TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
025


__ADS_3

Kelimutu hampir dicabut, karena ucapan keluarga Tendu. Raja Ende telah berkerabat dengan Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja. Maharaja mengambil putrinya sebagai selir, membatu kita dan menjadikan keamanan kita sebagai salah satu syarat. Kembalilah, surat perjanjian damai telah kita dapatkan.


Lowo menatap Balaputra yang datang ke tempat mereka. Pria itu menemui mereka melalui kayu milik kepala suku, yang bisa mencari orang yang dikenal oleh kepala suku.


"Surat dan kayu ini memang milik kepala suku, namun siapa Anda?" Lowo menatap curiga Balaputra.


"Saya adalah Balaputra, putra wiyasa Palembang dengan adik perempuan satu-satunya raja Ende. Saya ada urusan di ibu kota dan kepala suku Kelimutu menitipkan surat."


Lowo dan anak buahnya seketika percaya ucapan Balaputra. Adik perempuan raja Ende sudah lama kabur bersama kekasihnya—Wiyasa Palembang.


Ende dan Palembang tidak bermusuhan. Hanya saja, raja Ende tidak mau berpisah dengan adik kesayangannya. Ende dan Palembang, sangat jauh jaraknya.


Segala cara dilakukan raja Ende untuk menghalangi keduanya.


Sayangnya, sang adik melakukan hal nista dengan Wiyasa. Berbuat dosa adalah hal yang paling dibenci raja Ende.


Dia mengusir dengan dingin adiknya dan mencoret nama adiknya dengan tangannya sendiri.


"Aku tidak punya seorang adik! Saudaraku hanya ada kakak seorang!" ucap raja Ende kala itu pada semua orang yang hadir. Termasuk Lowo yang mendampingi kakaknya, kepala suku Kelimutu.


Setelah itu, adik perempuan raja Ende pun terlupakan. Generasi baru, tiada yang tahu.


"Sebelumnya saya ingin mengambil adik saya yang ikut bersama ibunda. Kala ibunda berpisah dengan ayahanda. Ternyata keduanya telah wafat."


Balaputra menghembuskan napas kasar. Pamannya memang mencoret nama ibunya, tapi pamannya tetap menerima ibu dan adiknya, setelah berpisah dengan ayahnya.


Pamannya tidak dapat menarik perkataannya. Dia memberikan adik kesayangannya, segala yang dibutuhkannya.


Tapi ketika keduanya wafat, mereka hanya dapat dikuburkan dengan gelar rakyat jelata.


Berita kematian keduanya tidak tersiar. Ayah dari Balaputra menyesali perpisahan itu, ingin sekali dia memperbaiki semuanya.


"Kami turut berduka. Dan terima kasih sudah mengirim pesan. Tapi kami tidak bisa kembali sekarang, ada orang yang sedang menunggu."


"Jika ditunda, perjalanan kalian akan semakin lama. Kepala suku meminta untuk pulang sekarang. Ritual sebentar lagi diadakan, begitu kata beliau."


Lowo memikirkan dalam-dalam perkataan Balaputra. Sebentar lagi ritual persembahan untuk Kelimutu sudah dimulai.


Berada di Bhumi Maja pun tidak ada tujuan.


Lowo adalah keluarga kepala suku. Semua orang di keluarga kepala suku, mempunyai tugas yang sangat penting.


Lowo tidak bisa mengabaikan tugasnya.


"Mano, gambarlah dewi."


"Baik, ketua."


Mondho meletakkan buah yang dipetiknya dan air yang diambil dari sungai. Dia menghidangkan makanan untuk tamu yang tiba-tiba datang itu.


"Tuan Balaputra, silakan nikmati dulu hidangannya. Saya akan bersiap sekarang, namun ingin meminta bantuan."


Lowo tidak akan melupakan bantuan sang dewi. Perjanjian damai mungkin tidak didapatkan dari tangan dewi, namun perempuan itu telah berkorban sangat banyak.


Lowo tidak akan meninggalkan Udelia begitu saja. Dia mengambil kertas dan tinta di tas, menuliskan beberapa kata.


"Jika masih ada kesempatan. Kebetulan saya menunggu panggilan."


"Semoga Anda bisa memberikannya," sahut Lowo fokus merangkai kata.

__ADS_1


Balaputra memperhatikannya. Pria ini tidak menulis kata-kata romantis, tapi wajahnya memerah nampak seperti sedang kasmaran.


Mano yang paling ahli menggambar di antara mereka, menyelesaikan lukisannya dalam sekejap.


Lowo menerima kertas yang disodorkan Mano, kemudian dia memberikan surat dan lukisan itu pada Balaputra.


"Ini adalah wajahnya."


"Waaah."


"Anda mengenalnya?"


"Dia adalah orang yang menonjol. Surat ini akan saya berikan."


"Terima kasih," ucap Lowo tulus. Lantas dia berdiri diikuti semua orang.


Mereka semua sudah bersiap dengan barang-barang yang mereka bawa.


"Kami pamit."


***


Balaputra memandang lukisan Udelia. Mano tidak terlalu terampil. Ada banyak sisi kurang dari lukisan itu.


Balaputra sangat memahaminya. Dia pecinta seni.


Anehnya, dia merasa lukisan itu sangat indah dan menawan.


"Apalagi kalau yang aslinya," gumam Balaputra tersenyum lebar.


Dari pintu masuk gua, pelayan Balaputra masuk dengan tergopoh-gopoh. Dia membawa pesan yang menyentil jiwa.


"Tuan! Tuan besar telah wafat!"


"Semuanya bingung karena Anda tidak ada di tempat. Jika seperti ini, sepupu Anda akan naik sebagai kepala keluarga bahkan mungkin sebagai Wiyasa."


"Kita kembali sekarang!" seru Balaputra geram. Tanpa sadar meremas kertas di tangannya.


Balaputra memandangi kertas itu, lalu membukanya. Sepupunya sangat kejam, dia tidak boleh terlambat untuk mengambil gelar Wiyasa.


Gelarnya sangat penting. Perempuan di lukisan itu pun penting.


Pengejaran yang dilakukan para ksatria Bhumi Maja pada wanitanya, pertanda suatu yang tak baik.


Balaputra harus menyelamatkan wanitanya terlebih dahulu.


"Kamu bersiaplah. Pergi cari perbekalan. Ada hal yang ingin kulakukan."


"Baik, tuan."


Balaputra mengeluarkan kain dari tasnya. Dia meletakkannya ke atas tanah, kemudian menggambar bulatan sempurna di sekitarnya.


Di keempat sisi yang simetris, buah tembesu merah tergeletak.


Balaputra melakukan ritual pemanggilan.


Satu malam berlalu, tidak ada tanda-tanda yang muncul dari ritual yang dilakukan Balaputra.


Balaputra berulang kali mencoba ritual itu. Dia menyudahinya ketika pelayannya datang, membawa kabar tak mengenakan.

__ADS_1


"Tuan, kapal terakhir akan berangkat. Kalau tidak bergegas, tidak akan ada kapal sampai waktu yang belum ditentukan. Ibu kota akan ditutup selama itu."


"Apa karena bukan di tanah sendiri?" gumam Balaputra memegang kain, yang terdapat darah kering di berbagai sisinya.


Balaputra berharap perempuan itu selamat dari ksatria-ksatria Bhumi Maja.


"Semoga diperjumpakan."


Balaputra meletakkan surat Lowo di dekat lingkaran. Dia pergi membawa lukisan Mano.


Seberkas cahaya muncul dari darah, yang mengering di atas lingkaran.


Udelia tergeletak di sana, tak sadarkan diri. Darahnya terus mengalir di sela-sela perban, yang dipasangkan Widya.


***


Seekor harimau putih besar menghentikan langkahnya. Dia berubah bentuk menjadi manusia. Tangannya bergerak menjatuhkan orang yang bersembunyi di dahan pohon.


"Berhentilah atau kita bertarung di sini."


"Aku penasaran kamu akan pergi ke mana," ucap Candra sembari mengusap tanah di tubuhnya.


Candra terkesiap. Harimau yang dikejarnya sudah tak nampak.


Harimau itu telah sampai. Dia memandang sedih tubuh Udelia.


Kekuatannya berkurang drastis saat menembus pertahanan istana dan penjara, menidurkan para penjaga, dan menahan burung bidadari yang kuat.


"Kukirimkan kekuatan saja," putus Jana.


"Dia akan mati kalau kamu diam saja," lontar Candra pada harimau, yang sedang meletakkan bantalan kakinya ke dada Udelia.


Harimau putih besar menatap Candra. Kekuatannya sangat besar. Dia membungkukkan badannya meminta pertolongan.


Ibunya berulang kali bercerita, majikannya telah menolong Jana di waktu kecil. Saat itu, Jana keracunan dan hampir tak tertolong.


Walau tidak terlalu ingat, samar-samar Jana mengingat beberapa kejadian yang disebutkan ibunya.


Candra mengangguk. Dia menaiki harimau itu bersama Udelia.


Dia menatap sedih Udelia. Dengan gemetar dia menyentuh luka-luka di raga sepucat mayat itu.


"Maaf," sesal Candra. Dipeluknya tubuh Udelia sambil menitikan air mata.


***


Harimau putih berhenti di sebuah gubuk, yang terlihat seperti akan tumbang, jika ditiup sedikit angin saja.


Akan tetapi, suasana sekitarnya bersih dan asri. Tidak ada pagar pembatas, seolah memiliki keyakinan yang besar, tidak akan diserang binatang buas.


"Mbah, aku datang!" seru Candra turun menggendong Udelia.


"Oh, cucuku berkunjung." Boco Ekadanta membukakan pintu untuk cucu kesayangannya.


"Tolong selamatkan dia!" Candra membaringkan Udelia di atas ranjang.


"Kukira cucuku kangen," keluh Boco sambil memeriksa denyut nadi Udelia.


Boco kesal karena rasa rindunya tak berbalas. Tapi pria berambut putih itu tetap mengobati perempuan yang dibawa cucunya.

__ADS_1


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2