![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Orang yang lewat pun akan yakin. Lihatlah wajah putra Udelia dengan wajahmu, Maharaja."
Hayan terdiam, mencerna ucapan Utih. Tidak sering berkaca menjadikannya agak lupa dengan wajahnya. Pastinya tiap hari wajahnya dibersihkan dan dipijat. Selalu tampan dan mempesona.
Ingatannya tiba-tiba melayang ke tahun-tahun sebelumnya, sebelum Rama lahir ke dunia. Dia mengira-ngira apa yang terjadi di tahun itu.
Hayan menyalang mengingat yang telah terjadi. Malam hari saat dia menghilangkan perawan wanita yang dia kira penghuni kebun belakang Candra.
Ternyata, wanita itu bukan wanita simpanan, melainkan pengantin wanita Candra, yang juga adalah Maharaninya.
Hayan mengumpat dalam hati. Rasa familiar, luka di tubuh, segala adat istiadat pernikahan yang mencurigakan, seharusnya sudah cukup menjadi alasan untuknya menyelidiki pernikahan Candra yang terkesan buru-buru dan tertutup.
Hayan merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.
"Dia ... putraku?" ulang Hayan memastikan.
"Ya. Udelia berkata Anda tidak perlu bertanggung jawab padanya. Cukup bersumpahlah menjaga Rama dengan baik dalam ketenangan keraton."
Utih menatap lurus Hayan. Sekujur tubuh pria itu gemetaran. Tangannya mengepal di depan mulut, mengatur jalannya napas yang tersendat-sendat.
Ekspresi bahagia, sedih, marah, dan haru bercampur jadi satu. Air mata telah bersatu pada di pelupuknya. Sedikit terjatuh akibat gerakan tubuhnya yang tidak mau berhenti.
Hayan mondar-mandir dengan gelisah.
"Tapi ketenangan keraton justru akan terusik jika ada putra raja yang baru, yang datang tiba-tiba tanpa ada kejelasan. Tidak perlu merepotkan diri dan lupakan saja. Kami akan pergi jauh dan tidak mengganggu."
"Udelia masih kehilangan ingatan?"
Hayan tidak menggubris permintaan Udelia. Dia justru menerka keadaan Maharaninya.
"Begitulah," jawab Utih.
"Kurang ajar!" geram Hayan. Pria itu meyakini, suami baru istrinya telah merusak ingatan istrinya agar tidak dapat kembali ke pelukannya.
Berurusan dengan penyihir, demikian rumitnya.
"Bagaimana keputusan Anda? Satu penerus sudah cukup bagi Anda, maka biarkan yang lain hidup tenang jauh dari ibu kota. Tuan putri akan tetap di jalannya."
"Sungguh menyenangkan mendengarnya jika itu orang lain. Katakanlah, Rama akan menghadapi hidup yang sesungguhnya."
"Seperti itu..." Utih mangut-mangut mendengarnya. Tebakan majikannya sesuai dengan perkataan yang meluncur keluar dari mulut Hayan.
"Kata nonaku, maka silakan lakukan."
"Dia membiarkan putranya?"
"Ya. Asal tidak mengganggu keluarga kecilnya."
Hayan kembali tercengang. Keputusan istrinya sangat membuatnya tercengang. Dia berniat menjadikan Rama sebagai pangeran, memiliki hak sebagai calon penerus Maharaja.
Secara natural, Udelia akan menjadi wanita tertinggi di Bhumi Maja. Walau bukan Maharani, namun dapat menjadi ibu dari pangeran adalah pencapaian tertinggi bagi wanita-wanita Maja.
__ADS_1
Dan Udelia menolak semua itu.
Kekuasaannya, hartanya, ketampanannya, lebih unggul dari Candra Ekadanta, tetapi Udelia yang lupa ingatan lebih memilih Candra yang segala-galanya ada di bawahnya.
Apa kurangnya dia?
Di saat sadar, Udelia memilih Djahan. Di saat tidak sadar, Udelia memilih Candra.
Hayan menerka-nerka alasan penolakan Udelia pada dirinya.
***
"Da ... darah!" Cempaka menatap tajam Sri Sudewi, Ratu Bhumi Maja, keturunan Kerajaan Galuh. Wanita cantik yang tidak menutupi senyum liciknya.
"Ratu! Apa yang Anda berikan pada saya?!!"
Selir kesayangan Hayan itu berpegangan pada dayangnya. Dia berdiri di depan Sri Sudewi, Ratu Bhumi Maja, perempuan tertinggi di Bhumi Maja setelah Maharani Bhumi Maja.
Di kediaman Cempaka sedang diadakan pesta selamatan atas kehamilannya. Dia baru saja meminum jamu untuk kesehatan kandungan, tiba-tiba darah mengalir deras di sela kakinya.
Dia yakin jamu itu bermasalah dan siapa lagi yang akan mencelakainya jika bukan wanita-wanita Maharaja yang lain?
Ratu adalah yang paling mencurigakan. Mendatanginya setelah dia mendapat masalah.
Ratu selalu bekerja sama dengan Selir Yutun atau selir keturunan langsung Bhumi Maja untuk mengusik selir dan gundik baru Maharaja. Cempaka sudah kenyang dengan siasat licik mereka.
"Apa maksud Anda Selir Anindya? Saya baru datang, membawakan hadiah berupa pakaian indah dan penuh makna, untukmu seorang."
Sri Sudewi mengangkat tangannya menyuruh dayang pribadinya masuk dan memberikan hadiahnya.
Sri Sudewi menunjuk dengan matanya gundik Maharaja, Cendera, yang sedang berjalan sembari tersenyum penuh semangat di halaman kediaman Cempaka.
"Saya berdiam diri karena berpikir semua perlakuan Anda dan selir Samha sangat kekanakan, tapi ini SUDAH KETERLALUAN! Ugh!"
"Nyonya selir!" Dayang menangkap Cempaka yang hampir jatuh kala hendak meraih Sri Sudewi.
"Lebih baik Anda diobati dahulu," tutur dayang agar Cempaka tidak bertindak sembarangan.
"Sayang sekali tuan Ra Konco sedang pergi. Jika Anda mau, tabib dari Sunda tidak kalah hebat."
Sri Sudewi tersenyum miring melihat wajah garang Cempaka. Dia senang melihat wanita itu menampilkan wajah marah, daripada wajah sok polos yang amat menyebalkan.
"Baiklah. Kalau begitu aku pamit," kata Sri Sudewi. Semangatnya sudah penuh.
Di tengah jalan Cendera melewati sisinya, Sri Sudewi melirik tajam. Orang rendahan itu sudah berani menatapnya, tidak lagi menunduk saat melihatnya.
Semua orang mendadak berani hanya karena bayi yang belum nampak wujudnya.
Cendera membalas tatapan Sri Sudewi yang merendahkannya. Lalu dia melengos pergi, memasuki kamar Cempaka.
"Nyonya selir, aku datang!" seru Cendera dengan gembira.
__ADS_1
"Para jelata ini semakin berani saja," jengkel Sri Sudewi.
"Nyonya, mohon maaf. Nyonya selir tidak bisa menerima tamu," tutur dayang.
Cendera mengangguk mengerti. Pasti si Ratu kegelapan sudah membuat masalah, begitu pikirnya.
"Ini ... minumlah jamu penambah energi. Kehamilan pertama orang-orang berkata sangat sulit." Cendera meletakkan jamu buatannya di atas meja, dekat dengan Cempaka.
Cempaka mendorong kotak pemberian Cendera, hingga jatuh dan tercecer.
"Keluarlah!" usir Cempaka pada satu-satunya kawan di keraton Bhumi Maja.
"Padahal aku membuat dengan semangat!" balas Cendera berlalu pergi.
***
"Yang Mulia sedang menerima tamu. Tidak dapat diganggu."
"Tapi.. nyonya selir.."
Salah satu dayang pribadi Cendera pergi menemui Hayan. Dia menggigit jarinya. Gusar. Dia tidak boleh terlambat atau calon anak Maharaja akan celaka.
"Tidakkah kamu dengar? Yang Mulia sedang menerima tamu."
"Nyonya selir keracunan! Beliau membutuhkan tabib secepatnya!" sentak si dayang.
"Kembali nanti." Pengawal menanggapi dengan dingin.
"APA ANDA AKAN BIARKAN ANAK YANG MULIA GUGUR?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
... Untuk season 1 ada di profil author.
Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
Sudah END.
... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT
Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Author: Al-Fa4
... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini
__ADS_1
Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
Author: Al-Fa4