TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
032


__ADS_3

"Adik ipar, salam kenal. Saya Bayuaji Ekadanta. Kita akan sering bertemu di rumah peket ayahanda."


Rumah peket adalah rumah dinas yang diberikan pada para pejabat.


Rumah itu besar, namun tidak mampu menanggung banyaknya jumlah keluarga Candraaji Ekadanta, ayah Candra Ekadanta dan Bayuaji Ekadanta.


Dia memiliki seorang istri sah, beberapa selir, dan banyak gundik—yang dia beli dari pelelangan.


Dari mereka, hampir semuanya memiliki satu putri. Kecuali istrinya yang memiliki dua orang putra dan satu selirnya memiliki seorang putra.


Istri, para selir, dan para gundik Candraaji tidak memiliki rasa permusuhan. Mereka bahkan bersatu dan sama-sama satu suara tidak mau pindah, kecuali ikut pindah semua.


Tuti Ekadanta, istri Candraaji Ekadanta, yang notabene paling berhak tinggal di rumah peket, merupakan yang mengusulkan hal itu.


Dia tidak mau sebagian perempuan merasakan cinta dan kasih Candraaji, sedang yang lain tidak kesepian.


Mereka tinggal di rumah kepala keluarga, menunggu dan menyambut sang suami bersama-sama.


Baru setelah para gadis menikah dan posisi kepala keluarga dipegang Candra, Candraaji atau Aji membawa istri dan selir-selirnya ke rumah peket, menemani dirinya di hari tua dan pekerjaan yang terus bertambah.


"Salam kenal, kakak ipar. Saya Udelia, hanya seorang rakyat jelata."


"Jangan merendah seperti itu. Sekarang Anda sudah menjadi nyonya besar keluarga Ekadanta. Kalau ada kesulitan bicarakan saja dengan saya."


"Terima kasih, kakak ipar. Mari." Udelia mengangkat gelasnya bersulang teh hangat dengan sang kakak ipar.


Udelia merasa beruntung. Keluarga Ekadanta tidak pernah memaksakan kehendak. Udelia yang tidak suka sebagian minuman dan makanan, para mertuanya tidak memiliki masalah.


Udelia adalah perempuan yang memperhatikan budaya dan adat. Dia tidak meninggalkan semua itu, ketika Candra abai dan malas melakukan semuanya.


Hanya beberapa makanan dan minuman, para wanita Aji tidak mempermasalahkannya.


"Silakan jika ada yang ingin ditanyakan," ucap Udelia membuka suara. Sebenarnya dia sedikit risih ditatap menelisik oleh kakak iparnya.


Bayu menelisik Udelia. Wajah yang dikatakan mampu mematik perang, ternyata biasa-biasa saja.


Udelia tidak cantik, seperti kebanyakan bangsawan yang biasa dilihat Bayu.


Bahkan tidak peduli dengan penampilannya yang pucat, tidak nampak satu pun riasan di wajah dan tubuh itu.


Tapi wajah polos Udelia sangat teduh. Tanpa senyuman pun, adik iparnya itu seperti tidak memiliki emosi yang kotor.


Jiwanya nampak sesuci air.


Rasa jernih dan mensucikan ini, seperti dirinya ketika berhadapan dengan kakak sulungnya, Ekata Ekadanta murid Petapa Agung yang setiap saat menebar berkat.


"Apakah harimau itu milikmu?"


"Entahlah," gumam Udelia meletakkan gelas di meja.


"Apakah dia milikku?" tanya Udelia pada Bayu, atau lebih tepatnya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia tidak tahu jawabannya. Lebih lebih Bayu yang bertanya padanya.


"Sepanjang ingatan saya, saya tidak pernah bertemu hewan buas. Namun harimau itu mendengarkan."


Bayu menatap mata Udelia. Hitamnya sedalam samudra, putihnya selembut sutra. Tidak tampak kebohongan dari mata itu.


"Apa ... kamu mengalami lupa ingatan?" Ragu Bayu bertanya.


Udelia mengangguk, membenarkan pernyataan Bayu. Melalu pengajar, Candra mengingatkan beberapa hal yang harus dihindari Udelia.


Menceritakan keadaannya pada kakak iparnya, bukanlah hal yang harus dihindari Udelia. Maka Udelia menceritakan semuanya dengan gamblang.


"Pertama membuka mata seperti itu. Perlahan muncul ingatan, namun saling bertumpuk. Kadang ingat hal lama dan lupa hal yang baru saja terjadi."


Bayu terdiam. Kecurigaannya benar sudah.


Walau tidak memahami bagaimana Maharani yang jelita menjadi rakyat jelata, hewan kontrak tidak dapat berpindah tangan begitu saja.


Hewan dapat memutus kontrak dengan manusia, hanya ketika manusia memutus kontraknya atau ketika manusia telah meninggal dunia.


Meski Maharani mati, harimau putih tidak mudah ditaklukan. Terlebih sekarang sangat sulit mendeteksi mereka.


Bayu saja tak kuasa menaklukan mereka, dia hanya memiliki hewan kontrak berupa harimau biasa.


Insting harimau dalam dirinya turut memberitakan, tiada yang berbeda dalam diri harimau putih.


Kendatipun tidak memahami kondisi yang sebenarnya, Bayu yakin perempuan di hadapannya dengan Maharani sepuluh tahun yang lalu, adalah sama.


Apalagi mata Bayu sangat tegas. Pria itu terlihat lebih mengerikan daripada ibu tua yang mengajarinya berbagai hal dengan ketat dan tidak pernah membiarkannya beristirahat.


"Bicara jujur itu bagus. Tapi selanjutnya cukup jawab hal-hal yang perlu saja."


Udelia memilin tangannya. Tersirat emosi dalam ucapan Bayu. Rupanya dirinya belum pantas menjadi bagian para bangsawan.


Kakak iparnya pasti menganggap dia seorang yang bodoh. Membicarakan banyak hal pada orang yang baru ditemui.


"Saya memiliki banyak kekurangan."


"Bukan begitu. Hanya saja akan membawamu dalam masalah. Adikku nanti jatuh dalam kesedihan."


Udelia tersenyum mengerti arah pembicaraan Bayu. Sang kakak ipar bukan ingin mengintimidasinya.


Kakak iparnya hanya ingin Udelia berhati-hati dalam bercerita tentang sebuah rahasia. Walau suaminya tidak mengingatkannya, seharusnya Udelia paham apa itu arti sebuah rahasia.


"Terima kasih."


"Aduh saya jadi berbicara non-formal."


"Bicara senyaman kakak saja, jika diperbolehkan."


"Boleh."

__ADS_1


Bayu menyudahi interogasinya, dia sudah mendapat jawaban atas pertanyaannya. Lantas dia berdiri diikuti Udelia.


Bayu bimbang atas semua yang ditemukannya. Kemudian dia tersenyum, melihat wajah kesal Udelia.


Wajah yang sama ketika Bayu menggoda Maharani kecil, saat bermain di kediaman Ekadanta dan tiba-tiba saja memintanya melihat banyak sihir.


"Aku pamit. Jaga adikku dengan baik."


"Baik, kak. Hati-hati di jalan."


Saat Bayu tidak melihat, diam-diam Udelia menghela napas lega. Bayu tidak terlihat mesum, namun terus menatapnya dengan aneh. Dia sangat kesal hal itu.


Udelia hampir saja menabrak punggung Bayu. Pria itu tiba-tiba berhenti berjalan.


Udelia melongok. Matanya menyalang menatap tangan Candra yang memegang Ijen.


"Pas sekali. Ijen ikuti saya," ucap Bayu melihat Candra memapah Ijen.


"Kakak tidak lihat dia sedang terluka?" Candra berkata dengan sinis. Dia lanjut memapah Ijen, tidak memedulikan Bayu.


"Ini perintah Yang Mulia Maharaja." Bayu mengeluarkan lencana miliknya. Memaksa Candra menghentikan langkahnya.


"Nona Ijen telah berani menjebak Yang Mulia Maharaja pada malam Pon bulan Kapitu tahun Seratus Empat Puluh di kediaman utama Ekadanta. Hukuman yang pantas akan dilakukan oleh menteri kehakiman dalam waktu sepuluh hari."


"Saya tidak pernah melakukannya!" protes Ijen yang sedang memegang tangannya yang berdarah akibat gigitan Utih.


"Pikirkanlah dengan saksama!" Bayu memegang Ijen. Hendak menariknya jauh dari sang adik.


Candra menahan tangan Bayu. Dia tidak percaya dengan tuduhan yang diberikan Maharaja. Ijen bukanlah orang bodoh. Apalagi sepanjang hidupnya, tidak pernah melihat wajah Maharaja.


"Ijen tidak akan melakukannya, kak," bela Candra.


"Masih ada waktu sepuluh hari."


Bayu memaksa adiknya untuk melepaskan pelukannya di tubuh Ijen. Dia membawa Ijen masuk ke dalam kereta yang penuh pengawalan.


Candra menatap kosong kepergian kereta kuda Bayu. Dia ingin mengejar dan membela Ijen, tapi dia tidak memiliki pandangan tentang keributan ini.


Ada apa sebenarnya?


Ijen selalu baik pada semua orang. Pada orang tua, anak-anak, juga orang-orang yang baru datang ke kediaman Ekadanta.


Satu-satunya orang yang berseteru dengan Ijen adalah Udelia.


Nampaknya Udelia cemburu pada Ijen, karena mendengar kedekatan mereka.


"Kakak, apa kamu menyuruh kak Bayu melakukan ini?"


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2