlu terlalu kaku. Silakan nikmati pestanya dengan nyaman," ucap Hayan lalu musik kembali dilantunkan.


Orang-orang kembali ramai berbincang. Mereka sedikit memperhatikan tutur kata agar tidak menyinggung tuan mereka.


"Semua orang terkejut, Anda datang ke pesta," komentar Djahan.


Selama ini, hanya para bhre yang datang ke pesta pernikahan para bangsawan.


Bhre adalah julukan untuk saudara dan saudari Maharaja yang menjalankan kepemerintahan.


Hayan memiliki satu adik kandung dan dua sepupu. Meski ketiganya perempuan, mereka mengurus daerah masing-masing.

__ADS_1


Bhre Pajang yang merupakan gelar bagi adik kandung Hayan, yaitu Netarja, selalu menjadi perwakilan Hayan dalam menghadiri pesta yang diadakan para bangsawan.


"Saya tidak akan melupakan orang-orang yang sudah berjasa besar," kat Hayan sembari menatap Candra.


"Anda terlalu memuji," kata Candra.


"Anda membawa kemenangan di Tanjungnagara dan menstabilkannya." Hayan merujuk pada sebuah pulau yang lebih besar dari pulau tempat pusat kekuasaannya.


"Itu berkat bimbingan Yang Mulia."


Candra memberikan gelas minuman penghangat pada Hayan.


Hayan menggeleng dengan tegas. Bukan bermaksud mempermalukan. Dia tidak mau menyentuh minuman memabukkan itu.


Dengan canggung Candra menarik tangannya. Dia memberikan minuman lain dan menghela napas lega, tuannya mau menerima teh hangat yang disodorkannya.


Candra bercengkerama dengan mereka, lalu beralih menyambut tamu yang lain. Hayan mengangguk, menyetujui. Tidak mungkin dia menahan tuan rumah.


"Bulan semakin terang. Silakan nikmati pesta dengan nyaman," ucap Hayan berdiri diikuti seluruh tamu.


"Terima kasih, Yang Mulia."


Satu-satunya orang yang duduk, Djahan, melirik Hayan yang menatapnya.


"Saya akan tetap di sini," ujar Djahan.


Dia juga sama seperti Hayan, tak suka pesta yang membuang-buang waktu. Hanya saja, dia ingin melihat sampai akhir.


Hayan sedikit heran. Dia sudah membuka peluang bagi Djahan, untuk pergi dari tempat melelahkan itu, Djahan malah tidak ingin pergi.


Hayan melenggang pergi. Dia berjalan ke arah pohon beringin, tempat Candra terakhir dilihatnya.


"Di mana tuan rumah?" tanya Hayan pada pelayan yang lewat.


Pria yang jauh dari penampilan kesehariannya itu, tidak melihat tuan rumah di tempat duduk dekat pohon beringin.


Dia mengira Candra sedang menyapa orang-orang yang sedang asik bercengkrama di sana.


"Tuan–"


"Tuan, silakan lewat sini," potong pelayan lain yang berlari-lari kecil.


Hayan memindai pelayan itu dan mengikutinya tanpa ragu.


Kening Hayan mengerut melihat sebuah bangunan yang besar tanpa kehidupan.


Seluruh pintu dan jendela tertutup rapat. Dengan lihai pelayan itu membuka pintu utama.


"Apa maksudnya ini?" tanya Hayan menelisik. Seluruh bagian dalam bangunan gelap tanpa penerangan.


"Beliau hanya menyuruh saya membawa Anda," ujar pelayan itu menunggu Hayan masuk lalu melenggang pergi.


Dari kegelapan, seseorang mendekat ke arah Hayan.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2