![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
030 - LAMARAN DAN PERNIKAHAN ADALAH BUKTI KESERIUSAN
Kasih semangat di komentar dong!
Kayanya sepi banget ceritaku ini. Hiks.
.
.
"Selamat atas pertunangan kalian. Semoga semua lancar sampai hari H."
Walau berkata dengan senyuman, binar kesakitan di mata Doni terlihat sangat jelas.
Udelia menerima lamaran Djahan dan pria itu langsung membuat kejutan satu pekan setelahnya.
Berkomplot dengan Lamont dan John, Djahan membuat acara di belakang rumah mereka, bahkan tanpa diketahui kedua orang tua Udelia.
Djahan tidak ingin mertuanya repot- repot mempersiapkan acara.
Dapat dia ketahui, dua orang itu memiliki sifat tidak enakan, ditambah setelah mengetahui indetitasnya, ayah Udelia sering kali bersikap terlalu hormat padanya.
Acara berlangsung dengan sempurna. Udelia menerimanya dan mereka bahkan langsung menjanjikan tanggal pernikahan.
Rasa gembira Djahan sungguh sangat besar.
Tidak peduli meski kedua mertuanya menerima dia karena latar belakangnya sebagai seorang Mahapatih, karena Djahan tahu dia benar seorang Mahapatih.
"Sayang, mau makan?"
Djahan berusaha mengambil perhatian Udelia yang terus saja mengurus teman- temannya.
Dia tidak suka ini. Biasanya Udelia hanya fokus padanya. Udelia tidak pernah menoleh pada orang lain!
Dia suka dengan Udelia di dunianya.
Namun Djahan sadar. Ini adalah dunia Udelia.
Tidak sepertinya yang hanya hidup sendiri, meski memiliki banyak orang di sekitar.
Udelia adalah orang sederhana, yang jarang mendapat pertengkaran hebat yang mengancam nyawa.
Temannya banyak. Bahkan tidak hanya para wanita, teman- teman prianya pun mendominasi.
Secara alami, sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknik, Udelia tidak sedikit telah berkenalan dengan banyak pria.
Yang anehnya wanita itu menjatuhkan hati pada pria kuno, yang tidak banyak mengetahui hal yang sama dengannya. Tentang teknologi.
Sorak -semarai terdengar dari mulut- mulut teman Udelia.
Mereka sama sekali tak menyangka, wanita yang mereka kenal tahu- tahu sudah akan menikah.
"Memang ya orang yang diem- diem itu selalu menghanyutkan," celetuk mereka mengakhiri perbincangan yang didengar Udelia.
Dia dan Djahan pergi ke tempat keluarga. Ternyata keluarganya datang ke meja pejabat yang tersedia.
Akhirnya mereka duduk berdua di meja.
"Aku sangat merindukan makan berdua denganmu seperti ini."
"Maaf, aku tidak ingat."
Udelia berkata dengan tak enak hati. Melihat binar di mata Djahan, pastilah kenangan itu sangat menyenangkan.
Tapi Udelia sama sekali tidak mengingatnya.
"Aku akan selalu ingat. Dan akan kubuat ingatan baru untukmu."
"Terima kasih."
__ADS_1
Djahan bersungguh- sungguh.
Dan tentu harus tidak ada nama pria lain di dalamnya.
Sehari setelahnya, pihak Djahan dan Udelia kembali bertemu.
Makan malam bersama untuk membahas hari pernikahan.
Enaknya menggunakan jasa dekor adalah tidak ada keluarga inti yang kelelahan mempersiapkan segalanya.
Djahan dapat menyingkat waktu pertemuan yang seharusnya diadakan paling cepat lima hari lagi.
Udelia datang dengan kebaya hijau pilihannya. Senada dengan kain jarik yang dikenakan Djahan.
Pria itu mengenakan kemeja putih.
Awalnya dia hendak bertela njang dada. Lili, tangan kanannya langsung menyuruhnya mengenakan kemeja.
"Kalau satu pekan lagi, bagaimana?"
Udelia mencubit gemas tangan Djahan yang berpangku di pahanya. Bisa- bisanya pria itu hendak menyiapkan acara pernikahan hanya dalam waktu sepekan!
Memang segalanya bisa terkabul dengan benda bernama uang.
Namun kesakralan tidak dapat diganti dengan demikian.
Adat mereka banyak. Udelia tidak mau terburu- buru dalam menyelesaikan seluruh adat itu.
Dia juga ingin andil dalam persiapan ini.
Dan meski kedua orang tuanya setuju- setuju saja ... Udelia paham, mereka sebagai pihak perempuan juga ingin melakukan bagian mereka.
Orang tua Udelia bukanlah orang yang senang berpangku tangan.
Ketika rambut mulai memutih, keduanya tetap tidak suka hanya duduk diam tanpa membuat karya ataupun memberikan jasa pada sekitar.
"Djahan, aku tahu kamu bisa segalanya. Tapi, kami sebagai pihak yang mengadakan acara, juga ingin melakukan beberapa hal. Biarkan kami melakukan bagian kami."
"Rencana suci baiknya tidak ditunda. Berapa lama waktu yang dibutuhkan?"
Kedua orang tuanya tampak benar- benar memiliki keyakinan besar tentang identitas Djahan.
Mereka sangat menjaga sikap mereka.
"Satu bulan," balas Djahan tak ingin dibantah.
"Sudah, sayang. Benar kata tunanganmu, jangan terlampau lama menunda hal baik. Satu bulan akan kami persiapkan acara pernikahan kalian," ucap Ibu Udelia menengahi.
"Kami juga akan membantu ibu. Nona Udelia berkata ingin melakukan bagiannya, maka kami juga akan melakukan bagian kami. Pernikahan bukan hanya tentang pihak wanita. Mohon jangan sungkan memberitakan pada kami yang belum sempat kami buat," tutur Lili membalas ucapan mertua tuannya.
"Baik. Baik."
"Untuk tanggal pernikahannya bagaimana?" tanya Lili melangkah pada keputusan selanjutnya.
Ibu Udelia menatap putrinya serta menatap calon menantu yang sangat dia hormati.
"Pasangan bakal pengantin ini, ada yang mau diajukan."
"19 Januari."
Udelia dan Djahan berkata dengan kompak.
"Wah kalian berkata dengan kompak, ya. Sepertinya sangat berjodoh. Ayah juga telah meminta panutua menghitung weton kalian. Tanggalnya bertepatan dengan tanggal yang kalian sebutkan."
Setelah semua diputuskan, mereka tak lekas pergi. Berbincang- bincang sambil menikmati camilan ringan.
Orang tua Udelia tak lagi terkejut ketika mereka dapati rumah telah kembali bersih, sedang mereka berbincang di teras rumah.
"Ayah, ibu, saya izin membawa Udelia pergi ke kota sebelah. Ingin mendesain pakaian kami secara langsung. Apakah boleh besok saya menjemputnya?"
"Boleh. Tapi untuk terakhir kali! Kalian harus dipingit supaya acara pernikahan kalian berjalan lancar!"
__ADS_1
"Baik, ibu."
Karena sudah diberikan izin oleh ibu mertua, tak segan Djahan mendatangi rumah Udelia, bahkan meski langit belum menampakkan sinarnya.
Udelia mengucek matanya. Perempuan itu dipaksa bangun oleh ibunya.
Wajah bantalnya menyambut Djahan.
Pria itu malah mencubit gemas pipinya.
"Kamu selalu lucu tiap bangun tidur."
"Apa sih! Masih pagi loh ini!"
Udelia menepis tangan Djahan. Dia malu dengan iler keringnya yang menghias pipi.
Djahan sudah sangat rapi di pagi buta.
Sedang dirinya bahkan belum berkumur.
"Sini kalau mau lanjut tidur!" titah Djahan menepuk pahanya.
Udelia yang masih dirundung kantuk, menuruti titah itu dengan butanya.
Dia memejamkan mata di atas pangkuan Djahan.
Suara kokok ayam terdengar pada gendang telinga Udelia.
Dia bangun dan mengulet hingga tangannya menyentuh sebuah benda yang terasa asing.
Udelia meninju pelan kepala Djahan. Pria itu malah menampilkan senyum konyolnya.
Seolah senang dengan tingkah Udelia.
Udelia menarik tangannya. Wajah memerah. Dia tersipu malu.
"Sudah. Sana mandi. Sarapan sudah siap!"
Djahan mengacak rambut Udelia dengan gemas. Dia juga mencubit pipi Udelia dengan geramnya.
Ingin mencium wajah yang melongo lucu itu, tapi dia dapat merasakan tatapan tajam dari balik punggungnya.
Sebelumnya kedua adik Udelia yang masih tidak tahu tentang jati diri Djahan dan masa lalunya, merasa cinta Djahan untuk Udelia hanyalah sebuah kepalsuan.
Bukan bermaksud merendahkan kakak mereka, namun mau dipikir bagaimanapun oleh logika dan akal mereka, orang seberkuasa Djahan, serupawan dia, sekaya dia, bagaimana bisa menjatuhkan pilihan pada kakaknya?
Ada batas bernama bibit, bebet, dan bobot.
Mereka takut orang kaya yang berkuasa itu hanya menyenangi kakak mereka untuk sementara.
Wajah mereka selalu diliputi mendung karena banyaknya praduga di dalam hati mereka.
Mengutarakan pun tidak mampu mereka lakukan. Selain ragu, waktu juga tidak banyak mereka miliki.
Banyaknya tugas dari sekolah dan kampus membuat mereka tak dapat fokus pada kakak mereka.
Sampai kemudian Djahan mengutarakan niatnya untuk melamar kakaknya dan secepat mungkin menikahinya.
Mereka melihat keseriusan pria itu.
Melamar kakaknya dan kini menentukan tanggal pernikahan dengan cepat.
Lamaran dan pernikahan adalah bukti keseriusan
Tapi, entah kenapa mereka tetap tak suka melihat kedekatan itu!
Apa setiap adik akan selalu cemburu jika kakak mereka hendak meninggalkan mereka untuk hidup barunya?
Entahlah!
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]