![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Tong. Tong. Tong.
"Ada serangan!"
Teriakan dan huru hara terjadi di Wanua Mejeng. Malam yang harusnya hening berubah ramai oleh teriakan orang dewasa dan tangisan anak-anak. Semua orang sibuk berlarian di jalanan.
Udelia terbangun oleh kebisingan. Dia bangun dan mengumpulkan nyawa sembari mengumpulkan informasi dari suara berisik di luar rumah.
"Bangun! Cepat pergi!"
Dor. Dor. Dor.
Suara gedoran pintu rumah Udelia terdengar. Suaranya sangat keras, mengalahkan bising yang berangsur-angsur menjauh.
"Bangun!!" teriak seseorang setelah berulang kali menggedor pintu dengan keras. Dia melihat ada kehidupan di rumah itu. Dia bertanggung jawab atas keselamatan satu sama lain.
"Iya ...!" sahut Udelia.
Gelagapan Udelia membawa Raka dan Rama. Dia belum sembuh betul dari luka kemarin. Udelia menyusuri rumah mencari keberadaan suaminya.
Perempuan itu menggertakkan giginya, tak menemukan Candra di setiap sudut rumah. Dia kembali ke kamar. Putranya, Rama, sudah bangun dari tidur ayam. Pengumuman penyerangan terjadi sebelum malam beranjak, ketika Rama baru saja tertidur.
"Nak, naik ke punggung ibu," perintah Udelia.
Rama menolak untuk naik ke gendongan ibunya. Rama tidak mau ibunya kembali sakit. Rama berniat jalan sendiri.
"Ndak mau," tolak Rama.
"Nak...!!" Udelia menekan suaranya menyuruh Rama untuk tidak membuat masalah.
Rama tidak jadi membantah ibunya. Dia naik ke punggung ibunya.
Udelia dan anak-anaknya menyusuri jalan yang sudah sepi. Harap-harap cemas semoga dirinya dilindungi sebagai warga sipil. Udelia memikirkan dua putranya.
"Bawa wanita dan anak-anak ke tempat perlindungan!" perintah thani, kepala wanua.
Udelia bernapas lega. Suara thani sudah dekat dengannya. Udelia langsung bergabung dengan kumpulan ibu-ibu dan anak-anak.
"Pangeran Niskala, Anda sudah diberi kehidupan oleh Nyi Ratu, setelah besar malah membawa petaka?!" cecar thani yang masih ditangkap oleh indra pendengaran Udelia.
Sekelompok penyerang sudah berada di dekat mereka. Langkah warga wanua lambat, sementara para penyerang itu menggunakan kuda-kuda terlatih.
__ADS_1
"Luka ini masih basah," tutur Niskala dari atas kudanya.
Niskala adalah pangeran Kerajaan Sunda, sepupu Sri Sudewi yang juga adalah musuhnya karena ayah Niskala merebut sebagian Kerajaan Sunda Galuh dari ayah Sri Sudewi, menjadikan ayah Sri Sudewi hanya mewarisi wilayah Kerajaan Galuh.
Lalu oleh Sri Sudewi, keduanya kembali disatukan dan dipimpin kakaknya pangeran yang dicacatkan oleh ayah Niskala, Sri Sudewa.
Semua itu tak luput dari bantuan Maja, namun imbasnya ialah wilayah Sunda Galuh harus bergabung dengan Bhumi Maja.
Niskala merasa harus mewarisi apa yang menjadi haknya. Dengan segala cara. Apalagi ayah dan kakak-kakaknya mati di tangan Maja. Sekali tepuk, dua tujuan dia dapatkan.
"Ayo cepat. Cepat," bisik seorang pria menyuruh rombongan wanita dan anak-anak untuk masuk ke tempat rahasia wanua mereka, sementara thani mereka sedang mengalihkan perhatian para penyerang.
Udelia tergopoh-gopoh ikut barisan para emak-emak. Dia kesulitan menyela barisan karena ramainya orang, sedangkan jalan masuk hanya dapat muat satu dua orang.
Udelia menyingkir ke samping agar putranya tidak terhimpit-himpit. Biarlah dia belakangan masuk ke gua. Dia juga harus menunggu suaminya yang entah menghilang ke mana.
"Hei cantik, mau ke mana?"
Segerombolan pria berpakaian ala prajurit menghalangi jalan masuk gua. Udelia meringis melihat pintu gua mulai tertutup.
Entah orang-orang di dalam menyadari ada dirinya di luar atau tidak, warga wanua di dalam gua terburu-buru menutup pintu masuk saat melihat gerombolan pria mendekat ke pintu masuk.
Ada banyak ibu dan anak yang harus dilindungi di dalam sana. Udelia menenangkan hatinya. Dia memiliki Utih dan kekuatan yang besar. Dia akan menggunakan sampai titik darah penghabisan.
Udelia menatap tajam prajurit yang menghalangi jalannya. Tidak ada rasa takut pada diri Udelia, hanya saja dia mengkhawatirkan keselamatan dua putranya.
Jika dia lengah, para penyerang itu dapat menangkap putra-putranya dan menyanderanya.
"Minggir! Aku tidak punya apa pun," galak Udelia.
"Lalu ini apa?"
Prajurit dengan tubuh paling besar menarik kalung Udelia. Pria itu menyeringai. Kalung di tangannya tampak sangat mahal.
Udelia tidak melawan, tubuhnya mendadak tidak dapat bergerak.
"Oh. Lembut sekali kulitmu."
Pria itu menatap leher jenjang Udelia sambil membasahi bibirnya.
"Angkut," titah pria besar itu pada anak buahnya lantas pergi menuju tuannya, Pangeran Niskala.
__ADS_1
Dia dan rekan-rekannya hanya diperintahkan untuk mencari keberadaan warga desa.
"Lepaskan anakku!!" teriak Udelia pada prajurit yang menjinjing Rama. Dia baru tersadar dari lamunnya kala Rama dan Raka menangis bersamaan.
"Berisik sekali!" balas si prajurit melayangkan tangannya.
Telinga Udelia berdengung. Tubuhnya limbung dan jatuh ke tanah. Udelia menahan tangannya, melindungi Raka yang terus menangis. Dia melindungi bayinya agar tidak terhantam tanah.
"Jangan kasar. Bos ga suka perempuannya jadi cacat," ucap prajurit lain.
"Aku ga paham kenapa bos suka wanita begitu," cemooh prajurit yang memukul Udelia.
"Yah seleranya memang aneh."
"Apa kalian menjadi tak waras karena tinggal di dalam gua dan tidak berinteraksi dengan banyak orang? Apa kalian tidak malu memukul wanita? Dia membawa anak-anak."
Seseorang yang mengendarai kuda mendekat ke sumber keributan. Dia tidak suka dengan kekerasan pada wanita dan anak-anak.
"Wah Wiyasa Palembang berani menceramahi, tapi sendirinya memberontak pada tuannya," cibir si prajurit yang memukul Udelia.
"Wiyasa Palembang?" beo Thani Mejeng. Dia tidak menyangka salah satu Wiyasa Bhumi Maja terlibat dalam penyerangan di wanuanya.
Wiyasa Palembang memang pernah dia jumpai saat Wiyasa Palembang berkunjung ke Sunda Nagara, bukan suatu yang aneh karena mereka berada dalam satu kekuasaan Bhumi Maja.
Pria yang duduk manis di kursi perjamuan, sekarang sedang berhadapan dengannya dalam perang berdarah.
"Tuan Balaputra, jangan terlibat hal merepotkan," sela Niskala. Kudanya terhenti di samping kuda Wiyasa Palembang.
Balaputra tidak merespon thani, pun pangeran yang berceramah padanya. Matanya lurus menatap seorang wanita yang ada di kerumunan prajurit sekutunya.
Wanita yang sudah lama dicarinya. Wanita yang tidak kunjung dia temukan meski sekuat tenaga mencari keberadaannya.
Mata Niskala membola kala sebuah kepala melayang terpisah dari tubuh prajurit yang membuat gaduh dan terlihat pula sebuah pohon tumbuh di salah satu tubuh prajurit lainnya.
Pangeran Niskala menatap tajam Wiyasa Palembang. Dia hanya mampu menatap tajam. Karena dia tidak dapat melawan kekuatan yang dimiliki Balaputra.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1