![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
008 - MEMBUATNYA KEMBALI JATUH CINTA
Udelia tersenyum kaku.
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan padanya, seperti sedang melakukan suatu intoregasi terhadap sosok pelaku kriminal.
Namun pertanyaan- pertanyaan itu hanya seputar tentang hal- hal yang dia sukai, yang dia benci, dan kesibukannya dalam keseharian.
Udelia menjawabnya dengan hal- hal yang perlu. Tidak benar- benar mengatakan secara rinci.
"Maaf menyela. Apa kalian ingin merekrutku? Kalau seperti itu ... aku belum ada niat bergabung. Liburan kali ini aku ingin pulang kampung," kata Udelia memandangi Lili yang berperan sebagai translator antara dirinya dan pria asing.
Sedangkan Emi pergi untuk melanjutkan pekerjaan.
"(Bukan seperti itu..)"
"Bukan seperti itu.."
Lili mengikuti persis setiap kalimat yang diucapkan Djahan, serta mengikuti ekspresi Djahan yang berubah- ubah.
Lili sangat menjiwai perannya, meski awalnya cukup tercengang.
Mahapatih yang melegenda, yang biasanya hanya menampakkan wajah datar tanpa ekspresi dan tak terbaca isi hatinya, berubah melunak di hadapan Udelia.
Banyak warna terpancar dari wajah Sang Mahapatih Legendaris. Dan Lili mengikuti tiap ekspresi yang dibuat Djahan, agar lawan bicara menangkap maksud Djahan.
"Kalau begitu mari bahas sistem yang diinginkan," ucap Udelia.
Dia tidak mau menjalar ke mana- mana. Cukup sudah bahasannya. Nanti mereka menjadi terlalu intim.
"(Udelia, aku cinta kamu.)"
"Udelia, aku cinta kamu."
Udelia menepuk wajahnya. Wajah keduanya sama persis. Memerah dan merona.
"Anda tidak perlu begitu juga, Bu Lili," ucap Udelia membatin.
Wajah Djahan dan Lili seperti benar- benar menyatakan sebuah cinta.
"Haha. Aku juga cinta kamu. Cinta kalian. Apalagi uang kalian," balas Udelia. Lumayan kesal dengan tingkah keduanya yang berbelit- belit.
Udelia mengakhirinya dengan kalimat yang menggelikan.
Tidak akan ada pria yang suka wanita matre.
Udelia tersenyum bangga.
"Jangan bercanda terus. Mari kita mulai.."
Djahan merenungi kalimat Udelia, setelah diterjemahkan oleh Lili.
Uang.
Satu kata yang mampu membahagiakan pujaan hatinya.
Pemahaman bahasa Djahan sudah hampir sempurna, kecuali dalam pelafalan. Dia tidak berbicara dalam bahasa yang sama, takut mencoreng wajahnya sendiri dengan mengeluarkan kalimat yang terbata- bata.
Djahan akan berbicara dalam bahasa modern, bila benar- benar sudah menguasainya.
"(Bisnis yang ditawarkan kepala desa, penuhi saja. Kita minta bagian delapan puluh persen.)"
Lili meneguk salivanya dengan rasa sakit yang besar. Kepala desa yang disebutkan Djahan, sungguh sangat pelit dalam berbisnis.
Sebelumnya Djahan sudah menolaknya mentah- mentah ketika kepala desa itu datang menyampaikan bisnisnya dan membagi profit sebesar dua puluh persen.
__ADS_1
Djahan menolaknya dengan gamblang, masihkah bisa merajut bisnis yang gagal ini?
Sebagai bawahan —yang harus dapat bisa diandalkan— Lili tidak memiliki kata penolakan ataupun bantahan dalam kamusnya.
"Baik, Tuan."
"(Tinggalkan kami sendiri..)"
"Tapi—"
"(Tidak memahami kalimatku?)"
"Baik, Tuan."
Udelia tidak memahami percakapan Djahan dan Lili. Dia sedikit bingung oleh sikap Lili. Pergi tanpa pamit pada dirinya.
Udelia memiliki pemikiran yang lurus. Udelia berpikir, Lili hanya keluar sebentar untuk mengambil minum atau sebuah berkas.
Satu jam berlalu, tidak ada tanda- tanda kedatangan Lili.
Tenggorokan Udelia kering, walau tidak mengeluarkan satu suara pun. Cairan tubuh Udelia habis oleh keringat.
Hatinya campur aduk ketika hanya berduaan dengan sosok pria yang terus menatapnya tanpa berkedip.
Dia masih waras untuk tidak menganggap itu sebagai hal yang normal.
"Tuan.." panggil Udelia. Tidak bisa terus berdiam diri tanpa kejelasan.
Udelia paling tidak suka membuang- buang waktu.
Djahan tidak menjawab. Pria itu justru memuntahkan darah. Membasahi pakaian putih Udelia dengan cairan merah.
"A ... Anda tidak apa?!" Udelia menangkap Djahan yang limbung. Spontan raganya memeluk erat Djahan.
Djahan mengulas senyum. Ekspresinya yang bahagia, menggambarkan seluruh sudut hatinya.
Udelia tidak dapat mendekat ke pintu, dia hanya bisa berteriak dari tempatnya.
"Ssst. Jangan berisik. Biarkan saja," ucap Djahan dengan lemah.
"Mana bisa biarkan saja!?"
"Kalau begitu, boleh peluk?"
"Jangan ngaco!"
"Sungguh. Itu meredakan sakit. Tolong bantu aku. Dan tidak usah panggil yang lain."
Mata bulat penuh permohonan, meruntuhkan ketahanan hati Udelia.
Wanita itu tidak dapat berkata- kata. Menolak pun percuma.
Hatinya ingin langsung memenuhi pinta si pria tampan, sementara otaknya menolak keras. Ada nyawa yang harus diselamatkan.
Udelia menatap ragu Djahan. Mana bisa penyakit serius sembuh dengan pelukan?
Muntah darah bukan hal remeh.
"Aku bersumpah!"
Udelia menghembuskan napas pasrah. Dia mengabulkan keinginan pasien itu. Di sisi lain, dia mengetikkan sederet nomor berbaris pada layar ponselnya.
Udelia akan menekan tombol hijau, bila benar- benar dibutuhkan.
Kenyamanan pasien juga hal yang utama. Dia membiarkan Djahan memeluk erat dirinya. Dan dia sudah memberi tahu pada Lili dan Emi, akan tetapi keduanya tak kunjung menjawab.
Djahan terpejam. Bibirnya tersungging senyuman yang lebar. Rasa sakit dan panas pada hidungnya berangsur- angsur hilang.
__ADS_1
Kenyamanan inilah yang dia rindukan.
Dia dan Udelia telah lama mengenal. Tapi naas, pernikahan mereka hanya bertahan dalam waktu lima hari.
Maharaja yang ingin menguasai seluruh jajaran kepulauan, menikahi paksa istrinya dan meraih kebanggaan tertinggi.
Setelah lepas dari Maharaja, istrinya justru terikat dengan Penyihir Agung. Menjadi istri penyihir dalam buaian sihirnya.
Setelah melalui waktu yang panjang, dengan kutukan dan kritikan masyarakat awam terhadap dirinya —yang terlalu sangat kuat—, sumpah serapah orang- orang yang mati di tangannya, terwujud.
Djahan tersesat dan terombang- ambing di dalam dimensi gelap dan terang, yang tak jelas asal muasalnya.
Kemudian muncul di dunia modern, dunia istrinya, dengan raga yang lemah. Kekuatannya tercerabut dalam dimensi tanpa ruang dan waktu. Habis tak bersisa.
Djahan mencoba sekuat tenaga kembali menjadi Mahapatih Legendaris, yang sekuat Gajah Sakti.
Satu bulan berlatih di dunia modern, sama sekali tidak berarti apa -apa. Tidak ada tanda- tanda kemunculan kekuatan spiritual, seperti di dunianya dahulu.
Dia pun berasumsi bila kekuatan spiritual telah hilang di dunia modern.
Sampai dia bertemu dengan Petapa Agung; Fusena, sepupu Udelia; yang mampu mengeluarkan kekuatan dengan mudahnya.
Lantas Djahan paham, kekuatannya benar- benar hilang.
Dia belum memiliki pandangan, apakah dirinya dapat menjadi kuat kembali ataukah tidak.
Hendak berlatih dengan intens untuk membangkitkan kekuatannya, ada hati yang harus dia perjuangkan.
Bersegera ia menggeser waktu latihannya jauh ke belakang. Untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya, yang sangat dia rindukan.
Keberadaan Fusena, sungguh mengganggu mata. Bahkan terang- terangan menunjukkan dirinya sebagai pendamping Udelia.
Mungkin sekarang Fusena barulah menjadi pengawal Udelia, namun Djahan tidak ingin memberi cela pada Fusena.
Djahan akan secepat mungkin menjadi pendamping hidup Udelia.
Membuatnya kembali jatuh cinta.
Udelia melotot ketika menyadari satu hal.
Pria di pangkuannya dapat menggunakan bahasa mereka. Pria ini telah membohongi dirinya!
Dalam hati, Udelia ingin sekali menjungkalkan pria yang kurang ajar ini. Tapi mimisan itu bukanlah suatu kebohongan.
Udelia diam menunggu.
Beberapa menit kemudian, dia menggoyangkan tubuh si pria. Sama sekali tidak ada respon.
Padahal mimisannya telah mengering.
Ada rasa panik menyeruak di dalam dada.
Pintu terbuka. Menampakkan Lili yang membawa sebuah kain. Dia melempar senyuman sopan pada Udelia.
"Sebenarnya kondisi Tuan tidak terlalu gawat. Hanya lelah dan mudah mimisan. Mohon jaga Tuan. Saya akan menjemput Tuan bila Nona sudah mengabari," jelas Lili sembari menyodorkan sebuah sapu tangan.
Belum sempat Udelia merespon, Lili lari kocar- kacir meninggalkan ruangan.
Udelia sungguh tercengang dengan keadaan ini. Membiarkan pria asing memeluk tubuhnya.
Melihat wajah tampan itu tidur dengan damai.
Udelia sekali lagi pasrah. Dia menyelimuti si pria, tanpa menyadari senyum miring yang tercetak.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]