![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kakak bisa menyesuaikan tempat atau ingin kubuat peradaban yang sama?" tawar Candra.
"Tidak, Candra. Tempatku bukan di sini."
"Kalau begitu habiskanlah waktu kakak denganku!"
"Jika takdir menghendaki," ucap Udelia datar.
"Haaaaah." Candra menghela napas panjang.
"Aku tidak akan bisa menang dari kakak," tutur Candra.
Udelia menggeleng melihat Candra terkulai lemas.
Sedetik kemudian Candra kembali menegakkan tubuhnya. Memegang anak rambut di kening Udelia lalu mengecupnya lama.
"Aku akan kembali menunggu."
Udelia tersentak. Gelombang energi besar masuk ke dalam tubuhnya. Candra memasukkan energi melalui cilak tanda hubungan suami istri di keningnya.
"Kamu mengisinya lagi." Udelia memegangi keningnya. Energi meluap dalam tubuhnya.
"Tentu saja, kamu adalah istriku."
Udelia tidak dapat membantah. Ritual pernikahan telah mereka jalani dengan baik dan benar dan mereka menjadi pasangan suami istri yang diakui.
"Hiduplah dengan baik," pesan Udelia.
"Hidupku selalu baik dan akan jauh lebih baik bila bersama dengan yang kucintai."
Setelah itu tidak ada yang berkata-kata. Candra terlalu merasa bersalah dan akan menjadi keterlaluan jika dia terus memaksa.
Candra sebenarnya tidak memiliki muka untuk menghadap Udelia setelah melakukan banyak kesalahan. Namun hatinya selalu saja tertaut pada Udelia. Dia ingin selalu melihatnya.
Udelia sendiri tidak tahu harus berkata apalagi. Semua yang ingin dia katakan pada Candra telah selesai. Dia berharap hubungannya dengan Candra pun selesai dan mereka kembali menjadi kakak dan adik yang kompak.
Candra bangkit dari duduknya. Tak suka hening yang menyergap. Langkahnya mengayun menuju kamar tempat putranya, putra kandungnya, tidur terlelap.
Candra memperhatikan Raka yang tertidur pulas. Begitu damai. Wajah Raka sangat mirip dengannya sama seperti Rama yang mirip dengan Sang Maharaja.
Nampaknya mereka benar-benar mencintai Udelia sehingga anak yang lahir dari rahim Udelia mirip dengan mereka.
Atau Udelia yang terlalu mencintai mereka jadi wajah putra-putranya begitu mirip dengan pria yang menanam benih di rahimnya?
Raka sesekali menggeliat namun matanya tak pernah terbuka. Tidur lelap usai kenyang menyusu pada sang ibunda.
Tidak tahukah bocah itu akan ditinggal sang ibunda? Ataukah bocah itu memiliki perasaan lain tentang ibundanya? Semisal tak jadi pergi.
Candra terkekeh mendengar otaknya mengatakan khayalan.
__ADS_1
Di pojok kamar sepasang mata mengintai setiap gerakan Candra. Sontak Candra berbalik menoleh pada pojok ruangan yang tidak tersinari oleh mentari.
"Anda akan membiarkannya kembali?" tanya Candra menatap balik manik mata Djahan. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan karena begitu segan.
"Jika itu yang dia mau."
Nada pasrah Djahan membuat Candra mengerut. Mempertanyakan cinta Djahan yang selalu dikatakan sangat besar untuk istrinya.
Istrinya hendak pergi, namun sama sekali Candra tidak melihat ada usaha Djahan untuk menghentikan istrinya pergi dari sisinya.
"Anda tidak berusaha," ucap Candra.
Jika Candra menjadi Djahan, menjadi pria yang amat dicintai Udelia, Candra akan memastikan Udelia tetap di sisinya. Candra akan melakukan apa pun agar Udelia tak pergi.
Tapi Mahapatih terlalu pasrah. Bahkan pria itu menampung anak-anak istrinya.
Awalnya Candra tak mengerti kenapa Djahan mau repot-repot mengurus Putri Maharaja yang lahir di atas penderitaannya yang berpisah dengan istri tercinta.
Namun kini, saat lahir Rama dalam pernikahannya dengan Udelia, Candra memahami bahwa kaih sayang tidak mengenal asal usul.
Bayi mungil yang menggeliat polos, sama sekali tak berdosa. Makhluk kecil berwarna merah itu mestilah dilindungi.
Tidak ada sedikit pun kebencian dalam hati Candra ketika lahir Putra Maharaja dari rahim istrinya. Yang ada, cintanya terus menerus tumbuh pada bocah kecil bernama Rama Ekadanta.
Candra akan terus memacu Rama agar Rama dapat tumbuh menjadi anak yang baik, di sisi lain dia juga akan terus menghujani Rama dengan cinta yang besar agar Rama tidak tumbuh menjadi pribadi yang dingin.
Candra ingin kedua putranya terus bersama seperti dia dan kakak-kakaknya selalu saling percaya dan tak segan membantu.
Candra tersenyum miris. Rasanya Sang Mahapatih sedang menyindirnya. Entah obsesi atau terlalu cinta, sehingga Candra ingin memiliki Udelia tanpa ada pria lain mengganggunya.
Candra tak suka Udelia memperhatikan orang lain apalagi jelas-jelas mencintai pria lain. Candra bukanlah pria berhati lapang. Candra ingin dicintai oleh Idaline seorang diri tanpa berbagi hati.
Dan Candra sendiri yang akan memastikan Udelia tersenyum bahagia, tanpa perlu ada pria lain di sisi Udelia.
Candra seorang merasa cukup menghujani Udelia dengan rasa cinta.
"Sebelumnya tangannya terekat dengan tombak, padahal hatinya berteriak ingin berlarian bebas.."
Djahan membayangkan masa Udelia duduk di atas tahta. Cintanya hanya ingin menyelamatkan sahabatnya. Tidak bisa Djahan mencerca Udelia sementara Udelia sendiri sudah marah pada dirinya sendiri.
Yang bisa Djahan lakukan hanyalah memberikan semangat dan pelukan hangat agar Udelia tidak jatuh terlalu dalam.
Akan ada masanya pengorbanan Udelia selesai lalu mereka bersama tanpa ada yang memisahkan.
Meski kini Udelia kembali menikahi pria lain. Udelia hanyalah korban dari keegosian berbalutkan kata cinta.
Djahan lagi dan lagi tidak dapat memarahi Udelia apalagi sampai membencinya. Udelia tidak dapat menolak takdir yang diputuskan untuknya. Udelia hanyalah seorang korban.
Djahan menganggap semuanya adalah ujian cinta mereka supaya cinta mereka semakin menguat.
__ADS_1
"Saat keinginannya sudah di depan mata, aku tidak bisa egois menyuruhnya tetap memegang tombak. Biarkan tombak itu aku yang memegangnya."
"Bagaimana dengan anak-anak?" Candra memikirkan tentang anak-anaknya.
"Bagaimana jika itu justru menekannya dan membuatnya kehilangan kendali?"
"Anda berkata dia tidak menyayangi anak-anaknya?"
"Kalian yang memaksanya melahirkan tanpa bertanya kesiapannya/"
"Dia siap ketika tidak ingat!" bantah Candra.
Udelia ketika menjadi istrinya dan hamil buah hati mereka lalu melahirkan dan membesarkan, tidak pernah dia melihat Udelia jatuh mengeluh tentang anak-anak.
Udelia selalu tersenyum dan bersemangat mengurus anak-anak.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI
SEHAT SELALU SEMUANYA
CIUM JAUH DARI WANITA PEMILIK HATI YANG BIMBANG MEMILIH SUAMI
UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4
NOTES :
... Untuk season 1 ada di profil author.
Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan] oo Sudah END.
Author: Al-Fa4
... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT
Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan] oo Sudah END.
Author: Al-Fa4
... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini
Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu] oo sedang berlangsung
__ADS_1
Author: Al-Fa4