TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
055


__ADS_3

"Tuan muda, kenapa Anda berjongkok?"


Rama menjauh saat didekati pengawal yang menjaga pintu.


Dia ditinggalkan di taman bersama para pelayan dan dayang, tapi dirinya tidak betah berdekatan dengan orang asing.


Hayan tidak mengerti hal ini. Sebab Lopi atau Maya Lopika Wijaya sudah terbiasa dengan banyaknya orang asing yang keluar masuk keraton sedari dia kecil.


Tidak ada ketakutan pada anak perempuan itu. Berbanding terbalik dengan Rama yang selama ini hanya tinggal di sekitaran rumah utama Ekadanta dan hanya melihat orang orang yang itu itu saja.


Orang asing menakutkan baginya. Terlebih Djahan yang asing membuat dirinya mengalami trauma dengan orang asing.


Rama berlari menuju rumah. Belum sampai ke teras rumah, seorang pengawal sudah mendekatinya.


Rama gemetar ketakutan. Dia berjongkok dan menutupi kepalanya, agar tidak terkena pukulan orang asing.


"Saya Taraka Sak, saya tidak mencakar."


Sak mengulas senyum pada anak kecil menggemaskan di depannya.


Rama menggigit bibirnya melihat senyuman Sak dari sudut matanya.


Senyuman lebar yang terlihat mengerikan.


"Hiks.. hiks."


Rama menangis dan menyembunyikan wajahnya di lutut.


Dia takut gigi bergerigi itu akan memakan pipinya yang tebal.


"Aih, senyuman saya menakutkan ya?"


Sak memegang pipinya. Terdapat garis memanjang di sana.


"Ini saya dapatkan saat ada yang menyerang di perbatasan," jelas Sak sembari memegang bekas lukanya.


Rama mengangkat kepalanya mendengar penjelasan Sak. Kata menyerang sudah begitu melekat dalam ingatannya.


Mata kecil itu menyaksikan sendiri bagaimana aula utama kediaman utama Ekadanta hancur luluh lantak dan ayahandanya terpental keluar dari bangunan itu akibat sebuah serangan yang besar.


Malam itu kelam dan mengerikan.


Suara keras kini menjadi musuh besarnya.


"Atit?" tanya Rama memegangi garis memanjang di pipi Sak.


"Tidak. Tuan muda pintar sekali. Pipi saya jadi tidak sakit."


Sak mengepalkan tangannya, merasa gemas melihat wajah polos Rama.


Ingin mencubit. Nanti malah lari.


"Nda atit."


Rama tersedu sedu mengingat keadaan ibundanya.


Pria di depannya tidak sakit, tapi ibunya sakit.

__ADS_1


Ada begitu banyak darah seperti ayahandanya. Rama takut ibunya menjadi tidak sadarkan diri seperti ayahandanya.


Hampir saja Sak memeluk Rama untuk menenangkannya, raga mungil itu tiba tiba terbang menjauhi tanah.


Tangan Sak bergerak cepat memegang keris di pinggangnya. Lantas tangan itu terlepas, dua telapaknya saling menangkup, melayang di atas kepalanya—memberikan salam hormat.


"Apa yang kamu lakukan?!" marah Hayan pada anak buahnya. Mendelik tajam dan bersuara setajam silet.


Kedua tangan pria itu menggendong erat Rama yang menangis. Tangannya mengusap, memberikan kenyamanan.


"Hamba memberi salam–"


"Huaaa ma.na nda?"


Rama menyeruak ke pelukan Hayan. Menenggelamkan wajahnya ke dada Hayan. Suara tangisnya terendam. Tubuhnya berguncang guncang.


"–kepada Yang Mulia."


"Ayo kita ke ibundamu."


Hayan membawa Rama menuju rumah tempat Udelia berbaring, wanita itu masih tak sadarkan diri.


Maharaja tidak memedulikan salam bawahannya yang dinilai tak sopan, amat berani mendekati Rama yang bukan levelnya.


Baginya, semua orang harus tahu batasan.


"Semoga kejayaan dan keagungan selalu dilimpahkan pada Yang Mulia."


Sak tidak memutus salam penghormatan pada tuannya. Dia terus bersimpuh sampai tuannya dan anak kecil yang menggemaskan itu menghilang di balik tembok rumah.


Hayan menurunkan Rama di sebuah kursi. Pria kecil itu berdiri dengan linglung sebab pelukan Hayan yang hangat mendadak lepas dari raganya.


"Ibunda sedang tidur. Di sini saja ya?"


Mata bulat Rama menatap Hayan. Wajah teduh Hayan menghipnotisnya. Rama mengangguk dengan patuh.


Tak berselang lama Nung datang membawakan mainan.


Rama yang biasanya tak senang berada di tempat asing, mendadak bermain dengan riang.


Suara senangnya menggelegar. Tawanya pecah tiap kali imajinasinya sampai pada hal hal yang lucu.


Hayan membaca setumpuk laporan yang dibawa Huna, sambil sesekali memantau Rama.


Bocah kecil itu sedang bermain dengan mainan yang dibawakan Nung.


Hayan merasa damai melihat tawanya. Hayan juga bersyukur Rama tidak mengalami guncangan jiwa.


Darah dan aromanya sudah hilang di tempat itu. Udelia terlelap di sisi utara, tertutupi kayu pembatas.


Hayan dan Rama berada di sisi lainnya.


Beberapa saat kemudian datang Huna masuk dengan sopan. Pria bertubuh atletis itu memberikan salam kesopanan dan mengutarakan maksud kedatangannya di waktu Sang Maharaja tak ingin diganggu.


"Yang Mulia, tuan Mahapatih izin bertemu. Beliau menunggu di bale' ndamel," ucap Huna dengan tenang.


Hayan mengelus kepala Rama yang terlelap di kursi, lelah bermain. Dia membawa putra Udelia ke amben besar yang telah dilapisi kasur, lalu pergi menemui Djahan.

__ADS_1


Hayan melewati pintu besar. Matanya melirik sekilas pada Nung dan Duo.


Kedua insan berbeda jenis kelamin itu memahami maksud tuannya. Mereka bersegera masuk ke dalam kamar usai tuannya pergi dibawa kereta kencana.


Tubuh keduanya membeku kala melihat sosok putih besar di dalam kamar Maharani. Dari sudut pandang keduanya, nampak Rama yang terlelap di balik bilik kayu, nyonya mereka pun tampak terlelap di kasur yang besar. Di sisi nyonya mereka ada makhluk berbulu.


"Kita tunggu di sini. Itu harimau panggilan Yang Mulia Maharani."


Nung menghalangi Duo yang bersikeras ingin masuk. Nung penasaran kenapa hewan mitos yang sangat sulit ditemui mendadak muncul di sisi selir baru.


Apa benar wanita berwajah biasa itu adalah Maharani Bhumi Maja?


Nung bertanya tanya di dalam hati kecilnya.


Duo memundurkan langkahnya. Dia urung untuk masuk. Dia bersama teman satu timnya berdiri dengan mengawasi gerak gerik sang harimau putih.


Utih dengan wujud harimau muncul di kamar itu. Harimau betina yang memiliki satu orang putra itu meletakkan bantalan kakinya ke kening Udelia.


"Bangunlah," ucap Utih


Sepasang mata berwarna biru menatap lurus Udelia yang masih terpejam.


"..aku tau kamu sudah bangun."


Kening Udelia berkerut. Suara bisikan Utih tidak terdengar melalui kedua daun telinganya. Suara Utih justru menelusup masuk di kepala Udelia.


Mata Udelia terbuka. Dia tidak berani menatap sisi ranjangnya. Tubuhnya kaku karena dia merasakan kaki berbulu nangkring di keningnya.


Takut seandainya sedikit saja bergerak, mungkin wajahnya akan hilang karena tangan berbulu itu.


"Aku sudah gila mendengar ucapan di kepala," gumam Udelia menatap langit-langit.


Udelia mencuri pandang dari ujung matanya. Pemilik kaki berbantal itu ternyata harimau yang bertahun tahun lalu pernah membantunya menyingkirkan Ijen yang menyebalkan.


Tiba tiba Udelia memegangi kepalanya. Dia mengerang kesakitan.


"Ugh.." keluh Udelia merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya.


Lesatan bermacam macam bayangan memenuhi kepalanya.


Bayangannya tidak jelas, namun satu hal yang pasti. Ada harimau putih ini menemani hari hari yang banyak.


"Kamu orang cerdas. Tiga tahun hidup di sini tidak mungkin tidak tahu apa pun serapat segalanya ditutupi."


Utih diam saja melihat majikannya kesakitan. Itu harga yang harus dibayar bila ingin mengingat hal hal yang telah terkunci rapat dengan sebuah rapalan yang rumit.


Utih sendiri tidak melakukan apa pun. Dia hanya hendak menyembuhkan kening Udelia yang terbentur.


Sangat rumit bila harus mengembalikan ingatan majikannya. Salah sedikit langkahnya, sang majikan bukan hanya akan hilang ingatan, namun nyawanya akan turut hilang.


"Jadi, kamu hewan kontrakku?" tanya Udelia sembari memegang kepalanya.


Perihal hewan kontrak, Udelia sedikit banyak tahu dari guru ajarnya dan buku buku yang diperbolehkan Candra untuk membacanya.


"Iya. Aku Utih."


••••••••••••••••••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2