TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 004


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


004 - TIDAK MENGENALNYA DENGAN BAIK?!


"Mbak, bisakah berikan aku kesempatan?"


Udelia membuka mulutnya hendak menjawab. Fusena terlebih dahulu tersenyum kecut.


Pria itu sudah menebak jawaban yang akan diberikan oleh Udelia.


Dia sangat memahami Udelia.


"Kepastian lebih baik diberikan dengan jelas," ucap Udelia bersamaan dengan Fusena yang menirukan ucapannya.


Udelia menggigit bibirnya. Fusena selalu selangkah lebih jauh darinya. Tahu apa yang akan diucapkannya.


Udelia bingung dengan alasan yang akan dikatakannya.


Dia memiliki rasa nyaman pada Fusena. Hanya saja, hatinya seperti terkunci.


Malam-malam yang sepi, dia selalu memimpikan tentang seseorang yang menunggunya untuk tinggal bersama dengannya. Bersatu dengannya.


Wajahnya samar, namun Udelia tidak memiliki kecenderungan atas sosok itu terhadap Fusena.


Apa pria itu bukan Fusena?


Memiliki Fusena sebagai suami adalah hal yang baik. Dia nyaman terhadap Fusena dan pria itu memiliki pemahaman yang begitu mendalam tentang dirinya.


Hanya saja, hatinya mengganjal.


Udelia merasa tidak nyaman untuk memiliki hubungan dengan pria lain.


Mungkin, jodohnya telah menunggunya. Mengawasinya dari tempat yang jauh. Meminta pada Yang Kuasa agar menjaga dirinya dari pria lain.


"Aku ini tidak memiliki apa pun untuk dicintai. Jelek, kasar, emosian, busuk hati, busuk pikiran, tak bisa masak, tak bisa dandan, malas, benci anak kecil, bodoh, pengecut. Mataku saja sering berkedip dan lisan tak jelas suaranya. Kebaikan yang kamu lihat hanyalah kamuflase dalam fatamorgana. Aku tidak memiliki yang pantas dibanggakan."


"Kamu melamar Udelia karena hal itu?" tanya Wara, ayah Udelia, pada seorang pria tampan yang duduk di hadapannya.


Pemuda di depannya sangat menyanjung tinggi putrinya.


Yang bahkan terlalu tinggi untuk didengar olehnya.


Bukan bermaksud merendahkan sang putri, hanya saja pria di hadapannya terlalu berlebihan dalam menyanjung putrinya.


Pria tampan itu, Djahan Mada, menatap gugup calon mertuanya. Ayah dari pujaan hatinya, yang lama telah dia dambakan.


Sepasang kaki yang tersembunyi di dalam banyak lapisan kain jarik, menggigil dan berkeringat karena rasa gugup.


Restu ayah dan ibu pujaan hatinya adalah hal yang paling kritis.


Udelia tidak akan menikahinya tanpa restu dari kedua orang tuanya. Orang tua adalah prioritas utama bagi Udelia.


Bayangan penolakan menjadi momok menakutkan bagi Djahan.


Djahan tersadar dengan perbedaan di antara mereka. Bahasa mereka bahkan terhalang.


Semenjak berjumpa di museum sejarah, Udelia tidak menunjukkan tanda-tanda kemampuannya berbincang dalam bahasa Jawa Kuno.


Djahan mencerna perkataan calon mertuanya. Dia lantas mengangguk dengan yakin.


"Iya.." jawab Djahan.


"Nak, kebaikan-kebaikan yang kamu sebutkan itu, bisa saja terjadi hanya sekali dalam penglihatan. Rumah tangga tidak hanya berisi tentang hal baik."

__ADS_1


Pemuda itu mengatakan Udelia sangat bersinar di tempat tertinggi.


Udelia, putrinya, mungkin pernah tampil sekali dua kali di atas panggung.


Bintang di langit saja sewaktu-waktu akan redup, Wara tidak mungkin menyerahkan putrinya pada sosok yang hanya tahu cara menyanjung.


Dalam pernikahan, pasangan yang sebelumnya dinilai sempurna, perlahan tapi pasti, akan nampak keburukan demi keburukannya.


Akan selalu hadir kekurangan-kekurangan yang bisa saja merenggangkan hubungan di antara pasangan suami istri, bila mereka hanya mengharapkan kesempurnaan pasangannya.


Wara membutuhkan sosok yang menerima putrinya apa adanya, agar keduanya bisa bersama-sama menghadapi badai, tanpa saling tunjuk akan kekurangan masing-masing.


"Saya siap menerima semua konsekuensi," ucap wanita paruh baya di samping Djahan. Wanita itu membantu menerjemahkan kosakata yang mungkin sulit dipahami.


Djahan semakin gugup. Alih-alih menjawab pertanyaan calon mertuanya dengan elegan, Djahan masih kekurangan kamus kata modern pada lisannya.


Untuk kalimat yang diucapkan Wara, Djahan sangat mengerti.


Dia belajar dengan baik. Mampu memahami percakapan formal dan gaul, hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.


Seperti yang diharapkan dari Sang Mahapatih yang legendaris.


"Aduh nak bukan begitu..."


Wara menatap Watika, minta persetujuan untuk melanjutkan kalimatnya. Sang istri mengangguk setuju.


Bibit, bebet, dan bobot di antara mereka terlalu jauh berbeda.


Wara dan Watika satu pikiran. Mereka tidak mungkin mengabaikan hal paling rentan ini.


Bahkan dua orang yang saling mencintai, bisa berubah sikapnya, setelah merasakan bibit, bebet, dan bobot di antara mereka jauh tak seimbang.


"Kamu ini sangat tampan, muda, dan dari keluarga terpandang," ucap Wara.


Ayah dari tiga orang anak itu menelusuri satu persatu orang yang duduk di hadapannya.


Terdapat tiga orang di sisi Djahan. Ada pula sekelompok orang berkumpul di luar rumah.


Satu kesamaan dari orang-orang itu ialah mereka mengenakan pakaian yang tidak bisa dibilang murah, meski bawahan mereka hanya sebuah kain jarik yang terlihat kolot.


"Kami sangat tersanjung," lanjut Wara kembali menatap ke dalam manik mata Djahan yang hitam kelam.


Djahan duduk dengan pandangan yang lurus pada Wara. Dari kalimatnya, Djahan dapat memahami arah keputusan Wara.


Hanya saja, dia berharap dugaannya salah.


"Tapi rasanya kurang pantas bagi kami menerimamu," kata Wara menolak Djahan dengan halus.


"Saya tidak akan membuat Udelia sedih. Saya akan melakukan semua yang diinginkannya."


"Semua janji bisa diucapkan."


"Saya bisa bersumpah."


"Memang apa saja yang kamu tahu tentang Udelia? Selain hal-hal yang telah disebutkan."


Wara tergerak dengan keseriusan Djahan. Jika pria itu dapat menjelaskan putrinya dengan lebih mendetail.


Wara akan menyerahkan putrinya pada pria yang dapat memahami putrinya dengan baik.


Tidak bisa hanya modal harta dan cinta.


"Udelia sangat berani menghadapi semua masalah, wawasannya sangat luas, dan pandai mengingat banyak hal. Ia sangat berani dan lantang menyuarakan kebenaran. Orasinya sangat bag—"

__ADS_1


"Cukup," potong Wara.


Wanita paruh baya di sisi Djahan mengatupkan mulutnya. Djahan telah menginstruksikannya untuk diam dengan tangan yang terangkat.


"Kamu tidak mengenalnya dengan baik. Aku terima niat baikmu, tapi maaf...!"


"(Tidak mengenalnya dengan baik?!)" geram Djahan.


"Nak, Udelia itu tidak akan berani pergi ke tengah kumpulan orang."


"Ya ampun, kenapa banyak orang?" lirih Udelia. Tangannya memegang erat plastik yang berisi nasi goreng.


Fusena merangkul bahu Udelia lalu membawanya pergi ke pintu belakang yang sepi.


"Tamunya ada sembilan mbak," jelas Fusena sembari membantu Udelia menyusun piring.


"Uh, haruskah dibagi? Atau tidak perlu?" gumam Udelia kacau.


Ayahnya benar-benar kejam! Memerintahkannya untuk membeli nasi sepuluh bungkus, namun orang yang ada di rumah lebih dari sepuluh orang.


Bila satu orang satu bungkus, maka masakannya tidak akan cukup.


"Bagi saja yang rata. Sekalian bunda, ayah, Lamont, kamu juga," kata Udelia pada akhirnya.


"Perbincangan mereka sepertinya akan lama. Mbak mau keluar?" ajak Fusena.


Dia sangat tahu siapa tamu yang mendatangi rumah sepupunya.


Bahkan, dia sangat tahu tujuan kedatangan tamu spesial itu.


Udelia sedang fokus membagi makanan agar rata dan tidak timpang isinya. Dia tidak menjawab ajakan Fusena.


Fusena meraih tangan Udelia yang gemetar dalam menaruh nasi ke tiap-tiap piring.


Sepupu tercintanya tidak fokus pada masakan di depannya.


Perempuan itu pasti kepikiran tentang ucapannya.


Kemudian merasa sungkan untuk berada di sisinya.


Fusena sangat memahami kekacauan hati Udelia.


Dia mengusap rambut Udelia dan mengusap kening Udelia yang mengerut.


Udelia tampak merasa bersalah.


Di antara mereka tiada cela untuk bersama-sama menaiki pelaminan.


Hanya saja Udelia akan merasa berdosa bila tidak menemui orang yang sudah menantinya.


Udelia merasa bersalah pada Fusena, yang telah terus setia berdiri di sisinya.


"Mbak, jangan pikirkan apa yang kukatakan!"


Fusena membawa nampan yang tergeletak di hadapan Udelia.


Udelia memandangi punggung Fusena yang berjalan ke ruang tamu.


Perkataan untuk jangan memikirkan, justru makin membuatnya memikirkan hal tersebut.


Haruskah dia tepis perasaannya tentang menunggu seseorang yang tak pasti, lantas menerima Fusena yang jelas sosoknya dan jelas pribadinya?


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2