TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
003 - PENGANTAR PESAN DI HUTAN-HUTAN


__ADS_3

"Tak kusangka mudah sekali menangkap putri si bengis."


Seorang pria yang memiliki bekas luka di rahangnya, merasa bangga atas tangkapan besar yang tidak diduganya.


Dengan menangkap perempuan berpakaian heboh ini, dia dapat memenuhi impiannya, impian kelompoknya, juga impian seluruh masyarakat tempatnya.


"Lowo, bukannya putri dia dikatakan cantik jelita? Ini gendut sekali," tanya seorang pria yang bertelanjang dada. Bagian bawah tubuhnya dibalut dua jengkal kain tenun bergaris-garis.


Teman-temannya memakai kain senada, hanya saja lebih panjang menutupi lutut dan betis mereka.


"Mondho, bukan putri dia yang menjejakkan kaki di tanah kita yang kumaksudkan, melainkan kita mendapatkan putri atasannya! Dia adalah tuan putri ndut kesayangan Maharaja dan Mahapatih."


Orang yang dipanggil Lowo dan memiliki bekas luka di rahangnya, menatap intens seorang anak perempuan yang terikat kaki dan tangannya.


Dia memastikan, bahwa perjuangan mereka melawan orang-orang yang datang dari negeri seberang, akan membuahkan hasil.


"Mano, hentikan! Jangan menyentuh dia lagi," tegur Lowo pada seorang laki-laki yang terus mencubit pipi tahanan.


"Dia lucu sekali pak ketu, pipinya seperti apem." Mano terus menerus mencubit pipi tembam sang tuan putri. Mengabaikan titah sang ketua.


"Iya 'kan, Reo?" tanya Mano mencari pembenaran pada temannya, yang sedang bersandar di pohon.


"Wanita itu menyebalkan," ketus Reo berlalu pergi menjauh dari pria gesrek pecinta gadis-gadis gendut.


Bagaimana mungkin pria gagah rupawan seperti mereka menyukai gadis gendut?!


Lagi pula, semua wanita itu menyebalkan. Mereka hanya tahu caranya bertengkar.


"Tapi melalui wanita ini, mungkin saja kita dapat mewujudkan keinginan kita," sela Mondho.


"Kalau kalian ingin mewujudkan keinginan, pergilah ke gua di Kelimutu."


Seorang kakek tua dengan tongkat di tangannya, berjalan lurus melewati tempat mereka. Seolah tempat berkumpul mereka adalah jalan umum, yang bisa dilewati begitu saja.


Mereka sontak mengambil senjata dan bersiap siaga.


Tidak ada yang menyadari kedatangan kakek ini, padahal mereka sudah membangun sihir pelindung, yang akan membuat siapa pun terdeteksi.


"Dia datang mencari sesuatu, bersamaan dengan itu keinginan kalian akan terwujud," imbuh kakek masih berjalan tanpa menoleh.


"Apa maksud kakek?" tanya Reo waspada.


"Aku tidak ada maksud, hanya ingin berkelana," jawab kakek, kemudian menghilang di ujung jurang.


Jurang sedalam seratus ribu hasta, tidak mungkin ada yang selamat bila terjatuh ke sana.


Lowo mendekat ke tepi jurang dan melongokkan kepalanya. Matanya menajam mencari jejak sang kakek di jurang tersebut.


"Tidak ada," gumam Lowo.


Dia tidak mendengar suara benda jatuh, suara angin memberat, apalagi suara teriakan.


Pria tua itu seolah hilang ditelan angin.


"Ketua, kamu tidak bermaksud mempercayainya 'kan?" Reo menatap serius ketuanya, Lowo.


"Aku tidak merasakan emosi dan kekuatan. Kakek itu adalah pengantar pesan di hutan-hutan seperti yang para tetua bicarakan," jawab Lowo bermaksud mengikuti arahan sang kakek.


"Noto?" tanya Reo pada pria pecinta kebersihan.


Pria yang juga jago memasak itu, setiap waktu luang selalu mengelap wedhungnya. Dia lah manusia paling logis di kelompoknya.


Manusia yang tidak hanya mengikuti prasangka belaka, namun menghitung dengan rinci besarnya kesempatan yang ada di depan mata.

__ADS_1


Noto menatap sekilas Reo, lalu kembali fokus pada wedhungnya. "Tidak ada salahnya kita mencoba."


Noto mengangkat tinggi-tinggi wedhungnya. Pantulan cahaya di wedhungnya membawa ingatan belasan tahun lalu, saat dirinya masih bersama dua rekannya di desa yang jauh.


Satu rekannya hilang dan dinyatakan meninggal. Satunya lagi bergabung bersama Pasukan Maja, sepekan sebelum dirinya tahu bahwa dia adalah keturunan salah satu Tetua Kelimutu.


Tempat yang kini bermusuhan dengan Maja.


Entah bagaimana dia akan menghadapi rekan yang telah bersamanya sedari bayi, bila bertemu di medan perang.


"Berhenti mengeluh, Reo. Toh kita berada di Kelimutu, tempat paling aman," kata Mano menenangkan.


"Kakek itu telah memberi peringatan tentang kedatangan sekelompok perusak, lalu kita mengabaikannya. Sekarang kita mau mengabaikan pesannya lagi?" tambah Mano membuat Reo terdiam.


Jauh hari sebelum pasukan Maja datang, sekelompok pemuda yang mencari buruan di hutan mendapat pesan tersebut.


Akan tetapi tidak ada yang memedulikan pesan kakek, sekarang Kelimutu telah diduduki pasukan Maja yang senang melakukan hal tercela.


Akhirnya mereka berlima bersama satu tahanan, pergi mencari gua yang belum pernah terdengar di telinga mereka.


Padahal mereka adalah penduduk setempat dan rasa-rasanya, tidak ada tempat di Kelimutu yang belum mereka datangi.


"Kita sudah berkeliling dan sampai batasnya. Satu kilometer ke depan adalah tempat mereka," ucap Mano menunjuk pepohonan yang rimbun.


"Sekarang mengerti maksudku?!" kesal Reo. Mereka ini sedang dijebak musuh! Reo sangat mencurigai kakek-kakek tadi.


"Kita belum ke danau," cetus Lowo optimis.


Mereka tidak memeriksa danau, karena mereka yakin tidak ada gua di sekitar sana. Suku mereka selalu melakukan beberapa ritual penting, setiap dua atau tiga bulan sekali.


Mereka sangat tahu tempat itu, namun sekarang hanya danau kembar tiga yang belum mereka periksa.


"Aku akan pergi bersama tahanan ke Tiwu Ata Mbupu, Reo dan Mondho pergi ke Tiwu Nuwa Muri Kofai, Noto dan Mano pergi ke Tiwu Ata Polo. Kita akan bertemu di persimpangan, siapa pun yang dapat tidak perlu beranjak," titah Lowo.


"Berpencar!" titah Lowo, anak buahnya sontak berlari secepat angin.


Lowo menunduk mengencangkan ikatan tahanan dan menambah tali panjang di punggung gadis itu. "Tuan putri, aku akan menggendongmu," ucapnya menaruh sang tahanan di punggungnya.


"MMmmm!!" Gadis yang disumpal mulutnya itu menggeleng keras.


Tidak pernah ada laki-laki yang lancang padanya!


Lowo tidak menghiraukan penolakan sang tuan putri. Dia menggendong gadis itu di punggungnya lalu berlari menuju Tiwu Ata Mbupu.


Lowo mengitari Tiwu Ata Mbupu mencari gua, tapi tak ketemu. Kemudian dia memutuskan untuk turun melihat dari bawah, untuk mendapatkan pandangan yang berbeda.


Dan dia pun tersenyum lebar.


"Tentu saja lereng ini yang paling dalam," gumam Lowo memandang beberapa meter ke atas.


Tidak lama keempat anak buahnya datang dengan tangan kosong, sebab gua yang dibicarakan si kakek ada di depan Lowo, lebih tepatnya di tengah tebing.


"Ketua, beneran ada?!" Reo menatap tak percaya gua yang tertutupi pepohonan. Tidak akan ada yang mengetahuinya, kecuali memiliki mata yang sangat jeli seperti ketuanya.


"Ayo masuk," ajak Lowo tidak sabar menemui penyelamat yang diberitakan.


"Kami akan memeriksa," ucap Mondho memasuki gua bersama Noto sebelum yang lain.


Mereka berdua berpisah di jalan yang menghubungkan dua ruangan di dalam gua, kemudian berkeliling dan kembali bertemu di titik semula.


Mereka mengangguk dan melapor pada orang-orang di luar.


"Aman!" seru Noto mendekati kelompoknya, disusul Mondho yang baru selesai menebang dua pohon penghalang pintu masuk gua.

__ADS_1


Mereka memasuki gua dengan Reo dan Noto membawa kayu bakar, untuk menghangatkan diri.


"Pak ketu, kita harus memberinya makan," usul Mano mencolok-colok pipi tahanan dengan kayu.


Dia tidak bisa menyentuh tahanan, bukan berarti dia tidak bisa memainkan pipi tembam menggemaskan, milik perempuan berwajah jutek di depannya.


"Sana cari makan," perintah Lowo di depan api unggun.


"Siap!" Mano meletakkan kayu di tanah dan berpamitan dengan gadis manis, yang telah mencuri perhatiannya. "Aku pergi dulu, tuan putri."


"Tidak ada orang. Di mana yang dikatakan?" tanya Reo setelah berkeliling.


Lowo tidak menjawab Reo, dia memilih memejamkan matanya untuk bertapa. Daripada mendengarkan ocehan Reo, yang terus mengeluh seperti perempuan.


Mondho memasuki gua sambil menggerakkan tangannya yang letih.


Dia adalah orang yang mahir dengan tanah, jadi diberikan tugas membuat tumpukan tanah di depan pintu gua agar mudah bepergian.


Mondho menghembuskan napas lelah lalu merebahkan tubuhnya di atas tumpukan daun pisang. Ia menajamkan matanya melihat cahaya samar di langit-langit gua.


Mondho terduduk, dia tersenyum lebar dan menunggu saat saat cahaya menjadi semakin besar.


"Akhirnya datang!" teriak Mondho mengagetkan semua orang.


Lowo membuka matanya. Reo dan Noto yang berjaga di depan pintu bergegas masuk, begitu mendengar teriakan Mondho.


Saat Udelia hampir terjatuh ke api unggun, Lowo menangkapnya dengan elegan.


.


.


"Tikus gunung selalu jadi yang terbaik. Wawi ndua juga tak kalah." Mano menenteng hewan-hewan dalam satu ikatan tali, ia menaikkan alisnya melihat dua makhluk di depan pintu gua telah menghilang.


"Dua orang itu ke mana?" gumam Mano heran. Tidak pernah Reo dan Noto mengabaikan perintah dari ketua mereka. "Hei kalian kenapa tidak menjaga pintu?!"


"Dia wanita yang sangat lemah," cibir Reo pada Udelia yang turun dari gendongan Lowo.


"Apa yang kamu lakukan di tengah hutan?" Bola mata Lowo naik turun menatap aneh pakaian Udelia.


Terlebih di punggung wanita itu terdapat bungkusan besar, seperti cangkang kura-kura.


"Aku mencari sesuatu." Udelia mengernyit, pandangannya menggelap, lalu dia jatuh terlelap.


Lowo yang ada di depannya dengan sigap menangkap Udelia.


Mondho memeriksa denyut nadi Udelia, kemudian menutupi tubuh Udelia dengan kain. Mondho mengangguk pada Lowo. "Hanya kelelahan."


"Mano, sudah bawa makanan?" tanya Lowo.


"Tikus dan wawi ndua, juga turuwara untuk menambah stamina." Mano mengangkat kedua tangannya, menunjukkan hewan di tangan kanannya dan sekantung bunga di tangan kirinya.


"Pak ketu ingin ikan di danau?" tanya Mano mengingat ikan ajaib di danau.


Lowo mengangguk setuju. "Sepertinya bagus untuk menambah kekuatan."


"Baiklah. Pagi buta saat mereka keluar akan kutangkap."


"Aku akan mengolahnya." Reo mengambil tikus dan babi dari tangan Mano. "Tangkap!" Dia melempar turuwara pada Noto agar mereka olah bersama.


Para laki-laki itu menyantap hidangan dengan semangat, sedang dua perempuan di sana memejamkan matanya terlelap.


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2