![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Mata sepasang suami istri itu saling memandang. Ciuman manis dan tatapan teduh Candra mengobati luka hatinya. Tidak ada lagi tatapan mata keras dan tajam pada mata cokelat Candra.
Suara tangis mendadak terdengar. Candra gelagapan dan langsung memeriksa Raka yang terhimpit oleh dia dan istrinya.
Bayi itu tidak terluka dan tidak pula terhimpit. Udelia mengulas senyum. Bayinya hanya cemburu.
Dia mengelus rambut tipis Raka dan menciumi pipinya. Bayi kecil itu seketika terhenti.
"Ya ampun, nak. Ayahanda cuma mau melepas rindu loh." Candra mengerucutkan bibirnya. Baru tersadar dia memiringkan tubuhnya dan tidak menghimpit Raka.
Anak itu cemburu pada ayahandanya!
Candra meletakkan Raka di atas kasur. Bayi kecil itu tampak berani. Tidak menangis. Candra menggelengkan kepalanya. Bayinya sungguhan cemburu padanya.
Candra membantu Udelia berganti pakaian. Pakaian penuh darah itu dihempaskan oleh api yang membumbung dari tanganny. Tidak dia buang, yang akan dimanfaatkan oleh orang lain.
Udelia tidak dapat membantah. Darah di pakaian itu sulit dihilangkan.
"Kita pulang besok," kata Candra.
Udelia tidak menggubris suaminya. Dia lebih menoleh pada Raka yang sedang menghisap jempol.
"Kamu masih lemah," tegur Candra saat Udelia ingin mengambil Raka.
Udelia mengulas senyum. "Sudah waktunya makan," tuturnya.
Kali ini Candra yang tidak dapat membantah. Dia membiarkan Udelia menyusui Raka sambil membantu istrinya memegangi Raka.
Cobaan yang berat. Masih ada waktu setengah bulan untuk Candra dapat menikmati kembali rasa gurih yang selalu menghiasi malam-malamnya.
***
"Tuan, bukit Napa, bukit Jada, bukit Jana, dan di Janapada tidak ada tanda-tanda nyonya," ujar Berani pada tuannya.
Hayan menggertakkan giginya. Gelas kayu di tangannya tampak retak. Dia menatap tajam mantan kepala keluarga Ekadanta yang telah pensiun sejak zaman Ratu pertama Maja berkuasa.
Boco tersenyum tenang. Tidak terpengaruh akan tatapan sang pria tertinggi di Bhumi Maja. Hidupnya sudah sering menerima banyak tekanan. Tatapan dan gertakan Hayan hanyalah angin lalu untuknya.
Boco sudah hidup terlalu lama.
"Tuan Boco, di mana kepala keluarga Ekadanta?" tanya Hayan tanpa basa-basi. Bahkan diletakkannya begitu saja minuman hangat yang telah disodorkan langsung oleh kakek dari Candra itu.
"Mohon maaf Yang Mulia, beliau hanya pamit. Tidak memberi tahukan tujuannya."
Boco tidak berbohong. Cucu dan cucu menantunya tidak memberi tahu tujuan kepergian mereka. Dan Boco pun tidak bertanya.
__ADS_1
Dia membiarkan anak-anak yang sudah dewasa itu mencari solusi sendiri.
Jika masalahnya sudah di luar batas kekuasaan yang mampu dijalani Candra, Boco baru akan turun tangan.
***
Udelia terbangun saat cahaya fajar mulai mengintip. Di pojok kamar tampak Candra sedang bersemedi.
Setelah mendapatkan kekuatan, Udelia dapat merasakan hawa hangat dan juga dingin tiap kali Candra bersemedi ataupun mengeluarkan kekuatannya.
"Utih!" panggil Udelia.
Gelisah hati Udelia. Tak kunjung ada jawaban menyahut di kepalanya.
Udelia memandangi langit kemerahan. Mentari sudah mengintip, tapi suasana di bumi masih gelap. Terutama hutan rimbun yang dijejakinya semalam. Udelia tidak dapat melihat pemandangan apa pun. Hanya gelap yang nampak di luar gubuk.
Udelia tumpuk bantal di pinggir ranjang. Memastikan Raka tidak akan terjatuh. Semedi suaminya akan sangat lama.
Udelia telah membuat suaminya mengendarai hewan kontrak sampai satu hari satu malam. Dia tahu seberapa banyak kekautan yang terkuras.
Hewan kontraknya yang langka mampu membuatnya muntah darah karena letih berkomunikasi. Apalagi suaminya yang memiliki hewan kontrak berupa hewan mitos.
Meski kuat, tetap saja energi yang terbuang sangat banyak.
Udelia berharap dia dapat kembali sebelum suaminya selesai. Dia tidak mau membuat suaminya khawatir.
Tumbuhan gatal itu mampu mengobati banyak penyakit, maka dari itu tidak pernah ditebang, walau sudah setinggi betis dan menyusup di antara rumput ilalang. Begitu yang dikatakan Udin sewaktu mempringati Udelia dan Candra agar berhati-hati dalam berjalan.
Jantung Udelia hampir copot kala sebuah tepukan terasa di bahunya. Di dalam hutan yang gelap dan berisik oleh hewan liar, Udelia tidak dapat berpikir jernih, siapakah yang berani memasuki hutan di tengah malam.
Wajah pucat Udelia berubah lega. Tampak Utih lah yang menepuk bahunya. Di tangan wanita itu, ada Rama sedang berpegangan tangan.
"Ibunda.!"]Rama melepas pegangan Utih dan berlari memeluk Udelia. Dia merindukan ibundanya.
"Oh sayangku!" Udelia berjongkok, memeluk Rama. Berulang kali dia menciumi wajah mungil putranya.
"Ada yang ingin bertemu," sela Utih ketika pelukan sepasang ibu dan anak itu telah terurai.
Seorang pemuda dengan kain putih menyelempang di tubuhnya berjalan mendekati Udelia. Senyumnya murah. Tidak terlepas barang satu detik pun.
"Nona, saya Ekata Ekadanta, kakak seperguruan nona, ingat?"
Ekata menyelam ke dalam mata wanita yang menatapnya dengan berani. Hanya beberapa orang yang berani menatap matanya. Selebihnya selalu menundukkan kepala, sebagai bentuk kesopanan dan rasa hormat pada dirinya, sang calon penerus Petapa Agung.
"Tentu tidak," sambung Ekata terkekeh.
__ADS_1
"Ingin ingat semuanya?" tawar Ekata kala Udelia tidak merespon dirinya.
"Mohon maaf. Saya akan kembali."
Udelia berjalan tergesa menuruni bukit. Dua orang asing yang membawa masalah padanya sudah menjadi pelajaran untuknya.
Udelia mematuhi perkataan suaminya, untuk tidak berinteraksi dengan orang asing. Udelia ingin kehidupan damai dan harmonis seperti dahulu kala, sebelum Mahapatih dan Maharaja mengusik hidupnya.
"Saya akan menemani. Sudah lama tidak berjumpa Yang Mulia."
Ekata berjalan di sisi Udelia. Wanita itu terus berjalan ke depan. Tidak menggubris ucapan Ekata.
"Saya ingin menyampaikan kalau guru belum ditemukan. Nona lebih dekat pada guru," lontar Ekata.
Udelia mendadak berhenti. Dia menunduk, menggendong Rama, lalu bergegas memasuki rumah.
"Adinda! Kamu di sini juga?" teriak Ekata melihat Candra berdiri membelakanginya.
Ekata menahan langkahnya yang hendak mendekat. Dia menggelengkan kepalanya melihat pemandangan di depannya.
"Oh. Aku mengganggu."
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
... Untuk season 1 ada di profil author.
Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT
Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini
Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
Author: Al-Fa4
__ADS_1
Untuk informasi selanjutnya dapat melihat pada akun- akun media sosial author. Mohon maaf bila ada kesalahan. Terima kasih sangat untuk kalian yang masih setia sampai di sini. Author cinta kalian. Lope lope terbang.