![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kenapa kembali?" tanya Hayan penasaran. Udelia bukanlah seorang wanita berhati batu. Pasti ada alasan mengapa di balik kepala Udelia yang ingin pulang ke dunianya.
"Karena tempatku di sana," jawab Udelia tidak mengalihkan tatapannya pada hidangan di meja.
Lima bela hari tanpa makan dan minum, perutnya meronta ingin langsung melahap seluruh hidangan di meja.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Hayan pada akhirnya.
"Hayan, asal kamu tau. Aku belum siap memiliki anak," ujar Udelia sendu. "Aku benar-benar belum siap," tegasnya.
"Lalu kamu ingin meninggalkan mereka?"
"Aku harus kembali," ulang Udelia. Tak mau menjawab tentang dirinya yang tega meninggalkan anak-anak.
Udelia tidak meninggalkan mereka. Udelia hanya pulang untuk kembali. Memberikan sepasang liontin pada Boyo, lantas meminta pria yang akan menjadi pemegang kunci dimensi itu untuk memudahkannya keluar masuk antar dimensi.
Bisa saja Udelia meminta tolong diajarkan Dina yang juga mampu keluar masuk antar dimensi. Namun semua itu membutuhkan waktu lama dan dia tidak akan bebas bergerak.
Dina mungkin saja dapat keluar masuk dari dimensi berbeda. Tetapi pergerakannya hanya sebatas gua yang menjadi perantara pintu dimensi.
Dina tidak dapat berkeliaran dengan bebas tanpa inang yang mampu membawa jiwanya. Dina harus mengutuk seseorang yang asli dari dimensi dunia Bhumi Maja berada, barulah Dina dapat keluar dengan menghantui tubuh itu.
Hayan masih tak mengerti maksud Udelia pergi meninggalkan anak-anak begitu saja. Sangat jelas anak-anak bergantung pada Udelia. Maya yang telah beranjak dewasa saja masih terus menempel pada Udelia.
"Anak-anak butuh ibunya," tutur Hayan berharap Udelia dapat memikirkan ulang keinginannya pulang ke dunianya.
"AKU BILANG HARUS KEMBALI, YA KEMBALI! Kamu tidak memiliki hak mengaturku!!" sentak Udelia. Dia tidak terima diinterogasi. Hatinya mencelos jika terus diingatkan tentang anak-anak.
"Maharaniku tidak siap memiliki bayi atau tidak menyukai ayah mereka?" tandas Hayan mengenai hati Udelia.
Udelia memejamkan matanya. Bayangan tiga anak terlintas di depannya. Tawa mereka yang ceria. Tangis mereka yang pilu. Semua membayangi benak Udelia.
__ADS_1
Tapi ada satu titik dalam sudut hati Udelia yang menolak semua itu. Ada sudut hati yang tidak siap menerima semuanya. Memiliki anak tanpa kesiapan bukanlah jalan Udelia.
Udelia memiliki bayangan saat akan memiliki anak, dia haruslah menyiapkan segalanya. Mental, hati, dan kewarasan diri adalah yang utama.
Bagaimana dia bisa menjadi waras sementara dia hamil tanpa mengetahui jika dirinya sedang hamil?
Pun bagaimana dia bisa berlapang dada menyambut kelahiran anak dengan baik bila sang anak lahir sementara dia ada dalam keterpaksaan?
Sudah menjadi untung dirinya tidak menggila.
"Katakan Hayan, apa kamu benar-benar mengharapkanku? Sejak awal kalian memandangku setelah tau aku pernah di sini, tapi apa ketika tak tahu? Perlakuan lain yang kudapat," kata Udelia kembali menurunkan intonasinya.
Hayan tergagap. Benar. Mereka, para pria yang mengatakan mencintai Udelia, telah melukainya begitu dalam.
Masih terbayang jelas siksaan demi siksaan yang mereka lakukan. Kendatipun Hayan tidak ikut menyiksa sang istri, membiarkan perilaku kejahatan juga merupakan sebuah kejahatan.
"Kalau aku benar-benar tak datang apa kalian bahkan akan melihatku? Nyatanya, aku dan Maharani tak memiliki hubungan apa pun."
"Malam itu ... jika bukan kau yang menjamah tubuhku, mungkin saja keluarga Ekadanta tidak akan mempertahankanku. Lalu aku benar-benar pergi, tak lagiberhubungan dengan kalian."
Udelia menarik napas panjang. Jika Ekadanta mengusirnya, kepahitan hidup pasti akan dia jalani. Menyusuri jalan tanpa kekuatan. Perut lapar tanpa bisa makan makanan nikmat. Haus mungkin saja hilang dengan air di sungai.
Jika itu terjadi, ia akan menjadi rakyat jelata yang sulit menemui Maharaja. Jangankan Maharaja, thani saja mungkin sulit dia temui jika tidak membuat janji.
Andai itu terjadi, akankah masih Hayan menemuinya? Akankah Djahan mengenalinya? Atau ... akankah Candra mempertahankannya jika dia dijelajahi oleh seorang pria dari kalangan bawah?
"Sadarlah. Khayal kalian tidak ada padaku."
Udelia berkata dnegan getir. Yang diinginkan orang-orang besar itu adalah murid petapa agung bukan Udelia yang tidak memiliki apa pun. Rupa, latar belakang, harta, tidak ada padanya.
Hayan mengelus pundak Udelia. Tatapannya mencurahkan kepercayaan pada sosok wanita di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu adalah guruku, maharaniku, istriku, pendamping hidupku. Awal, sekarang, dan kelak akan terus seperti itu," bisik Hayan lalu membimbing Udelia ke amben.
Mendudukan Udelia ke bangku lebar itu. Kemudian meletakkan kepalanya ke paha Udelia. Kepalanya bergerak mencari posisi yang nyaman
"Itu Idaline bukan Udelia," bantah Udelia. Jari jemarinya bergerak di atas kepala Hayan mengalirkan rasa nyaman agar Hayan tidakt erus bergerak di pahanya.
"Aku tidak berhubungan dengan Idaline setelah kamu menghilang," jelas Hayan dan langsung terpejam.
Hayan sama sekali tidak berselera dengan raga 'sempurna' itu. Berulang kali dia ditanya sang ibunda alasan dia tak mau mengunjungi Idaline, dia hanya bisa menjawab sedang sibuk dalam perluasan wilayah.
Hayan menempatkan Idaline tetap berada di keraton hanya agar wanita itu tidak membuat masalah di luaran sana, serta agar Hayan dapat menjadi yang pertama tahu kedatangan Udelia.
Udelia menatap keris di pinggang Hayan, lalu mendongak ke langit menikmati angin yang menerbangkan rambutnya.
Perkataan Hayan mengusiknya. Anak-anak, tentu saja Udelia menyayangi mereka dan memikirkan mereka.
Bagaimana bila mereka ditinggal, bagaimana bila berjauhan dengan mereka. Udelia tidak sanggup. Dia tidak sanggup untuk berjauhan dengan anak-anaknya.
Wajah Udelia memerah. Hayan bergerak membalik tubuhnya, hingga wajah pria itu menghadap ke tubuhnya. Hembusan napas panas Hayan membawa sensai geli pada bagian tubuhnya yang berhadapan langsung dengan wajah Hayan.
Sementara Hayan yang memejamkan mata tak merasakan gerakan Udelia yang mulai tak nyaman. Kantuk benar-benar menyerangnya. Dia tertidur di pangkuan Udelia.
Malam itu tidurnya pulas hingga pagi datang. Tidurnya amat pulas setelah lama tak kunjung merasakan malam yang damai.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
Mohon maaf bila ada kesalahan. Terima kasih sangat untuk kalian yang masih setia sampai di sini. Author cinta kalian. Lope lope terbang sekebon raya.
__ADS_1
UDELIA oo IDALINE oo DJAHAN oo HAYAN oo CANDRA oo INDRA oo FUSENA oo WIDYA oo GITARJA oo NETARJA oo MAYA oo RAMA oo RAKA oo