![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
017 - ANDA HINA SEKALI
Udelia menyerah. Jiwa relawannya tak sanggup berlama- lama berlaku kasar pada pasien.
Dia menurunkan tangannya yang bergerak kasar. Lantas membantu Djahan untuk berbaring setelah memastikannya tidak lagi mimisan.
Tangan Udelia bergerilya. Mmeberikan pijitan- pijitan lembut sembari menunggu dokter setempat.
Djahan menahan napasnya. Sentuhan Udelia sangat lembut baginya. Pijatan- pijatan pada tubuhnya membawa sensasi meledak pada sebagian tubuhnya.
Andai tak dalam kondisi asing seperti sekarang, Djahan tak akan sungkan untuk mendesah.
Dia menahannya.
Menahan untuk tidak melakukan hal gila tersebut.
Seorang dokter kenamaan temat wisata itu langsung mendatangi Djahan dan memeriksanya.
Udelia ikut mengurus Djahan dengan baik. Dia bahkan menyuapi Djahan dan membantunya meminum obat yang terdiri dari tujuh jenis. Sangat banyak.
Pada dasarnya hati Udelia memang sebaik itu. Tidak bisa melihat pasiennya kesakitan dan kesusahan.
Udelia menepis bagian hatinya yang tak suka sifat caper Djahan. Ada sakit yang harus sembuh.
Udelia mengurus Djahan dengan telaten.
Fusena tidak menyadari hal ini. Dia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Tentang Udelia yang tidak akan lagi mencintai Djahan yang serampangan.
Lebih dari tiga bulan bekerja sebagai kepala kafe, membuat Fusena terus memikirkan event- event ramai setiap pekannya.
Dia sibuk bekerja hingga larut malam.
Saat keluar dari kamar hendak mengambil minuman, alis Fusena menekuk tajam.
Sepasang matanya mendapati Udelia keluar dari kamar Djahan.
"Mbakyu?" panggil Fusena.
"Sena? Belum tidur?" sapa Udelia.
"Mbakyu ngapain di dalam sana?" Fusena balik bertanya.
"Aku menemani Djahan. Kasihan dia terus sakit kepala. Ternyata sakitnya benar- benar parah."
Fusena seharusnya tahu itu. Udelia tidak bisa abai terhadap sakitnya orang.
Dia membawa Udelia ke dapur. Mendudukannya di kursi dapur.
"Ada apa, Sena?" tanya Udelia bingung.
"Mbak tunggu dulu. Ini minum teh hangat. Pasti capek kan ngurus pasien?"
Udelia mengulum senyum. Fusena selalu saja tidak dapat melihatnya kelelahan. Sudah seperti menjadi kebiasaannya untuk selalu memperhatikannya.
Fusena menyalakan api, menuang minyak dan memasukkan berbagai jenis bumbu yang diakhiri nasi dan juga tambahan kecap.
Aroma sedap menyisir sekitar.
Perut Udelia jadi keroncongan.
Fusena memberikan sepiring nasi goreng buatannya untuk Udelia.
__ADS_1
"Tangan mbak pasti lelah, sini kusuap saja."
Fusena tak pernah melupakannya. Tiap kali menghadapi pasien, Udelia akan memijat tubuh mereka agar lebih rileks.
Sialnya sekarang yang diurus adalah Djahan, si Mahapatih yang tergila- gila akan Udelia.
Udelia membuka mulutnya, menerima suapan Fusena. Lahap mulutnya menghabiskan isian piring di atas meja.
Djahan tak sengaja melihat itu. Wanitanya begitu intim dengan pria lain, bahkan membiarkan pria lain mengusap sudut bibirnya.
Kedekatan keduanya tidak wajar!
Wajah Djahan merah padam mendekati dua insan tersebut. Langkahnya terjeda, teringat hubungannya dengan Udelia yang baru membaik.
Djahan memilih masuk kembali ke kamar. Meletakkan kembali kotak kuno ke dalam koper barangnya.
Prinsip Udelia memang tak pernah mau menikahi sepupunya. Namun kedekatan mereka di luar ambang batas persepupuan.
Udelia tak pernah sadar akan rasanya pada Fusena karena batas yang dibangunnya.
Jika suatu saat sadar, akankah Udelia memilihnya yang hanya menemani dia dalam waktu sedikit?
Berbeda dengan Petapa Agung. Bertahun- tahun, baik di dunia sana ataupun di dunia modern, pria besar itu membersamai Udelia.
Walau Udelia tetap memilihnya daripada Maharaja, tetap saja tak dapat dibandingkan dengan Petapa Agung.
Kini, pria itu bahkan membuat bisnis yang memajukan keluarganya.
Sikapnya yang manis namun tidak berlebihan, Udelia nyaman padanya.
"Haruskah aku kehilangan atau haruskah aku berbagi?" gumam Djahan.
Jiwa kelakiannya menolak untuk membagi istri, belahan jiwanya. Tapi logikanya menolak.
Mereka orang berkuasa dan beruang, tapi Petapa Agung memiliki kekuatan di luar batas manusia.
Tidak akan ada manusia biasa yang dapat bertahan dari sapuan tangannya.
Hanya menggunakan kibasan tangan, Djahan mungkin dikembalikan ke dunianya.
Dunia tanpa Udelia.
Suro dan Boyo, jangan dibandingkan dengannya. Para pendahulunya sangat kuat. Dan keduanya mampu dikeluarkan Petapa Agung tanpa kesusahan.
Djahan tidak memutuskan, dia hanya tidak menyangkal kerelaan Petapa Agung yang mau berbagi tentang wanitanya.
Poliandri, hukum itu tidak terlarang.
Terlebih sekarang, sangat mudah mencari tahu benih siapa yang berkembang pada istri mereka.
Udelia merenggangkan tubuh bersamaan dengan kantuknya. Tiada rasa malu melakukan hal demikian di depan Fusena.
Dia bisa melakukan segalanya karena Fusena tidak menanggapi dengan berlebihdan dan dia merasa nyaman.
"Aku balik ke kamar," pamit Udelia.
"Boleh aku ke kamar mbak? Mau bahas tentang kafe. Buat pekan depan kita belum siapin event baru."
"Baiklah."
Djahan memutuskan untuk bicara dari hati ke hati. Mencari tahu isi hati Udelia, adakah Fusena menetap di dalamnya.
Lagi dan lagi, Djahan harus menghentikan langkahnya di ujung jalan.
__ADS_1
Matanya melihat sendiri Udelia dan Fusena memasuki kamar.
Udelia dan Fusena satu kamar.
Wanita dan pria berada dalam satu kamar.
Siapa yang dapat berpikiran baik?
Djahan memberanikan diri mendekati kamar. Dia tidak mau Udelia hanya berduaan dengan pria lain.
Dari cela pintu dan lubang ventilasi, lampu kamar yang menyala berubah menggelap.
Dua pasang manusia itu mematikan lampu di dalam kamar.
Mereka mencari apa di dalam kegelapan?
"Apa kamu mendapat kehangatan dari pria lain lagi, sayang?" lirih Djahan dengan getir.
Udelia menaikkan alisnya. Bingung dengan Fusena yang tiba- tiba mematikan lampu kamar.
Pria itu mendekat ke meja rias. Menyalakan lampu dan mulai menggelar lembaran rencananya.
Udelia tidak banyak berkata, dia sangat mempercayai Fusena.
"Seperti cahaya indah di kamar ini, apa kita buat event malam saja mbak? Karena di desa, malam jarang ada aktivitas, tapi sebentar lagi ada festival budaya. Sambil mempersiapkan, bagaimana kalau kafe kita buka di malam hari dan membuat nuansa yang nyaman seperti ini?"
"Bagus pemikiranmu. Aku juga inginnya malam- malam buka supaya banyak orang semangat mempersiapkan festival. Kalau ada tempat ngumpul, anak muda yang tidak suka festival pasti akan berkumpul sekadar meramaikan suasana."
"Bener, mbak."
Udelia dengan lurus menyahuti segala ide Fusena. Tidak memikirkan berbahayanya berdua- duaan di dalam kamar.
Dia tidak menyadari adanya suara tertahan, yang amat dekat dengannya.
Dia pun tidak menyadari adanya tangis tak bersuara, yang berada di luar kamarnya.
Fusena dan Udelia berdiskusi dengan serius sampai malam menyapa dan Udelia jatuh tertidur.
Fusena membaringkan Udelia ke atas kasur.
Dia tidak mengambil kesempatan. Hanya memandangi mbaknya yang tidur terlelap.
Ada martabat yang harus dijaga.
Tak boleh dia melanggar batas yang ada.
Ketika keluar dari kamar Udelia, Djahan menyambutnya dengan wajah memerah.
Pria itu menahan segala amarah.
"Jadi, kamu sudah memutuskan?"
"Anda hina sekali."
Fusena tertawa keras. Dia sampai menitikan air mata karena pujian Djahan.
"Apa kamu berpikir aku melakukan yang kamu lakukan?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]
__ADS_1