![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kakak siap?"
"Bersumpahlah."
"Dalam ritual ini, aku bersumpah tidak melakukan apa pun, selain membantu Udelia mengembalikan ingatannya."
"Tidak. Bersumpahlah menjaga putra-putraku."
"Aku bersumpah, selama hidupku, mereka akan selalu berada di naungan yang baik."
"Baiklah. Jadi aku harus bertapa lima belas hari di sini?"
"Iya. Aku salurkan energi dulu pada kakak. Silakan."
Balaputra duduk di tengah ruangan lalu menunjuk tempat di depannya yang terpisahkan oleh sebuah nampan.
Balaputra melaksanakan janjinya pada Udelia. Mereka duduk di ruangan khusus yang sudah disulap sedemikian rupa.
Balaputra tersenyum. Dia senang dan juga marah atas keputusan Udelia. Senang mempercayainya tapi juga tak senang Udelia terlalu percaya pada orang asing.
Balaputra menggeleng. Udelia duduk dengan polos di seberangnya. Nampaknya dia melakukan kejahatan pun, Udelia tidak akan berkutik.
"Kakak sangat mudah mempercayai orang," ucap Balaputra menatap punggung Udelia. Udelia duduk membelakanginya. Balaputra akan mentransfer energi melalui punggung Udelia.
"Padahal tidak semua orang baik dan jujur seperti kakak," tambah Balaputra. Suaranya tertahan. Dia marah atas kepolosan Udelia. Dia ingin sekali meringkusnya.
"Aku tidak punya apa pun. Harta, rupa, maupun kedudukan. Dua putraku sama sekali tak bisa dibandingkan dengan ribuan prajurit dan budakmu, kamu pun telah bersumpah," terang Udelia tentang kepolosannya.
Balaputra mengepalkan tangannya di depan muka. Terlalu gemas dengan tingkah Udelia. Perempuan itu selalu saja rendah diri.
Tidak tahukah ada berapa banyak yang membicarakannya di belakang?
Balaputra menggeleng. Wanita pujaannya itu memang tidak terlalu peduli dengan gosip yang beredar. Jika ada yang mencibirnya pun ditanggapi dengan santai. Sama sekali tidak marah. Kecuali saat dikata-katai.
"Kakak, hargailah dirimu. Ada yang iri ingin jadi sepertimu dan ada pula yang kagum dengan sikap, juga keberhasilanmu. Kakak sangat bersinar ketika mengambil piala dan ketika memberikan piala pada kepala sekolah. Kakak tidak berbicara kecuali penting. Semua yang kakak lakukan sangat indah."
"Haha. Begitukah?" Udelia bersemu. Ternyata Balaputra adalah penggemarnya. Apa pun perilakunya, selalu saja pria itu menyanjungnya.
Dia besar kepala.
"Silakan ingat, kak." Balaputra mulai memberikan sebagian energinya.
Udelia memejamkan matanya kala merasakan sepasang tangan menempel di punggung. Balaputra mengucapkan beberapa kalimat, lalu muncul cahaya dalam gelapnya mata.
Ingatan muncul bak air mengalir deras, membawa kenyamanan dalam jiwa Udelia. Dia seperti menonton sebuah kilas balik. Tidak ada ingatan bertumpuk dan menyakitkan seperti hari-hari yang lalu.
__ADS_1
Ketika sampai di penghujung ingatan, Udelia membuka mata. Ruangan tampak tetap sama, hanya berbeda cahaya yang menerangi.
"Sudah selesai?" tanya Balaputra sedang menyalakan lilin yang melingkar di sekitar Udelia.
"Ya. Apa lima belas hari telah berlalu? Bagaimana putra-putraku?" tanya Udelia.
Uhuk.. uhuk..
Balaputra batuk berdarah dan sesak mendera. Pria itu menjatuhkan tubuhnya. Meletakkan kepala di pangkuan Udelia.
"Balaputra??" panggil Udelia khawatir.
"Kak, aku belum membalaskan kematian ibu dan adikku yang diperlakukan keji para prajurit Maja," tutur Balaputra lemas.
Mengembalikan ingatan. Satu dua hari tidak masalah. Di hari ketiga dan selanjutnya energi Balaputra seperti tersedot habis. Dia memakan berbagai pil energi agar Udelia tidak berhenti di tengah jalan.
Lingkaran ghaib yang dibuatnya tidak dapat berjalan bila dia tidak memberikan energi. Balaputra membersamai Udelia selama lima belas hari lamanya. Menunda waktu penyerangan ke Bhumi Maja.
"Balap–"
"Aku ingin istirahat sebentar," ucap Balaputra sebelum memejamkan mata.
Tangan Udelia gemetar. Tubuh Balaputra tampak terkulai di pangkuannya. Dia menempelkan jari ke tiap titik nadi Balaputra.
Tidak ada denyut di sana.
Dari pintu masuk segerombolan orang mengendap-endap masuk. Begitu menyadari ada dua orang penghuni, mereka langsung menyergap Udelia dan Balaputra.
"Tangkap mereka!" teriak prajurit berdiri di depan Udelia dan Balaputra yang terpejam di pangkuannya.
"Jangan sembarangan menyentuhku!" sentak Udelia menepis tangan prajurit yang berusaha meraihnya.
Mereka tak kehabisan akal, menarik kasar rambut Udelia hingga terpaksa berdiri. Udelia meringis sakit. Kepalanya terasa pusing. Dia menatap nanar Balaputra yang jatuh dari pangkuannya.
Suara debam pertemuan antara raga Balaputra dan lantai bangunan terdengar keras karena kasarnya tubuh Balaputra kala tiba-tiba terjatuh.
Seorang prajurit mengikat lengan tangan Udelia. Perempuan itu berdecak sebal. Dia baru selesai dari ritualnya. Belum dapat mengumpulkan energi yang banyak. Tubuhnya saja masih letih bak baru saja berlari marathon.
"Dia mati," kata seorang prajurit yang sedang menjambak rambut Balaputra dan memeriksa jalur napasnya.
Udelia memelototi mereka. Kelompok prajurit itu senang sekali menjambak rambut!
"Bawa saja," ucap enteng seorang prajurit.
"Aku bisa berjalan sendiri. Lepaskan!" Udelia berusaha menyentakkan tangan prajurit di tubuhnya.
__ADS_1
Dia bukan wanita murahan yang bisa dipegang begitu saja!
Udelia mengalihkan pandangannya ke tubuh Balaputra yang diseret-seret secara tidak manusiawi.
Sekali pun si mayit bersalah, seharusnya mereka tidak memperlakukan Balaputra seperti hewan buruan!
Diikat dan diseret.
"Bertahanlah," lirih Udelia.
"Bodoh! Dia sudah mati!" Seorang prajurit yang membawa Udelia menonyor kepala wanita itu. Dia yakin wanita itu adalah seorang yang bodoh.
"Mayit kok diajak bicara!" cibir prajurit lain.
"Sialan. Aku bisa jalan sendiri!" Udelia menggerakkan kepalanya ketika akan ditoyor lagi.
Kemudian Udelia menghentakkan bahunya yang dicengkeram kuat. Udelia dipaksa bersimpuh.
Matanya membola kala suara debam bergetar terdengar di sampingnya. Balaputra dilempar ke sisi Udelia. Wajah damai itu tidak menunjukkan raut kesakitan.
"Tuan Gotho, kami menemukan dua orang di dalam. Satunya telah mati."
"Bawa ke – lepaskan dia!"
Gotho meloncat turun dari kudanya. Tergopoh-gopoh dia mendekati dua tahanan dan secepat kilat membuka ikatan tali tangan Udelia.
Gotho yang pernah hendak menangkap Udelia dan hafal dengan ciri-cirinya telah mendapatkan titah untuk memperlakukan wanita itu sebaik mungkin. Bahkan Maharaja mengatakan harus sebaik berhadapan dengan wanita-wanitanya.
Kejadian yang amat kontras seperti yang dihadapi Gotho sudah biasa dilakukan kalangan atas.
Kadang sekali mencari bagai seorang tahanan kelas kakap, lalu di hari lain minta dicarikan bagai gelas yang hilang di tengah hutan. Harus bisa menemukannya tanpa noda dan rusak.
Ada pula yang sebaliknya. Awal melakukan pencarian, bagai seorang suami yang hendak mencari istrinya yang kabur, harus diperlakukan lembut tanpa dikasari. Lalu di hari kemudian minta ditangkapkan orang yang sama, hidup ataupun mati.
"Tuan..?"
Gotho menatap datar protesan si prajurit. Seketika bawahannya itu menciut dan menunduk.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH TELAH MEMBACA SAMPAI BAB INI! Love, ya!
__ADS_1