![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Setelah hari itu Candra tidak lagi meminta haknya. Udelia sangat kepikiran. Dia merasa Candra tidak lagi menginginkannya.
Sesak dadanya mengetahui sang suami tidur memunggunginya, meski hangat sikap suaminya sama sekali tidak berubah. Dia tetap merasa terluka.
Isakan kecil tangis Udelia terdengar ke gendang telinga Candra yang terlelap. Kelopak mata pria itu terbuka menampakkan mata merahnya, tanda dia benar-benar terlelap.
Tanpa amarah, Candra berbalik. Dia mengusap pipi istrinya yang basah.
"Ada apa sayang?"
Udelia tidak menjawab pertanyaan Candra. Perempuan itu masih terus terisak dan Candra dengan sabar memeluk dan mengusap bahunya.
"Ada apa, cintaku? Siapa yang membuat kamu sedih?" tutur Candra lembut saat Udelia sudah tak lagi menangis.
"Kamu!"
Candra menelan salivanya dengan susah payah. Dia merasa tidak ada hal buruk yang dilakukannya. Tapi kenapa istrinya berkata seperti itu?
"Coba jelaskan biar aku tidak salah tangkap. Benar ada sikapku yang membuat istri cantikku ini sedih?"
Udelia bungkam. Sikap Candra sama sekali tidak ada yang berbeda. Hari-hari biasa tidak ada yang berubah. Hanya...
Ah! Apa Udelia mesti mengatakan hal itu?
Malu jika harus jujur.
Tapi apa sepekan ini sang suami mendapat kepuasan di luar, hingga tidak meminta diri dirinya? Padahal suaminya begitu gagah. Selalu mereka begadang bila sudah memulai.
Dari cerita para pembantu yang sudah menikah, Udelia baru mengetahui bahwa biasanya sepasang suami istri hanya mampu melakukan hal itu beberapa kali, lalu terlelap karena kelelahan.
Tapi suaminya berbeda. Orang-orang mungkin akan menyebutnya sebagai laki-laki yang sangat perkasa.
Pria seperti itu, apa bisa sehari saja tidak melakukan penyatuan?
"Sayang, jangan menangis. Ayo katakan apa salahku. Aku benar-benar bingung.." bujuk Candra.
Dia benar-benar takut ada kesalahan yang tak sengaja dia buat. Dia takut, takut istrinya pergi karena kesalahannya.
Dia mungkin gila bila istrinya pergi dari sisinya.
"Ka-kamu ..." ucap Udelia ragu-ragu. Malu rasanya mengungkap pikirannya, tapi suaminya sudah terlanjur penasaran. Ini salahnya sendiri menerka-nerka sendiri lalu galau sendiri.
"Ya?"
"Kamu sudah tidak begadang lagi." Akhirnya hanya kata itu yang meluncur keluar dari mulut Udelia.
__ADS_1
Candra mengerutkan keningnya masih mencerna ucapan Udelia. Tak berapa lama, dia mengulum senyum menangkap maksud istrinya.
Wajah semerah cangkang kepiting itu dia angkat sehingga sejajar dengan wajahnya.
"Kamu kan sedang hamil muda. Aku takut kalau melakukan hal ganas seperti itu."
Dan satu alasan lain ialah karena sang istri hanya diam saja. Dia takut jika tiba-tiba mendatangi istrinya, perempuan itu akan histeris karena belum siap hamil.
"A-aku hamil, mas?"
"Iya, sayang." Senyum Candra merekah karena berita kehamilan istrinya juga karena panggilan sayang sang istri.
"Kapan aku diperiksa? Kok aku ngga tahu?"
"Ih sayang. Waktu itu loh."
"Aku ngga dengar, mas."
"Pantes aja kamu diam aja. Aku takut kamu belum siap, makanya tidak mau ngungkit-ngungkit. Ternyata karena istriku belum dengar toh."
Senyum di bibir Udelia membuat Candra semakin melebarkan senyumannya. Ternyata sang istri sama bahagianya seperti dirinya.
Udelia memeluk erat Candra dan menangis bahagia. Candra berulang kali mengecup pucak kepala sang istri.
"Aku rindu suamiku.." bisik Udelia dengan nada memberat.
***
Saat ini Candra sedang memimpin rapat dengan para petinggi Watek tempatnya berkuasa. Ditemani sang istri yang selalu menempel. Dia sangat suka dengan kemanjaan istrinya.
Berbanding terbalik dengan bawahan-bawahannya. Riak tak suka nampak jelas di wajah mereka. Namun Candra tak melihat karena sibuk memeriksa serangkaian kertas yang diberikan dan sibuk menyuapi istri tercintanya dengan camilan di atas meja.
Bawahan-bawahan Candra menatap tak suka sosok rakyat jelata yang sok paham dengan masalah rumit kaum kelas atas. Apalagi tuan mereka mengiyakan tanpa memikirkan akibatnya.
Memang istri tuannya itu sebagus apa sih otaknya?
Begitu pikir mereka semua.
Jika mengingat istri dari tuan mereka itu sudah mengusir abdi yang paling setia di sisi tuan mereka yaitu Ijen, mereka jadi berpikiran buruk bahwa tuan mereka sedang diguna-guna.
Wajah Udelia biasa saja, latar belakangnya biasa juga, apalagi bidang pendidikan dan pekerjaan yang dilakoni semasa muda dahulu hingga belum menikah di usia yang sangat lambat ini, tidak jelas. Semakin mereka merasa curiga.
Mereka berpendapat, wanita ini dikirim oleh musuh mereka.
"Oke, sayang. Kalau kamu bilang mau tokonya dibangun di jalan ini. Nanti kita hentikan dulu pembangunan tokonya," ujar Candra mencuri perhatian semua orang.
__ADS_1
Toko di ibu kota dihentikan pembangunannya?
"Jangan lupa kasih tahu pejabat. Ntar disangka ada apa-apa lagi," balas Udelia menambah geram khalayak. Bisa-bisanya perempuan ini mengatur-ngatur mereka!
Mereka sudah tidak bisa menolerir kelakuan Udelia. Mereka mengadu pada Aji, lalu ayah dari Candra itu bergegas memanggil putranya.
Meski itu mutlak milik Candra, ada sebagian modal dari keluarga Ekadanta karena kepercayaan mereka terhadap kinerja Candra.
"Kalau ayahanda ingin bertanya perihal toko di ibu kota. Lebih baik tunggu sampai malam purnama," ucap Candra tanpa basa-basi.
"Istriku sedang hamil muda, yah. Aku ngga mau dia banyak pikiran," jelas Candra saat ayahnya mencari-cari istrinya yang tak datang.
"Tapi apa semua keinginannya harus dipenuhi begitu? Harus memikirkan risikonya juga. Kamu itu memiliki banyak tanggungan!"
"Sabar, ayahanda. Jangan termakan omongan orang. Jika setelah malam purnama ayahanda belum menemukan jawabannya. Aku siap melarang istriku untuk memberi pendapat."
Aji tidak bisa menyalahkan Candra. Putra bungsunya itu memang belum berpengalaman. Jika kelak muncul akibat dari mengikuti keinginan istri secara buta tanpa pertimbangan, dia berharap Candra menjadikannya pelajaran, bukannya memaklumi.
Sabar Aji menunggu malam purnama yang masih berpekan-pekan lamanya.
Sehari setelah purnama terlewat, segerombolan orang mendekat ke tanah bekas toko yang hendak dibangun Candra.
Pancaran energi terasa sangat kuat. Para punggawa sudah mewanti-wanti warga untuk tidak mendekat. Akan tetapi mereka sangat keras kepala.
"Menurut laporan, pancaran energi itu tidak berbahaya. Namun dasarnya belum ditemukan. Sejauh ini aman-aman saja hadir di sekitar, tapi bangunan milik kita, sama sekali tidak bisa diselamatkan," ujar keponakan Aji.
Candra tersenyum tipis. Istrinya memang lupa ingatan, tapi itu bukan berarti hilang kecerdasannya. Kepekaan sang istri masih besar.
Sebelumnya dia sudah membawa tanah dari tokonya, menyuruh sang istri untuk memegangnya. Jika sang istri tidak masalah, Candra pun tak masalah membangun toko di sana.
Sayangnya raut wajah sang istri mengerut. Meski tidak mampu menjelaskan keresahan hatinya, raut wajah istrinya sudah membuat Candra yakin.
Aji melirik sang putra yang terus menunjukkan senyuman, setelah detuman semalam melahap habis bangunan mereka.
"Kamu menang. Menantuku itu memang hebat," ucap Aji.
Entah bagaimana bila mereka masih ada di sana. Bisa saja mereka dituduh sedang melakukan praktik sihir ilegal. Jerat hukumnya tak main-main.
Apalagi sihir masih sulit dikembangkan, bisa-bisa mereka justru dituduh sedang merencanakan hal buruk.
Beruntung satu-satunya menantu perempuan yang Aji miliki, mengusulkan untuk melapor pada pejabat dengan alasan hendak melelang tanah di rumah lelang milik pemerintah.
Yang mana artinya pemerintah pasti sudah memastikan rumah itu bersih, sebelum memasang iklan di rumah lelang.
Menantunya itu sungguh cerdas.
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]