![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
006 - PRIA ASING
"Wah padahal aku bahagia loh mendengar mbak mau menikah. Ternyata ... hanya orang iseng?"
Suara John, adik pertama Udelia, terdengar nyaring dari dalam benda pipih yang berdiri di depan tumpukan buku.
Pria muda itu sedang berada di kampung halaman mereka, sibuk dengan sekolahnya.
Sedangkan kedua orang tua dan saudara saudarinya berada di kontrakan sang saudari yang terletak di kota.
Hanya bisa mendengar kabar melalui ponsel yang pintar.
"Jangan meledek mbakyu, mas Jon," tegur Lamont.
"Dia salah orang. Sepertinya temen yang tak bawa," kilah Udelia tidak mau kehilangan mukanya.
Lamont begitu semangat dalam bercerita. Menceritakan kisah yang memalukan.
"Mungkin aja dia beneran suka mbak," kelakar John sambil tertawa.
"Mana bisa terima orang yang tiba-tiba datang. Dah ah. Mbak berangkat!"
Meski berkata seperti itu, tak bisa Udelia pungkiri, dia pun berharap ada sosok pria yang melamarnya.
Apalagi, pria itu terlihat mempesona, kuat, dan berkuasa.
Udelia termasuk orang yang aktif, kenal bila sebagian tamunya adalah orang penting di kantor kepemerintahan, meski mereka tak mengenal dirinya.
Udelia sudah lepas dari umur menikah, usianya sudah dua puluh enam tahun, mendapatkan lamaran dari seorang pria bak seorang pangeran, siapa yang tak berkhayal bila itu suatu kenyataan?
Namun Udelia memiliki logika yang dalam. Dia adalah seorang programer, dia memahami logika lebih dalam daripada wanita- wanita di sekelilingnya.
Berharap pada khayalan palsu, bukanlah hal yang patut dilakukan manusia berakal.
Sudah dua belas jam berlalu, tidak ada kabar dari pihak pria itu. Udelia sangat meyakini pemikirannya.
Pria yang mendatanginya, salah mengenali orang.
"Apakah Tuan tidak salah memilih Nyonya? Calon Nyonya ini begitu kejam. Melihat Tuan mengeluarkan darah di hadapannya, dia malah tidak menemani Tuan pergi ke rumah sakit. Lebih baik pikirkan Nyonya yang berhati lembut. Takutnya gadis itu hanya ingin memanfaatkan kesuksesan Tuan."
"Kamu siapa berani mewakili Tuan memikirkan kehendaknya?" Lili menghunus dengan tatapan tajamnya pada seorang pria tua, yang seumuran dengannya.
"Yakin kamu mau membelanya, Lili?! Kamu bahkan belum lama ini bertemu dengannya!"
Lili tersenyum miring. Seolah membenarkan. Kekesalan Agus makin meningkat. Tidak menyangka rekannya yang sulit percaya pada orang, diam saja melihat Tuan mereka memilih pasangan hidup dengan serampangan.
"Apa kamu mengenal karakternya? Sekali lihat, dia memiliki sikap yang buruk."
"Sekali lagi kubilang, DIAM!!"
"Cih. Apa bagusnya perempuan itu!" gumam Agus dengan kesal.
Udelia mengusap telinganya yang berdegung. Dalam hatinya mengutuk orang yang sedang mengutuknya.
Dia hendak pergi, namun sang adik menahan lengannya.
"Mbak, aku mau pulang!" Lamont mencium tangan Udelia.
"Hati-hati, Momo. Jaga rumah dengan baik. Belajar yang giat," pesan Udelia.
__ADS_1
"Siap!" Lamont memberikan jempolnya.
Udelia mengangguk singkat. Dia melangkah keluar.
"Mas, aku matikan ya?" pamit Lamont pada kakak laki- lakinya.
"Iya, hati-hati!"
Kemudian layar benda pipih itu menghitam.
Udelia membonceng di belakang Fusena, layaknya tidak ada yang terjadi di antara mereka.
Fusena tidak membahasnya. Memperlakukan dia seperti biasa. Maka Udelia tidak bisa menjadi pihak pertama yang canggung.
Dia berperilaku seperti biasa
Berpisah di depan gedung, dia kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.
"Terus saja melotot sampai matamu keluar!" tegur Doni pada Udelia yang tiada henti- hentinya mendesain sebuah aplikasi permainan, yang menyenangkan dan dapat menambah wawasan.
Doni meletakkan minuman dingin di meja Udelia. Udelia melemparkan senyuman manis, yang pria itu rindukan setiap malamnya.
"Thanks!"
"Jangan pacaran mulu. Ayo makan siang. Pak bos mentraktir bakso," sela salah satu staff ketika melihat keduanya begitu intens.
Padahal hanya adegan biasa. Doni duduk di meja, menyodorkan minuman dingin. Udelia tidak menolaknya, dia dapat menyimpan uang jajan hari itu.
Udelia selalu membatasi jajan sehari- harinya. Suatu keberuntungan hari ini ada orang- orang yang mentraktirnya.
"Ayo!"
Udelia mematikan layar komputer di hadapannya, lalu pergi bersama Doni dan satu rekannya yang lain.
Rasa penasaran tiba- tiba menyeruak dalam hati Udelia. Pun begitu dengan perasaan lain, yang tercampur baur.
Mengambil napas dan menenangkan hati, Udelia melangkah mendekati pria yang salah memberikan lamaran padanya.
"Hei! Kenapa kamu di sini?" tanya Udelia.
Sangat mengenali punggung pria yang baru satu kali dia lihat, dalam hidupnya.
"Eh? Siapa ya namanya?" batin Udelia.
"(Aku Djahan Mada. Maaf kemarin terburu-buru datang,)" ucap Djahan dengan wajah bersalah. Tangannya mengulurkan rantang susun, yang aromanya tercium bahkan sebelum dibuka.
"Ah ... tidak perlu repot. Kamu sudah membaik?"
Walaupun tidak memahami bahasa yang digunakan pria asing di depannya, Udelia dapat membaca perasaan pria itu dari ekspresi wajahnya yang sangat kentara.
Djahan mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Udelia. Dia tidak menyangka, bahasa akan menghalangi mereka.
Jika dapat berbicara dalam bahasa yang digunakan wanita incarannya, Djahan tidak akan kesulitan menjelaskan bila semalam dia bukannya salah mengenali wanita.
Bawahan- bawahannya tidak dapat diandalkan.
Bukannya meneruskan tali hubungan mereka, para bawahan yang tidak dapat diandalkan itu justru memberi uang kompensasi karena telah merepotkan Nama, sepupu Udelia.
"Kenapa datang ke sini? Ooohh!" Udelia menjetikkan jarinya. Girang dengan diri sendiri yang mampu memikirkan sebuah jawaban atas pertanyaan diri sendiri.
Bagi Djahan, ekspresi Udelia sangat menggemaskan. Dia terpesona dan mematung di tempatnya. Tak menyadari Udelia yang pamit padanya.
__ADS_1
"Sebentar!" pamit Udelia.
Belum juga Udelia beranjak, Doni muncul dengan wajah gelisah. Pria itu baru menyadari hilangnya Udelia saat sudah sampai di lantai bawah, aula tempat berkumpul.
Doni terburu- buru kembali ke lantai tempatnya bekerja untuk mencari pujaan hatinya.
Khawatir ada hal yang serius.
"Lia, ada apa?" tanya Doni.
"Ini ... ada orang mencari Emi," jawab Udelia.
"Aku panggilkan." Doni langsung memahami Udelia tanpa perlu bertanya yang kedua kalinya.
Tangan Udelia mengambang di udara. Suaranya yang hendak memanggil Doni, tercekat.
"Padahal aku yang ingin memanggil Emi," gumam Udelia menatap bayangan Doni yang menghilang di balik tembok.
Udelia inginnya dia saja yang memanggil Emi. Terlalu canggung untuk berduaan dengan pria asing. Lebih- lebih dia tidak mengerti bahasa yang digunakan si pria asing!
Bahasanya terlalu asing!
"Maaf sekali aku tidak mengerti bahasamu.. ehm gimana ya?" kata Udelia dengan canggung.
Dia bahkan merasakan bibirnya berkedut karena tersenyum dengan konyol.
"Udelia.."
Udelia menaikkan alisnya saat pria di depannya terus menatap tanpa henti. Udelia menolehkan kepalanya.
Kini dia paham maksud gumaman yang tak jelas itu.
Si pria asing masih saja salah mengenali wanita yang diincarnya.
Alasannya sepele, hanya Udelia yang mengisi buku tamu khusus.
"Emi," koreksi Udelia agar pria itu tidak membuatnya baper.
Udelia cukup tahu diri.
"E.mi?" Kali ini Djahan yang menaikkan alisnya. Bingung kenapa pujaan hati menyebutkan nama Emi.
"Iya. Namanya Emi," tegas Udelia.
"Lia, ini kubawa Emi!"
Doni muncul dari belakang punggung Udelia bersama dengan seorang wanita, yang mengenakan sanggul di rambutnya. Sebuah kacamata baca bertengger di hidungnya.
Tampak wibawa mengelilinginya ketika dia berjalan, aura ketegasan pun terasa menguar, menambah kesan elegan dan cantik.
"Jadi, Emi. Laki- laki ini menyukaimu saat tak sengaja melihatmu di museum budaya. Dia datang untuk menemuimu."
Udelia mendorong Emi yang sedang melamun ke depan Djahan.
"Silakan berbincang dengan nyaman. Aku akan bungkuskan bakso untuk kalian!"
Udelia mengedipkan mata pada Emi lalu menyusul karyawan lain yang telah berkumpul.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]