![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Hnngg ... huu haa. Candra ... sakit!" Udelia menggigit lengan Candra yang sedang mengusap keringatnya.
Saat ini Udelia sedang melahirkan buah hatinya dengan Candra.
Ada dukun beranak yang siap siaga membantunya di bagian bawah tubuhnya. Juga ada asisten si dukun beranak yang sibuk bolak balik membawa kain dan ember yang berisi air bersih.
Sebisa mungkin dukun beranak itu menjaga kebersihan di sekitar Udelia. Dia tidak mau aroma amis darah mengganggu nyonyanya juga tuannya yang mengikuti serangkaian proses kelahiran buah hati mereka.
Banyak yang memaksa Candra untuk membiarkan Udelia ditangani para ahli. Sedangkan Candra sendiri kekeh untuk mendampingi istrinya dalam proses kelahiran buah hati mereka.
Tak dia hiraukan cibiran dan cemooh para pria juga para sesepuh yang melihatnya melakukan sesuatu di luar kebiasaan mereka.
"Iya sayang, sakit ya? Tarik napas terus buang." Lembut Candra berturur kata sembari mempraktekan caranya bernapas dan membuangnya, barang kali kegugupan membuat sang istri lupa caranya bernapas.
"Err huu hehm haa."
Udelia mengikuti yang Candra lakukan. Dia mendelik tajam ketika rasa sakit itu tak kunjung berkurang.
"Sudah kutarik dan kubuang, ga keluar-keluar anak kau!" omel Udelia membuat para pelayan menahan tawa.
"Sedikit lagi sayang, ayo," ucap Candra masih mengusap kepala Udelia. Tak dia masukkan hati perkataan Udelia yang mengomelinya.
"Eghh haaaa." Sekali lagi Udelia menarik dan membuang napas. Lalu terdengar suara yang dinantikan semua orang.
Owek.. owek..
Candra tersenyum lebar. "Kamu berhasil, sayang," ia mengecup dahi Udelia beberapa kali. "Terima kasih, terima kasih," bisiknya.
"Selamat, tuan, nyonya. Tuan muda sangat tampan," ucap dukun beranak yang membantu persalinan Udelia.
"Tuan, biar kami obati luka-luka tuan," ucap pelayan melihat lubang besar di lengan Candra dan beberapa cakaran di wajah.
"Kalian siapkan yang lain saja," tolak Candra menggendong bayi yang masih menangis dengan lihai dan tidak ada kecanggungan dalam gerakannya.
"Baik tuan." Dukun beranak dan para pelayan keluar.
Candra membuka pakaian Udelia dan menaruh bayi di perut Udelia yang kemudian perlahan berhenti menangis.
"Sayangku," gumam Udelia menatap bayinya yang sedang bergerak-gerak.
"Siapa namanya, sayang?" Candra memperban lukanya sendiri.
"Raka."
"Bulan purnama, seperti malam ini?" tanya Candra menatap cela bangunan yang langsung menyajikan pemandangan purnama yang terang benderang.
Udelia memegang Raka yang bergerak ke sisi kiri tubuhnya.
Udelia mengangguk. "Iya. Aku harap dia menerangi semuanya dengan cahaya yang indah dan terang, juga selalu menenangkan hati."
"Raka Ekadanta," gumam Candra.
"Bagaimana?" tanya Udelia.
"Sesuai yang istriku inginkan," jawab Candra dibalas dengan senyuman manis dang istri.
Candra membantu Udelia menambah bantalnya ketika mulut Raka telah bertemu put*ng ibunya dan mulai menyusu, mengisi perutnya yang mungil.
__ADS_1
"Istriku, aku mencintaimu," ujar Candra mencium dalam kening Udelia.
Selalu saja pria itu mengatakan hal-hal yang membuat Udelia merasa nyaman.
"Aku juga," balas Udelia tersenyum tipis.
***
"Istrinya sedang lemah dan beliau hanyalah seorang laki-laki yang tidak mengerti apa-apa tentang bayi. Bagaimana bisa menuruti begitu saja, nyonya?"
Tuti menatap selir suaminya yang sedang mengkritik anaknya
"Kita harus menghormati tradisi yang menantuku inginkan. Toh Rama sudah dibesarkan dengan benar." Tuti mengelus bayi di pangkuannya.
"Bagaimana dengan tradisi kita, nyonya?" sambung selir yang lain.
Tradisi mereka sebelum dan sesudah melahirkan sangat banyak. Mereka tidak mau keluarga mereka mengabaikan salah satunya.
Akan berkata apa orang lain bila tahu keluarga Ekadanta tidak melakukan tradisi yang ada?
Penyihir adalah sosok yang jauh dari ambisi yang besar dan kotor. Menjalankan tradisi adalah satu dari sekian banyaknya cara melihat kesungguhan seseorang dalam menjalani hidup.
Mereka tidak mau, hanya karena satu orang, keluarga Ekadanta akan dicap sebagai pembangkang tradisi-tradisi leluhur.
Mereka bukan orang miskin yang tak punya uang untuk melakukan suatu tradisi!
Tuti tersenyum. "Tidak ada yang tertinggal. Hanya menantuku ingin bersama buah hatinya selama beberapa waktu setelah melahirkan buah hatinya."
"Kalau begitu, bagaimana dengan minyaknya?" cecar selir yang lain.
Candraaji Ekadanta, ayah dari Candra, memang memiliki banyak selir dan gundik.
Tentu saja para selir itu khawatir bila salah menantu mereka menggunakan bahan aneh.
Ternyata dibuat sendiri?
Tidak mungkin menantu mereka itu membahayakan dirinya sendiri atau bayinya yang baru lahir.
"Kalian berhentilah khawatir atau mereka akan merasakan kekhawatiran kita," tegur Tuti sekaligus menasihati.
Wanita-wanita cantik yang wajahnya selalu indah, tak termakan usia yang tak lagi muda, semuanya mengangguk dengan patuh.
Ucapan saudari yang juga adalah 'nyonya' mereka itu sangat benar. Kekhawatiran mereka dapat mengganggu konsentrasi sang menantu.
Hati menantu mereka sangat peka.
Bahkan bila ada salah satu di antara mereka sakit, entah bagaimana menantu mereka terlebih dahulu yang akan tahu.
Benar-benar wanita ajaib.
Mereka tak tahu dari mana Candra mendapatkan wanita itu.
Karena bila ditanya perihal kampung halaman satu-satunya menantu perempuan mereka itu, Candra hanya menjawab tempatnya sangatlah jauh. Sulit dijangkau oleh kanuragan dan sihir. Untuk itulah Candra selalu meminta para ibunya untuk menghormati semua 'adat' istrinya.
Dan tentu saja, semua adat itu hanyalah suatu karangan Candra agar gerak Udelia tidak menimbulkan curiga orang-orang yang sibuk di atas sana.
Candra selalu dilanda kegelisahan bila jauh dari istrinya. Meski istrinya bersama para ibu atau para saudarinya.
__ADS_1
Dia takut sewaktu-waktu Udelia menghilang.
***
"Nyonya, kami akan membersihkan tuan muda."
Dukun beranak dan para pelayan masuk sembari membawa peralatan yang semula sudah disiapkan untuk memandikan Candra kecil.
Rupa Raka Ekadanta bagai pinang dibelah dua dengan sang ayah, Candra Ekadanta.
"Tunggulah hingga satu hari." Udelia memeluk bayinya yang terlelap di perut. Setelah kenyang meminum asi, bayi merah itu jatuh tertidur.
Dukun beranak dan asistennya saling memandang bingung.
Mereka adalah sekelompok orang yang berbeda dari kelompok dukun beranak yang membantu persalinan Rama Ekadanta, bayi mungil yang ketampanannya sudah terlihat sejak ke luar dari rahim ibunya.
Pernikahan Candra dan Udelia telah menginjak di ujung tahun ketiga. Setelah Rama berusia satu tahun, Udelia langsung mengandung Raka.
Hal ini sontak membuat penghuni kediaman Ekadanta memekik senang mendengar kediaman Ekadanta telah memiliki dua orang tuan muda.
Mendapatkan anak laki-laki di keluarga Ekadanta bukanlah suatu hal yang mudah. Tuti saja baru dapat hamil dan melahirkan dua orang putra setelah usia pernikahannya melewati waktu belasan tahun. Sudah banyak putri dilahirkan para selir, sementara dirinya tak kunjung hamil.
Inilah yang membuat Tuti dekat dengan adik-adik madunya. Dari mereka Tuti belajar menjadi ibu yang baik.
Dan berkat kedekatan Tuti dengan semua wanita suaminya, tidak ada anak-anak Candraaji yang saling sikut menyikut.
Semuanya bagai saudara satu rahim yang sangat dekat.
"Aku akan memperhatikan mereka," tutur Candra menenangkan istrinya.
Tangan lembutnya mengambil secara perlahan bayi mungil yang terlelap di perut istrinya, lalu ditaruhnya bayi merah itu ke tempat tidur khusus bayi.
Udelia memejamkan matanya kala para pelayan membersihkan tubuhnya, kemudian dukun memijat dan membalurkan rempah-rempah ke tubuh Udelia.
Tak lama kemudian seorang pelayan memberikan jamu dan masakan ringan yang diperuntukkan untuk ibu yang baru melahirkan.
Candra duduk di sebelah tempat tidur bayi menunggu dukun beranak selesai mengikat bengkung pada perut Udelia.
"Silakan, tuan."
Candra menerima ari-ari dari asisten sang dukun, membersihkannya, lantas membawanya ke depan rumah yang sudah ramai oleh keluarga besarnya.
"Selamat atas kelahiran putra keduamu, nak," ucap Aji memberikan sajen di tangannya.jl
Dia merasa bangga pada sang putra, sebab mampu mematahkan 'kutukan' yang membuat Ekadanta sulit memiliki anak laki-laki.
Aji saja perlu banyak persiapan dan usaha untuk mendapatkan seorang putra, putra bungsunya mampu mendapatkan dua orang putra tanpa 'pengorbanan' yang mesti dilakukan jika seorang Ekadanta ingin mendapat anak laki-laki.
"Terima kasih, ayahanda." Candra menaruh sesajen di sebelah kendi ari-ari lalu menguburkannya bersamaan dengan kerabat jauhnya yang berkomat-kamit mendo'akan 'teman' para bayi itu.
"Ayahanda, ibunda, para ibu selir, dan semua, terima kasih sudah datang malam-malam begini. Maaf merepotkan kalian."
"Tidak perlu sungkan. Selamat anakku. Semoga dengan bertambahnya anggota keluargamu semakin bahagia hatimu dan sejahtera keluarga kita," ucap Tuti.
"Aamiin. Terima kasih ibunda."
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]