TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
015


__ADS_3

Pohon-pohon yang tinggi menjulang, memenuhi sisi kanan dan kiri jalan yang dilalui Udelia dan Maya.


Mereka berjalan dengan lenggang menuju kediaman para menteri.


Rakyat jelata masih diperbolehkan masuk ke wilayah kediaman para menteri, asalkan tidak mendekati tembok keraton.


Pengawal gapura tetap menatap curiga, kereta kuda tua yang berhenti di depan mereka.


Jika ada rakyat jelata yang hendak berurusan dengan tuan mereka, orang-organ berkasta rendah itu harus melewati gerbang timur—yang terdapat sebuah bangunan kerja para pegawai.


Rakyat jelata diharuskan melapor ke sana, untuk dipilah dan dipilih antara masalah yang perlu ditangani tuan mereka dan yang tidak perlu.


Bukannya datang ke gerbang utama, bak seorang tamu yang penting.


Dari kereta yang kasar dan sedikit reyot, turun seorang perempuan yang wajahnya biasa-biasa saja.


Perempuan itu mengulurkan tangannya, membantu perempuan lain yang lebih berisi dan lebih pendek, untuk turun dari kereta kuda.


Perempuan bertubuh gendut itu memakai kain penutup wajah, semakin membuat orang lain curiga.


Mata Udelia berbinar takjub. Taman seribu warna yang dirancangnya, masih dirawat dengan baik.


Bahkan kursi kayu—tempat bersejarah bagi dirinya dan suaminya, masih berdiri kokoh di tengah taman.


Dua pengawal penjaga gapura, memutar bola matanya jengah. Perempuan jelata di depan mereka, melihat taman saja sudah berbinar matanya.


Mereka yakin, jika masuk dan melihat indahnya interior ruangan, orang-orang ini akan menggila.


Atau bahkan yang lebih parah, akan mengutil hiasan-hiasan yang menempel di dinding.


"Ada apa?" ketus pengawal.


"Sampaikan pada Mahapatih, yang ditunggu sudah datang," kata Udelia tenang.


Saat ini dia bukan siapa-siapa, jadi tidak aneh apabila dia dicurigai. Dia tidak memasukkan ke dalam hati, ucapan ketus dua pengawal itu.


Udelia tidak melihat wajah jengah para pengawal, dia masih sibuk memperhatikan halaman-halaman lain dari sudut pandangnya.


Semuanya tidak ada yang berubah. Bahkan pohon mangga kesukaannya, masih berdiri tegak di samping aula.


Udelia sangat senang. Jika dapat melihat suaminya saat ini juga, dia akan memberikan kecupan mesra.


"Kami sudah mendengarnya ribuan kali!" sahut malas pengawal yang satunya.


"Kalian akan menyesal–"


"Kalau tidak melaporkan," potong pengawal. "Kalian berdua adalah gadis muda yang memiliki masa depan yang cerah. Pergilah sebelum kami gerah."


"Ya, benar. Pergilah!"


Udelia menatap siluet orang—yang berjalan jauh di belakang para pengawal. Lalu dia berbicara sambil menekan aura di sekitar, agar terdengar dari jarak yang cukup jauh tanpa perlu berteriak-teriak.

__ADS_1


"Katakan padanya, Udelia telah datang tapi ditolak dua pengawal yang sangat cerdas ini!" Udelia berkata sambil menahan geram.


Dua pengawal itu berjingkat kaget. Ini adalah kekuatan tingkat tinggi!


Seketika mereka merinding dan gemetar, merasa telah menyinggung tamu yang benar-benar penting.


Kekesalan tampak di wajah Udelia. Dia berbalik dan membawa Maya pergi, dari kediaman suami pertamanya.


"Ayo, sayang!" seru Udelia.


Papat, salah satu dari lima orang yang diangkat murid oleh Mahapatih, memperhatikan dari jauh semua pertengkaran itu.


Dia juga sama kagetnya, seperti dua pengawal gapura. Orang yang hanya bermodalkan kekuatan, akan sulit menggunakan kemampuan ini.


Di Bhumi Maja, orang yang memiliki kemampuan menekan suara, dapat dihitung oleh jari.


Orang-orang itu mampu menekan suara, hingga terdengar dari kejauhan.


Yang mampu melakukannya, semestinya adalah orang yang benar-benar tinggi keilmuannya, wawasannya, juga derajatnya.


Sebab yang mengajarkannya ialah Petapa Agung.


"Ibunda, kita tidak menerobos saja?" tanya Maya mengaitkan tangannya di lengan Udelia. Dia bergelayut manja pada ibunya.


"Tidak," jawab Udelia sembari menggerakkan jari telunjuknya.


Maya menatap sedih tangan pucat Udelia. Kulit telapak tangan yang tebal berubah mengerut dan tidak kembali mulus setelah beberapa hari berlalu.


"Ibunda.." Maya berkata lirih.


"Jika ibunda harus kembali, kembalilah. Ananda akan menunggu dengan santai!" Maya memberikan senyum terbaiknya.


Dia sadar, dia tidak seharusnya egois hanya untuk memenuhi keinginan hatinya, agar terus bersama ibunya, sedangkan kondisi ibunya tidak memungkinkan.


"Putriku memang pengertian!" Udelia memeluk erat Maya dan mengecup pucuk kepala Maya berulang kali.


Dia ingin mengatakan dirinya baik-baik saja dan menemani putrinya lebih lama. Tapi putrinya yang cerdas, pasti tidak akan bisa dibohongi.


Mereka berpelukan dengan erat dan tanpa mereka sadari, air mata mereka meluncur deras.


Udelia mengurai pelukan dan mereka saling melempar senyum yang hangat.


Ragu-ragu Udelia mengambil kandang burung, yang tersimpan di belakang kereta kuda.


Setelah burung ini terbang, entah berapa lama lagi dia akan bertemu putrinya.


"Ananda saja."


Maya berjongkok meletakkan tasnya dan mengambil burung dara dari kandangnya, lalu menerbangkan burung itu dengan secarik kertas yang sebelumnya ditulis Lowo.


Kemudian Udelia dan Maya menunggu di hutan keraton yang luas. Kusir kuda yang membawa mereka telah pulang, tidak ingin terlibat lebih dalam.

__ADS_1


Udelia mengelus lembut rambut Maya yang berbaring di pahanya, menjawab setiap pertanyaan Maya tentang dirinya.


Maya memperhatikan wajah Udelia tanpa berkedip. Dia ingin merekam wajah dan ekspresi ibunya, abadi dalam memorinya.


"Sudah datang!" ucap Udelia merasakan sekelompok besar orang dan hewan menuju tempat mereka menunggu.


Sekali lagi Udelia memeluk erat Maya, mencium dahinya, dan mengecup seluruh wajahnya tanpa terlewat.


"Berbahagialah selalu, putriku. Tetaplah maju, namun jangan memaksakan diri. Cintai dirimu sebelum mencintai orang lain."


Maya merasakan kosong dalam hatinya, begitu Udelia loncat ke atas pohon. Dia memegang dadanya menguatkan diri.


"Ibunda mungkin tak bisa terlalu lama," gumam Maya lirih tak terdengar.


Maya menarik kesimpulan, orang seperti ibunya—yang datang dari dunia lain, tidak akan dapat tinggal saat datang menggunakan tubuh aslinya.


"Ibunda sehatlah selalu!" Maya memandang Udelia di pohon, bibir dan kulit pucat Udelia terngiang-ngiang di kepala Maya.


Maya tidak mau ibunya sakit hanya untuk menemuinya. Maya berharap dia dapat menjadi kuat dan bisa bertemu ibunya dengan cara yang tidak menyakiti ibunya.


Dia harus cepat-cepat belajar dan mengetahui segala hal tentang dunia lain!


"Tuan putri!" teriak Indra datang memimpin pasukan besar.


Dia memimpin pasukan dengan kereta kuda di tengah, berlapis pasukan kuda di depan dan tiga lapis pasukan yang berjalan kaki di paling belakang.


Sekelompok dayang dan tabib memeriksa Maya dengan seksama. Lalu mereka membawa Maya masuk ke kereta paling besar dan nyaman.


Indra mengikat kertas perjanjian di pohon yang tertera dalam catatan.


Dia tidak menyangka pertahanan mereka sedemikian lemahnya, sampai-sampai hutan keraton yang aman, dapat diketahui seluk-beluknya oleh musuh dari tempat yang jauh.


Indra mengangkat tangannya dan mereka berangkat, kembali ke keraton.


Udelia menatap sedih kepergian putrinya.


Putri yang dilahirkannya. Putri yang dia rindukan walau tak ingat. Putri yang akan dia cintai selamanya. Satu bulan tidaklah cukup untuk memusnahkan rindu di hati.


Udelia menghapus titik air yang kembali jatuh. Lantas dia mengambil kain persegi, mengeluarkan batuk yang tak lagi mampu dia tahan.


Udelia meringis melihat darah keluar bersama batuknya. Sakit yang dia derita bukanlah penyakit yang main-main.


Tanpa membuang waktu, Udelia menuruni pohon, mengambil kertas perjanjian damai.


Saat ikat terakhir hampir terlepas, tengkuk Udelia dipukul. Tubuhnya yang lemah tidak lagi waspada.


Dari netranya yang hampir terpejam, Udelia menyaksikan orang yang memukulnya dengan keras adalah adik angkat kesayangannya—Candra.


"Masukkan ke kandang," perintah Candra pada lima bawahan yang datang bersamanya untuk menangkap si penculik.


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2