![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Di tengah hutan yang sepi tanpa penghuni, tampak sebuah gubuk besar baru dibangun. Terasnya rindang dan sejuk.
Dua insan berbeda jenis kelamin duduk bersebelahan, tanpa mengeluarkan kata-kata.
Pohon-pohon yang saling melambai, tak dihiraukan keindahannya oleh dua manusia di sana.
Sebab satu manusia sedang menahan sakit yang luar biasa dari dua titik di tubuhnya.
Sedang satunya lagi memandang khawatir tetes demi tetes darah, yang terjatuh ke tanah dan membentuk genangan kecil.
Orang yang khawatir, berdiri dengan bingung. Lantas dia bergegas masuk ke dalam gubuk, hendak mencari sesuatu yang dapat meredakan darah yang mengalir deras.
Baru beberapa langkah kakinya terayun, dia menarik kakinya dan kembali berdiri ke tempatnya semula.
Dia menyadari belum berpamitan pada sang penyelamat hidupnya.
Dia takut penyelamatnya tiba-tiba pergi.
"Mohon tunggu sebentar, pelayan saya sedang mengambil kelapa," ucap Balaputra pada perempuan yang duduk diam tanpa ekspresi.
Setelah mengucapkan perkataannya, Balaputra masuk ke dalam gubuk tanpa menunggu jawaban.
Dia menyiapkan hidangan untuk menahan derasnya darah dan menyiapkan hidangan lain sebagai ucapan rasa terima kasih.
Udelia menopang kepalanya, dengan tangan kiri yang bebas. Pipinya yang baru kering, kembali banjir.
Dia kira suaminya itu akan setia, seperti yang setiap saat selalu diucapkan oleh ayah dari anaknya itu.
Dia baru pergi sebentar, hanya tiga bulan lamanya.
Namun di dalam hutan yang kotor saja, pria itu dapat melakukan hal seperti itu.
Apalagi di tempat besar dan bersih, seperti keraton. Bisa jadi puluhan, bahkan mungkin ratusan gadis-gadis, mengisi tiap kedaton yang ada.
Kedaton, rumah tinggal yang dipagari. Memiliki halaman luas dan banyak dayang-dayang, juga pelayan dan ksatria.
Apa Djahan, suami pertamanya, juga demikian?
Balaputra menaruh hidangan di samping Udelia. Dia duduk menemani Udelia yang menangis sesunggukkan.
Balaputra tidak tega mengusik Udelia untuk memintanya memakan hidangan, yang bermanfaat menghentikan pendarahan.
Pelan-pelan dia membersihkan darah yang mulai mengering di lengan Udelia, tanpa mengganggu tangis sedih perempuan itu.
"Tuan, silakan." Pelayan Balaputra memberikan kelapa dan bunga setaman.
Balaputra mengemasi kain-kain yang terdapat darah Udelia. Dia memandang heran wajah Udelia, yang telah terangkat dan menatap setiap gerak gerik pelayannya.
Wajah Udelia bersih, tidak terlihat seperti habis menangis.
Balaputra mengambil kelapa di nampan dan membuka bagian kelapa dengan skin, senjata berbentuk seperti taji ayam.
Udelia memperhatikan cara pria itu membuka kelapa, mirip seperti sebuah mesin. Mudah sekali melubangi bagian atas kelapa dengan bulatan sempurna.
Ke dalam air kelapa yang masih murni, Balaputra memasukkan segenggam kembang setaman dan buah merah kecil, yang dikeluarkan dari cincin yang terpasang pada jari tengahnya.
Kemudian dia meneteskan darah dari ujung jari telunjuknya dan mengucapkan beberapa kata.
Setelah menyelesaikan satu kalimat yang tidak dimengerti Udelia, ramuan itu disaring ke dalam sebuah gelas yang terbuat dari bambu.
Air berwarna merah dimasukkan ke dalam gelas, lalu air aneh itu diberikan pada Udelia.
"Minumlah," kata Balaputra.
"Sambil menenggaknya aku akan mencabut serampang di bahumu," tambah Balaputra menjelaskan.
__ADS_1
Udelia menatap geli minuman merah di depannya. Selama hidupnya, dia belum pernah meminum darah walau setetes.
Darah tidak baik untuk tubuh manusia.
Darah apa pun itu.
Dengan susah payah Udelia menenggaknya, membayangkan dia sedang meminum air sirup berwarna merah.
Balaputra mencabut serampang di bahu Udelia dalam sekali tarikan. Kemudian menutup luka Udelia dengan bunga setaman, yang telah hancur karena genggamannya.
"Rasanya dahulu tidak pernah berjumpa minuman dan trik aneh begini," ucap Udelia dalam hati mengingat-ingat perjalanannya bersama Fusena, Petapa Agung, juga Ekata, kakak seperguruannya.
Di saat itu dia tidak pernah memakan dan meminum hal-hal aneh.
Bahkan dia jarang bertemu hal-hal aneh. Dia bersama dua pria itu, melakukan perjalanan selayaknya berjalan-jalan di kampung sendiri.
Hanya saja, dia sering melihat perang dingin yang dilakukan antar keluarga besar.
Mereka saling menjebak dalam bisnis yang mereka lakukan, bahkan tak segan saling membunuh di malam yang gelap.
Hal ini tidak terlalu aneh bagi Udelia.
Karena meski di dunianya tumbuh besar, Udelia tidak pernah melihat persekongkolan orang-orang besar.
Informasi-informasi dari masa lampau, termasuk cara mereka berperang dalam senyap, ditulis dan direkap para ahli.
Udelia telah membaca naskah-naskah mereka, langsung dari prasasti yang ada.
Udelia tidak terlalu kaget ketika melihat perselisihan antara dua kubu, yang dalam pandangan publik terlihat damai.
Nyatanya sejarah itu berulang.
Mereka yang mempelajari sejarah dan memperhitungkan langkah untuk memikirkan kehidupan masyarakat luas adalah mereka yang akan tertulis namanya dalam tinta emas.
"Eh!" Terbesit ide cemerlang dalam benak Udelia.
Daripada dia bersedih hati atas mereka yang tidak memikirkannya, lebih baik dia fokus pada tujuannya datang ke sini!
"Apa kamu tahu di mana Petapa Agung?" tanya Udelia pada pria yang terlihat memiliki kuasa yang besar.
Pria di depannya begitu tenang, saat hendak dibunuh. Tingkat kewaspadaannya sangat tinggi, sampai tidak terlihat waspada di mata Udelia.
Udelia yakin pria ini sedang waspada padanya, tapi pria ini justru tidak nampak waspada. Kekuatan dan kepercayaan diri yang dimiliki pria berkulit putih itu sangat tinggi.
Udelia menyimpulkan Balaputra adalah pria yang kuat dan berkuasa. Calon Wiyasa Palembang itu pasti tahu informasi tentang gurunya, yang juga sepupunya, yaitu Petapa Agung!
"Beliau adalah orang yang bebas," jawab Balaputra sambil mengikat luka Udelia dengan kain.
Udelia merenggut. Tentu saja informasi sepupunya tidak akan semudah itu diakses orang lain, sekalipun bagi seorang raja yang kuat.
"Maaf kalau lancang. Jika berkenan dapatkah nona menjawab pertanyaan saya? Siapakah nama nona?"
Udelia tertawa kecil, dia belum menjawab dirinya berkenan, pria yang memiliki lesung pipi itu sudah mengajukan sebuah pertanyaan.
"Saya Udelia," jawab Udelia.
"Terima kasih sudah mengobati saya!" Udelia memberikan senyuman yang tulus.
"Anda pakailah bunga setaman hingga lukanya mengering," jelas Balaputra.
Udelia mengangguk paham. Lantas dia beranjak pergi dari hadapan Balaputra.
"Di mana Anda tinggal?" teriak Balaputra pada perempuan yang berlari secepat angin.
"Padahal hidangannya belum dimakan ..." gumam Balaputra menatap sedih hidangan di amben, kursi panjang dan lebar yang terbuat dari susunan bambu.
__ADS_1
Pelayan yang berdiri di dekat Balaputra merasa gelisah. Tuannya ini selalu dingin atas segala hal.
Tidak pernah merepotkan dirinya untuk menyenangkan orang lain, apalagi sampai memasak.
Wajah teduh tuannya membuat sang pelayan merasa merinding.
Dan sekarang tuannya menitikan air mata!
Pelayan itu bergidik dibuatnya.
Lebih baik dia menghadapi tuannya yang dingin!
"Dan tangisannya sungguh membuat khawatir ..." tambah Balaputra mengusap matanya yang berembun.
Dia memegang jantungnya seraya matanya menatap arah Udelia yang telah menghilang
"Sekali lagi aku jatuh cinta."
Udelia tidak mendengar ucapan Balaputra, dia telah berjalan jauh. Dan sesampainya di luar hutan, dia menunggang ke punggung Utih untuk mencari tempat yang menenangkan.
Udelia tertawa kecil ketika indra pendengarannya menangkap perdebatan sekelompok orang, yang berada di balik pepohonan yang rimbun.
"Apa wanita itu sudah melupakan kita? Dia membebaskan Ende, tapi tak kunjung kembali."
"Reo mengkhawatirkan dewi," goda Mondho tersenyum lebar. Dia sedang mengupas mangga.
"Hei!" sapa Udelia dengan riang.
Orang-orang yang disapa Udelia ketakutan melihat kemunculannya.
Udelia muncul dengan mengendarai Utih.
Sekelompok orang itu masih tidak terbiasa melihat hewan tingkat tinggi.
Mereka menutupi rasa takut dengan wajah yang datar.
"Setelah ini apa yang kalian inginkan? Pasukan selanjutnya mungkin akan datang," kata Udelia, setelah beberapa saat tidak ada yang merespon sapaannya.
Para pria itu terdiam setelah kedatangannya. Tidak ada gosip yang terdengar. Mirip seperti ibu-ibu penggosip yang ketahuan oleh orang yang digosipi.
"Kami akan ke ibu kota meminta perdamaian dan menukarnya dengan itu," jelas Lowo menunjuk pohon besar yang berlumut.
Udelia turun dari punggung Utih dan Utih pun menghilang. Dia berjalan ke arah pohon yang ditunjuk Lowo dengan rasa penasaran yang tinggi.
Sebesar apa nilai yang ada di dalam karung ini, hingga dapat menukar perdamaian yang diinginkan sebuah suku kecil, yang tidak mungkin dipandang oleh bangsawan besar suatu kerajaan apalagi orang tertinggi dari sebuah Bhumi?
Udelia berjongkok dan melepaskan ikatan karung.
Jantungnya berdetak cepat, kala sebuah kepala manusia menyembul keluar.
Dan jantungnya seperti berhenti berdetak, ketika sepasang kelopak mata perlahan terbuka.
Mata jernih itu menatapnya dengan polos.
"Kalian mencari mati!!" geram Udelia melepaskan ikatan mulut, yang menyakiti kulit putih makhluk yang terlihat rapuh itu.
Bercak-bercak merah membekas di sepanjang garis pipinya.
Udelia ingin sekali memusnahkan sebuah kaum!
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
LIKE KOMEN VOTE
__ADS_1