![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ [Bertemu dengan Dirimu]
034 - DIKELILINGI MAKHLUK- MAKHLUK ANEH
Hayan mengudara di atas langit tertinggi.
Orang- orang di dalam pesawat tidak akan pernah menyangka ada sosok yang terbang bersama mereka di satu jalur yang sama.
Menganggapnya seekor burung yang melintas.
Tidak untuk seorang pilot yang baru bangun dari tidurnya, menggeliat di dalam pesawat. Melihat- lihat langit cerah untuk membiaskan matanya.
Dia melihat sesosok manusia terbang di atas burung yang nampak aneh bentuknya.
Mengambil gambar dengan resolusi yang rendah walau jarak yang lumayan dekat.
Menyamai lesatan pesawat, makhluk apakah itu?
"Ternyata kamu di sini, sayang."
Baru Hayan membuka pintu, dia dibuat mematung dengan aliran darah di tengah pandangannya.
Sesosok anak manusia yang tak dikenalnya sedang memegang kapak.
Bukan. Bukan itu yang membuatnya mematung.
Tak jauh dari tempatnya, sosok yang sangat dia kenal, rivalnya berdiri dipeluk wanita yang dia rindukan.
Wanita yang dia cari dan dia ketemukan.
Candra Ekadanta. Bawahannya yang ketika baru dilantik menjadi Penyihir Agung, mendadak menghilang di tengah pusaran air suci Sela Wukir, yang membuatnya mengambil keputusan menjadikan adik tiri putrinya, sebagai sosok Penyihir Agung.
Sebuah gelar yang semestinya tidak diberikan pada dia yang tidak punya tata krama kesopanan dalam kebangsawanan. Relasinya bahkan tak ada.
Beberapa saat lalu, kala Hayan belum mendarat di depan pintu, Candra mengibaskan tangannya ke wajah Udelia yang terus mematung.
"Kamu pasti sudah dengar cerita dari Mahapatih, suamimu, atau tepatnya calon suamimu di dunia ini. Aku adalah suami ketigamu. Pria yang mempunyai dua anak darimu. Pria yang paling banyak mengabiskan waktu denganmu. Kamu tidak lupa kan?"
Candra memegang tangan Udelia. Memperhatikannya yang tidak menolak.
"Sekarang jangan menghilang lagi. Dan jangan campakkan aku."
"Kamu suamiku?" tanya Udelia masih di antara sadar dan tidak.
Pria itu ... dia mengingatnya.
Pria yang berada di pantai.
Pria yang berubah dari buaya menjadi manusia lalu menjadi buaya lagi.
Pria yang sempat mendekapnya erat.
Sebelum dia jatuh dan hilang kesadaran.
"Iya, sayang. Kamu dan aku menghabiskan hari menjadi suami istri dengan tenang, selama bertahun- tahun lamanya. Sebelum diganggu oleh suami- suamimu."
"Suami- suami? Bagaimana bisa aku tidak adil, jika benar ada banyak suami?"
Udelia entah mengapa bertanya seperti itu.
Jika dipikir dalam pemikiran modern yang menerapkan monogami secara buta, ngeri sendiri memikirkan punya banyak suami.
Kalau melayani eh dilayani mereka semua dalam satu malam, bagaimana jadinya?
"Kamu akan menerima semua suamimu? Tidak memilih satu di antaranya?"
"Kenapa harus satu jika bisa semua?"
"Pfft."
Tawa Candra menyembur mendengar pernyataan istrinya.
Cukup serakah ternyata sang istri.
__ADS_1
Udelia menaikkan alisnya dengan jengkel.
Kalau mendengar nada suara Djahan yang melarangnya dengan keras, melihat bagaimana pria di depannya menyerukan tentang kebersamaan mereka di awal perjumpaan,
sungguh dapat dilihat betapa intensnya perang di antara mereka dalam memperebutkan dirinya.
Berapa banyak perang terjadi karena wanita?
Udelia tidak mau memulainya.
Belum apa- apa, sang calon suami sudah cemburu dengan pria asing di jalanan.
Dia yakin, pasti ada perang besar, bila suami- suaminya sekeras kepala ini.
Jadi, kenapa tidak dia terima saja semuanya?
"Pasti akan ada yang menangis mendengar hal ini." Lagi, Candra tertawa.
"Kalau kamu benar suamiku, bisakah biarkan istrimu ini bahagia? Kurasa di zaman ini, cukup Djahan seorang."
Udelia tidak cukup gila untuk bertahan dengan banyak suami di era modern.
Era yang membuat semua orang berpikir harus melaksanakan monogami.
Jika tidak, akan dianggap aneh dan menyimpang.
Seolah lupa, nenek moyang mereka melaksanakan poligami, pun poliandri.
Dan mereka melahirkan peradaban emas yang tak perlu bergantung pada bangsa lain.
Apalagi dikendalikan.
Dimakan alamnya, digantikan serupa uang yang terus berkurang.
"Sebelum menjadi istriku, kamu adalah kakakku yang membanggakan. Tak peduli bagaimana pun orang berucap, kamu percaya dengan dirimu. Keyakinanmu sangat dalam. Kenapa harus memikirkan mereka?"
Candra berkata dengan mengintimidasi.
Dia ingin sekali menjadikan Udelia hanya untuknya seorang.
Dia pun ingin sebuah hubungan yang nyata.
Punggung Udelia menabrak tembok. Disudutkan.
Belum sempat melakukan apa pun, sebuah balok bersiku tajam menghantam kepala Candra dengan keras.
Darah seketika memenuhi lantai ruangan.
Udelia menatap horor adiknya, Lamont berdiri dengan wajah datar.
Sekali lagi dia hendak menyentak sosok yang berdiri di depan mbakyunya, sang kakak mengangkat tangannya dengan sorot mata yang tajam.
Memperingatinya untuk tidak berbuat lebih.
Dengan kekhawatiran yang kentara, Udelia mendekap tubuh yang terhuyung padanya.
Gelagapan tangannya berusaha menutupi lubang yang muncul.
Hantaman adiknya benar- benar sangat keras.
"Mbak, kenapa kamu memeluk hewan buas itu? Dia akan menggeliat dan menyerangmu. Lepaskanlah!"
Suara adiknya menyadarkan Udelia.
Dia ingat pria ini adalah jelmaan dari buaya raksasa yang terkenal.
Seketika Udelia melihatnya.
Tiada yang berubah. Tetap manusia dengan rupa bak dewa yang diceritakan para tetua.
Tampan berkharisma. Tidak lembek dan tidak garang.
Membuat setiap yang punya mata, senang memandangi wajah rupawan itu.
__ADS_1
"Maharaniku, kenapa kamu memeluk pria ini!?"
Seorang pria tampan lain datang merasuk rumahnya. Membuat keributan.
Melantunkan sumpah serapah dengan bahasa aneh, yang entah mengapa dimengertinya.
Melepas paksa raga dalam dekapannya dan membuat sekitar rumahnya hancur.
Tubuh yang tak sadarkan diri itu teronggok di lantai, bersama simbahan darahnya.
Kekejaman ini membuatnya memucat.
Udelia mundur dengan teratur.
Tapi dia kembali menarik langkahnya kala orang itu berbalik menuju adiknya.
"LAMOOONT!!!"
"Ya? Mbak? Duh kenapa berteriak- teriak? Itu tubuhnya diletakkan dulu! Ngeri amat peluk- peluk buaya. Mana lebih gede dari tubuh mbak!"
Cerocosan adiknya menyadarkannya, jika kekejian yang tadi dia alami hanyalah sebuah khayal.
Udelia menolak Lamont yang hendak membantunya.
"Kalau kamu mau membuangnya, Mbak tidak akan biarkan kamu membantu!"
"Tapi kenapa mbak? Ini hewan buas. Meski kita mengurusnya, dia tetap punya kata buas dalam namanya. Pasti menyerang di satu waktu!"
"Letakkan di kamar Mbak."
"Tapi, mbak."
"Letakkan!"
"Baik."
Lamont membawa tubuh yang amat berat itu bersama kakaknya. Sedang kakinya menggeser- geser terus balok kayu yang tadi telah melumpuhkan binatang buas itu.
Sedikit menyeret raga sang buaya. Ekor panjangnya masih tergerai di lantai, menyapu darah merah yang bersimbah.
Naik ke atas seprai bernuansa hijau alam. Membasahinya dengan darah.
Udelia dengan telaten menyekanya, selayaknya manusia.
Lamont dibuat bingung melihatnya.
Dia masih mewanti- wanti dengan menghubungi kakak laki- lakinya.
Ingin mengambil senjata yang lebih ampuh, dia tidak percaya kakaknya tinggal bersama si buaya.
Suara ketukan pintu memberikan cercah kesempatan.
Lamont berlari ketakutan ketika Udelia berjalan santai menuju ruang tamu.
Bagaimanapun, itu buaya besar!
Panjang tubuhnya bahkan melebihi orang paling tinggi di desanya.
Lamont tidak mau ambil risiko.
Sesosok rupa manusia muncul di balik pintu. Dengan wajah memucat dan pakaian biru yang sebagiannya bersimbah darah.
Lamont terjingkat kaget.
Ada apa dengan hidup kakaknya?
Dikelilingi makhluk- makhluk aneh.
Jangan- jangan yang di kamar bukan buaya?!
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]