![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
039 - DAHULU, BUKAN SEKARANG
"Kamu wangy sekali, sayang.."
Djahan membelai lembut wajah Udelia. Menatap matanya dengan mendamba.
Segala upacara dan acara telah usai. Akhirnya mereka hanya berdua saja.
Udelia sampai sempat berganti dan berendam karena lamanya Djahan menyelesaikan debatnya dengan bagian upacara.
Udelia tersenyum malu.
Walau dahulu pernah melakukannya, saat itu kejadiannya berlalu cepat, Udelia pun antara sadar tak sadar.
Lembut tangan Djahan membelai wajah Udelia. Turun menyentuh bibir merah nan menggoda. Memainkan benda kenyal itu dengan jemarinya.
Nafas Udelia memburu. Tubuhnya bagai tersengat listrik. Tegang dan panas.
Semakin bertambah kala jemari basah Djahan masuk lebih dalam. Menyentuh rahangnya yang basah.
Sengatan tubuhnya makin menjadi, kala benda basah menyentuh lehernya. Memberikan tanda kepemilikan.
Lidah Djahan menjelajah. Mencicip tiap jengkal raga yang dia rindukan.
Sesekali menggigit, meninggalkan jejak kemerahan.
Ketika dua yang basah bertemu, antara atas dan bawah, Udelia menggelinjang dengan hebat.
Geli yang menimbulkan gelombang besar pada inti tubuhnya. Mengeluarkan cairan kenikmatan.
Djahan tersenyum puas pada aksi yang dia lakukan. Membawa nirwana pada istri terkasihnya.
Dia akan membuat Udelia terus ingat padanya. Meminta hanya padanya.
Melupakan dua makhluk yang sedang menantinya.
"Dja... ha... ah."
Tidak Djahan beri Udelia kesempatan untuk memprotes dan berpikir. Dia remas gundukan kembar yang menggemaskan.
Menggigit layaknya bayi kelaparan. Bergantian pada keduanya. Menyatukan keduanya dan merasai keduanya dalam satu isapan.
Seringai muncul pada wajahnya, di saat tangan Udelia menekan keras kepalanya.
Tidak memperbolehkan dia untuk mengangkat kepala.
Kaki Udelia melingkar pada tubuhnya, dapat dia rasakan betapa siapnya liang hangat yang lama dia rindukan.
Djahan menerobos dengan kepayahan.
Telah melahirkan dua anak tidak membuat wanitanya berubah. Terus terasa nikmat.
Atau karena dia berada di dunianya sendiri? Kembali menjadi seorang perawan?
Tidak peduli.
Djahan hanya melakukan ini pada istrinya. Tidak tahu bagaimana rasa perawan dan tidak.
Semua kenikmatan ada pada istrinya.
Dia dijepit dengan kencangnya. Menambah denyut ular di dalam gua.
Udelia sesekali meringis, rasanya dia tidak muat dimasuki cacing besar alaska.
Sakit sekaligus nikmat. Itu yang dirasakan oleh Udelia.
__ADS_1
Mengeratkan tangan pada bahu Djahan. Meninggalkan bekas luka yang dalam.
"Terima kasih, sayang.." tutur Djahan pada Udelia yang telah sayu, kala langit justru menampilkan sinar cerahnya.
Semalaman Djahan enggan melepas Udelia.
Membayar rindu puluhan tahun yang sudah menumpuk.
Djahan membiarkan Udelia terlelap. Menutupi tubuhnya dengan selimut. Sementara dia merapikan kekacauan yang dibuatnya.
Keluar mencari makan untuk mereka berdua, wajahnya amat berseri- seri.
Di tengah jalan ia dicegat oleh sang tuan, Hayan, yang sudah memerah wajahnya.
Hayan meradang melihat bercak- bercak merah di dada bidang Djahan, yang atasnya terbuka dengan sengaja.
"Bagaimana bisa Anda melakukan hal itu pada Maharaniku, Mahapatih!?!"
Walau tidak bisa menahan Udelia untuk menikahi Djahan, Hayan tetap merasa tersinggung.
Wanitanya disentuh oleh bawahannya.
Bahkan ketika mereka sama- sama suami Udelia, Djahan tidak lagi berhak atas Udelia ketika perempuan itu menjadi Maharaninya!
"Seharusnya Anda berpikir sebelum berbicara. Udelia istri saya. Hal wajar kami saling menghangatkan. Kenapa Anda marah?" pancing Djahan.
Walau hanya setahun, hati Djahan amat sakit dengan sang tuan.
Meski dia tidak menampik, dirinya pun salah dengan pasrah begitu saja.
Tidak seharusnya dia dengarkan istrinya yang hendak menikahi pria lain, di bawah tekanan orang yang berkuasa.
"Dia juga istriku!" sentak Hayan tak terima.
Dia tidak akan membiarkan Djahan menguasai Udelia seorang diri.
Djahan tidak akan berbagi Udelia dengan siapa pun!
"Mahapatih, jangan keras kepala. Aku bahkan bisa membawa Udelia pergi jauh. Hanya karena memikirkan ada keluarga yang akan menangisinya, kubiarkan kalian bersama!"
Hayan berkata panjang lebar. Napasnya tersengal. Dia sangat marah dengan keegoisan Djahan.
Hanya karena dia memikirkan akan ada keluarga yang menangisi hilangnya Udelia, Hayan tidak membawanya kabur ketika mendengar tanggal pernikahan Djahan dan Udelia diperpanjang.
Hayan mengingat anak mereka yang sering jatuh sakit karena merindukan sang ibunda.
Dia tidak mau ada anggota keluarga istrinya yang sama sedihnya seperti anak mereka.
Lalu Djahan menjadi egois? Ingin menguasai Udelia seorang diri?
Hayan tidak dapat memikirkannya.
"Anda siapa, Maharaja? Penentu takdir?" ejek Djahan. Meski di hati, dia was- was dengan ancaman Djahan.
"Anda yakin mau aku berbuat sesuai ancamanku!?"
Gigi Hayan bergemeletuk. Rupanya Sang Mahapatih tidak sadar posisinya sekarang.
Sekuat apa pun pasukan yang dibangunnya, mereka hanya manusia normal tanpa kekuatan yang dapat melampauinya.
"Saya akan merebutnya dari Anda!"
Ancaman Hayan membuat Djahan bergeming.
Melawan orang dengan kesaktian tak kasat mata, bukanlah hal baik.
__ADS_1
Jika dalam fisik, Djahan masih bisa melawannya. Pun jika lawannya hanya membawa kabur Udelia dengan jalur transportasi.
Djahan hanya perlu memblokir seluruh jalan.
Tapi hal ghaib?
Siapa yang akan dapat memprediksi, ke mana kah perginya orang yang kita cari?
Djahan kini akhirnya mengerti perasaan para jelata yang terintimidasi oleh kekuatannya.
Mereka yang akhirnya pasrah oleh inginnya menyatukan seluruh kepulauan.
"Udelia tidak suka dipaksa. Anda tahu sendiri, zaman ini akan dipandang sangat aneh bila memiliki pasangan lebih dari satu."
"Tidak peduli perkataan orang, aku akan tetap bersatu dengan belahan jiwaku. Denganmu atau tidak, Mahapatih!"
"Anda jangan membuat Udelia bingun, Maharaja."
"Siapa yang bingung? Udelia bersamaku bukan hanya takut dengan ancamanku, sudut hatinya pasti terukir namaku. Kamu jangan serakah. Ingin menguasai Udelia hanya untukmu."
Djahan mengepalkan tangannya kuat- kuat.
Udelia menikahi Hayan karena punya perasaan?
Ya. Bisa saja itu terjadi, tapi Djahan menampiknya.
Selama ini dia selalu berpikir Udelia menikahi Hayan hanya karena ancaman Hayan yang ingin mengurung sahabatnya untuk dijadikan burung dalam sangkar emas.
Tapi, bagaimana bisa dia berhubungan dengan orang yang tidak dicintainya sampai berkali- kali?
Sedang bersama Candra, yang dianggapnya sebagai seorang adik, Udelia langsung berpaling ketika dia mendapatkan kesadaran, setelah bertahun- tahun berada dalam pengaruh sihir sang adik angkat.
Seketika Udelia memutuskan ikatannya dengan Candra. Banding terbalik dengan ikatannya bersama Hayan yang langgeng di setiap waktu.
"Kamu mengerti, Mahapatih? Hati Udelia tidak hanya untukmu. Jika kamu tidak ingat, di antara kami bahkan sudah ada dua anak. Ikatan kami tak sekadar suami istri, tapi juga ibu dan ayah."
"Semua itu hanya di dunia kuno! Kita sudah ada di dunia modern. Tidak ada anak- anak Anda. Dan tidak boleh seorang wanita memiliki lebih dari satu suami!"
"Kalau begitu tanyakan langsung. Apakah Udelia hendak mempunyai suami lebih dari satu?"
Djahan mengikuti arah pandang sang tuan yang sudah menyingkirkan tatapan padanya.
Udelia keluar untuk mengambil air. Dia malah mendengar pertikaian dua pria di depannya.
Dua pria itu memandangi dia. Menuntut jawaban.
"Kamu ... benar suamiku?" tanya Udelia, lagi.
Pria itu masih kecil. Bagaimana bisa menjadi suaminya?
"Jangan karena ragaku kembali muda, kamu meragukanku, istriku."
"Djahan, apa benar?"
"Ya. Dahulu, bukan sekarang. Kamu tidak akan menduakanku kan, sayang?"
Udelia tidak menjawab.
Dia terdiam mendengar pertanyaan Djahan.
Dia ingin menjawab iya, tapi mata berkaca Hayan, kenapa menahan suaranya?
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]